Dongeng insomnia · Iseng Aja

Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 11

Episode 11 : Pengakuan Juna

Sore sudah semakin jingga dan matahari mulai meredup meski udara masih terasa gerah. Marni meletakkan pot mawar terakhir di dekat water wall. Mbok Sum telah menyiapkan segelas es limun (ya ampun limun? Bahasanya ck..ck… Gak orson sekalian?) Sepiring puding coklat vanilla dingin sudah terhidang menggoda selera. Marni segera mencuci tangan dan duduk manis menikmati puding lezat itu. Meresapi sore yang panas, meski sesekali angin bertiup, persis nyonya besar yang hidupnya tak pernah susah. Segala telah tersedia tinggal perintah, tinggal tunjuk, maka tring…. semua terhidang di depan mata. Oh, begitukah kehidupan para nyonya yang pernah dilihatnya pada pesta lalu? Marni merasa keciiiil sekali. Dipandanginya cincin berlian bermata besar itu. Tak pernah dalam hidupnya ia membayangkan bakal memakai cincin seindah ini. Bahkan dalam mimpipun. Ini adalah barang termewah yang pernah dimilikinya setelah city car hadiah dari Markisa Gee.

Sebuah kecupan hangat mendarat di ubun-ubunnya. Marni terlonjak kaget. Bimo tertawa renyah lalu duduk di samping Marni.

Lanjutkan membaca “Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 11”