Uang Baru

Warung Yu Minah nampak sepi, segera aku belok dan parkir. Biasanya kalo sudah sore begini ramenya ampuuunn! Seperti biasa setelah mengucap salam aku segera pesan rujak satu bungkus. Kali ini rujak serut, jadi kalo gak abis bungkusin pake plastik es trus masukin freezer, nah besok tinggal disedot-sedot deh.

“Waaah, penampilan baru nih,” ujar Yu Minah sambil melirik rambutku, “Warna apa itu, Jeng?”

“Oh, ini warna purple brown, Yu. Ungu tapi kecoklatan gitu.”

“Ooo, bagus gitu kok. Pasti mahal ya, Jeng?”

“Emm, yaa sebandinglah sama hasilnya.”

Yu Minah mulia mengupas buah-buahan segar yang membuatku kemecer membayangkan segernya.

“Eh, ngomong-ngomong sampeyan kan orang kantoran, sudah nuker uang receh baru belum?” tanyanya.

“Yang dua ribuan, Yu? Ada tuh segepok. Yang lima ribuan jugak ada. Bapaknya anak-anak nuker kok ya banyak banget. Sampeyan mau?”

“Wah, mau banget. Ada dua ratus ribu ndak?”

“Mau lima ratus juga ada kok.”

“Lho, memangnya sampeyan ndak bagi-bagi keponakan?”

“Gak, Yu. Keponakan saya jauuuuh semua. Waktu anak-anak masih kecil dulu, tiap malam takbiran kami keliling kompleks. Masih banyak lho Yu, para pemulung yang ngubek-ubek sampah sampe tengah malam. Nah biasanya anak-anak saya suruh mbagi uang lembaran baru itu ke mereka. Ada juga yang sekeluarga, tiap orang kami beri beberapa lembar. Duh, girangnya mereka kami jadi terharu dan ikut senang. Sampe taun kemaren kami masih melakukan itu.”

“Lha memangnya taun ini enggak?”

“Males, Yu. Kayaknya mereka ini jadi kebiasaan. Coba sampeyan jalan-jalan ke bunderan situ, nah sepanjang jalan tuh banyak banget pemulung yang pasang badan di situ. Keleleran, sampe anaknya masih balita ketiduran cuma beralas plastik bekas. Tiap berapa meter ada lagi yang begitu, lengkap dengan gerobaknya. Emang sih mereka gak minta-minta, cuma diem aja. Banyak juga orang yang ngasih tiap lewat. Entah itu ta’jil, pakaian, uang. Tapi aku kok jadi males ya, Yu?”

Yu Minah tertawa.

“Sampeyan ini lucu. Wong mau amal kok males. Gini lho Jeng, kalo mau berbuat baik itu gak usah banyak pertimbangan. Apalagi terhadap orang yang bener-bener membutuhkan. Mungkin bagi mereka itu salah satu cara mendapatkan bantuan yang kadang gak nyampe ke mereka kan? Toh mereka juga gak minta, gak menadahkan tangan. Mereka cuma nggelar plastik, ngipasin anaknya yang ketiduran. Sukur-sukur ada yang mau ngasih, yang enggak ya sudah to?”

“Tapi kesannya kayak akting gitu lho. Sengaja dibuat memelas, malah jadi males. Ibu-ibu juga pada bilang kok, gak usah ngasih nanti jadi kebiasaan. Mending disalurkan ke tempat-tempat resmi aja. Nanti malah makin banyak yang begituan, Yu!” sergahku nyinyir persis kayak ibu-ibu yang pada arisan minggu lalu.

“Ealah, Jeng, Jeng. Wong tiap malam Jumat rajin pengajian kok ya ndak berubah! Gini lho, kalo memang ndak mau ngasih ya jangan mempengaruhi orang lain untuk ndak ngasih juga. Mereka itu kan juga ndak mau minta-minta kalo ndak bener-bener butuh. Toh buktinya siang mereka juga kerja kok, mungutin botol plastik yang bertebaran, milah-milih sampah yang masih bisa dipake. Kasihan kan?”

Yu Minah mulai membungkus rujakku. Kali ini tanpa keringat karena cuma bikin satu bungkus.

“Lagipula Jeng, selama masih ada orang-orang miskin papa maka masih tersedia ladang-ladang amal untuk kita. Gitu kata mendiang suami saya. Kalo semua orang makmur ndak ada orang miskin ya tanda-tanda kiamat itu,” lanjutnya lalu tertawa kecil. Aku terdiam. Betul juga apa yang dikatakan Yu Minah.

“Betul juga ya, Yu. Kalo mau ngasih ya ngasih kalo gak mau ya gak usah ngajak-ngajak orang lain ya. Emang sih aku selalu nyaris menangis melihat anak-anak bayi itu tidur keleleran di pinggir jalan. Sapa orang tua yang mau anaknya gitu ya, Yu?”

“Lha ya itu. Apalah artinya lembar-lembar dua ribuan itu buat orang-orang kayak sampeyan, lha wong buat nyemir rambut saja habis ratusan ribu to? Sementara buat mereka itu artinya seliter beras. “

Sial! Pukulan telak menohok jantung dan hati sekaligus. Yu Minah menyodorkan rujak pesananku.

“Jadi nuker duitnya gak, Yu?” tanyaku sambil membayar rujaknya.

“Lho ya jadi to. Dua ratus ribu ya, Jeng.”

“Gak! Seratus ribu aja. Yang lain mau tak pake,” sahutku dikit judes.

“Wee lhadalah, aku mesti nuker kemana lagi ini?”

Puas aku melihat wajah kecewanya :mrgreen:

Iklan

19 thoughts on “Uang Baru

  1. Lidya Agustus 18, 2011 / 1:46 pm

    score 1-1 dong 🙂

    choco:

    Hihihihi…. :mrgreen:

  2. Orin Agustus 18, 2011 / 3:07 pm

    Jeng…Jeng…dendam toh ma Yu Minah? *kabuuuur* hihihihi

    choco:

    Abisnyaaa segala urusan ngecat rambut dibawa-bawa, huh 😛

  3. Mabruri Sirampog Agustus 18, 2011 / 4:40 pm

    wkwkwkwk……

    kena lagi yu minah.. 😀

    choco:

    Ceramah mulu siiiy 😀

  4. Agung Rangga Agustus 18, 2011 / 7:55 pm

    hihi, mau beramal aja kok repot ya~ 😆

    choco:

    Ho’oh, itung-itungan 😛

  5. monda Agustus 18, 2011 / 7:58 pm

    puas..puaasss …. kena skak yu Minah… mimpi apa ya Yu

    choco:

    Hahahaha…… mimpi ngulek rujak segerobak, Bu Mon 😆

  6. @zizydmk Agustus 18, 2011 / 8:34 pm

    HUheueuee…
    Saya sendiri jarang bagi-bagi salam tempel, soalnya kita kalo kumpul keluarga ya cuma keponakan-keponakan saja yg hanya 3 orang hehee. Dan ponakan jg ga dibi basakan bagi2 saltemp biar besarnya ga jadi kebiasaan. Tp klo mo kasih ya kita kasih saja kapan kita mau kasih,,, dan berupa barang saja….
    Sekarang tuker uang kecil untuk bedinde yg kalau mudik mungkin mo kasih-kasih saweran utk adik-adiknya di kampung…. 🙂

    choco:

    Sama persis, Say. Aku juga ndak membiasakan, malah anakku bingung ketika tetangga yang lebih tua memberi uang, ndak mau nerima karena bingung hahahaha……
    ART ku juga sering nitip tukeran uang baru 😀

  7. Mood Agustus 19, 2011 / 1:15 am

    Pinternya Yuk Minah membalas kata kata, salut sama penulisnya 😀

    choco:

    Hihihihihi…. 😳

  8. bundadontworry Agustus 19, 2011 / 4:14 am

    hiihhihh…kok Yu Minah jadi ikutan kebawa kesel siiih, Mbak 😀 😀 😛
    salam

    choco:

    Ndak dapet tukeran uang sih, Bundaa 😆

  9. iam Agustus 19, 2011 / 7:28 am

    Tapi kadang saya suka gak suka kalau pengemis yang kayak di iklan XL itu. Satu dikasih uang, langsung pengemis yang lain datang, minta jatah juga. Ya kan gak gitu juga harusnya >.<

    choco:

    Hihihihi….. kata Yu Minah, itu kembali pada keiklasan kita memberi, Mas 😀
    Kalo yang lain berdatangan ya kasih tangan aja diiringi senyum maaf gituuu…

    (ih, Yu Minah emang sok tauu)

  10. tunsa Agustus 19, 2011 / 10:08 am

    wkwkwk..ini main tohok-tohokan to? apa dnger cermah Yu minah. hehe..
    belinya gak 2 bungkus bu? hehe

    choco:

    Takut ndak abis, Mas. Bosen diceramahin Yu Minah :mrgreen:

  11. nia/mama ina Agustus 19, 2011 / 11:49 am

    wuihhh jadi ngiler sama rujak serutnya…..
    wahhh ceramahnya Yu Minah bener2 menohok yachh…pas kena sasaran heehhe…

    choco:

    Tepat ke jantung hati, Mam 😀

  12. niQue Agustus 19, 2011 / 12:03 pm

    Masih bisa tuker duit ga bu?
    ga banyak kok sejuta aja 😀
    buat pajangan hihihi

    choco:

    Wkwkwkwk…. kemaren sudah diambil Yu Minah semua, mau dilaminating jugak katanya 😆

  13. Asop Agustus 20, 2011 / 5:10 am

    Amal kok males. 😆

    choco:

    Hihihiihihi…. 😛

  14. Majalah Masjid Kita Agustus 20, 2011 / 1:46 pm

    hayo hayooo kita beramaaaaalll… halah*

    choco:

    Yuuuk mariiii…. 😀

  15. ~Amela~ Agustus 21, 2011 / 6:02 pm

    sebenarnya ga baru juga papa kan duitnya.. dikasih duit yang lusuh juga udah seneng, yang penting duit.. hehehe… toh nanti juga kepake duitnya..

    choco:

    Iya siy, cuma seneng aja kalo uangnya baru hehhehe 😀

  16. Ikkyu_san Agustus 25, 2011 / 8:43 am

    mau nyari warna purple brown deh, selama ini pakainya red brown 😀 Bagus ngga? heheheh
    yang pasti waktu aku mudik kemarin, paling banyak pakai uang kertas 2000 an karena untuk parkir! Untuk tip/sedekah kok ngga tega ya? Lalu…kemana 1000-an nya?
    Duh Indonesia..indonesia udah inflasi ngga sadar-sadar 😦

    (di Jepang uang 2000 ngga laku! ngga ada yang mau pakai, jadi distribusinya terhambat juga)

    EM

    choco:

    Bagus, Bu Em, apalagi kalo kena cahaya ungunya menawan hehehehe…. 😀
    Uang baru cetak terus tapi uang lama masih tetap beredar 🙂

  17. Erin Juni 18, 2016 / 10:58 am

    Iyah Oma amal mah jangan males2n. Yang penting ikhlas.
    Tapi kadang aku juga perhitungan ding. Kalo ada pengamen yang nyolot mah gak ngasih cz gak ikhlas

    • chocoVanilla Juni 19, 2016 / 2:22 pm

      Waahh, klo pengamen nyolot mah suka.serem aku, Dek. Apalagi kalo sambil ngancem 😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s