Iseng Aja · Jalan-jalan yuuuk....

Zunea-Zunea, Lagu Fun Dance

Sebelumnya turut bersedih atas musibah yang menimpa pengunjung Atlantis Water Adventure, TIJA. Semoga korban luka segera membaik dan pihak management segera memperbaiki dan lebih memperhatikan keamanan seluruh area kolam renang.

Menjawab pertanyaan Trya (ndak ada link URL nya) di postingan Atlantis Water Park lalu, saya dah nemu lagu yang lucu dan energik itu 😀 Sebelumnya kita lihat dulu lagi ya mbak-mbak cantik dan seksey yang memandu fun dance itu 😳

Five..six..seven..eight..yeach....

Lanjutkan membaca “Zunea-Zunea, Lagu Fun Dance”

Dongeng insomnia · Iseng Aja

Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 14

Episode 14 : Di Tepian Bengawan Solo

Setelah lebih dari dua bulan yang melelahkan bagi Bimo, hari ini kelegaan mendatanginya. Bimo tak terbukti bersalah dan dinyatakan bebas. Hasil uji balistik menyatakan bahwa pistol Glock 27 yang diajukan sebagai barang bukti ternyata bukan pistol yang sama untuk membunuh Suryo. Dan surat kepemilikan pistol itu adalah atas nama Suryo Darmawan sendiri. Pembunuhan Suryo masih misteri. Namun disimpulkan tak ada yang bukti memberatkan Bimo sebagai pembunuh. Case closed. Again!

Nancy geram menahan amarah. Permainan apa ini? Jelas suaminya tak pernah mempunyai benda mengerikan itu. Lagipula bagaimana mungkin benda itu ada di rumah Bimo jika memang milik suaminya? Dipandanginya wajah Bimo yang kuyu namun penuh senyum kemenangan. Dengan amarah tak tertahankan didekatinya mantan sahabat baik suaminya itu. Tanpa disangka-sangka Nancy menampar Bimo dengan kuat. Pria itu terlontar ke belakang. Seketika petugas keamanan menenangkan Nancy yang histeris.

“Kau pembunuh, Bimo! Pembunuh!” Wanita anggun itu lepas kendali. Petugas meringkus tangan Nancy, namun wanita itu tak peduli sama sekali.

Lanjutkan membaca “Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 14”

Cintaku · Iseng Aja · Ketawa dulu

Gak Sopan!

Seperti biasa kalo anaknya ujian maka emaknyalah yang ribut. Ikutan belajar, ngomel-ngomel kalo pada santai, mesti nebak-nebakin juga. Dan sudah pasti bawelnya melebihi ibu asrama. Maka kalo musim ujian gini pasti kedua malaikatku dah stress, bukan karena ujiannya tapi karena Bundanya yang “nyanyi” terus 😦

Minggu malam seperti biasa mendampingi anak-anak belajar. Mesti ngebut karena siangnya aku ada arisan keluarga dan pergi nyaris sepanjang hari. Sementara malaikatku kalo gak sama Bunda gak isa belajar. Heran juga, dibawelin mulu tapi kok maunya sama Bunda terus ya? :mrgreen:

Guanteng sedang belajar IPS. Terjadilah percakapan ini:

Aku         : Aduuuuhh, Kakaaak, sudah seharian ini kok belom selesai jugak siy belajarnya?

Guanteng : Kan capek, Bundaaa…

Aku          : Tuh kan, ini Peta Buta belum dipelajari jugak kan?

Tiba-tiba Si Cantik yang juga sedang belajar nyelutuk.

Cantik      : Eeeh, Bunda kok gak sopan sih?

Aku          : Hah? Gak sopan kenapa?

Cantik       : Itu bilang-bilang Peta Buta, kan gak boleh, gak sopan!

Aku           : Lho, kok gak sopan sih?

Cantik        : Bilangnya Peta Tunanetra, dong! Kan Bunda sendiri yang bilang!

Gubraakkk!!! Si Guanteng ketawa terpingkal-pingkal. Buyar deh rencana ngomelnya!

Maka aku flash back, dulu kalo berhenti di perempatan ada peminta-minta tunanetra aku larang Cantik bilang orang buta. Gak sopan. Aku ajari untuk bilang tunanetra. Eee, lha kok direkam dengan baik. Masa bilang peta buta aja gak boleh? Peta tunanetra? Wakakakaka….. 😆

Cintaku · Iseng Aja

Captain America kok jadi X-Men?

Kalo dicubit pasti gak berasa ya 😳

Malam minggu kemarin kami menghabiskan waktu dengan nonton film. Meski kedua malaikatku belum selesai ujian tapi gak papalah, besok belajar lagi 😀 Kita sepakati untuk nonton Captain America yang bisa ditonton anak-anak. Maka seperti biasa aku menelpon untuk memastikan film main jam berapa. Dan supaya agak santai kami pilih jam 19.00. Dan berangkatlah kami ke sana, kebetulan kami pilih di XXI Besqi yang gak terlalu ramai dan dekat rumah.

Sesampai di Besqi aku dan kedua malaikatku turun di depan bioskop sementara kekasihku berjuang mencari parkir. Dan di depan loket aku dibuat terkejut. Ternyata XXI ini tidak memutar film Captain America! Waks!! Pantas saja posternya kok gak ada. Jadi aku tadi telpon XXI mana ya? Hihihihi….. dan tentu saja anak-anak yang sudah terlanjur mau nonton agak kecewa. Untunglah ada film X-Men First Class. Lalu kutanya mbak yang jual tiket. Aman gak film ini buat anak-anak? Kata mbaknya lumayan aman siy. Maksudnya ada adegan some little kissing dan pakaian minim. Owh, kupikir gak apalah, biar nanti ayahnya yang heboh menutup mata anak-anak :mrgreen: Jam tayangnya? 21.30 😦 Untung besok hari Minggu 😀

Hubungan yang rumit antara Magneto dan Prof. X 😀

Dan ternyata bagus bangeeettt!!! Gak nyesel nontonnya. Dan seperti biasa aku sangat menyukai tokoh yang jahat tapi baik 😀 Magneto! Yes, dia jahat (‘coz masa lalu yang kejam!) dan dia juga anti pada manusia yang memang pada waktu itu berniat menghabisi para mutant. Tapi dia juga baik pada Prof. X yang sangat dipercayanya. Meski akhirnya mereka bermusuhan karena beda jalan hiks…hiks… 😥

Sayang ya, perpecahan itu harus terjadi. Apalagi Raven yang lalu memilih menjadi pengikut Magneto. Wis tah, pokoke kuereeen buanget deh! Padahal pada awalnya aku sempat kuatir tak bisa menikmati film ini 😀

Nah, sekarang adegan lucunya. Di tengah-tengah film yang sedang seru-serunya, Si Cantik kebelet pipis. Aduuhh!!! Mo tak suruh nahan kasian film masih panjang, mo tak anterin kok ya sayang kehilangan adegan seru. Tapi melihat kaki Si Cantik yang persis kayak orang lagi jahit ya sudah akhirnya kuantar deh.

Selesai pipis, karena sudah sepi dan malam makin larut, buru-buru kami masuk ke pintu teater. Sampai di dalam kok berasa aneh ya? Tadi bangku penonton ada di sisi kiriku kok sekarang kebalikannya? Dan benarlah! Kami salah masuk studio! Wekss! Pas kulirik layarnya, ternyata film Indonesia dan judulnya Keranda Kuntilanak! Waaaaa…… untunglah setannya belum keluar. Bisa mati berdiri aku. Segera kutarik Si Cantik keluar. Kami berdua tertawa geli. Petugas kafe yang masih ada di situ ikutan tertawa pas kujelaskan kami salah masuk.

Kali ini kami masuk ke studio yang tepat. Si Cantik dengan terburu-buru berjalan mendahuluiku dan langsung duduk manis di kursi akupun segera mengikuti. Tapi kok kali ini berasa aneh jugak ya? Kutengok Si Cantik yang tanpa dosa langsung bersandar di sebelahnya. Dan? Oh, nooooo???? Ternyata bukan kekasihku tapi Om-om gendut dan istrinya. Weksss, lagi-lagi sambil kuseret Cantik aku terbirit-birit menuju deretan bangku belakang. Tentu saja sambil cekikikan berdua. Aku sampe gak bisa jalan saking gelinya tertawa. Dan kekasihku sudah menunggu dengan ekspresi aneh, nih dua gadisnya ngapain cobak? Ya ampyuuuuun malunyaaaaa 😳 😆

Dan sepanjang sisa film aku sering tiba-tiba tertawa ndiri kalo teringat. Aduuuhh, Cantik…..Cantik….. kamu itu kok ya Bunda banget siy? 😆

Semua gambar diambil dari Google 😀

Dongeng insomnia · Iseng Aja

Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 13

Episode 13 : Penantian

Suara batuk kecil membuat kedua anak beranak itu melepas pelukan. Marni melihat sesosok pemuda di ambang pintu. Pemuda itu berkaos oblong putih dengan hem lurik coklat yang tak dikancing semua dan celana jeans yang sudah pudar warnanya (atau memang model pudar?). Blangkon tipis khas Solo menutupi kepalanya. Wajahnya menarik meski tak setampan Juna atau Mas Bimo. Ibu melambaikan tangan padanya menyilakan masuk. Dengan kikuk dan salah tingkah pemuda itu masuk ke ruang tamu.

“Marni, kamu masih ingat tidak? Ini Panji, anaknya Pakde Joyo ujung desa sana?” tanya Ibu.

Marni mencoba mengingat-ingat. Sekilas terbayang seorang anak lelaki delapan tahun yang menggembalakan sapi sambil selalu membawa buku kemanapun pergi. Saat itu Marni masih berusia lima tahun, belum bisa baca tulis dan anak lelaki itulah yang sering membacakannya cerita.

“Mas Panji? Mas Panji yang suka mendongeng untukku dulu?” tanyanya tak percaya. Pemuda itu tersenyum lalu menunduk. Spontan Marni mendekatinya dan memukul lengannya.

“Kamu dulu membohongiku, Mas. Katamu dulu Bawang Merah dan Bawang Putih punya kakak Bawang Bombay yang jahat dan suka menculik anak kecil. Padahal mereka ndak punya kakak kan?”

Panji tertawa tertahan. Masih diingatnya gadis kecil menggemaskan itu selalu bertanya setiap kali ia bercerita. Anak laki dengan usia 8 tahun tentu tak sabar menjawab pertanyaan ceriwis, maka ia katakan Bawang Bombay suka sekali pada anak kecil cerewet karenanya harus diam supaya gak diculik. Mengenang itu Panji tertawa pelan. Bibir Marni mengerucut karenanya.

Lanjutkan membaca “Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 13”

Dongeng insomnia · Iseng Aja · Nimbrung Mikir

Palsu

Ini sudah yang kedua kali dalam waktu satu jam aku sambangi warung Yu Minah. Warungnya penuh terus, jelas males banget ngantri. Untunglah yang kedua kali ini sepi.

“Rujak ulek, Yu. Pake yang asem-asem, lagi pengen yang seger nih,” kataku lalu duduk di tempat favorit.

“Wah, lagi ngidam ya, Jeng? Kok tumben minta yang asem, biasanya paling anti sampeyan,” godanya. Wis tah, manusia satu ini mau tauuuuu ajah!

“Gak, lagi pusing Yu, pengen yang seger-seger aja,” sahutku. Yu Minah mulai ngulek bumbu dengan sigapnya.

“Yu, denger-denger Pak RT ketipu beli motor?” tanyaku membuka percakapan.

“Lho, sampeyan denger jugak to? Kapan nggosipnya? Sampeyan kan pergi pagi pulang malem?”

Sial! Wong aku tau juga dari si Mbak.

“Kalo berita gitu mana mungkin gak kesebar, Yu? Kan pelajaran jugak buat kita supaya berhati-hati gak terulang kejadiannya.”

“Iya jugak. Kasian lho Pak RT itu. Mbeliin buat anaknya motor tapi STNK dan BPKB nya palsu. Ketahuannya juga pas mau perpanjang STNK .”

“Emang sekarang lagi musim lho, Yu, pemalsuan surat-surat kendaraan gitu. Malah katanya sudah ada gerombolan yang ketangkep. Canggih lho mereka itu bikinnya, mirip bianget!”

“Mangkanya mesti hati-hati. Kalo transaksi kendaraan bermotor usahakan jangan hari Sabtu ato Minggu. Ndak isa dicek. Samsat kan kalo Sabtu libur, gak isa nerima nggesek nomer rangka dan mesin itu.”

“Masalahnya bisa liat-liat ato bisa transaksi itu kan biasanya Sabtu, Yu. Kalo hari kerja susah ijinnya.”

“Ya harus rela berkorban, daripada ketipu malah ruginya berlipat-lipat, to?”

Iya jugak siy. Yu Minah sudah mulai membungkus rujakku. Sekilas aku melihat ada kaleng biskuit King Ghian di meja belakang.

“Eh, Yu, denger-denger sekarang banyak juga lho biskuit palsu?”

“Hah? Masak iya? Palsu gimana?”

“Kemaren saya disuguh biskuit King Ghian di rumah Bu Susan,” jawabku dengan bisik-bisik aroma gosip. Yu Minah langsung tertarik dan mendekatkan muka ke arahku.

“Terus? Terus?”

“Ehh, pas tak buka ternyata isinya rengginang, gak ada kuenya sama sekali. Palsu kan?”

“Wee lhadalah, itu kan kaleng bekas biskuit, Jeeeengg!!!”

:mrgreen:

Cintaku · Iseng Aja

Jangan Diganggu

Pada suatu malam, semua sudah rapi menjelang bobok. Tiba-tiba terdengarlah nasi goreng dok dok kesukaan Si Cantik lewat. Maka Cantik langsung merengek.

Cantik  : Bundaa, ada nasi goreng dok dok, beli yaaa

Aku     : (ngantuk berat) Sst, udah malem besok aja kita beli ya. Yuk, bobok.

Cantik  : Tapi Adek pengeeen….

Aku      : Adek, biarin Si Abangnya lewat, jangan digangguin, ah! Kan kasian udah jalan kok dipanggil-panggil

Cantik  : Bundaaaa, dia itu malah sukaaaa kalo kita panggiiiil….

Aku    : Eeeh, biarin aja, jangan gangguin orang lagi cari uang, kasian! Lagi dorong-dorong gerobak kok digangguin. Yuk, bobok…

Cantik  : Bundaaaaaa, huwaaaaa……

Dan pada suatu siang, ketika aku sedang sibuk di dapur lewatlah tukang sayur meneriakkan dagangannya, “Yuuuuur, sayuuuuur!”

Aku     : Adeeeek, tolong panggilin tukang sayur, Naaak. Bunda lagi goreng nih, takut gosong

Cantik  : Gak ah!

Aku     : Eeeeh, Adeeeeek, buruan ntar keburu jauuuhh

Cantik : Biarin Bundaaaaa, jangan digangguin, orang lagi cari uang kok digangguin (santaiii banget jawabnya)

Aku     : %#@^%&@*&(#

Cari Solusi · Dongeng insomnia · Iseng Aja

Gaji Setengah

Saat anak-anak bobok siang aku kabur ke warung Yu Minah. Panas-panas begini paling enak makan rujak serut yang sudah dibekukan kali yaa 😀 Sudah barang tentu siang bolong begini dengan panas membara dan debu menggelora warung Yu MInah gak banyak pengunjung. Ketika aku masuk, dua orang ibu keluar. Aplusan ya 😀

“Rujak serut, Yu, pedes tapi gak banget yaa,” ujarku dan langsung meletakkan bokong di tempat favorit, di depan ulekan Yu Minah. Seneng deh liat gayanya ngulek dengan gemulai dan tubuh suburnya bergoyang-goyang. Coba ada Terrajana pasti makin hot nguleknya.

“Weh, tumben nih Jeng, nampak sumringah, seger kayak ndak ada masalah gitu to?” Kumat deh usilnya, batinku.

“Aku lagi seneng, mbakku balik lagi, Yu. Kirain ndak balik, tiwas aku ngomel-ngomel waktu itu.”

“Ah, sampeyan itu emang senengnya ribut duluan, panik terhadap hal-hal yang belum jelas.”

“Lha gimana ndak panik, wong tanggal 20 sudah mudik, ini baru dateng kemaren sore. Lha hampir sebulan to? Dua puluh dua hari tepatnya. Apa gak mumet itu, Yu?”

“Hehehehehe tapi yang penting kan dah ayem sekarang. Pembantu jaman sekarang emang susah Jeng, tau banget kalo dibutuhkan jadi sak enaknya,” timpal Yu MInah.

“Emang. Dah libur segitu lama tanpa beban, eee kalo gitu aturannya gimana ya, Yu? Gajinya tetep dikasih utuh sebulan ya?” tanyaku tiba-tiba kepikiran.

“Lho, yang dulu-dulu gimana?” Yu Minah malah balik nanya.

“Yang dulu pasti tak kasih utuh, wong belom ada yang mecahin rekor pulang selama ini. Lagian yang dulu-dulu kan sudah ikut aku bertahun-tahun, mbak yang ini kan baru dua bulan. Eeh,liburnya kok nyaris sebulan jugak,” gerutuku. Yu Minah ketawa.

“Kalo di kantor, cuti melebihi jatah itu berarti cuti di luar tanggungan, potong gaji,” lanjutku.

“Lho, itukan di kantor, kerjanya pake jam, gaji sampeyan pasti sudah jauh melebihi UMR. Lha kalo pembantu kan kerja pasti lebih dari 8 jam, ndak ada lembur, apa sampeyan nggaji sesuai UMR po? Masak iya sih, masih  mau dipotong setengah?”

Sial! Lagi-lagi si bakul rujak sok tau ini bener.

“Apalagi sampeyan kan nitip anak, Jeng. Masak iya itung-itungan? Nanti pembantu jadi ogah-ogahan kalo gaji dipotong-potong.”

“Tapi nanti jadi kebiasaan, Yu. Nggampangin,” sahutku kesal karena sesungguhnya apa yang dikatakan Yu Minan itu benar adanya.

“Ya terserah sampeyan, kalo menurut saya sih kasih aja gajinya utuh. Biar dia seneng, betah, sampeyan ndak pusing. Paling cuma berapa to gajinya?”

Belum sempat aku menimpali Yu Minah, seorang nyonya dengan perhiasan nyaris kayak toko mas masuk dan memesan rujak.

“Rujaknya satu ya Yu, cabenya dua aja. Gak usah pake nanas ama timun, mangga kalo asem gak usah juga. Saya tinggal dulu ya, berapa jadinya?”

“Biasa Bu, sepuluh ribu,” jawab Yu Minah sambil membungkus rujakku.

“Lho, kok harganya sama? Kan cabe cuma dua, buahnya banyak yang gak pake?”

Pasti bukan orang sini nih, Nyonya Toko Mas ini.

“Biar cabe cuma dua, buah gak lengkap, harga tetap sama, Bu. Kan bengkoangnya dibanyakin, kedondongnya ditambah. Porsi ndak berkurang kok,” jawab Yu Minah lembut. Si Nyonya Toko Mas mengeluarkan uang dengan senyum masam lalu keluar menuju mobil mewah di luar sana.

“Nanti sopir saya yang ngambil, ya,” serunya.

“Masak iya rujak tetep seporsi kok harga minta dikurangi. Pelit banget Nyonya itu ya, Yu?” ujarku sambil melirik mobil mewahnya yang merah kinclong membuat hatiku tercolong.

“Lha, beda tipis sama sampeyan to? Si Mbak kerja sampe malem, bangun subuh kok ya masih mau dipotong gajinya gara-gara cuti?”

Sial!! 😡

Dongeng insomnia · Iseng Aja

Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 12

Episode 12 : Pulang

Langit masih kelam ketika kereta melambat memasuki stasiun. Para penumpang mulai gemerisik memeriksa barang bawaan. Suara-suara riuh mulai terdengar di luar kereta. Marni mengusap matanya yang masih mengantuk. Dari sekian jam perjalanannya meninggalkan ibukota menuju Solo, hanya dua jam saja tidurnya benar-benar lelap. Pikirannya tak pernah lepas dari kisah Juna yang membuat hatinya remuk redam sejak beberapa hari lalu. Kini tentunya Juna dan Dewi sudah terbang menuju tanah impian mereka. Nancy tentu sibuk dengan kepolisian. Dan dirinya merana pulang ke pangkuan ibunda. Tetes air mata mengalir lagi mengingat kekasihnya nun jauh di negeri Belanda.

Ia memandangi jari manisnya. Cincin bermata berlian itu telah dilepas meninggalkan lingkaran putih. Marni mengusapnya dan air mata kembali mengucur. Baru saja ia merasakan indahnya mencintai dan dicintai, namun kini terenggut begitu saja. Bimo dituduh membunuh Suryo! Benarkah? Tak mungkin! Mas Bimo yang tegas namun lembut, perkasa namun lembut, tampan namun lembut, matang namun lembut, ah Mas Bimo yang lembut namun untungya bukanlah lelembut. Marni mengusap pipinya.

Masih teringat kisah mengerikan yang diceritakan Juna beberapa hari lalu.

Lanjutkan membaca “Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 12”