Dongeng insomnia · Iseng Aja

Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 12

Episode 12 : Pulang

Langit masih kelam ketika kereta melambat memasuki stasiun. Para penumpang mulai gemerisik memeriksa barang bawaan. Suara-suara riuh mulai terdengar di luar kereta. Marni mengusap matanya yang masih mengantuk. Dari sekian jam perjalanannya meninggalkan ibukota menuju Solo, hanya dua jam saja tidurnya benar-benar lelap. Pikirannya tak pernah lepas dari kisah Juna yang membuat hatinya remuk redam sejak beberapa hari lalu. Kini tentunya Juna dan Dewi sudah terbang menuju tanah impian mereka. Nancy tentu sibuk dengan kepolisian. Dan dirinya merana pulang ke pangkuan ibunda. Tetes air mata mengalir lagi mengingat kekasihnya nun jauh di negeri Belanda.

Ia memandangi jari manisnya. Cincin bermata berlian itu telah dilepas meninggalkan lingkaran putih. Marni mengusapnya dan air mata kembali mengucur. Baru saja ia merasakan indahnya mencintai dan dicintai, namun kini terenggut begitu saja. Bimo dituduh membunuh Suryo! Benarkah? Tak mungkin! Mas Bimo yang tegas namun lembut, perkasa namun lembut, tampan namun lembut, matang namun lembut, ah Mas Bimo yang lembut namun untungya bukanlah lelembut. Marni mengusap pipinya.

Masih teringat kisah mengerikan yang diceritakan Juna beberapa hari lalu.

“Kau benar-benar ingin tau, Mar?” tanya Juna waktu itu. Masih dengan wajah pucat karena ketakutan Marni mengangguk. Dan Juna melanjutkan kisahnya.

“Papa dan Om Suryo sudah bersahabat sejak mereka masih kuliah. Dan ketika Papa dipercaya untuk memimpin perusahaan keluarga ini, Om Suryo diminta Papa untuk membantunya terutama dalam hal akunting, Om Suryo memang ahli dalam urusan itu.”

Sejenak Juna berhenti bicara. Matanya menerawang jauh dan Marni sungguh tak berani menyela.

“Namun entah mengapa hubungan baik mereka retak setahun sebelum Om Suryo meninggal. Selintas Papa pernah menyinggung masalah itu padaku. Kata Papa Om Suryo mulai tak bisa dipercaya. Aku tak mengerti. Kau tentu sudah tau, Mar, kalau aku memang tak mau terlibat dengan urusan bisnis Papa.”

Marni mengangguk. Pak Juna lebih senang melukis bukan? batinnya.

“Dan sejak itulah Papa mulai mengusik hubunganku dengan Dewi. Restu yang sempat diberikannya dicabutnya kembali tanpa menimbang perasaanku. Hingga kisah tragis itu terjadi.”

Wajah Juna mendadak berubah, menahan perih derita yang tak ingin ditanggungnya.

“Papa berpamitan padaku hendak meeting di villa perusahaan, di puncak. Tak lama Dewi mengirim pesan padaku untuk bertemu karena Papanya akan meeting bersama Papa. Namun ketika Papa pulang pada malam harinya, tidak demikian dengan Om Suryo. Dua hari kemudian mobilnya ditemukan di Sukabum dan…dan… Om Suryo ada di dalamnya…sudah tak bernyawa.”

Juna mendesah panjang. Kembali tangannya menutup wajah tampannya. Marni berdebar-debar.

“Lalu?” bisik Marni. Juna mengangkat wajahnya.

“Diduga bunuh diri karena terlibat urusan utang piutang. Tapi Tante Nancy tak memercayainya. Keluarga mereka memang punya hutang, namun tak perlu melarikan diri dari hutang itu karena mereka masih mampu mencicil dengan baik.”

“Menurut cerita Dewi yang didapat dari Mamanya, Om Suryo mengetahui ada tindakan penggelapan sejumlah dana di perusahaan ini. Dan…dan… diduga pelaku penggelapan itu adalah… Papa.”

Seketika Marni merasakan sakit di perutnya, seperti ditinju Kris John. Mulutnya terbuka namun tak sepatah katapun keluar. Juna melanjutkan dengan pedih.

“Dan Tante Nancy mencurigai Papa yang membunuh Om Suryo. Om Suryo meninggal dengan lubang di pelipis kirinya. Om Suryo memang kidal, namun menurut Tante Nancy sudah sejak mereka berpacaran puluhan tahun lalu, Om Suryo melatih tangan kanannya dan hingga terakhir masa hidupnya tak pernah lagi beraktifitas dengan tangan kirinya.”

Juna menghela napas panjang.

“Dan lagi, ketika dilakukan uji balistik, peluru yang menembus kepala Om Suryo, tidak…tidak sesuai dengan senjata dalam genggamannya. Namun karena tak ada bukti tak ada motif, kasus itu dianggap selesai. Dan Tante Nancy masih menyimpan dendam rupanya.”

Juna menangis. Marni menangis.

“Selamanya aku mencintai Papa, tapi aku juga ingin bahagia bersama Dewi. Menurut cerita Dewi, Om Suryo dulu pernah bercerita bahwa Papa mempunyai pistol yang tak lazim dimiliki oleh penusaha macam Papa. Diduga dengan psitol itulah Papa menghabisi nyawa Om Suryo. Sebuah Glock 27 dengan peluru kaliber .40.”

Marni terperanjat.

“Jadi…jadi… pistol yang ada di balik luksian itu yang membunuh Pak Suryo?” pekiknya tertahan. Juna mengangguk. Marni bergidik.

“Di mana pistol itu sekarang, Pak?”

“Ada padaku dan akan kuberikan pada Tante Nancy untuk uji balistik. Tante Nancy punya kerabat di kepolisian dan hal itu masih mungkin dilakukan.”

“Pak? Bapak tega?” bisik Marni tak percaya. Juna kembali menunduk galau.

“Selamanya aku mencintai Papa… selamanya. Meski jika memang Papa seorang pembunuh,” desahnya perih tak menjawab pertanyaan Marni.

Kini kereta api benar-benar telah berhenti. Marni bergegas menghapus sisa air matanya dan berbaur dengan penumpang lainnya untuk segera turun.

******************************************

Bimo melempar ponselnya ke tempat tidur. Mengapa ponsel Marni tidak aktif? Mengapa SMS nya tak berbalas? Sudah berhari-hari ia tak bisa menghubungi gadis pujaannya. Bahkan Sonya tak bisa memberitahunya di mana Marni berada. Ketika Bimo menelepon ke rumah Menteng pun Mbok Sum tak mengetahui keberadaan Marni. Kemana kekasihnya itu? Ada apa dengannya? Sakitkah? Pergikah? Tapi kemana?

Sejenak kegalauan hati Bimo terhenti mendengar ketukan di pintu kamar hotelnya. Ia segera membukanya.

Good morning, Sir.” Dua orang polisi Belanda berada di hadapannya. Sejurus kemudian kedua orang itu menunjukkan kartu identitasnya. Interpol?

Good morning,” sahut Bimo ragu.

Please come with us, Sir. No need to carry any goods, our men will take care of it for you.

What the hell is this? Go where? I think you got the wrong man!” ujar Bimo ketus.

You are Mr. Bimo Wicaksono, aren’t you?”

Yes, I am.”

Then come with us to our office. The captain will explain later.”

Bimo masih tak mengerti atas tuduhan apa ia ditangkap sehingga ia masih juga menolak.

For what are you arresting me?”

Murder on Suryo Darmawan of Indonesia.”

Bimo terperanjat.

***********************************************

Anak beranak itu menangis berpelukan. Lima tahun adalah waktu yang sangat lama untuk berpisah. Dan sesuai janji Marni dulu yang akan pulang setelah sukses dan membawa banyak uang. Namun marni tak mengerti, bahwa ibunya sangat merindukannya, tak peduli ia membawa banyak uang atau bahkan tak membawa sepeserpun. Anak gadis semata wayangnya kini telah ada dalam pelukannya.

Yaaaah, berambung lagi deh, udah malem siy, mesti bobok anak-anak besok dah masuk sekolah 😦

Sabar ya, Kawaaann πŸ™‚

Episode 13 : Penantian

14 tanggapan untuk “Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 12

  1. Argh… Aku ketinggalan kisah Marni ini nih.. Kayaknya perlu dibaca dari episode pertama. Seru sekali ceritanya.. πŸ™‚

    *meluncur ke cerita awal*

    choco:

    Hahahaha….. masih bisa diikuti dari awal kok, Uda πŸ˜€
    Moga gak bosan nih πŸ˜‰

  2. hiks masih bersambung ya mbak. Memang yang membunuh betul Bimo mbak?oops kok nanya sama penulisnya ya hehehe

    choco:

    Iya nih, Jeng, Cantik sudah rewel minta bobok hiks…
    Semoga bukan Bimo yaaa πŸ˜‰ πŸ˜€

  3. sebelumnya, minal aidin wal fadizin, mohon maaf lahir batin ya bu,,,
    alhamdulillah bisa menyapa lagi.. πŸ˜€

    woww,, udah episode 12,,,

    saya ketinggalan berapa episode yah?? hehehe

    aduuh,,, bossanovaaaaa… i like it… *jingkrak2….

    choco:

    Sama-sama, Mas Brur, maafkan daku jugak yaa

    Hahaha…. ini baru terbit setelah hampir sebulan, Mas Brur πŸ˜€
    Ati-ati kecengklak lho πŸ˜†

  4. Benarkah mbak bimo pembunuhnya? Benarkah?benarkah? Oh tidaaaakk….. *cakar akar tanah cari cacing*

    choco:

    Tenang, Mam….tenang…. kita tunggu hasil penyidik aja yaaa …. :mrgreen:

  5. harus nyiapin snack nih udah ketinggalan episode sebelumnya…

    *bookmark*

    choco:

    Honey, selamat ya bukunya dah terbit πŸ˜€ semoga segera menyusul berikutnyaa…
    Snack? Ada banyak nih, oleh-oleh lebaran kemaren πŸ˜€

  6. huahahaha….jadi mas Bimo bukan lelembut toh? qiqiqiqi…. menunggu episode berikutnya dengan (tidak) sabar πŸ˜‰

    choco:

    Gagah perkasa gitu, Orin San, jelas bukan lelembut πŸ˜†

  7. wuih, marni is back! πŸ˜†
    menunggu episode selanjutnya~
    *udah kayak nonton sinetron deh~* :mrgreen:

    choco:

    Wakakakaka….. nantikan episode selanjutnya πŸ˜›

  8. baiklah, mari kita menanti, dari judul episode ke-13, sepertinya si Bimo bakal masuk penajra, terus si marni bakal nungguin
    hihihihi, sok tahu tingkat tinggi si ais
    πŸ˜€

    Choco:

    Walaah nek nungguin kesuwen to, Riani, selak jamuran πŸ˜›
    Let’s see πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s