Dongeng insomnia · Iseng Aja

Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 13

Episode 13 : Penantian

Suara batuk kecil membuat kedua anak beranak itu melepas pelukan. Marni melihat sesosok pemuda di ambang pintu. Pemuda itu berkaos oblong putih dengan hem lurik coklat yang tak dikancing semua dan celana jeans yang sudah pudar warnanya (atau memang model pudar?). Blangkon tipis khas Solo menutupi kepalanya. Wajahnya menarik meski tak setampan Juna atau Mas Bimo. Ibu melambaikan tangan padanya menyilakan masuk. Dengan kikuk dan salah tingkah pemuda itu masuk ke ruang tamu.

“Marni, kamu masih ingat tidak? Ini Panji, anaknya Pakde Joyo ujung desa sana?” tanya Ibu.

Marni mencoba mengingat-ingat. Sekilas terbayang seorang anak lelaki delapan tahun yang menggembalakan sapi sambil selalu membawa buku kemanapun pergi. Saat itu Marni masih berusia lima tahun, belum bisa baca tulis dan anak lelaki itulah yang sering membacakannya cerita.

“Mas Panji? Mas Panji yang suka mendongeng untukku dulu?” tanyanya tak percaya. Pemuda itu tersenyum lalu menunduk. Spontan Marni mendekatinya dan memukul lengannya.

“Kamu dulu membohongiku, Mas. Katamu dulu Bawang Merah dan Bawang Putih punya kakak Bawang Bombay yang jahat dan suka menculik anak kecil. Padahal mereka ndak punya kakak kan?”

Panji tertawa tertahan. Masih diingatnya gadis kecil menggemaskan itu selalu bertanya setiap kali ia bercerita. Anak laki dengan usia 8 tahun tentu tak sabar menjawab pertanyaan ceriwis, maka ia katakan Bawang Bombay suka sekali pada anak kecil cerewet karenanya harus diam supaya gak diculik. Mengenang itu Panji tertawa pelan. Bibir Marni mengerucut karenanya.

Lanjutkan membaca “Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 13”