Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 14

Episode 14 : Di Tepian Bengawan Solo

Setelah lebih dari dua bulan yang melelahkan bagi Bimo, hari ini kelegaan mendatanginya. Bimo tak terbukti bersalah dan dinyatakan bebas. Hasil uji balistik menyatakan bahwa pistol Glock 27 yang diajukan sebagai barang bukti ternyata bukan pistol yang sama untuk membunuh Suryo. Dan surat kepemilikan pistol itu adalah atas nama Suryo Darmawan sendiri. Pembunuhan Suryo masih misteri. Namun disimpulkan tak ada yang bukti memberatkan Bimo sebagai pembunuh. Case closed. Again!

Nancy geram menahan amarah. Permainan apa ini? Jelas suaminya tak pernah mempunyai benda mengerikan itu. Lagipula bagaimana mungkin benda itu ada di rumah Bimo jika memang milik suaminya? Dipandanginya wajah Bimo yang kuyu namun penuh senyum kemenangan. Dengan amarah tak tertahankan didekatinya mantan sahabat baik suaminya itu. Tanpa disangka-sangka Nancy menampar Bimo dengan kuat. Pria itu terlontar ke belakang. Seketika petugas keamanan menenangkan Nancy yang histeris.

“Kau pembunuh, Bimo! Pembunuh!” Wanita anggun itu lepas kendali. Petugas meringkus tangan Nancy, namun wanita itu tak peduli sama sekali.

Go to hell! Biar membusuk di neraka, you bastard!” teriak Nancy. Bimo mengusap pipinya dan memandang Nancy dengan sedih. Ia tahu betul perasaan Nancy, ditinggalkan oleh suaminya untuk selamanya. Dibiarkannya wanita itu memaki-maki dirinya.

“Dengar, Bimo, aku yakin betul kaulah pembunuh suamiku. Dan taukah kau, bastard, darimana kudapatkan pistol itu? Juna! Juna yang memberikannya padaku agar dia bisa menikah dengan Dewi. Karena selama kau masih hidup, Juna takkan pernah bahagia!”

Sejenak Bimo terkejut, namun masih tetap bisa menguasai dirinya. Juna memang takkan pernah mendapat restu darinya, dan tentu saja Nancy sebelum melihat Bimo masuk penjara. Apa yang dilakukan Juna pasti akan dilakukannya juga dalam keadaan sama.

“Dan taukah kau, selama ini Marni bekerja untukku. Percuma kamu mencintainya! Tak ada perempuan manapun yang mau kawin dengan pembunuh! Pembunuh! Mati kau, Bimo!”

Kali ini Bimo benar-benar terkejut. Marni? Apa maksud Nancy dengan perkataannya? Bimo mengejar Nancy hendak menanyakan hal itu. Tapi wanita ayu itu telah diamankan petugas dan Bimo tak dapat bergerak karena wartawan mulai mengerumuninya.

Marni? Bekerja untuk Nancy? Apa maksudnya? Bimo tak mengerti dan ia akan mencari tahu.

************************************

Motor butut itu kembali melalui jalanan rusak berlubang. Kini Marni tak ragu lagi untuk berpegangan pada pinggang Panji, lha gimana lagi daripada terlempar-lempar gak karuan mending pegangan, aman. Hari itu sore menjelang petang, setelah urusan pekerjaan beres Panji berniat menunjukkan sesuatu pada Marni. Maka motor bututnya dibelokkan ke jalan lain menuju pinggir Bengawan Solo.

“Lho, mau ke mana ini, Mas? Kok belok sini?” teriak Marni di sela-sela deru motor yang suaranya mirip mesin jahit Butterfly itu.

“Sebentar, Dik, kita mampir Bengawan Solo dulu.” (ealah, sekarang manggilnya “Dik” to? Psst, narator dilarang komen!)

“Mau ngapain? Sebentar lagi sore, Mas. Nanti Ibu menunggu.”

“Gak papa, tadi aku sudah bilang kok,” sahut Panji. Ia memang sudah minta ijin pada Ibu untuk membawa Marni jalan-jalan. Tentu saja Ibu girang bukan buatan, malah Ibu yang jadi deg degan melihat kedua anak muda itu berboncengan.

Tak berapa lama Panji memarkir motornya di tepi Bengawan Solo. Di sepanjang tepian itu memang nampak petak-petak pematang kecil yang dimanfaatkan untuk bercocok tanam selama musim kemarau. Bila hujan mulai deras semua pematang itu tak akan nampak. Di tepian yang agak tinggi terdapat beberapa rumah penduduk. Panji menggandeng Marni melewati jalan menembus rerumputan menuju ke rumah-rumah itu.

“Mau ke mana sih, Mas?” tanya Marni mulai tak enak. Jalan setapak itu sebetulnya bisa dilalui motor lalu mengapa Panji mengajaknya berjalan kaki?

“Tenanglah, sebentar lagi sampai.”

Dibimbingnya Marni menuju salah satu rumah yang jaraknya agak jauh dari yang lain. Bahkan rumah kayu ini berbeda dengan tetangganya karena didisain seperti rumah panggung yang lumayan tinggi. Mungil, namun cantik dan asri dengan keseluruhan bangunan dari kayu. Panji menghentikan langkahnya tepat di depan rumah itu. Dipandangnya wajah gadis di sebelahnya dengan jantung berdebar-debar.

“Dik….,” panggil Panji lembut. (haduh, kok jadi deg deg an gini ya? Hush! Jangan berisik, Narator!)

Marni menoleh. Dipandanginya wajah Panji yang kecoklatan, wajah yang akrab dengan alam tidak halus seperti wajah Bimo atau Juna, namun nampak jantan dan perkasa.

“Hmm? Ada apa, Mas?”

Panji menggenggam kedua tangan Marni.

“Kamu tau ini rumah siapa?” tanyanya. Marni menoleh ke rumah cantik itu lalu menggeleng.

“Gak tau, Mas,” jawabnya polos. Panji tersenyum.

“Ini rumahku, kubangun sejak bertahun-tahun lalu.”

“Waaah, keren, Mas. Bagus banget. Tapi bukannya kamu masih tinggal di ujung desa itu, Mas?”

“Masih, rumah ini memang sengaja ku bangun untukku nanti. Setelah berkeluarga,” sahut Panji pelan. Mendadak pipinya bersemu merah kecoklatan.

“Ooo. Hebat kamu, Mas. Boleh lihat ke dalam gak?” tanya Marni lalu menarik tangannya dan menaiki rumah panggung indah itu. Panji mengikuti dari belakang. Sesampai di teras Panji mengeluarkan kunci dari daku jeans nya lalu membuka pintunya. Ruangan di dalam gelap, namun kilas-kilas sisa cahaya sore menembusi celah-celah dinding kayu lalu membiaskan warna-warna indah. Marni benar-benar menyukai rumah ini.

“Bagus rumahmu, Mas,” ujarnya riang lalu menelusuri tiap ruang dalam rumah itu. Semua masih kosong. Tak ada perabot bahkan belum ada listrik. Marni memasuki salah satu kamar terbesar.

“Ini kamar apa, Mas? Jendelanya banyak, ruangannya luas.”

“Oh, ini kamar tidur utama,” bisik Panji malu. Marni menoleh ke arahnya. Kok bisik-bisik kenapa sih? batinnya.

Kembali Panji menggenggam tangan Marni. Keduanya berdiri berhadapan.

“Dik….” (aduhaiiii, dik…dik…melulu, bikin hati mendesir ajah! Ssssssssttttttttt!)

“Ya, Mas,” jawab Marni mendesah. (aduuuuuh, aku keluar dulu ah, maluuuuu! Lho kalo narator keluar sapa yang mo lanjutin ceritanyaaaa??? Oiya yaaaa…).

“Maukah…eeeh…maukah kamu eerrr….menjadi ratu di rumahku ini?” bisik Panji dengan pipi memerah gelap dan jantung berdenyut-denyut. (jantung itu berdebar apa berdenyut sih? Wis sak karepmu, Tor! Sing penting dieemmm!!!)

“Ratu? Maksudmu apa, Mas?”

“Eeerr….nganu…. eehhh…..itu….”

“Nganu itu apa to, Mas? Mbok yang jelas, aku kan jadi deg degan ndak karuan gini,” rajuk Marni manja.Β  (ooohhh, aku melu berdenyut iniiii. Astopiluloo, diem napa?)

“Ihikk…. maksudku, kamu mau ndak jadi eehhh….istriku?” bisik Panji lalu memalingkan wajah karena malu. Tangannya gemetar dan berkeringat dingin. Marni spontan melepaskan genggamannya karena basah kena keringat, hiiiyyyy….

“Kamu tuh bercandaaa aja, Mas,” katanya tertawa lalu mencubit lengan Panji yang sedikit lebih kecil dari lengan Ade Rai (emang bisa dicubit ya lengannya Ade Rai?).

Panji memalingkan wajahnya dan menatap Marni dengan serius tapi masih malu-malu kucing. Naluri kucingnya ingin segera menangkap Marni yang jinak-jinak merpati itu. Sementara matahari masih hangat-hangat t*hi ayam memancarkan sinarnya ke dalam ruangan.

“Aku serius, Dik. Aku…aku….jatuh…..”

“Hah? Mana wong gak jatuh gitu kok?”

“Jatuh cinta, Dik. C-I-N-T-A bertahan satu ciiintaa, bertahan satu C-I-N-T-A.” (luka-luka yang kau berikaaan, bertubi-tub…….mmfffftttt. Puas? Masih ada satu roll nih lakbannya).

Marni langsung tertunduk malu. Ujung sepatunya mengorek-ngorek lantai kayu. Kedua tangannya tertangkup di depan dan badannya goyang kiri, goyang kanan, putar ke kiri putar ke kanan. Panji gemas memandangnya.

“Dik….gimana? Mau kan?” desaknya sambil ikut goyang kiri goyang kanan putar ke kiri putar ke kanan agar komunikasi seimbang. Marni menunduk. Sebetulnya ia menyukai Panji yang gagah dan perkasa tapi pendiam ini. Ditambah lagi hatinya baik dan penyayang sekali sepertinya. Tapi bayang-bayang Bimo masih ada di benaknya. Pria setengah baya yang tampan, berwibawa, dan pernah menciumnya itu. Oops, wajah Marni memerah seketika teringat kecupan Bimo. Panji menyalahartikan kemerahan pipi itu. Didekatinya Marni lebih dekat.

“Dik…..” (mmmfftt ggrmmmppp….. Mau komentar apa, Tor? Kenceng to lakbannya?) Diangkatnya ujung dagu Marni dengan gemetar. Mendadak seluruh tubuhnya berdenyut. Marni mendongak. Lalu membuang muka.

“Jangan, Mas?” bisiknya.

“Jangan apa?” tanya Panji bingung. Ooh, Marni malu, kiraiiinnn…. (weekkk, kecelik ya? Lho, kok malah aku yang komentar? Gggggg……mmmmffftttt).

“Ehhh, maksudku jangan sekarang jawabnya,” jawab Marni malu karena ke GR an. (Apa coba?)

“Ooh, ndak apa-apa, Dik. Aku akan menunggu sampai kamu siap. Tapi aku sungguh berharap kamu mau menerimaku, Dik Marni,” bisik Panji lembut. Marni jadi terharu. Digandengnya tangan Panji lalu keduanya berjalan keluar.

Matahari telah tenggelam, meninggalkan bias-bias jingga dan hitam di langit. Sementara permukaan sungai Bengawan Solo semakin menghitam.

Bersambung lagi yaaaa…… πŸ˜€

Episode 15 : Gunung Ku Daki Lautan Ku Sebrangi

Iklan

15 thoughts on “Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 14

  1. Mabruri Sirampog September 29, 2011 / 5:58 am

    requesstt…
    besok2 kalau naratornya berisik, didenda perhuruf yg keluar seratus ribu aja deh,,
    soalnya ganggu konsentrasi para pemirsa… hahahah

    Aduuh, sejak kapan yah marni sudah balik ke solo,,,, ada yg ketinggalan episode kayaknya… πŸ˜€ πŸ˜€

    choco:

    Wkwkwkkwkw…. tenang, Mas Brur, lakbannya basih sak roll lagi πŸ˜†

    Waduh, ketinggalan 2 episode nih, Mas πŸ˜€

  2. Mbah Jiwo September 29, 2011 / 11:13 am

    ini blognya penulis ya? salam knal yah…

    choco:

    Blognya emak-emak yang doyan ndobos, Mbah πŸ˜›
    Salam kenal juga, makasiy dah mampir πŸ˜€

  3. Orin September 29, 2011 / 11:53 am

    hahahahahaa….naratornya cerewet bgt deh ah episod inih, perlu tambahan lakban tah? πŸ˜›

    choco:

    Tenaang, Orin San, masih ada satu roll kok πŸ˜€

  4. marsudiyanto September 29, 2011 / 4:38 pm

    Sudah sampai episode 14 ternyata…

    choco:

    Sudah hampir tamat, Pak πŸ˜€

  5. didta7 September 29, 2011 / 5:30 pm

    wah saya ketinggalan ceritanya

    choco:

    Masih bisa dikejar kok πŸ˜€

  6. Nchie September 29, 2011 / 6:32 pm

    allow Mba Pipit pa kabar..
    Waduh dah episode 14 lagi..
    sebelumnya ga pernah bacaaa hehe..

    Tulisannya keren banget,puanjang rek..

    choco:

    Aloha Jeng, alhamdullilah kabar baik πŸ˜€ Gimana Olive? Makin lucu yah πŸ™‚
    Hahahaha…. sudah hampir tamat malah πŸ˜€
    Makasiy ya, Jeng….

  7. tunsa September 30, 2011 / 6:07 am

    hehe…yg lucu itu naratornya, hihi…jadi kisahnya tak mendebarkan, hihi..
    marni..marni…jawab “iya” aja kok susah… πŸ˜€

    choco:

    Hihihihi… bawel banget naratornya emang, nimbruuuung ajah πŸ˜€
    Susah, Mas, masih terbayang-bayang MAs Bimo ihiiiiyyy….. πŸ˜†

  8. Emanuel Setio Dewo September 30, 2011 / 9:42 am

    Iya nih, naratornya berisik. Eh ada typho tuh pas:

    Sesampai di teras Panji mengeluarkan kunci dari daku jeans nya lalu membuka pintunya

    Kalau dibuat buku ndak boleh ada narator yg berisik loh. Hehehe

    choco:

    Oiyaaa, hahahaha sering salah ngetik 😳

    Sipp, nanti narator tak bius dulu aja πŸ˜€

  9. nia/mama ina September 30, 2011 / 9:46 am

    wahh aku ngga ngikutin jalan ceritanya…berarti hrs baca dr episode awal nechh…kata Mbak Lidya ceritanya kerenn…dibikin buku aja mbak….

    choco:

    Hihihihihi….. jadi malu, Mam 😳
    (Psst, nanti minta dicritain ama Jeng Lidya aja πŸ˜€ )

  10. Dewifatma September 30, 2011 / 1:58 pm

    Mbak, Mbak… Itu narator dari mana sih…? Berisik banget… Mengganggu denyutan-ku aja! Lakban aja tuh ampe cerita selesai… Tapi, kalo si narator mulutnya di lakban, yang cerita syapppaaa??

    choco:

    Wakakaka… lanjutin dikau, Jeng, kau kan pinter jugak (dan sebawel naratornya) πŸ˜‰

  11. LIdya Oktober 3, 2011 / 4:21 am

    gaa-gara galau ketinggalan serial marni nih 😦
    untuk aja belum tamat.
    Marni cepat pulang ditunggu tuh sama Bimo

    choco:

    Aku juga mbatin, ke mana di mana nih Jeng Lid πŸ˜€

    (Ayu ting ting mode: on πŸ˜€ )

  12. ais ariani Oktober 14, 2011 / 6:00 pm

    ho’oh ki… naratore sesuk ngganti ae Mar!
    πŸ˜€
    hehehehhehee

    choco:

    Hihihihihi…. episode berikutnya narator disekap di gudang :mrgreen:

  13. ~Amela~ Oktober 25, 2011 / 9:07 am

    mas panjiii. aku mauuu. aku mauuuuu *dilemparsendal

  14. Una Desember 1, 2011 / 1:09 pm

    Jiahahaha aku ngguyune karena naratore :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s