Book Review: Ronggeng Dukuh Paruk

Ronggeng Dukuh Paruk adalah salah satu buku favoritku, sebuah karya sastra modern yang tak lekang dimakan jaman untuk selalu dinikmati. Buku ini juga yang telah menginspirasiku untuk menulis selarik prosa bertajuk Sang Penari yang telah diapresiasi oleh blogger kondang, Om NH ihik…ihik… 😳

Ronggeng Dukuh Paruk juga menjadi salah satu bacaan studi di beberapa universitas di Eropa bahkan menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa jurusan Asia Timur (Dr. Bertold Damhauser, Univ. Bonn, Jerman – Ronggeng Dukuh Paruk). Buku ini memuat tiga judul yaitu Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala.

Nah, berikut review buku keren ini πŸ˜‰

JudulΒ  Β  Β Β  : Ronggeng Dukuh Paruk

PenulisΒ Β Β  : Ahmad Tohari

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

TebalΒ Β Β Β Β Β Β  : 406 hal

CetakanΒ Β  : Ketiga, April 2007

Dukuh Paruk, sebuah pedukuhan miskin yang bahkan di musim kemarau tak seorangpun bisa menikmati beras dari kualitas terburuk sekalipun. Pedukuhan yang seluruh warganya mempunyai satu moyang yaitu Ki Secamenggala, seorang penjahat yang dijauhi orang namun dipuja warga Dukuh Paruk.

Kehidupan Dukuh Paruk mulai bangkit ketika Srintil, seorang gadis kencur yang kerasukan roh indang dinobatkan menjadi penari ronggeng. Belasan tahun Dukuh Paruk tak dimeriahkan oleh bunyi calung dan kendang serta seruan-seruan cabul. Seluruh warga terpesona ketika untuk pertama kalinya bocah perempuan cantik itu melentikkan jemarinya dan menggoyangkan pinggulnya. Tak seorangpun pernah mengajari perawan kencur yang telah ditinggal mati kedua orang tuanya akibat menantang maut menelan bongkrek beracun buatannya demi menghindari tuduhan warga. Namun itulah garis nasib Srintil yang kemudian diserahkan oleh kakeknya kepada Kartareja, Sang Dukun Ronggeng.

Sejak itulah Srintil menjadi primadona. Semua orang ingin memanjakannya. Semua ibu Dukuh Paruk mengkhayalkan Srintil lahir dari rahimnya. Semua laki-laki sehat mengkhayalkan Srintil berada di pangkuannya. Bahkan para istri Dukuh Paruk mengharap suaminyalah lelaki pertama yang kelak akan menjamah Srintil untuk pertamakalinya.

Seorang ronggeng di lingkungan pentas tidak akan menjadi bahan percemburuan bagi perempuan Dukuh Paruk. Makin lama seorang suami bertayub dengan ronggeng, makin bangga pula istrinya.

Lihatlah, Dukuh Paruk adalah cermin kemiskinan dan kebodohan, percaya akan hal-hal mistis yang tak masuk akal. Orang luar Dukuh Paruk akan berkata,

Jangan mengabadikan kemelaratan seperti orang Dukuh Paruk.

Adalah Rasus, seorang remaja empat belas tahun yang merupakan kawan main Srintil sejak kecil. Kenyataan bahwa Srintil telah menjadi primadona milik semua orang, telah membuatnya marah dan kecewa. Perlakuan para pemuda lain yang menyelipkan uang di dada muda Srintil ketika menari membuatnya menggelegak marah. Namun Srintil bukanlah miliknya. Puncak kemarahannya adalah saat Srintil harus menjalani prosesi bukak-klambu, syarat terakhir yang harus dijalani agar seseorang sah menjadi ronggeng.

Bukak-klambu adalah sayembara terbuka bagi tiap laki-laki yang mampu membayar sejumlah uang yang telah ditentukan oleh dukun ronggeng. Pembayar tertinggilah yang berhak menikmati virginitas Srintil. Sadis! Tak bermartabat! Srintil bukannya menyukai hal ini karena yang telah ada di hatinya adalah pemuda Rasus, yang bahkan hanya dengan sekeping uang logam pun tak mampu membayarnya. Maka Srintil berniat menyerahkan keperawanannya pada Rasus. Namun pemuda ini menolak.

Hingga malam bukak-klambu tiba. Pembayar tertinggi telah ditentukan. Dan keperawanan Srintil akhirnya diserahkan pada pemuda yang tak membayarnya sedikitpun. Sementara sang pemilik uang dengan segala kebodohannya telah mentah tertipu.

Rasus pun keluar dari Dukuh Paruk. Setelah malang melintang di Pasar Dawuan akhirnya ia berseragam hijau tentara meski tanpa pangkat.

……aku menjadi anak Dukuh Paruk pertama yang berseragam hijau, berbicara dalam bahasa Indonesia, lagipula menerima gaji. Bukan main hebat!

Petualangan Srintil menjadi ronggeng sungguh mengibakan sekaligus menjengkelkan. Hidup memang sebuah pilihan, dan Srintil telah menentukan pilihannya. Ketika keinginannya untuk menikah dan punya anak hanyalah tinggal impian. Nyai Kartareja, istri Sang Dukun Ronggeng telah memijit hingga mati indung telurnya, peranakannya. Karir seorang ronggeng akan mati sejak kehamilan pertamanya. Kesadaran akan hal itu membuat ocehan Srintil akan perkawinan dan anak sangat mengibakan.

Menjalani profesi ronggeng sama dengan menyerahkan dirinya ke perlakuan paling tidak manusiawi dari birahi lelaki. Semua karena kutukan indang yang dengan semena-mena menitis pada Srintil. Ronggeng membutuhkan bakat alam, meski pada akhirnya hanya tergeletak di ranjang. Bahkan Srintil bertualang menjadi seorang perempuan pemancing bagi lelaki berusia tujuh belas yang kehilangan kelelakiannya karena terlalu dimanja ibunya. Di sini Srintil gagal memainkan perannya sebagai perempuan yang tak pernah ditolak. Namun tak seorangpun tahu, segala akal dilakukannya untuk predikat ronggeng penakluk yang disandangya. Dan segenggam uang berhasil diraupnya meski hati tak bisa tertipu, misi telah gagal.

Tahun 1964-65 adalah tahun traumatik bagi bangsa Indonesia. Dan Dukuh Paruk masih tetap cabul, sakit, dan bodoh. Dan karena kebodohannya itulah Dukuh Paruk menjadi alat propaganda orang-orang tertentu. Ronggeng Dukuh Paruh menjadi bagian yang pasti dari rapat-rapat propaganda akan kemiskinan, pembagian tanah sama rata, kedaulatan rakyat dan sebagainya. Lambang-lambang didirikan di mana-mana. Sementara orang-orang Dukuh Paruh masih tetap tak mengerti karena bagi mereka hidup adalah sebagaimana mestinya dijalani menurut sasmita alam. Tayub yang sudah resmi dilarang pemerintah digelar secara jor-joran. Siapa saja boleh naik panggung mencium Srintil dan berjoget bersamanya. Hingga akhirnya tehenti dengan sendirinya. Para pelaku ditangkap dan menghuni tahanan. Sekali lagi pahlawan telah menyelamatkan Srintil dari penjara.

Kebingungan Dukuh Paruk terjawab ketika gosip beredar bahwa di Jakarta terjadi bunuh-bunuhan pada awal Oktober. Penjara menjadi penuh. Dan Dukuh Paruk pun menerima kepunahannya.

Dini hari ketika langit timur berhias kejayaan lintang kemukus, Dukuh Paruk menyala, menyala. Api menggunung membakar Dukuh Paruk.

Kisah akhir buku ini sangat tragis. Tetap berpusat pada Rasus dan Srintil. Bagaimanapun Srintil tetaplah perempuan yang mendambakan ketenangan perkawinan. Ketika pada akhirnya harapan hanyalah tinggal harapan. Sakit hati karena tertipu kemanisan pemuda kota telah menggoyahkan jiwanya. Sementara Rasus yang selalu menghindar dari bisikan cintanya pada akhirnya mendapatkan Srintil yang telah tak bersisa. Tinggal sosok dan nyawa.

Ya Tuhan! Kini aku sungguh mengerti. Manusia tanpa kesadaran yang sedang berjalan di depan itu adalah amanat bagiku.

Dan kesadaran Rasus untuk mengentaskan Dukuh Paruk dari kebodohan dan kemiskinan juga dilandasi akan kesadaran bahwa dialah putra sejati Dukuh Paruk. Dukuh Paruk harus menemukan dirinya kembali. Karena kemelaratan selalu disertai dengan kebodohan.

*************

Fiuuhhh, selesai jugak πŸ˜€ Ternyata susaaaaaaahhhhh banget me review sebuah buku yaaa. Tapi buku ini sangat bagus. Kuharap Kawan tertarik untuk membacanya πŸ˜€ Tebal memang, tapi selalau ada kejutan di setiap halamannya πŸ˜‰

Horeeee….. Artikel ini diikutsertakan pada Book Review Contest di BlogCamp

Wish me luck πŸ˜‰

Iklan

26 thoughts on “Book Review: Ronggeng Dukuh Paruk

  1. Mabruri Sirampog Oktober 9, 2011 / 12:27 pm

    Ahmad Tohari, budayawan ngapak bu.. hihihi…
    saya suka karya Beliau,,
    Ronggeng Banyumasan inilah yg juga jadi latar belakang berdirinya Pabrik teh kaligua bu…

    sukses deh ngontes reviewnya.. πŸ˜€

    choco:

    Owh, berarti ronggeng emang berasal dari sana ya, Mas Brur?
    Iya, beliau lahir di Banyumas πŸ˜€

  2. vizon Oktober 9, 2011 / 12:40 pm

    Waw..! Reviewnya apik tenan.. πŸ˜€

    Kebodohan dan kemiskinan dua entitas yang harua sirna dari hidup kita. Namun, selalu saja ada orang yang menginginkan kedua hal itu tetap menjadi milik bangsa kita, agar mereka dengan mudah mengeruk segala “kekayaan” yang kita miliki..

    Cerita Dukuh Paruk patut dijadikan pembelajaran bagi kita semua..

    Semoga sukses di acaranya Pakde ini ya mbak.. πŸ™‚

    choco:

    Jadi ada kebodohan dan pembodohan di negri ini ya, Uda hiks…hiks… πŸ˜₯
    Seharusnya kita semua sudah kaya dan pintar 😦
    Maturnuwun, Udaa πŸ˜€

  3. Pakde Cholik Oktober 9, 2011 / 1:34 pm

    Saya telah membaca dengan cermat artikel sahabat.
    Saya catat sebagai peserta
    Terima kasih atas partisipasi sahabat
    Salam hangat dari Surabaya

    choco:

    Maturnuwun, Pakdee
    Salam hangaaatt dari Bogor πŸ˜€

  4. honeylizious Oktober 9, 2011 / 2:05 pm

    aku juga suka banget buku ini…

    choco:

    Bagus banget ya, Say πŸ˜€

  5. maminx Oktober 9, 2011 / 9:35 pm

    oh pantesan lagi banyak blogger posting kan book review gitu. ku pikir emang ada musim nya gitu. eh ternyata ada kontes lagi. kali ini blogcamp ya. mantap

    semoga sukses kontesnya ya, amin..

    choco:

    Ikutan, Minx, hadiahnya kuereeennn πŸ˜€
    Makasiy yaa…

  6. ~Amela~ Oktober 10, 2011 / 8:38 am

    dulu sempat baca sinopsisnya di buku sastra yang nemu di gudang..
    tapi belum berkesempatan baca versi lengkapnya.. :3

    choco:

    Seru lho, Say, baca deh pasti terpesona πŸ˜€

  7. Orin Oktober 10, 2011 / 8:39 am

    Huwaaa…mba Choco, aku jg suka bgt trilogi novel ini, dulu (pas kuliah di bandung) nemu si novel di perpus, aseli ga bs berhenti baca, ampe lupa kalo ada ujian hahahaha….

    Gudlak ngontesnya yaa…

    choco:

    Iya betul, selalu ada kejutan πŸ˜€
    Thanks ya, Say πŸ˜€

  8. nia/mama ina Oktober 10, 2011 / 11:11 am

    mantaf…reviewnya panjang dan lengkap…..smoga sukses utk kontesnya…..penasaran sm bukunya…tp tebal banget yach 406 halaman hiks…

    choco:

    Tapi keren lho, Mam, segitu tebel gak berasa kok karena seruuu πŸ˜€

  9. Dewifatma Oktober 10, 2011 / 11:54 am

    huwaaa….. Mbakyu-ku ini pinter banget. Reviewnya apik tenan. Pasti menang nih…………….

    Aku mupeng pengen mbaca buku ini. Boleh pinjam punyamu nggak, Mbak? πŸ˜€
    Atau gini aja, kalo ntar Mbak dapet hadiah buku dari Pakdhe, buku Dukuh Paruk-nya dihibahkan ke aku aja… gimana..gimana?
    Okeh kan, ide kyu..?

    choco:

    Waaaaa, ini buku kesayangan je 😦
    Gini aja, Jeng, kau cari dulu di Bintan ada gak, kalo gada baru tak kirimin. Okay? πŸ˜€

  10. nia/mama ina Oktober 10, 2011 / 12:30 pm

    oot….mbak nama krimnya apa utk kaki yg pecah2….kepengen je…..soale kakiku jadi kayak inem hihihih…..

    choco:

    Wakakakaka….. pake Vaseline, Mam, ato gak yg keluaran Viva bentuknya pot kecil gitu, foot (apa food ya?) cream kalo gak salah hihihihihi…..

  11. melly Oktober 10, 2011 / 2:25 pm

    Mbaa kita mereview buku yang sama..hehe
    buat bikin review ini, saya membacanya 3 hari..duh
    bela2in baca lagi buku (ebook tepatnya) ini demi review buat pakdhe..hehe

    tp asli buku ini emang keren. cuma aku blm baca lg 2 buku yg lain.

    tp review mba ini jg sekaligus triloginya yah? waah keren.
    aku cuma ronggeng dukuh paruk doank..
    semoga menang ya mba..

    choco:

    Emang seru kok me review buku ini yaa πŸ˜€
    Owh, kalo judul pertama itu “Catatan Buat Emak”, Jeng. Baca lanjutannya, Mel, seru abis lho πŸ˜€
    Semoga dikau juga menang ya, Say πŸ˜€

  12. Ejawantah's Blog Oktober 10, 2011 / 3:00 pm

    Wah keren dalam mereview buku ini.Tepat dan mengena. Semoga berhasil dalam kontesnya.
    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah’s Blog

    choco:

    Makasiy, Mas πŸ˜€

  13. ysalma Oktober 10, 2011 / 5:39 pm

    saya baca trilogi ini duluu sekali, hasil minjam teman yang juga di pinjam dari perpustakaan keliling, sampulnya sudah dekil, tetapi cerita srintil dan rasus itu masih ingat sampai sekarang, kemiskinan yang satu paket dengan kebodohan,
    sukses di kontes reviewnya πŸ™‚

    choco:

    Buku ini emang selalu meninggalkan bekas di hati πŸ˜€ Ironi kehidupan yang benar-benar ada, bukan sekedar fiksi ya, Jeng.
    Makasiy yaa πŸ˜€

  14. fitrimelinda Oktober 10, 2011 / 9:46 pm

    masih ada ga ya dijual ditoko buku buku ini?jadi penasaran,soalnya td mbak melly juga ngereview buku ini..

    sukses ya mbak

    choco:

    Sepertinya masih ada di Gramedia πŸ˜€
    Makasiy, Jeng πŸ™‚

  15. Mbakyu tary Oktober 10, 2011 / 9:55 pm

    malam ini blogwalking terdampar di 2 blog juga lagi ngebahas tentang novel ini, udah di filmkan ya, dan tayang bulan depan… jadi penasaran saya.

    choco:

    Sepertinya udah. Dan semoga filmnya gak menyimpang dari buku yaa. Sebetulnya yang paling cocok memerankan Srintil ini si Happy Salma ya, Jeng 😳

  16. @yankmira Oktober 11, 2011 / 4:56 pm

    kalau review buku, kan harus dibaca dulu ya mba, *nah, baca nya ini kadang aku suka lelet

    choco:

    Wakakaka…. seingetnya aja, Yank πŸ˜€

  17. LIdya Oktober 11, 2011 / 6:06 pm

    reviewnya ciri kahn mbak chocho.moga menang mbak

    choco:

    Hihihihihi….. Jeng Lid, malu ach saya πŸ˜›
    Makasiy ya, Jeng πŸ™‚

  18. Puteriamirillis Oktober 12, 2011 / 2:32 pm

    tragis ya mbak, duh kenapa ya harus seperti itu…tp pembelajaran yg berharga mbak, sukses ya mbak

    choco:

    Fiksi yang nyata di kehidupan πŸ™‚
    Makasiy ya, Jeng Put πŸ˜€

  19. bundadontworry Oktober 13, 2011 / 2:39 pm

    wah, review nya mantaf banget ini Mbak Choco
    kayaknya bakal jadi juara di kontes ini πŸ™‚
    salam

    choco:

    Waa, makasiy Bundaaa…. πŸ˜€

  20. Emanuel Setio Dewo Oktober 14, 2011 / 10:02 am

    Keren…
    Semoga menang…
    GBU

    choco:

    Thanks yaa… GBUT πŸ˜€

  21. andy November 13, 2011 / 1:18 am

    jadi pengen baca juga nihh….

    choco:

    Sudah terbit versi terbaru dari buku ini. Ada di Gramedia, kalo gak salah dengan cover dari film ‘Sang Penari’ πŸ™‚

  22. andy November 13, 2011 / 8:17 am

    bagusan mana? originalnya atau versi yang barunya?

    choco:

    Sorry, mungkin daku salah menyampaikan πŸ˜€ Yang baru covernya doang kok, isinya nampaknya tetap sama, Ahmad Tohari πŸ™‚

  23. Iqoh November 27, 2011 / 7:26 am

    Lebih seru novelnya…dalam film konflik batin srintil kurang menggigit…mungkin karena trilogi yang dirangkum satu film ya hingga sang sutradara mengalami kesulitan…

    Salah satu novel yang sering sekali menjadi incaran pembuatan skripsi analisis penerjemahan Bahasa Jepang

    Salam kenal ya mba…

    choco:

    Iya, filmnya kurang sesuai dengan novelnya. Tapi sang sutradaara sdh mengatakan “terinspirasi” dari novel, jadi bukan memfilmkan novel πŸ™‚
    Kalo sdh baca novelnya trus monton filmnya memang kurang menarik πŸ™‚
    Salam kenal juga, makasiy dah berkunjung yaa…

  24. okeyzz Desember 20, 2011 / 1:07 am

    Kereen uda baca bukunya.. saya belum sempat nih.

    Eh, kalau tertarik

    Ayo mulai ngeresensi lagi.. πŸ™‚
    Ikutan kontes review berhadiah buku terbitan Pustaka Jaya yuk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s