Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 15

Episode 15 : Gunung Ku Daki Lautan Ku Sebrangi

Mbok Sum bersimpuh di kaki tuannya dengan air mata berlinang-linang.

“Ooh, Ndoro huhu…..syukur sudah pulang huhuhuu…..rumah ini sepi tanpa Ndoro, hati ini gelisah memikirkan Ndoro huhuhu…..jiwa ini melayang-layang menanti Ndoro huhuhu…. Mas Juna juga ndak pernah datang…huhuhu….,” tangis Mbok Sum. Bimo menyentuh bahu pembantu setia itu agar berdiri. Terharu hatinya melihat kepedihan yang spontan keluar dari lubuk hati perempuan tua itu.

“Sudahlah, Mbok. Semua sudah beres, aku akan istirahat dulu. Oya, satu jam lagi tolong siapkan makan malam ya,” ujar Bimo. Mbok Sum mengiyakan dengan girang. Hampir satu bulan ia tak memasak makanan istimewa, kali ini akan dihidangkannya makan malam yang lezat untuk tuannya. Tapi langkahnya terhenti karena mengingat sesuatu. Hatinya sedih tapi tuannya harus tahu. Mbok Sum berjalan ke dekat meja telepon dan mengambil kotak kecil dari situ.

“Ndoro, maaf, ini… err… ada titipan dari Nak Marni,” katanya dengan takut-takut.

Bimo mengambil kotak kecil dari perak itu dengan hampa. Tanpa membukanya pun ia sudah tahu apa isinya. Cincin yang bermata jeli itu, tanda cinta kasih untukmu. Oh Marni…oh Marni…kekasihku…bilang pada orang tuamu…. Gontai Bimo menaiki tangga menuju kamarnya.

************

Bau harum irisan timun yang beradu dengan tajamnya pisau membuat Marni segera menuju dapur. Aroma sambal terasi dan ikan asin membuat perutnya mengalunkan irama dang dut yang mengentak menggoyahkan sukma.

“Marni jadi lapar, Bu,” ujarnya. Ibu tersenyum.

“Sebentar lagi matang, Nak. Nanti kita sama-sama makan di teras belakang ya.Β  Panji masih di kebun?”

“Masih, dari tadi sibuk terus di kebun. Bu, Mas Panji itu bisa nyetir mobil ndak ya?” tanya Marni sembari membantu Ibu menyiangi kangkung untuk direbus. Marni mengingat mobil kecil hadiah dari Markisa Gee yang tak pernah dikendarainya.

“Heh? Ya bisa aja, wong kalo lagi banyak pesanan luar kota Panji menyewa pick up. Kenapa memangnya?”

“Gini lho, Bu, aku punya mobil kecil di Jakarta, mobil second sih tapi kondisi masih bagus banget. Kalo Mas Panji bisa nyetir, biar bawa ke sini aja.” Ibu berkaca-kaca.

“Oalah, Nduk, begitu sukses kamu di Jakarta ya? Ibu ndak nyangka lho,” desah Ibu. Air mata menetes di sudut mata dan diusapnya dengan punggung tangan. Marni tersenyum lembut.

“Kan aku dah janji, Bu, kalo ndak sukses aku pasti belum pulang,” bisiknya. Hatinya berdesir karena membohongi Ibu. Ia memang berencana pulang, tapi bukan saat ini melainkan akhir tahun bersama Mas Bimo. Marni menunduk berusaha menyembunyikan air mata yang siap menetes.

“Jangan begitu, Ibu sudah tak tahan merindukanmu, Nak. Setiap Lebaran Ibu menanti kamu pulang, sudah lima kali puasa kau tak pulang hiks…. sudah melewati rekor bang Thoyib kau, Nak.”

“Sudahlah, Bu. Aku juga merindukan Ibu.”

Kedua anak beranak itu saling berpelukan kemudian saling berpandangan lalu tertawa sambil menangis.

“Sana, panggil Panji. Kita makan bersama ya,” ujar Ibu sambil sibuk mengusap air mata. Marni segera membawa bakul nasi dan menghambur ke kebun.

“Maaaass…..Mas Panjiiiii….. makan dulu yoooo!” Seru Marni memanggil Panji. Sang Pemuda mendongak dan tersenyum senang. Ah, rasanya seperti dipanggil istri tercinta dan Panji senyam-senyum sendiri membayangkan itu.

“Idih, kok senyum sendiri, Mas?” tanya Marni keheranan. Panji bersemu malu dan ngeloyor ke sumur untuk cuci tangan.

Tak lama ketiganya menikmati makan siang nan lezat meski hanya rebusan sayur, sambal dan ikan asin. Marni melayani Ibu dan Panji makan siang.

“EnakΒ  makan bertiga gini ya,” gumam Ibu.

“Iyalah, Bu. Apalagi sambel gorengnya wuenak tenaaaan. Ya kan, Mas?” sahut Marni. Panji mengangguk kegirangan.

“Kamu ndak perlu kembali ke Jakarta lagi to, Nduk?” tanya Ibu sambil lalu. Marni terhenyak dengan pertanyaan Ibu.

“Hei, kok malah ngelamun?” tegur Ibu.

“Eh, mungkin masih kembali ke sana, Bu. Kan aku masih punya barang-barang yang harus kuurus. Dan lagi pelangganku pasti kehilangan jamuku,” gumam Marni lirih. Panji hanya diam namun hatinya memendam kekawatiran.

“Tapi jangan lama-lama ya, Nduk. Ibu kesepian, segera selesaikan urusanmu lalu menetaplah di sini saja.”

“Kapan rencana kembali ke Jakarta, Dik?” Panji buka suara. Marni mendesah.

“Belum tahu, Mas. Mungkin minggu depan?”

“Saya antar kapanpun kamu mau ke sana.”

Marni terkejut. Ibu tersenyum kegirangan. Panji berdebar-debar. Burung-burung berkicau merdu. Dan awan pun menyibak langit.

*******************

Bimo menghirup cappuccino hangat sembari menatap ke luar jendela. Awan-awan begitu putih seperti kapas. Andai kudapat ke sana terbang, akan kuraih kubawa pulaaang, nyanyi hati Bimo. Seorang pramugari cantik menghampirinya menanyakan kebutuhan pria tampan itu. Bimo hanya tersenyum dan mengucap terimakasih. Si Cantik berlalu dengan kecewa, berharap bisa lebih lama di dekat pria setengah baya namun mempesona itu.

********************

Ibu berjalan mondar-mandir di teras depan, berharap anak gadisnya segera kembali. Tidak ada pengantaran jamu, Marni hanya ingin pergi ke kota bersama Panji. Entah mau belanja apa anak manis itu. Ibu meremas-remas tangannya gelisah. Sebentar-sebentar memanjangkan lehernya melongok ke tikungan jalan, sebentar kemudian mengintip ke ruang tamu dari jendela. Duh, mana ini Marni dan Panji?

Seperti menjawab doa Ibu, tak lama kemudian suara motor Panji yang seperti mesin jahit Butterfly itu terdengar di kejauhan. Ibu lega bukan main. Segera ia menyambut mereka di pagar.

“Marni, cepat, Nduk,” seru Ibu gugup. Marni segera turun dari boncengan Panji dan melepas helmnya.

“Ada apa sih, Bu? Kok gugup amat?” tanyanya kuatir. Panji memarkir motornya dan menatap Ibu dengan kuatir.

“Itu, ada tamu dari Jakarta. Sudah dari tadi menunggu. Ibu sudah bilang kamu ke kota, tapi beliau berkeras mau menunggu.” Jantung Marni berlompatan tak karuan. Tas belanjaan yang dibawanya terlepas dari genggamannya. Tak seorangpun tahu alamatnya di kampung.

“Sss…siapa, Bu?”

“Pria setengah baya, Pak Bimo namanya.”

Langit seakan runtuh menimpa kepala Marni. Dadanya berdegup, berdenyut dan berdebar sekaligus. Pipinya memucat dan mulutnya membuka. Panji segera merangkul bahu Marni.

“Siapa dia, Dik?” tanyanya penuh curiga. Marni tak kuasa menjawab, kakinya melangkah seperti robot menuju teras dan seketika terhenti ketika melihat sosok tampan yang keluar dari ruang tamu.

Bimo menatap penuh rindu pada gadis muda pujaannya.

“Marni…,” desahnya.

“Mas Bimo….,” bisik Marni.

Lalu Marni berlari menghampiri dan Bimo menyambutnya persis seperti film Bollywood yang sering ditontonnya. Tanpa memedulikan sekitarnya keduanya berpelukan penuh rindu.

Dan jutaan mawar merahΒ  jatuh dari langit, ditaburkan oleh para bidadari dari khayangan. Symphony merdu pun mengalun lembut dimainkan para dewa di atas awan-awan. Aroma kembang tujuh rupa menguar terbawa angin sepoi-sepoi.

Tanpa terasa Panji meremas kunci motornya dengan kuat. Darah menetes melewati kepalan tangannya yang memucat.

“Jadi ini yang membuat Marni ingin kembali ke Jakarta?” geram hatinya panas. Tiba-tiba ribuan kelelawar menggelapkan hatinya.

Duuh, to be continued…. again…..

Episode 16: …….. (judulnya belum nemu 😦 )

Iklan

11 thoughts on “Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 15

  1. Mamaseris Oktober 18, 2011 / 11:04 am

    Haduuuhh lama dinanti2 akhirnya tayang juga….. Suka banget. Matur suwun sandiwarane mbak yuu

    choco:

    Sami-sami, Mam, saya juga senang bisa menghibur 😳 Ikuti terus lanjutannya ya, Mam πŸ˜€

  2. Mabruri Sirampog Oktober 18, 2011 / 11:19 am

    aduuh,, kasian si Panji….

    hihih…
    nyari lagunya pinter banget deh bu… hahaha

    choco:

    Lagunya mengiris-iris kalbu, Mas hahahaha….. πŸ˜€

  3. LIdya Oktober 18, 2011 / 12:57 pm

    saking kangennya sama mas bimo tuh, marni lupa kalau ada Panji ya πŸ™‚
    ayo pak Bimo bawa Marni kejakarta tapi jangan lupa nikah dulu πŸ™‚

    choco:

    Waaa…. Ibu lebih senang ma Panji, Jeng 😦 Piye dong jadinya? πŸ˜₯

  4. Kontraktor Oktober 18, 2011 / 1:46 pm

    duh kasian…sabar yah…

    choco:

    Semoga sabar, Mas, makasiy ya πŸ˜€

  5. Emanuel Setio Dewo Oktober 18, 2011 / 4:14 pm

    Dalam episode ini sudah berapa lagu yang dikutip ya? Dari lagu anak2 sampai lagu ndang dut. Hehehe…

    choco:

    Wakakaka…. ayo tebak ada brapa lagu? πŸ˜›

  6. Orin Oktober 19, 2011 / 12:30 pm

    Huwaaa…..huwaaa….huwaa….*apa seeeh? ga jelas!* πŸ˜›

    Kok tumben naratornya ga ikutan nimbrung? gi sariawan ya mba Choco? hihihihi

    choco:

    Cup…cup…. Sayaaang…. *tolong jelaskan* πŸ˜›
    Naratore tak sekap di gudang :mrgreen:

  7. Dewifatma Oktober 19, 2011 / 12:55 pm

    Wis… Marni sama Mas Pak Bimo ae lah…..
    Cariin yang laen aja buat Panji, Mbak. πŸ˜€

    choco:

    Tapi…tapi…kan mudaan Panji, Jeng 😳

  8. Dokter Anak Oktober 25, 2011 / 8:55 am

    salam kenal…

    choco:

    Salam kenal juga, makasiy dah berkunjung πŸ™‚

  9. ~Amela~ Oktober 25, 2011 / 9:10 am

    Mas panji. lupakan saja marni.
    datanglah padaku saja sini..
    *dibekepbantal

    choco:

    Wakakakaka…… πŸ˜†
    Coba nanti kutanya dulu Panji pandai mengaji gak ya πŸ˜€

    (makasiy Amel, meluangkan waktu mbaca segitu banyak πŸ˜€ )

  10. ais ariani Oktober 25, 2011 / 11:37 pm

    ah Ibu belum kenal sama Bimo. eh atau malah Ibu naksir Bimo akhirnya? hihihihihi….

    choco:

    Ssst, Rianiiiii, nuduh kok pas! Ibu merasa Pak Bimo lebih sesuai untuknya πŸ˜›

  11. Una Desember 1, 2011 / 1:17 pm

    Wihihihi nggenggem kkunci we sampe keluar daragnya gitu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s