Mainan Anak Dulu dan Sekarang

Puluhan tahun lalu aku adalah seorang anak yang sangat senang bermain layaknya anak-anak. Dan seperti anak perempuan pada umumnya mainan favoritku adalah “masak-masakan” 😀 Bersama kakak perempuanku kami membuat tungku dari batu bata yang disusun di kiri dan kanan, lalu bekas tutup kaleng biskuit atau mainan wajan dari seng kami letakkan di atasnya. Apinya? Eits, api beneran lho! Dari kertas koran yang kami bakar di bawahnya. Duh, Ibunda seringkali memarahi kami kalau ketahuan 😀 Trus apa dong yang dimasak? Hahaha… mulai dari dedaunan, batang pisang, buah-buah liar, tali putri, sampai kami curi-curi tempe di dapur 😀 Dan tentu saja semua diiris-iris dengan pisau beneran. Karena bagian paling menyenangkan dari permainan ini adalah mengiris dan menggoreng 😀

Bermain tanpa biaya

Itu duluuu, bagaimana dengan malaikat cantikku sekarang? Oh, dia pun sangat menyukai mainan masak-masakan ini. Tapi tentu saja dengan peralatan yang serba plastik bahkan termasuk kompor gasnya dari plastik, jauuuuh lebih bagus dari buatanku dulu. Yang terbaru malah per set lengkap dengan plastisin dan cetakan kue atau es krim dan harganya cukup menguras dompet (dan kini hanya teronggok begitu saja di kotak mainannya 😦 ). Tapi keasyikannya jelas berkurang, karena Cantik tidak boleh bermain dengan pisau dan api beneran. Gak adil ya? Dulu aku sering curi-curi memasak agar tidak ketahuan Ibunda, tapi sekarang aku sangat ketat mengawasi anakku agar tidak bermain api dan pisau 😀

Tapi itu tak berlangsung lama, Kawan. Ketika Cantik mulai mengenal komputer dan NDS maka permainannya berubah. Mainan kesukaannya tetap masak-masakan, tapi virtual. “Cooking Mama”, “Let’s Make a Pizza”, Let’s Cooking”, “Happy Cooking” dan entah apalagi judulnya. Dan kalau sudah asyik, tak seorang pun boleh mengajaknya bicara 😦 Karena ternyata mainan ini lebih mengasyikkan. Kita bisa mengiris, menggoreng, merebus dan makanan apa saja bisa kita buat. Lumayan edukatif, karena anak jadi tahu proses memasak berbagai jenis masakan meski tidak detail. Bahkan jka kita bermain dengan NDS ada acara meniup segala jika masakan sudah mendidih 😀 Seru bukan?

Cooking Mama

Tapi, tahukah Kawan, banyak kelemahan yang kulihat dari mainan modern ini. Jika mainan dulu banyak memanfaatkan barang yang ada di sekitar kita dan jelas-jelas gratis, maka sekarang semua mainan itu mahal! Anak dulu dituntut untuk panjang akal agar bisa bermain dengan peralatan seadanya. Anak sekarang bukannya tidak kreatif namun harus merogoh kantong cukup dalam untuk memenuhi kebutuhan mainan anak. Lihat saja harga-harga mainan sekarang baik yang elektronik maupun sekedar plastik 😦

Itu belum segalanya, Kawan. Yang menyedihkan adalah karena anak bermain sendiri! Dulu aku bermain masak-masakan bersama kakak dan teman lainnya. Ada diskusi, adu argumen, kompetisi, kerjasama, meski dengan keterbatasan sebagai anak. Bagaimana dengan anak sekarang? Cukup duduk manis di depan komputer atau mainan elektroniknya, sendiri! Tak perlu ada komunikasi apalagi diskusi. Semua diputuskan sendiri. No team work. Dan aku dengan agak takut menyebutnya “anti sosial” kah? 😦

Mungkin peran ortu pun sangat berpengaruh terhadap pemilihan mainan anak-anak. Namun memang tak bisa dipungkiri jaman sudah berubah. Segala kemudahan telah tersaji di depan mata. Haruskah kita mundur dan mengingkari teknologi? Atau mengikuti perkembangan dan melepaskan anak begitu saja dengan kecanggihan teknologi? Maka kusimpulkan bahwa mendampingi anak dalam bermain apapun adalah mutlak! Mengenalkan anak pada mainan teknologi tinggi tetap harus, agar anak tidak gagap teknologi. Namun sesekali ajaklah anak bermain dengan cara kita dulu. Memanfaatkan segala yang telah disediakan oleh alam. Membuat pistol dari batang daun pisang, mobil dari kulit jeruk bali, ketapel, bahkan bermain dengan biji sawo pun bisa kan? 😀 Agar anak tidak asyik sendiri tapi berlatih bertanggungjawab, berdiskusi dan terutama kerja team! Maka anak pun akan terbiasa mendengarkan pendapat orang lain dan mau berbagi serta bermusyawarah 😉

Horeee…… Artikel ini diikutsertakan pada Mainan Bocah Contest di Surau Inyiak 🙂

Wish me luck 🙂

Gambar dipinjam dari: http://www.flickr.com/photos/38851823@N02/5575965890/ dan dari Google.

Iklan

31 thoughts on “Mainan Anak Dulu dan Sekarang

  1. hilsya Oktober 20, 2011 / 7:04 am

    bener.. anak-anak kalo depan kompi antengnyaaa…hmm
    ampe gemes liatnya..

    choco:

    Sampai lupa makan minum ya, Jeng 😦

  2. vizon Oktober 20, 2011 / 7:54 am

    Permenungan yang bagus sekali Mb Choco…
    Anak-anak memang harus diperkenalkan dengan teknologi, namun jangan sampai mereka melupakan kehidupan nyata. Memasak bisa diajarkan dengan teknologi, namun prakteknya haruslah dengan cara yang nyata… 🙂

    Terima kasih Mb Choco, tulisan ini sudah terdaftar sebagai peserta dalam MAINAN BOCAH CONTEST

    choco:

    Horeeee sudah terdaftar 😀
    Makasiy, Udaa 🙂

  3. Mabruri Sirampog Oktober 20, 2011 / 10:00 am

    wah, ada kontes ttg permainan,,
    tapi sayangnya saya sudah menuliskan ttg permainan anak2 jaman dulu dan sekarang saat pertama kali belajar ngeblog bu, jadi ga bias diikutsertakan,,, hiiihihihi

    sebagai anak desa, tentu banyak sekali mainan tradisional yg dulu pernah saya rasakan.. 😀

    choco:

    Di rewrite aja, Mas Brur, sayang kalo gak ikutan 🙂

  4. Nchie Oktober 20, 2011 / 10:19 am

    Setuju sama Mba Pit nih..
    mendampingi anak dalam bermain apapun adalah mutlak!
    Sukses ya Mba di kontesnya Uda Vizon..

    choco:

    Betul, kalo perlu kita ikutan main ya, Jeng 😀
    Makasiy ya, Jeng 😀

  5. nia/mama ina Oktober 20, 2011 / 12:05 pm

    sama mbak…aku jg dulu suka main masak2an sm temen2…kadang kita patungan utk beli bahan2nya di pasar trs dimasak sama2…menu pavorit aku mie heheheh……

    anak2 skrang dah ngga ada yg main masak2an soale selalu dilarang sm orangtuanya secara apinya beneran hehehe…..ngga adil ini namanya…

    choco:

    Setelah punya anak baru nyadar betapa dulu ortu melarang kita demi kebaikan yah 😀

  6. LIdya Oktober 20, 2011 / 12:56 pm

    masak-masakan pakai tanah ya ,asyik tuh 🙂
    ngintip ah kontesnya

    choco:

    Aku punya periuk dari tanah 😀
    Ikutan, Jeng…..

  7. bundadontworry Oktober 20, 2011 / 2:22 pm

    sepakat Mbak Choco, sesekali anak memang perlu didampingi dan diajak bermain seperti kita2 dulu, agar mereka juga tidak gagap ketika menapak dewasa dan harus berurusan dgn berbagai macam tipe manusia .
    melek teknologi memang perlu, namun jgn sampai kebablasan sampai menjadi anti sosial ya Mbak

    Semoga sukses dikontes ini Mbak
    salam

    choco:

    Mesti banyak belajar ama Bunda nih soal sukses mendidik anak 😀
    Makasiy ya, Bun….

  8. Tarry KittyHolic Oktober 20, 2011 / 3:16 pm

    Iya bener, setuju banget.
    Biar ada keseimbangan dlm bermain ya…. jngn hanya bermain mainan modern mulu 🙂

    choco:

    Yuk kita main lagi 😀

  9. ceritabudi Oktober 20, 2011 / 3:30 pm

    Mungkin pengaruh jaman kali mbak yach..tapi ketika mengulang kembali permainan yang lama pasti akan memberikan sesuatu yang berbeda…sukses untuk kontesnya

    choco:

    Sesungguhnya anak berminat dengan mainan masa lalu kita, hanya tinggal kitanya mau tidak mengenalkan 😀
    Makasiy, Mas….

  10. monda Oktober 20, 2011 / 5:22 pm

    Dulu aku main kompornya pakai api lilin mbak dan buat cetakan buah pepaya pakai lilin cair. Habis deh tuh pepayanya mamaku

    choco:

    Wakakaka….. pepayanya dah mletrek-mletrek ya, BuMon 😆

  11. Orin Oktober 20, 2011 / 5:25 pm

    Iya mba Choco, anak2 sekarang jadinya lebih individualis bgt ya, adik kecilku jg gituh, kalo udh maen PSP beuuuh, ga bs diganggu, hiks 😦

    choco:

    Trus gak mau gantian ya, Orin 😛

  12. maminx Oktober 20, 2011 / 5:35 pm

    ih iya setuju ponakan saya juga mainnya ya gitu lebih ke yang berbau teknologi..tapi masih tetep suka main sesepedahan sih ama temen-temen nya katanya mah.

    cuman emang kalau udah main cooking mama atau angry bird atau dinner dash. beuh asik sendirian aja. tapi masih ada bagusnya sih..karena ternyata ada anak yang nangkep cepet gimana cara main itu games, ada juga yang kurang cepet nangkep.

    hehe saya sok-sok an udah kayak ahli ma anak aja ya, hihihi

    choco:

    Ahaiiii, pengantin baru 😀
    Main angry bird bikin angry beneran ya, Minx 😛
    Kadang anak malah lebih canggih main games, karena mereka mau mengeksplorasi sedangkan yang tua-tua ini dah males ngutak-atiknya 😀

  13. alamendah Oktober 20, 2011 / 9:51 pm

    Selamat memeriahkan kontes. Sekarang permainan-permainan tradisional yang sarat filosofi dan kerjasama tim semakin langka dan terancam punah. Waktu kemah saya adakan kegiatan ‘gobak sodor’ saja banyak yang gak tahu aturan mainnya.

    choco:

    Saya juga gak tau, Mas, soalnya waktu kecil mainnya masak-masakan ama putri-putrian *gubrak* 😀

  14. alamendah Oktober 20, 2011 / 9:52 pm

    sekalian nitip:
    >>Dukung pulau Komodo jadi 7 Keajaiban Dunia. Cukup dengan SMS, ketik KOMODO kirim ke 9818. Kirim sebanyak-banyaknya tiap hari hingga 11 November 2011.
    (Biaya SMS hanya Rp. 1 dari nomor Telkomsel, Flexi dan Indosat, dan Rp. 0 dari nomor XL)

    choco:

    Siiipppp…..

  15. Dhenok Habibie Oktober 21, 2011 / 12:13 am

    acungin tangan, dhe dulu juga suka main masak-masakan mbak.. nasinya diganti sama pasir, hahahahahaha.. masa kecil kita sama ternyata.. untuk masak2an versi modern, dhe sama sekali gk ngerti tuh..

    choco:

    Dulu hobby, sekarang disuruh masak beneran malah bingung ya, Dhe 😛

  16. riez Oktober 23, 2011 / 1:30 pm

    Kemajuan teknologi ibarat pisau yang kedua sisinya tajam,satu sisi menguntungkan sisi lain membahayakan

    choco:

    Betul, harus hati-hati menggunakannya 🙂

  17. ~Amela~ Oktober 25, 2011 / 7:25 am

    Iya,, dulu suka banget main masak2an. kalau aku paling suka bagian nguleknya..
    tapi kok ya sekarang kalau bikin bumbu males ngulegnya ya?

    choco:

    Wakakakaka….. blender aja, Mel, manfaatkan teknologi 😛

  18. ais ariani Oktober 25, 2011 / 11:30 pm

    setuju! setuju sama Bu Piet. bagaimanapun bentuk mainannya: baik yang tradisional maupun yang hi tech, yang terpenting adalah bagaimana orang tua mendampingi anaknya.

    karena dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan (seperti segala sesuatu di muka bumi ini, bukankah tidak ada yang sempurna?), tap ikita bisa memilih yang mana yang sesuai dengan kebutuhan kita. ah jadi pengen ikutan ngegame sama Cantik. sini sini Cantik…kita maen time management yuk… 😀

    Cantik:

    Main congklak aja yu, Tantee, aku jago lhoooo….. 😀

  19. Ceritaeka Oktober 26, 2011 / 12:37 pm

    Aku lagi mikirin ide untuk ikutan kontes ini jugaaaa ^_^

    choco:

    Come on, Sis, ku tunggu kisahnya 😀

  20. Puteriamirillis Oktober 26, 2011 / 2:06 pm

    saya tertarik dg si anak perempuan yg lagi masak ngejegrok gitu ampe dalemannya keliatan hehehe…*curcol. jaman kecil emang suka ga nyadar aja kalo duduk ya mbak…:D

    umar juga suka sekarang nonton di youtube liat2 excavator, hewan, dll.
    kalo saya yg penting dia tetap kita arahkan juga ke kreativitas dlm bermain di alam nyata dan menggunakan benda2 sekitar mbak. biar imbang aja. salam saya ya mbak auxentia…

    choco:

    Hahahahha…. anak-anak emang polos ya, Jeng 😀 Dulu malah rok sama celana panjangan celananya alias mlorot mulu 😳

    Yang penting dampingi anak-anak ya, Jeng 🙂

  21. Imelda Oktober 26, 2011 / 2:57 pm

    setuju bahwa mainan sekarang mahal-mahal. Tapi aku membiarkan anak-anakku berkreasi dengan bahan yang ada di rumah. Nanti deh kalau sempat aku juga mau ikutan hehehehe

    choco:

    Lebih kreatif memanfaatkan apa yang ada ya, BuEm 😀
    Tak sabar menanti postingan BuEm 🙂

  22. nh18 Oktober 26, 2011 / 10:40 pm

    Saya mempunyai pemikiran serupa Bu Choco …

    Mainan jaman dulu itu mempunyai filosofi Team Work yang secara tidak disadari sangat kompleks sekali pengaturannya …

    Anak-anak secara tidak sadar telah belajar bagaimana mengatur strategi untuk memenangkan permainan …

    salam saya

    choco:

    Iya Om, sekarang meski bisa bermain rame-rame (online) tapi kan gak berinterkasi langsung ya, Om. Jadi gada komunikasi dan menyusun strategi 😀
    Salam hangaaattt, Om….

  23. Abi Sabila Oktober 27, 2011 / 9:49 pm

    Alhamdulillah, akhirnya saya pun selesai juga mengerjakan tulisan untuk ikut kontes yang satu ini. Semoga ikhtiar ini bisa membuahkan hasil maksimal . Amin. Saling mendoakan ya, insha Allah.

    Oh ya, saya juga sedang mengadakan kontes menulis Endorsement for Abi Sabila. Mohon doanya, dan saya tunggu partisipasinya. Terima kasih

    choco:

    Siap, Bi, saling mendoakan yaaa 😀

    Sipp, segera meluncur ke TKP dan semoga bisa ikutan. Makasiy, Bi 🙂

  24. Lidya Oktober 28, 2011 / 12:50 pm

    kalau dulu main masak-masakan bisa berkoto2 ria tapi skr bersih..sih..sih 🙂

    choco:

    Jadi yang seneng Ibunya ya, Jeng 😀

  25. mas stein Oktober 28, 2011 / 3:43 pm

    gak ada lagi betengan, benthik, engklek, jalangkung…

    sik tho… *mencoba mengingat-ingat pernahkah dulu main jalangkung*

    choco:

    Wani po, Mas? :mrgreen:

  26. Dewifatma Oktober 31, 2011 / 3:26 pm

    Masalahnya, Mbak, alam sekarang ogah menyediakan daun pisang, jeruk bali dan biji sawo 😀

  27. baju wanita November 2, 2011 / 10:16 am

    berkembang sejalan dengan kemajuan teknologi…salam persahabata…

  28. septarius November 4, 2011 / 11:48 am

    ..
    jaman udah berubah, mainan anak pun udah berganti ya Mbak..
    yang penting pengawasan, ngarahin dan ngasih pengertian dengan baik tanpa harus ngelarang.. tul gak Mbak..? ^^
    ..

  29. shampo noni bsy Juni 20, 2014 / 12:34 pm

    beda banget ya mainan jadul sma sekarang itu..
    kalo menurutku si lebih asikan di jaman dulu, yang anak jaman sekarang belun tentu pernah merasakan indahnya jaman dulu..
    kadang miris banget kalo liat anak jaman sekarang yang bisanya di permainkan game-game dan edget terbaru,
    beda banget dengn jaman dulu..
    sekarang SD aja udah megang HP,,dulu SMP megang HP pun yang bener-bener orang kaya 😀
    tapi di bawa happy aja walopun ga punya (y)

    Saya malah pegang HP setelah kerja 😀 –> beda generasi kita nih hahaha 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s