Dongeng insomnia · Iseng Aja

Marni Bakul Jamu Eksekutif – 17

Episode 17 : Aku, Kamu, dan Dia

Hingga tengah malam menjelang, Marni tak kunjung dapat memejamkan mata. Hatinya masih galau memikirkan Mas Bimo. Ia merasa cerita ini sudah terlalu panjang dan melebar, sudah saatnya diakhiri dengan ending yang membahagiakan. Bahagia untuknya, Mas Panji dan tentu saja Mas Bimo. Meski Marni masih ragu, akhir seperti apa yang akan terjadi? Mas Bimo tentu tidak memercayainya lagi semenjak mengetahui hubungannya dengan Nancy. Sementara Panji pasti akan bahagia jika Marni menerima cintanya, tapi haruskah ia mengorbankan perasaannya sendiri? Tidak! Ia bertekad memperjuangkan cintanya.

Maka Marni bangkit dari tidurnya dan segera mengemas pakaiannya ke dalam koper. Besok ia akan kembali ke Jakarta. Bila episode ini tak juga berakhir, maka Marni bertekad mengakhirinya di episode ke-18! Ibu pasti akan bersedih, tapi Marni memang harus segera menyelesaikan semuanya agar cinta ini tak mengambang dan melayang-layang. Setelah semuanya beres, Marni kembali tidur dan segera memimpikan Mas Bimo yang tampah, gagah dan berumur. Hiks…nampaknya Marni merindukan figur seorang ayah.

***************************

“Mengapa harus kembali ke Jakarta, Dik?” tanya Panji putus asa melihat Marni menyeret trolley bag nya keluar rumah.

“Aku harus menyelesaikan sesuatu, Mas.”

“Bimo kah penyebabnya?” tanya Panji sendu mengharu biru. Marni pun tertunduk sayu dan kelabu. Sementara Ibu menangis tersedu-sedu. Pertanyaan yang tak terlalu mengharap jawaban.

“Apapun keperluanmu di sana, Nak, cepatlah kembali hiks…hiks… Ibu tak mau sendiri lagi hiks..hiks…,” tangis Ibu. Marni pun memeluknya erat-erat sementara Panji segera mendekat berharap dipeluk juga.

Setelah saling bertangisan anak-beranak itupun berpisah sekali lagi. Panji menaikkan tas Marni ke atas motornya dan Marni pun segera naik di boncengan. Sengaja Panji mengambil jalan melewati Bengawan Solo lalu menghentikan motornya dan turun dari motor. Marni terheran-heran dan segera melompat turun.

“Dik Marni…,” panggil Panji lembut dengan jantung yang terus-menerus memainkan genderang.

“Ada apa, Mas? Kok malah berhenti di sini? Kita kan mau ke stasiun?”

“Dik, aku mau bicara sebentar. Mm, kemaren aku sudah bilang pada Ibu…eehh…mmm….”

“Bilang apa to, Mas? Kok grogi gitu sih?” tanya Marni polos.

“Itu, Dik. Soal lamaranku dulu, eehh…Ibu sudah merestui. Tinggal Dik Marni bilang “iya” nanti eehh… biar keluargaku melamar secara resmi,” ujar Panji. Lega, keluar sudah apa yang tertahan di lehernya sejak tadi. Marni terenyak lalu tertunduk gelisah. Mas Panji ternyata serius, Marni tak sampai hati menyakitinya tapi hatinya sudah terlanjur tertambat pada Bimo. Tak sampai hati Marni menolak, tak tahu lagi apa yang harus diucapkannya.

Lanjutkan membaca “Marni Bakul Jamu Eksekutif – 17”

Dongeng insomnia · Iseng Aja

Anak Sunyi

Antara lena dan jaga aku melihatnya berjalan tertatih-tatih menuju ke arahku berbaring. Rambut keriting ekor kudanya bergoyang-goyang, pipinya bulat kemerahan sewarna tomat masak. Kedua lengan montoknya terjulur ke arahku dan tawanya berderai menggemaskan. Inikah anakku? Gadisku? Cantik sekali! Serupa benar dengan boneka berpipi tembam bergigi empat yang kulihat di toko mainan kompleks rumah.

Ragu kusambut uluran tangannya, dan anak mungilku tenggelam dalam pelukanku.

“Mam…ma….Mamma…..” celotehnya riang. Kubelai-belai rambut keritingnya yang sama benar dengan ikal rambutku. Anak itu menggelinjang dan meronta. Kulepaskan pelukan dan ia memain-mainkan pipiku, bibirku, rambutku diiringi celotehnya yang tergagap-gagap. Aku masih tak percaya, inikah anakku? Anak yang menggelung di gua garbaku? Kuamati wajahnya. Memang benar ia anakku. Matanya milikku, bibirnya milikku juga, namun alis tebal berbaris dan bulu mata hitam pekat itu jelas punya lelaki itu. Sekejap wajahku mengerut dan anak manis yang terngkurap di dadaku itu pun menangis.

“Mam…ma…mam…” gumamnya. Tangan mungilnya meraba-raba dadaku dan mulutnya mengerucut. Apa? Apa yang dimauinya? Aku tak mengerti. Anak manis ini merengek meminta sesuatu yang tak kumengerti. Dan tiba-tiba perih menusuk-nusuk bawah perutku. Setiap manisku ini merengek, pedih seketika menghunjam perutku. Rasanya seperti ada ular yang meliuk-liuk menyusuri garbaku. Dan perutku melilit-lilit nyeri. Sakit kutahan. Nyeri kuredam. Aku masih tak mengerti apa mau anakku. Yang kutahu kini, sejenak nyeri terlupa. Mungkin karena ular berbisa itu sudah menemukan tempat yang nyaman dan tenang dalam garbaku. Atau karena cantik manisku ini terlelap kelelahan di dadaku. Kubelai dan kubelai keriting rambutnya dan merah pipinya. Sisa air mata masih mengalir di sudut indah matanya. Aku tak mengerti.

 ****************************

Lanjutkan membaca “Anak Sunyi”

Cari Solusi · Dongeng insomnia · Mbuh Ah ! · Nimbrung Mikir · Serial Yu Minah

Supporter Bayaran

Dukung Indonesia!

Sudah seminggu gak menikmati rujak Yu Minah, maka sepulang kantor aku mampir ke warungnya. Kelebihan Yu Minah adalah membuka warungnya hingga malam, jadi perempuan sok berkarir kayak aku ni masih bisa menikmati rujaknya sepulang kerja. Seperti biasa setelah mengucap salam aku segera bertengger di bangku favorit. Yu Minah segera menutup korannya melihat aku datang.

“Wah, sudah lama ndak main sini to, Jeng. Mau pesan apa nih?” tanya Yu Minah manis.

“Rujak serut aja, Yu. Pedesnya sedeng aja. Barusan baca berita apa, Yu?” tanyaku iseng lalu mengambil koran yang barusan dibaca Yu Minah.

“Itu lho, Jeng, berita SEA Games. Soal supporter itu, saya baru tau kok ada anak sekolah yang dibayar buat mendukung negara-negara yang lagi bertanding itu.”

“Maksudnya? Mendukung Indonesa to? Ya memang harus gitu to, Yu? Di mana salahnya?”

“Wee, mbok dibaca yang bener, nih yang ini beritanya. Dah, sampeyan mbaca dulu baru nanti komentar.”

Maka sementara Yu Minah bergoyang hot yang terkenal dengan julukan “Goyang Ulekan“, aku membaca berita yang ditunjuknya tadi. Sebentar saja alisku sudah bertaut dan pipiku mengerut serta mulutku mengerucut. Sementara Yu Minah mulai menyerut.

“Ediyan, bener, Yu! Jadi rupanya anak-anak SMP dan SMA itu diuutus oleh sekolahnya untuk mendukung negara-negara yang sedang bertanding. Dikasih kaos Maleysa, Thailand ato negara-negara lainnya, bendera, trus dikasih duit 20 ribu sama makan. Brangkat disewain bus segala. Lha piye to ini?” tanyaku tak mengerti.

“Lha ya itu. Rupanya pemerintah setempat memang mengajak kerjasama sekolah-sekolah itu untuk mendukung negara sahabat yang bertanding. Katanya supaya mereka merasa dihargai, tetap bersemangat, dan mengenal negri kita sebagai negri yang ramah dan bersahabat. Toh mereka ini kan “sahabat” Indonesa!” jelas Yu Minah mengutip berita di koran tadi.

“Sik to, menurut saya gak bener itu, Yu. Anak-anak ini kan masih piyik, masih labil-labilnya, lha harusnya kan kita tanamkan jiwa nasionalisme yang tinggi. Supaya mereka ndak dikit-dikit luar negri dan lebih mencintai negri sendiri. Ini kok malah dibayar untuk mendukung negara lain, lha gimana cara njelasinnya ke anak-anak ini coba?” omelku mulai emosi.

“Itu, sampeyan baca…nah…yang ini. Tuh, anak-anak itu bilang ‘biar mulut mendukung Maleysa tapi hati tetap Indonesa‘. Gitu katanya,” sanggah Yu Minah.

“Halah! Tau apa anak-anak ini. Sekarang aku nanya, kalo sebaliknya kita yang jadi tamu dan bertanding di negara mereka, apa mereka memperlakukan hal yang sama? Anak-anak sana disuruh pakai kaos merah putih, melambaikan bendera kita trus bertepuk tangan untuk kita? Belum tentu, Yuuu.”

“Ya jangan berpikir negatif gitu to, Jeng. Kan kita ndak tau. Sampeyan kan belum pernah ngeliat tim kita bertanding di sana trus dielu-elukan bangsa sana? Sapa tau sambutan di sana malah lebih hangat.”

“Eeeh, ya ndak mungkin, Yu! Orang Indonesa yang di luar negri itu pada kompak. Kalo ada tim kita main di sana, maka orang-orang rantau inilah yang rame-rame mendukung bersorak untuk kita. Ini di negri sendiri kok malah mendukung negara lain. Kalo yang bertanding asing sama asing sih silakan aja mau dukung yang mana. Lah kalo tim kita yang main masa iya mau dukung lawan. Aneh ini!”

“Ya sudah, jangan emosi to, Jeng. Itu kan kebijakan pemda sana, kan dibilang kapan lagi jadi tuan rumah pertandingan bergengsi begini? Ya niat mereka kan baik, menurut saya sih ndak papa, Jeng, selama hati tetap Indonesa berarti masih nasionalis,” ujar Yu Minah sambil membungkus rujakku.

“Huh, ya gak bisa gitu. Masih banyak cara lain untuk menunjukkan pernghargaan kita buat mereka. Bersikap ramah dan sopan, beri service yang ok, jaga mutu dan kebersihan tempat mereka menginap. Masih banyak cara, Yuuu!”

Yu Minah mengulurkan rujaknya padaku. Aku pun segera merogoh tas untuk mencari dompet.

“Wah, tasnya bagus banget, Jeng. Seneng ya kalo perempuan kerja kayak sampeyan, bisa beli tas bagus-bagus gitu,” ujar Yu Minah. Aku tersipu-sipu, tasku ini emang bagus dan sering dipuji teman kantor atau relasi.

“Ooo, ini beli di Italy, Yu, nitip teman yang habis liburan dari sana. Bagus kan?”

“Bagus bangeeet. Mm, kalo pake produk luar itu masih tergolong nasionalis kan, Jeng? Soalnya di Tajur kan banyak yang mirip, buatan lokal dan murah lagi.”

Sial!!! Kesindir terus!!! 😡

PS. Akibat membaca koran di tukang soto tadi pagi, kalo gak salah Warta Kota ya? Lupa 😦

Oh ya, semua gambar diambil dari Google 🙂

Cari Solusi · Cintaku · Iseng Aja

Uang Jajan

Laporan pertanggungjawaban uang saku 😀

Aku            : Guanteng, tadi beli apa di sekolah?

Guanteng : Beli Pop Mie, Bunda, tapi yang kecil kok. Gak papa kan?

Aku             : Gak papa, kan cuma sekali-sekali. Berapa harganya?

Guanteng  : Empat ribu.

Aku             : Ooo, kalo uangnya lima ribu jadi berapa kembaliannya?

Guanteng : Seribu dong.

Aku            : Trus kembaliannya Kakak belikan apa lagi?

Guanteng : Gak beli apa-apa.

Aku            : Bagus, nanti Kakak tabung yaa….

Guanteng : Gak bisa, Bunda, udah Kakak kasih mbak yang jual di kantin.

Aku            : Hah? Kok dikasih, kenapa emang?

Guanteng : Yaa Kakak males aja bawa-bawanya.

GUBRAKKK!!!

Sebetulnya memberi uang jajan kepada anak itu perlu tidak ya? Dengan kejadian di atas menurutku sih perlu ya, tidak harus besar namun cukup untuk sekedar membeli susu kotak di kantin.

Sejak kelas 3 kedua malaikatku bersekolah sampai jam 14.30. Tentu aku bawakan bekal makan besar dan snack. Pada awalnya aku tidak pernah memberi uang jajan, sampai pada suatu kali Cantik mengeluh minumnya kurang tapi mau beli air mineral tak punya uang 😦 Untunglah ada teman yang baik hati mau membelikan. Sedih gak sih? Huwaaa….. aku merasa jadi ibu yang tak berguna (lebaaaayyy….kumaat lebaynyaaa…).

Selain itu, sooner or later anak-anak memang harus diajarkan transaksi jual beli. Kalo tidak kejadiannya bisa seperti Guanteng. Masa uang kembalian kok dibalikin lagi ke yang juwal. Dan ternyata gak sekali Guanteng begitu, selanjutnya masih diulang pula. Mulai deh emak-emak macam aku ni menguliahi Guanteng, tapi dengan penuh kasih sayang kok 😀 Salahku juga, sudah sebesar itu kedua malaikatku gak kukenalkan pada uang. Bahkan sampai sekarang Guanteng kalo megang uang kertas nampak kaku, dipegang lembaran gitu bukannya dilipat rapi masuk kantung. Beda dengan Cantik yang rapi, pakai dompet, dan ngerti sekali soal uang (asli, yang ini persis bapake 😛 ) Mungkin karena aku mengenalkan uang lebih awal pada Cantik.

Nah, kembali ke kebijakan tiap orang tua. Bagiku, membekali uang pada anak di samping bekal makanan tetap perlu. Secukupnya saja 5000 – 6000 rp saja (bagusnya pecahan seribuan aja 😛 ). Jangan kebanyakan, nanti konsumtif dan menggampangkan uang. Tentu dengan wanti-wanti hanya boleh jajan di kantin dan harus snack atau susu atau air mineral. Dan seringkali malah beli mainan 😛

PS. Gambar diambil dari Google

Dongeng insomnia · Nimbrung Mikir

Episode Empat Belas: Sebentuk Cinta yang Lain

Hamparan sawah nampak mengemas disinari cahaya gemintang dari langit sana. Dimi tersenyum puas melihat padinya yang tumbuh bernas. Besok panen akan dilakukan, setelah itu uji laboratorium. Harap-harap cemas akan hasil percobaannya membuat dadanya berdebar tak karuan sejak sore tadi. Bahkan nyaris tengah malam ini Dimi lebih senang duduk di pinggiran pematang memandangi bulir-bulir yang menjanjikan itu. Seluruh jiwa raganya ia pertaruhkan untuk panen kali ini setelah sebelumnya kegagalan datang bertubi-tubi.

Suara dehem membuatnya terlompat kaget. Seseorang mengulurkan secangkir coklat panas untuknya, sementara tangan sebelahnya lagi mengenggam secangkir kopi wangi untuknya sendiri. Dimi tersenyum dan menerima cangkir itu.

“Makasih, Bang. Belum tidur?” tanyanya sembari menyesap coklat yang menghangatkan itu.

“Bagaimana bisa tidur sementara boss kecilku masih gelisah memikirkan padinya?” sahut Damian menggoda.

Dimi tertawa kecil. Kebersamaannya selama satu tahun lebih membuatnya merasa nyaman berada di samping Damian. Nyaris 18 jam setiap hari dihabiskannya bersama abang Denova ini bersama team yang lain. Mereka berpisah hanya ketika saat tidur tiba. Itupun tak benar-benar berpisah karena team penelitian itu berada dalam satu rumah.

“Aku kuatir, Bang, setelah tiga kali kegagalan kita membuatku putus asa. Rasanya tak tahu lagi apa yang harus kulakukan,” keluh Dimi. Damian tertawa kecil lalu menepuk pundak Dimi hangat.

“Hei, jangan putus asa begitu. Lihat, padi-padi itu begitu sehat dan montok, bulirnya bernas dan emas. Apa yang kau kuatirkan, Boss?” goda Damian. Gadis itu tertawa kecil, satu yang dia suka dari asistennya ini, tak pernah putus asa dan selalu bersemangat tak kenal lelah.

“Kau kan tahu, Bang, kalau sampai penelitian ini gagal, pihak donatur akan menarik semua bantuannya dan mau kutaruh di mana mukaku?”

“Taruh saja di kantung bajuku, pasti aman,” goda Damian lagi. Dimi mengerucutkan bibirnya digoda terus oleh Damian.

“Hahahaha….tenang, Boss, aku janji kali ini takkan gagal. Kalo sampai gagal, biar aku yang menghadapi bule-bule itu, kau tenang-tenang saja habiskan bercangkir-cangkir coklat panas dalam kamar, okay?”

Dimi tertawa kecil. Damian selalu bisa membuatnya nyaman dan tenang. Dia memang jauh lebih dewasa dari adiknya. Ah, mengapa tiba-tiba bayangan cowok itu melintas di benaknya? Dimi menghabiskan coklat panas itu dalam satu tegukan.

***************

Lanjutkan membaca “Episode Empat Belas: Sebentuk Cinta yang Lain”

Dongeng insomnia · Nimbrung Mikir

Dear Pahlawanku – Engkau yang Terlupakan

Surat ini kutujukan bagi para pahlawan pejuang, pahlawan tak dikenal, dan para veteran perang yang kini terlupakan.

Meski telah merdeka, kau harus tetap berjuang 😦

Dear Pahlawanku,

Bolehkah kusebut kau Pejuang Perkasa? Meski kini engkau telah renta dan tak berdaya. Meski telah lusuh seragam dan pecimu. Meski telah terhapus sebagian memori perjuanganmu. Aku tak tahu, apakah masih ada yang menganggapmu pahlawan? Meski dulu kau panggul senjata dan peluru, entah sudah berapa kali nyawamu nyaris melayang meninggalkan sanak keluarga.

Pejuang Perkasa, tak pernah kau pikirkan rugi laba yang kau dapat, saat kau maju ke medan laga dengan merah putih tersemat di dada. Tak panjang kau pikirkan entah nanti kembali atau tidak. Yang kau perjuangkan hanyalah kemerdekaan, kemerdekaan dan kemerdekaan negri tercinta yang mungkinkah kini telah mengkhianatimu?

Surat ini mungkin tak lagi berarti untukmu, kering sudah derita dan air mata kau tumpahkan. Kenyang sudah kau terima sorak sorai ketika merdeka tertumpah di negri ini. Habis sudah darah dan keringat kau cucurkan. Tak ada arti lagi kini itu semua.

Pejuang Perkasa, aku tahu, hingga kini pun kau masih terus berjuang, demi anak cucu yang terlantar. Berjuang demi kelangsungan hidup yang masih harus kau jalani. Aku tahu, bahkan rumah tinggalmu pun masih diusik, itu bukan milikmu! Aku tahu, bahkan pensiun pun tak tahu rimbanya, itu bukan hakmu! Dan aku hanya bisa diam, menangis. Katakan, apa yang harus kulakukan?

Tulangmu telah rapuh, gigimu entah masih bisa mengunyah atau tidak. Kakimu telah gontai dan lelah menopangmu. Entahlah, apa yang kau rasa. Entahlah, apa yang kurasa. Aku hanya bisa menitikkan air mata melihat deritamu. Inikah suratan takdirmu? Bahwa kau harus terus berjuang sampai akhir hidupmu? Perjuangan yang tak lagi sama, darah yang tak lagi merah. Katakan, apa yang bisa kulakukan untuk menguatkanmu?

Adakah arti kemerdekaan ini untukmu? Sukakah kau dengan kemerdekaan ini? Atau kau lebih suka dengan masa jayamu dulu? Di mana segala gerak langkahmu terasa berarti, segala aksimu nampak gagah dan perkasa. Seluruh waktu kau abdikan dengan senjata dan air mata, tak bersisa untuk kesenangan pribadi. Dan luka-luka tubuhmu nampak demikian jantan? Kini tak lagi seorangpun melirikmu. Bahkan sebagian menertawakanmu karena kemana-mana menggunakan seragam lusuh. Katakan, apa yang harus kulakukan untuk melipur hatimu?

Aku hanya bisa menangis. Sekalipun orang-orang itu mengejekmu, aku tidak! Sekalipun pemerintah tak menghargaimu, aku tidak! Sekalipun dunia meninggalkanmu, aku tidak! Lagi, katakan, apa yang harus kulakukan untuk keringkan lukamu?

Pejuang Perkasa, melalui surat ini, kuhaturkan terimakasih yang tak terhingga. Meski tak ada bintang-bintang tersemat di dadamu, biarlah bintang-bintang di langit yang melapangkan dadamu. Meski tak nikmat hidup ini bagimu, biarlah mentari menghangatkan tubuh rentamu. Meski hidup ini melelahkan dan menyiksa, biarlah kelak Allah sendiri yang akan membebaskanmu dan memerdekakanmu dari segala penjajahan yang masih tersisa.

Pejuang Perkasa, terimakasih. Lelahmu adalah merdekaku, lukamu adalah pembangunanku, pedihmu adalah kemajuanku.  Kau yang tak dikenal, kau yang dilupakan, kau yang telah terbaring dalam hitam tanah, kau yang tak punya medali untuk kau banggakan, kau yang tak punya lencana untuk kau sematkan, terimakasih. Tanpamu, aku takkan bisa menulis surat elektronik ini.

Pejuang Perkasa, teruslah berjuang dalam sisa umurmu. Biarlah tak ada yang mengenalmu, namun sejarah hidup telah dan akan terus mencatat perjuanganmu, hingga kau merdeka dalam arti sesungguhnya. MERDEKA!

Dariku,

Yang tak mengenalmu namun berterimakasih padamu.


PS. Gambar diambil dari Google

Postingan ini diikutsertakan dalam Kontes Dear Pahlawanku yang diselenggarakan oleh Lozz, Iyha dan Puteri

Sponsored by :

Blogcamp|LittleOstore|Tuptoday|Lozzcorner|Rumahtramoiey

Cintaku · Iseng Aja

Mau Ferrari

Sepulang nonton Transformers 3.

Cantik : Bundaaa, mobil Ferrari itu bagus banget yaa

Aku      : Iya, Sayang

Cantik : Adek mau, Bundaaa

Aku      : Oh, mau yang warna apa?

Cantik  : Merah, dong!

Aku       : Oke, mau berapa?

Cantik  : Satu aja laaa

Aku       : Okay

Cantik diem, kok gampang amat sih minta Ferrari ama Bunda?

Cantik  : Bundaaaa….

Aku       : Hmmm…

Cantik   : Trus kapan Bunda belinya?

Aku       : Lho, yang mau Adek kan?

Cantik   : Iya

Aku        : Nah, Adek sekolah yang pinter, kerja yang bagus, menabung yang banyak, besok beli sendiri yaaa

Cantik   : Huwaaaaaa…….

Kudoakan keinginanmu tercapai, Nak 😀

Iseng Aja · Nimbrung Mikir

Kisah Kasih di Sekolah Dasar

Dapet PR dari Mas Brur, nih! Mula-mula agak bingung juga mesti mulai darimana, tapi langsung semangat. Maklumlah, masa SD kan belum terlalu lama, baru kira-kira 15 tahun lalu lah 😀 (kalo percaya gatelan, lho). Nah, daripada disetrap, mendingan langsung ku posting hari ini, padahal pas lihat jadual pelajaran, hari ini gada pelajaran mengarang 😀

1. Guru Favorit

Jelas guru Bahasa Indonesia, karena beliau senaaaang sekali mendongeng dan bercerita. Gaya membawakannya juga enak. Dan di pelajaran inilah nilaiku selalu bagus 😳

2. Guru Killer

Kayaknya gada, deh. Soalnya belom pernah ada berita pembunuhan siy :mrgreen: Semua guru SD ku baik, karena kami kan masih imut semua jadi gak mungkin digalakin hahahaha….

3. Teman Bolos

Ehm….ngaku gak ya? Hmm, hehehehe…..hihihihi…..kayaknya pernah deh, tapi dah gede tuh, dah kelas VI. Bersama sahabatku kami bolos satu mata pelajaran gara-gara gak kerjain tugas. Tapi bolosnya cuman ke perpus kok. Bener, swear, mmm… yaahh…. ke kantin juga siyy 😳

4. Teman Berantem

Nah ini, sudah pasti teman cowok 😥 Dulu ada namanya Rudi, nakaaal banget. Suka narik-narik kepangan ato kuncir rambutku hiks…hiks… Kalo aku marah-marah malah makin senang, kalo aku nangis baru deh diem. Oh, ternyata aku dulu korban bullying ya 😥  Udah gitu pernah duduk satu bangku. Huh, langsung aja mejanya aku garisin pake kapur. Dia gak boleh melebihi garis, kalo melebihi aku pukul pake penggaris. Dan pembagiannya tentu saja besaran punyaku, wong aku selalu datang duluan :mrgreen: Lho? Sik…sik…berarti aku melakukan bullying jugak ya?

5. Jajanan Favorit

Bakso kuah pake pilus 😳 Pokoke bakso forever 😀 Eh, suka juga sama es mambo 😛

6. Jajanan Mainan Favorit

Mainan? Apa ya… kayaknya itu keong yang klo ditiup keluar itu lho 😳

7. Sepatu Favorit

Hmm, North Star kayaknya. Warnanya biru muda, dari Senin ampek Sabtu dipake terus (favorit apa cuman punya satu? 😳 )

8. Tas Favorit

Kayaknya ndak ada, deh! Cuma pernah ikutin trend pake tas direktur yang kayak koper itu lho. President ya kalo gak salah? Wuahahahaha….. gak banget, deh! Itu waktu kelas 2 apa 3 gitu. Ya ampuuun, dah ah 😆

Demikian, Mas Brur, PR sudah saya kerjakan dan semoga nilainya bagus dan naik kelas, horeeeee…… 😀

Dongeng insomnia · Iseng Aja

Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 16

Episode 16: Galau

(Jjiaahh, judulnya abegeh banget…. Sssttttt!!! Hmmmffftttt……. Narator tidak akan mengganggu karena sudah disekap! Sehingga segombal apapun rayuan Bimo takkan ada yang protes :mrgreen: )

Api dari pelita kecil itu menari-nari mengikuti irama angin yang berhembus di sela-sela dinding bambu. Saung bambu di ujung kebun itu menjadi saksi bisu kerinduan dua anak manusia yang tengah dimabuk asmara. Dengan luwes Marni menghidangkan segelas wedang jahe madu untuk mengusir dingin malam di musim kemarau ini. Pipinya bersemu merah ketika mengulurkan cangkir itu ke tangan kekasih hatinya.

“Oh, Marni…Marni…mengapa kau menghilang begitu saja, Sayang?” keluh Bimo penuh rindu. Dihirupnya minuman hangat buatan gadis pujaannya.

“Ahhh, betapa aku merindukan segala macam jamu dan minuman buatanmu ini,” desahnya. Marni memainkan ujung blouse nya. Masih belum berani memandang Bimo. Pria itu menyentuh dagu Marni dan memandangnya lembut.

“Heii, mengapa kau masih diam? Tak suka ya aku datang?”

“Eh…oh…bukan gitu, saya suka sekali Mas Bimo datang. Mmm, Mas Bimo baik-baik sajakah?” tanya Marni ragu.

“Tentu saja aku baik-baik saja. Kau mengikuti berita di TV?”

Marni menggeleng. Sejak berita penangkapan Bimo tak sekalipun ia mau melihat TV. Karena semua berita, infotainment, sampai film kartun pun memberitakan kasus Bimo.

“Marni…..,” panggil Bimo sambil menggeser duduknya mendekat ke samping Marni, tak sengaja jempol kaki mereka beradu. Gadis itu berdebar-debar.

“Marni, percayakah kau padaku?” tanya Bimo sambil menggenggam jemari lembut Marni. Gadis lugu itu kegerahan meski angin bertiup sepoi-sepoi basah agak kering.

“Maksud Mas Bimo?” tanyanya tak mengerti. Bimo mengecup jemari lentik gadisnya.

“Semua pemberitaan di koran dan TV itu. Karena itukah kau pergi?”

Marni menunduk, setitik air mata bergulir di ujung matanya. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat demi menahan tangis. Bimo mengusap rambut ikal nan halus lembut itu, meski agak sedikit beraroma ramuan lidah buaya.

“Ah, jadi memang karena itu kau pergi. Sayangku, percayalah, aku tak melakukan apa yang mereka tuduhkan padaku. Lihat, aku ada di sini, di sampingmu. Ini bukti bahwa aku tak bersalah. Oh, Marni, percayalah padaku, Sayang.”

Bimo menghapus tetes air yang bergulir di dagu Marni.

“Maafkan saya, Mas…hiks…saya memang sempat tak memercayai Mas, hiks….,” isak Marni akhirnya.

“Sudahlah, semua sudah berlalu. Sekarang mari kita konsentrasi pada hubungan kita, oke?”

Keduanya lalu menikmati minuman hangat sambil saling curi-curi pandang gak jelas. Sesekali tersenyum, sesekali tertawa, sesekali berbincang serius, sesekali saling berdiam diri, sesekali saling mencubit, dan seduakali saling menggoda. Bahkan rembulan pun malu dan bersembunyi di balik awan.

Sementara Ibu gelisah tak karuan mondar-mandir di ruang tengah. Masa iya Marni pacaran sama Om-Om gitu? Haduuhh, pria itu lebih cocok jadi pasanganku! bisik hati Ibu. Ups! Ibu menengok kiri-kanan untunglah tak ada yang mendengar suara hatinya. Sosok itu memang tampan rupawan, gagah perkasa, makmur sentosa, ah…Nduk…Nduk… Ibu lebih senang kau melanjutkan hidup dengan Panji yang muda dan tak kalah gagah. Dan biarlah Om-om setengah baya itu untuk Ibu saja. Gubrak! Ibu lagi-lagi menengok kanan-kiri lalu mengelus dada. Tapi jika memang itu pilihan Marni, Ibu takkan melarangnya. Biarlah yang penting anaknya bahagia.

*******************

Lanjutkan membaca “Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 16”