Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 16

Episode 16: Galau

(Jjiaahh, judulnya abegeh banget…. Sssttttt!!! Hmmmffftttt……. Narator tidak akan mengganggu karena sudah disekap! Sehingga segombal apapun rayuan Bimo takkan ada yang protes :mrgreen: )

Api dari pelita kecil itu menari-nari mengikuti irama angin yang berhembus di sela-sela dinding bambu. Saung bambu di ujung kebun itu menjadi saksi bisu kerinduan dua anak manusia yang tengah dimabuk asmara. Dengan luwes Marni menghidangkan segelas wedang jahe madu untuk mengusir dingin malam di musim kemarau ini. Pipinya bersemu merah ketika mengulurkan cangkir itu ke tangan kekasih hatinya.

“Oh, Marni…Marni…mengapa kau menghilang begitu saja, Sayang?” keluh Bimo penuh rindu. Dihirupnya minuman hangat buatan gadis pujaannya.

“Ahhh, betapa aku merindukan segala macam jamu dan minuman buatanmu ini,” desahnya. Marni memainkan ujung blouse nya. Masih belum berani memandang Bimo. Pria itu menyentuh dagu Marni dan memandangnya lembut.

“Heii, mengapa kau masih diam? Tak suka ya aku datang?”

“Eh…oh…bukan gitu, saya suka sekali Mas Bimo datang. Mmm, Mas Bimo baik-baik sajakah?” tanya Marni ragu.

“Tentu saja aku baik-baik saja. Kau mengikuti berita di TV?”

Marni menggeleng. Sejak berita penangkapan Bimo tak sekalipun ia mau melihat TV. Karena semua berita, infotainment, sampai film kartun pun memberitakan kasus Bimo.

“Marni…..,” panggil Bimo sambil menggeser duduknya mendekat ke samping Marni, tak sengaja jempol kaki mereka beradu. Gadis itu berdebar-debar.

“Marni, percayakah kau padaku?” tanya Bimo sambil menggenggam jemari lembut Marni. Gadis lugu itu kegerahan meski angin bertiup sepoi-sepoi basah agak kering.

“Maksud Mas Bimo?” tanyanya tak mengerti. Bimo mengecup jemari lentik gadisnya.

“Semua pemberitaan di koran dan TV itu. Karena itukah kau pergi?”

Marni menunduk, setitik air mata bergulir di ujung matanya. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat demi menahan tangis. Bimo mengusap rambut ikal nan halus lembut itu, meski agak sedikit beraroma ramuan lidah buaya.

“Ah, jadi memang karena itu kau pergi. Sayangku, percayalah, aku tak melakukan apa yang mereka tuduhkan padaku. Lihat, aku ada di sini, di sampingmu. Ini bukti bahwa aku tak bersalah. Oh, Marni, percayalah padaku, Sayang.”

Bimo menghapus tetes air yang bergulir di dagu Marni.

“Maafkan saya, Mas…hiks…saya memang sempat tak memercayai Mas, hiks….,” isak Marni akhirnya.

“Sudahlah, semua sudah berlalu. Sekarang mari kita konsentrasi pada hubungan kita, oke?”

Keduanya lalu menikmati minuman hangat sambil saling curi-curi pandang gak jelas. Sesekali tersenyum, sesekali tertawa, sesekali berbincang serius, sesekali saling berdiam diri, sesekali saling mencubit, dan seduakali saling menggoda. Bahkan rembulan pun malu dan bersembunyi di balik awan.

Sementara Ibu gelisah tak karuan mondar-mandir di ruang tengah. Masa iya Marni pacaran sama Om-Om gitu? Haduuhh, pria itu lebih cocok jadi pasanganku! bisik hati Ibu. Ups! Ibu menengok kiri-kanan untunglah tak ada yang mendengar suara hatinya. Sosok itu memang tampan rupawan, gagah perkasa, makmur sentosa, ah…Nduk…Nduk… Ibu lebih senang kau melanjutkan hidup dengan Panji yang muda dan tak kalah gagah. Dan biarlah Om-om setengah baya itu untuk Ibu saja. Gubrak! Ibu lagi-lagi menengok kanan-kiri lalu mengelus dada. Tapi jika memang itu pilihan Marni, Ibu takkan melarangnya. Biarlah yang penting anaknya bahagia.

*******************

Udara malam ini begitu sejuk dan ringan, apalagi ditingkahi desiran aliran sungai Bengawan Solo. Seharusnya mata langsung terpejam dan penat tubuh langsung hilang dibuai malam. Namun Panji gelisah di tempat tidur barunya. Tempat tidur besar yang baru dua hari dibelinya bersama Marni. Warna dan bentuk rupanya adalah pilihan Marni. Hijau kuning kelabu, merah muda dan biru, warna yang Panji sukai karena Marni menyukainya. Gadis itu memang belum menjawab lamarannya, namun Panji optimis Marni menerima cintanya. Mula-mula membeli tempat tidur, besok mereka akan membeli seperangkat sofa. Yang murah saja, karena tak penting mutunya, yang penting siapa yang kelak akan mendudukinya. Panji tersenyum sendiri membayangkan Marni duduk manis sambil membaca majalah menantinya pulang kelak.

Tapi semua impian itu nyaris buyar. Marni mengenalkan sosok tampan dan penuh wibawa sebagai temannya tadi sore. Aura pria itu seketika membuat Panji terintimidasi. Senyum ramahnya, genggaman hangatnya, aduh tak ada yang salah dan tercela dari Bimo. Tapi Panji membencinya setengah mati. Naluri kejantanannya mengatakan, ini saingan! Rival! Dilihat dari sudut manapun Panji sudah merasa kalah bersaing dari Bimo, kecuali kemudaannya. Ah, tapi gadis sekarang ini tak peduli usia, yang penting masa depan cerah ceria. Begitu jugakah Marni?

Tiba-tiba Panji terduduk. Wajah itu begitu familiar hanya saja tak ingat di mana pernah melihatnya. Kini Panji sadar, pria itu yang dituduh membunuh! Beritanya begitu santer di TV, memang pada akirnya tak terbukti bersalah. Namun entah mengapa perasaan Panji kuat sekali mengatakan bahwa sesungguhnya Bimo memang bersalah. Besok ia akan menemui Ibu. Mungkin Marni mau mendengar kalo Ibu yang bicara.

********************

Seperti biasa, Panji langsung menuju kebun belakang, biasanya Ibu sudah sibuk di sana. Entah memetik dedaunan atau mulai meramu jamu. Dan akhir-akhir ini selalu ditemani celoteh Marni. Namun kali ini suasana nampak sepi. Hanya ada Ibu sedang menumbuk beras dan kencur.

“Eh, Panji, tumben agak siang kau, Nak?” sapa Ibu ramah begitu melihat Panji. Pemuda itu tersipu, semalam ia tak bisa tidur memikirkan Marni hingga bangun pun kesiangan.

“Iya, Bu. Tidak bisa tidur semalam,” gumam Panji. Ibu menghela napas panjang seolah tahu penyebab Panji tak bisa tidur.

“Emm, ee… Dik Marni kok tidak kelihatan, Bu?” tanya Panji malu-malu. Ibu menghela napas panjang.

“Tadi pagi dijemput Pak Bimo, mau melihat-lihat ke kota katanya,” desah Ibu lirih. Wajah Panji memerah, seluruh aliran darahnya seperti mengumpul di kelapa karena mendidih. Namun ditahannya perasaan marah. Ini kesempatan untuk memengaruhi Ibu agar menjauhkan Marni dari Om-Om tua itu.

“Mm, maaf Bu, kalo boleh saya bertanya, sebetulnya ada hubungan apa Dik Marni dengan bapak-bapak itu to?” tanya Panji sambil membantu menumbuk kencur dengan penuh emosi.

“Ibu juga ndak tau. Tapi eeeh….sepertinya mereka itu dekat, lho. Marni memang belum banyak cerita, hanya mengatakan kalo mereka itu eh…mmm…dekat di Jakarta sana,” jawab Ibu berusaha memperhalus kata “pacaran”.

“Saya juga merasa demikian. Ibu setuju jika mereka benar-benar pacaran?” tanya Panji lagi. Kali ini ia tak dapat menyembunyikan rasa cemburunya.

Ibu menghela napas panjang. Ditatapnya pemuda itu dengan sayang. Sesungguhnya hanya orang inilah yang boleh memiliki anakku, demikian batin Ibu. Wahai, laki-laki tua, jauhilah segala perempuan muda di sekitarmu, hendaklah jangan kau peristri, karena sesungguhnya masih banyak pemuda yang belum kebagian dan merasakan nikmatnya berkeluarga.

“Tentu saja Ibu ndak setuju. Memang Pak Bimo tampan dan mapan, namun sudah beruban. Namun Ibu hanya bisa mendoakan, jika Marni sudah menentukan pilihan,” bisik Ibu bersajak. Panji meletakkan ulekannya dengan keras.

“Tidak tahukah Ibu, kalo Bimo itu seorang pembunuh yang ramai disirakan di TV?”

“Astaga! Bimo…Bimo yang itu? Oh, apa yang harus kulakukan, Nak?” Ibu tiba-tiba panik dan mengguncang-guncang lengan Panji dengan keras sambil sesekali memukul dada Panji. Pemuda itu melepaskan diri dari Ibu lalu berlindung di balik bedeng bambu.

“Tenang, Bu, sabar… gini, ijinkan saya menikahi Dik Marni, maka saya akan menjauhkanya dari Bimo Beruban itu. Ijinkan, Bu,” rayu Panji. Ibu diam sejenak lalu mengejar dan memeluk Panji. Pemuda itu agak gilo*) dan merinding, namun demi mendapatkan Dik Marni maka ia balas memeluk Ibu.

“Betul, Nak, nikahi Marni, selamatkan dari pria tua itu. Ibu merestui, Nak. Lamarlah Marni secepatnya sebelum keduluan pria tampan dan mapan itu meski sedikit beruban.”

Panji tersenyum bahagia. Restu sudah di tangan, tinggal membujuk Dik Marni untuk menerima lamarannya. Tiba-tiba pipinya memerah dan tanpa sadar memeluk Ibu lebih erat. Sekarang Ibu yang gilo, segera ia melepaskan pelukan Panji dan meneruskan menumbuk beras dengan gebes-gebes**).

***********************

Sementara itu di sebuah restoran hotel mewah, Marni menikmati makanan yang bahkan menyebut namanya pun tak bisa. Padahal hanya selembar daging yang dihidangkan dengan piring panas dan selalu mendesiskan bunyi “cessssss…..”. Itu menu pilihan kekasihnya. Sesekali Bimo memotong daging itu lalu menyuapkan ke mulut Marni.Β  Mesra dan romantis. Sesungguhnya Marni lebih senang makan nasi liwet dan minum es dawet, namun kekasihnya telah membawanya kemari. Ya sudahlah, nikmati saja.

“Enak, Sayang?” tanya Bimo pada kekasihnya. Marni mengangguk karena mulutnya penuh.

Bimo tersenyum. Setelah berjalan-jalan dan belanja di Pasar Klewer, ia mengajak Marni makan di hotel tempatnya menginap.Β  Ia ingin kekasihnya mengenal makanan western lebih sering sebelum kelak mengajaknya menetap di luar negri. Bersembunyi dari segalanya bersama Marni tercinta. Namun masih ada ganjalan yang ingin ditanyakannya pada gadis cantik lugu ini. Setelah suapan terakhir, Bimo meminta pelayan menyiapkan dessert, banana split with choco vanilla ice cream untuknya dan kekasihnya.

Sambil menikmati makanan penutup, Bimo sesekali memandang Marni yang lalu tertunduk malu. Kerinduannya pada pria itu sekaligus tak bertemu dalam waktu lama, membuat Marni menjaga jarak. Meski rindu tak tertahankan namun ia masih malu untuk menerima perlakuan mesra dari Bimo.

“Marni, Sayangku, cintakah kau padaku?” tanya Bimo lirih. Tatapannya lembut sekaligus tajam, menghunjam tepat di jantung Marni yang langsung tersetrum dan berdebar-debar. Marni meletakkan sendok kecilnya dan balas menatap Bimo sekilas lalu menunduk.

“Jawablah, Sayangku…” desak Bimo lalu menggenggam tangan Marni.

“Iya, Mas, tentu saja,” bisik Marni tersipu.

“Kalau begitu, maukah kau jujur padaku?”

Marni terkesiap mendengar pertanyaan Bimo. Ini pasti soal Panji. Mas Bimo pasti cemburu dan mempertanyakan soal Panji. Sekilas Marni tersenyum, tentu saja ia tak punya perasaan apa-apa pada Panji. Pria itu lebih menyerupai kakak daripada kekasih. Maka dengan mantap ia mengangguk.

“Tentu saja saya akan berkata jujur, Mas. Tak ada yang perlu ditutupi,” jawabnya. Bimo melepas genggaman tangannya dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.

“Marni, ada hubungan apa kau dengan Nancy?” tanya Bimo lembut. Bagai tersambar petir di pagi buta saat masih mengantuk, Marni terlonjak kaget. Wajahnya memucat dan bibirnya bergetar. Nancy? Nama itu seperti nama asing namun sekaligus akrab yang pernah didengarnya ribuan tahun lalu. Bibirnya bergetar, juga jemarinya yang langsung disembunyikannya di pangkuan.

Bimo sedih menatapnya. Jadi benar, Nancy berkata benar. Marni memang kenal Nancy. Melihat reaksi Marni tanpa perlu dijawab pun Bimo tahu. Sebatas mana Marni mengenal Nancy? Bagaimana ia mengenalnya? Bimo tak berniat menanyakannya. Melihat air mata bergulir di pipi pucat kekasihnya Bimo sudah tak tahan. Segera ia mengajak Marni pulang.

Sepanjang perjalanan pulang tak ada percakapan. Suasana mendadak kaku. Sesekali Marni mengusap air matanya, sesekali Bimo melirik kekasihnya. Mendung menggantung di antara keduanya.

**********************

Sudah seminggu lalu Bimo kembali ke Jakarta. Tanpa kata perpisahan, tanpa sentuhan penuh sayang, hanya pesan singkat di ponsel yang telah diaktifkannya kembali. Marni termangu sedih. Hari-harinya seperti digayuti awan gelap. Belum lama hatinya yang pecah mulai tertata kini kembali berserakan. Serpihan-serpihannya berhamburan tak karuan. Ibu dan Panji yang justru nampak riang tak mampu menghibur lara hatinya. Oh, Mas Bimo, maafkan aku, tak percayakah kau padaku? Tak sadarkah kau, bahwa karena Nancy lah kita bisa bertemu? Tak mengertikah kau? Marahkah kau padaku?

Marni menangis tergugu. Mendadak langitpun turut menurunkan hujan, mengguyur persada dengan derasnya. Tak peduli akan hati patah yang menggigil kedinginan. Rindu, rindu yang baru saja terobati kini musnah kembali. Riiiindu betapa rindu hatiku, tiada tertahan, kau tinggalkan daku seorang…. Kalau hatiku sedang rindu, pada siapa ku mengadu, walau hati bertanya slalu, berlinanglah air mataku…. tangis Marni. Air matanya berbaur dengan air hujan, menguyupkan seluruh perasaan cintanya, hiks…hiks…

*************************

Hiks… bersambung lagi deh, tapi bentar lagi tamat kok. Sabar ya, Kawaaann….. πŸ™‚

Episode 17 : Aku, Kamu, dan Dia

Catatan:

*) Gilo: geli yang menjurus ke ngeri

**) Gebes-gebes: bergidik sambil menggelengkan kepala gitu deh

Sound track:

Versi 1: Bagi pembaca yang sedang mengalami rindu tak tertahan, please dengarkan di antara rinai hujan dan sendirian. Hilangkan bunyi-bunyian yang lain, resapi, nikmati, dan menangislah….maka kau akan lega…

Versi 2: Bagi pembaca yang sudah lebih grow up, dengarkan sambil santai dengan ditemani segelas cappuccino hangat, maka tiba-tiba akan rindu dan segera mencari kekasihnya dan memeluknya….

Selamat menikmati, jika versi satu dan dua terbalik, silakan balik sendiri sesuai selera πŸ˜€

(halah…halah… kayak laku aja hihihihihi…. :mrgreen: )

Iklan

10 thoughts on “Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 16

  1. Mabruri Sirampog November 7, 2011 / 10:52 am

    huwaaaaahhh,,,,,
    siapakah yang akan mendapatkan marni sebenarnya?? πŸ˜€ πŸ˜€

    Duh, soundtracknya cocok banget tuh yg pertama, apalagi skarang sudah mulai sering turun hujan.. πŸ˜€

    choco:

    Hayoo Mas Brur, jagoin sapa Bimo apa Panji πŸ˜›

    Nglangut yo, Mas, gimanaaa gitu dengerinnya kalo lagi ujan πŸ˜€

  2. maminx November 7, 2011 / 12:56 pm

    wkwkw kocak bagian terakhir ada kutipan lagu segala..

    saya baca semua nih cerpen dari awal sampai akhir. gak sabar tunggu lanjutannya. tiba-tiba ada nancy sih. kirain mau bahas panji. tar jangan jangan si bimo jadian ama ibu nya marni tuh.
    masukin peran yu minah donk πŸ˜›

    oh ya “banana split with choco vanilla ice cream” mau donk, nampak segar tuh dessert. nyam2

    choco:

    Hihihihi….biar rada dramatis gitu lho, Minx πŸ˜€
    Waaa, Yu Minah bisa mengacau kalo dimasukin cerita, bisa-bisa isinya khotbah mulu nanti :mrgreen:
    Hmm, jadi pengen es krim jugak πŸ˜€

  3. Emanuel Setio Dewo November 7, 2011 / 1:48 pm

    Xixixixi, jangan2 Bimo jadinya sama ibunya Marni.

    choco:

    Kok pada curiga Bimo sama Ibu siy? Padahal sapa tau jadinya Ibu ama Panji *gabruk* :mrgreen:

  4. agam trueblue November 7, 2011 / 3:02 pm

    Aku, Kamu, Dia dan Mereka πŸ™‚ hehehehe

    choco:

    Kebanyakan, Mas, belum lagi ada kami πŸ˜›

  5. Orin November 7, 2011 / 3:40 pm

    hahahaha….film kartun aja ad Bimo, jempol bersentuhan aja jadi klepek2 qiqiqiqi…keren bgt deh ah emang mba Choco. Lanjutkaaan πŸ˜‰

    choco:

    Jadi inget waktu dulu jempolnya kesenggol sama Aa ya, Rin? Uhhhuuuuuyyy…. πŸ˜€

  6. Lidya November 7, 2011 / 3:43 pm

    ibunya marni genit juga nih mau sama bimo πŸ™‚
    marni ketularan anak skr pake galau segala ya,halah komennya protes semua hihihi.
    pokoknya marni harus terus sama bimo,kalo gak…..

    choco:

    Kalo gak…..Bimo buat saya ajah 😳 :mrgreen: πŸ˜› πŸ˜€

  7. Dewifatma November 10, 2011 / 4:59 pm

    hahahahaa… bentar, aku ngakak dulu. Lagu ndang ndut-nya itu lho…hahaha…

    Aku mau kok sama si Ubanan itu, biar aja Marni sama Panji.. πŸ˜›

    choco:

    Hallooo Papanya Vales, nih lho ada yang ngelirik pengusaha tua tapi kayaaaa :mrgreen:

  8. ~Amela~ November 11, 2011 / 1:38 pm

    jadi sebenarnya om bimo ini pembunuh bukan sih? ah.. saya doakan marni dan om bimo segera bersatu,,
    biar mas panjinya buat saya aja
    ~lalalaal

    choco:

    Jawabannya ada di episode ke 18, Sayang πŸ˜€
    Teteeeep mau Mas Panji ya hahahahaha…..emang ganteng siiyy 😳

  9. Una Desember 1, 2011 / 1:21 pm

    Hahaha hijauh kuning kelabu merah muda dan biru wkwkw~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s