Dongeng insomnia · Nimbrung Mikir

Dear Pahlawanku – Engkau yang Terlupakan

Surat ini kutujukan bagi para pahlawan pejuang, pahlawan tak dikenal, dan para veteran perang yang kini terlupakan.

Meski telah merdeka, kau harus tetap berjuang 😦

Dear Pahlawanku,

Bolehkah kusebut kau Pejuang Perkasa? Meski kini engkau telah renta dan tak berdaya. Meski telah lusuh seragam dan pecimu. Meski telah terhapus sebagian memori perjuanganmu. Aku tak tahu, apakah masih ada yang menganggapmu pahlawan? Meski dulu kau panggul senjata dan peluru, entah sudah berapa kali nyawamu nyaris melayang meninggalkan sanak keluarga.

Pejuang Perkasa, tak pernah kau pikirkan rugi laba yang kau dapat, saat kau maju ke medan laga dengan merah putih tersemat di dada. Tak panjang kau pikirkan entah nanti kembali atau tidak. Yang kau perjuangkan hanyalah kemerdekaan, kemerdekaan dan kemerdekaan negri tercinta yang mungkinkah kini telah mengkhianatimu?

Surat ini mungkin tak lagi berarti untukmu, kering sudah derita dan air mata kau tumpahkan. Kenyang sudah kau terima sorak sorai ketika merdeka tertumpah di negri ini. Habis sudah darah dan keringat kau cucurkan. Tak ada arti lagi kini itu semua.

Pejuang Perkasa, aku tahu, hingga kini pun kau masih terus berjuang, demi anak cucu yang terlantar. Berjuang demi kelangsungan hidup yang masih harus kau jalani. Aku tahu, bahkan rumah tinggalmu pun masih diusik, itu bukan milikmu! Aku tahu, bahkan pensiun pun tak tahu rimbanya, itu bukan hakmu! Dan aku hanya bisa diam, menangis. Katakan, apa yang harus kulakukan?

Tulangmu telah rapuh, gigimu entah masih bisa mengunyah atau tidak. Kakimu telah gontai dan lelah menopangmu. Entahlah, apa yang kau rasa. Entahlah, apa yang kurasa. Aku hanya bisa menitikkan air mata melihat deritamu. Inikah suratan takdirmu? Bahwa kau harus terus berjuang sampai akhir hidupmu? Perjuangan yang tak lagi sama, darah yang tak lagi merah. Katakan, apa yang bisa kulakukan untuk menguatkanmu?

Adakah arti kemerdekaan ini untukmu? Sukakah kau dengan kemerdekaan ini? Atau kau lebih suka dengan masa jayamu dulu? Di mana segala gerak langkahmu terasa berarti, segala aksimu nampak gagah dan perkasa. Seluruh waktu kau abdikan dengan senjata dan air mata, tak bersisa untuk kesenangan pribadi. Dan luka-luka tubuhmu nampak demikian jantan? Kini tak lagi seorangpun melirikmu. Bahkan sebagian menertawakanmu karena kemana-mana menggunakan seragam lusuh. Katakan, apa yang harus kulakukan untuk melipur hatimu?

Aku hanya bisa menangis. Sekalipun orang-orang itu mengejekmu, aku tidak! Sekalipun pemerintah tak menghargaimu, aku tidak! Sekalipun dunia meninggalkanmu, aku tidak! Lagi, katakan, apa yang harus kulakukan untuk keringkan lukamu?

Pejuang Perkasa, melalui surat ini, kuhaturkan terimakasih yang tak terhingga. Meski tak ada bintang-bintang tersemat di dadamu, biarlah bintang-bintang di langit yang melapangkan dadamu. Meski tak nikmat hidup ini bagimu, biarlah mentari menghangatkan tubuh rentamu. Meski hidup ini melelahkan dan menyiksa, biarlah kelak Allah sendiri yang akan membebaskanmu dan memerdekakanmu dari segala penjajahan yang masih tersisa.

Pejuang Perkasa, terimakasih. Lelahmu adalah merdekaku, lukamu adalah pembangunanku, pedihmu adalah kemajuanku.  Kau yang tak dikenal, kau yang dilupakan, kau yang telah terbaring dalam hitam tanah, kau yang tak punya medali untuk kau banggakan, kau yang tak punya lencana untuk kau sematkan, terimakasih. Tanpamu, aku takkan bisa menulis surat elektronik ini.

Pejuang Perkasa, teruslah berjuang dalam sisa umurmu. Biarlah tak ada yang mengenalmu, namun sejarah hidup telah dan akan terus mencatat perjuanganmu, hingga kau merdeka dalam arti sesungguhnya. MERDEKA!

Dariku,

Yang tak mengenalmu namun berterimakasih padamu.


PS. Gambar diambil dari Google

Postingan ini diikutsertakan dalam Kontes Dear Pahlawanku yang diselenggarakan oleh Lozz, Iyha dan Puteri

Sponsored by :

Blogcamp|LittleOstore|Tuptoday|Lozzcorner|Rumahtramoiey