Episode Empat Belas: Sebentuk Cinta yang Lain

Hamparan sawah nampak mengemas disinari cahaya gemintang dari langit sana. Dimi tersenyum puas melihat padinya yang tumbuh bernas. Besok panen akan dilakukan, setelah itu uji laboratorium. Harap-harap cemas akan hasil percobaannya membuat dadanya berdebar tak karuan sejak sore tadi. Bahkan nyaris tengah malam ini Dimi lebih senang duduk di pinggiran pematang memandangi bulir-bulir yang menjanjikan itu. Seluruh jiwa raganya ia pertaruhkan untuk panen kali ini setelah sebelumnya kegagalan datang bertubi-tubi.

Suara dehem membuatnya terlompat kaget. Seseorang mengulurkan secangkir coklat panas untuknya, sementara tangan sebelahnya lagi mengenggam secangkir kopi wangi untuknya sendiri. Dimi tersenyum dan menerima cangkir itu.

“Makasih, Bang. Belum tidur?” tanyanya sembari menyesap coklat yang menghangatkan itu.

“Bagaimana bisa tidur sementara boss kecilku masih gelisah memikirkan padinya?” sahut Damian menggoda.

Dimi tertawa kecil. Kebersamaannya selama satu tahun lebih membuatnya merasa nyaman berada di samping Damian. Nyaris 18 jam setiap hari dihabiskannya bersama abang Denova ini bersama team yang lain. Mereka berpisah hanya ketika saat tidur tiba. Itupun tak benar-benar berpisah karena team penelitian itu berada dalam satu rumah.

“Aku kuatir, Bang, setelah tiga kali kegagalan kita membuatku putus asa. Rasanya tak tahu lagi apa yang harus kulakukan,” keluh Dimi. Damian tertawa kecil lalu menepuk pundak Dimi hangat.

“Hei, jangan putus asa begitu. Lihat, padi-padi itu begitu sehat dan montok, bulirnya bernas dan emas. Apa yang kau kuatirkan, Boss?” goda Damian. Gadis itu tertawa kecil, satu yang dia suka dari asistennya ini, tak pernah putus asa dan selalu bersemangat tak kenal lelah.

“Kau kan tahu, Bang, kalau sampai penelitian ini gagal, pihak donatur akan menarik semua bantuannya dan mau kutaruh di mana mukaku?”

“Taruh saja di kantung bajuku, pasti aman,” goda Damian lagi. Dimi mengerucutkan bibirnya digoda terus oleh Damian.

“Hahahaha….tenang, Boss, aku janji kali ini takkan gagal. Kalo sampai gagal, biar aku yang menghadapi bule-bule itu, kau tenang-tenang saja habiskan bercangkir-cangkir coklat panas dalam kamar, okay?”

Dimi tertawa kecil. Damian selalu bisa membuatnya nyaman dan tenang. Dia memang jauh lebih dewasa dari adiknya. Ah, mengapa tiba-tiba bayangan cowok itu melintas di benaknya? Dimi menghabiskan coklat panas itu dalam satu tegukan.

***************

Keringat bercucuran di dahi dan tubuh Dimi. Seluruh kausnya telah kuyup oleh keringat namun semangat tak padam. Seluruh padinya sehat dan luar biasa cantik. Bahkan para petani yang membantunya mengerjakan percobaan itu tak henti-hentinya memuji-muji hasil panen mereka. Secara kasat mata percobaan ini tampak berhasil, tinggal melakukan uji lab untuk memastikan bahwa padi ini memang jenis unggul.

See, Boss, nampaknya sebentar lagi kau akan jadi orang terkenal dan jutawan. Lihat, padimu sempurna!” seru Damian dari tengah sawah sambil mengangkat serumpun padi di tangan kiri dan kanannya. Dimi tertawa girang dan mengacungkan jempolnya pada Damian.

Hingga tengah malam Dimi dan Damian sibuk di lab sederhana yang mereka bangun sejak tiba di desa ini. Team yang lain telah menyerah dan pamit untuk tidur, namun tidak dengan Dimi.  Hari ini seluruh hidupnya dipertaruhkan, gagal atau berhasil. Dan tentu saja Damian tak membiarkan gadis itu menyelesaikannya sendiri.

Dimi sibuk mengeluarkan rumpun-rumpun padi dari oven lalu mencatat berat keringnya, membandingkan dengan berat basahnya. Damian masih sibuk dengan berbagai cairan kimia di belakangnya. Sejurus kemudian Damian memanggil Dimi.

“Lihat, Boss, nampaknya kau telah berhasil.”

Dimi mendekat ke arah Damian dan melihat cawan-cawan porselen serta tabung berisi cairan warna-warni yang telah dikerjakan Damian. Semua sesuai harapannya. Semua memberikan reaksi seperti yang diinginkannya. Dengan kata lain, percobaan ini berhasil! Dimi memekik kegirangan lalu spontan memeluk Damian erat-erat. Damian tertawa lalu mengangkat gadis itu dan berputar-putar kegirangan. Akhirnya, setelah kegagalan yang bertubi-tubi dan jerih payah mereka, percobaan ini berhasil. Jenis baru bibit padi unggul telah mereka ciptakan.

Setelah euforia itu, keduanya berpandangan. Sejanak suasana menjadi canggung, lalu Damian segera melepaskan pelukan Dimi.

“Hmm, sorry,” gumamnya tak jelas. Dimi mendadak berdebaran tak karuan.

It’s ok, thanks, Bang, tanpamu aku pasti gagal lagi,” bisik Dimi penuh haru. Damian kembali tertawa kecil untuk mencairkan ketegangan yang tiba-tiba hadir.

“Hei, bolehkah aku minta hadiah untuk keberhasilan ini?” tanya Damian. Dimi tertawa.

“Dengan senang hati, asal jangan uang. Kau tahu Bang, aku ini peneliti pas-pasan.”

“Dimiiiii, memangnya aku tampak seperti pria tamak yang menggerogoti pasangannya ya?” goda Damian. Ups! Pasangan? Damian salah tingkah, untunglah Dimi tampaknya tak memerhatikan.

“Hahahaha…. sebut saja, Bang, kau mau apa?”

“Hm, sudah sejak pertama kali aku di sini, Den selalu menanyakanmu. Bolehkah kau biarkan dia datang kemari? Please, gampang kan permintaanku?”

Dimi mendadak membisu. Denova. Cowok yang pernah mencuri hatinya, yang pernah mencoba untuk dilupakannya meski belum bisa. Kuatkah hatinya melihat cowok itu setelah setahun lebih tak bertemu? Masihkah ia berpacaran dengan Rindang? Dimi masih ingat ekspresi Rindang ketika melihatnya datang bersama Den. Masih pula ia ingat tamparannya di pipi Den. Bisakah ia menemuinya?

“Heiii, kok malah diam. Boleh tidak?”

Dimi menatap asistennya yang tampan tapi kocak itu. Wajahnya polos penuh harap, Dimi jadi tertawa lalu mengiyakan permintaan Damian. Biarlah apa yang harus terjadi, terjadilah.

**********************

Kedua kakak beradik itu berpelukan dengan hangat. Meski dulu sering bertengkar tapi ketika lama terpisah, kerinduan tetap tak terbendung. Damian mengacak-acak rambut adiknya.

“Sudah siap bertemu pujaan hati?” godanya. Den tertawa lalu mengangguk.

Damian mengajak Den ke kebun belakang rumah. Di sana ada saung kecil yang biasa mereka gunakan untuk membahas kerjaan dengan santai. Dimi sudah duduk manis di sana.  Damian menyapanya lalu meninggalkan keduanya di sana. Masih sempat diliriknya Dimi yang gugup menghadapi Den lalu menatap Damian seolah berkata “jangan tinggalkan aku.” Namun Damian mengedipkan mata dan meninggalkan mereka berdua.

Entah perasaan apa yang ada di hati Damian. Rasanya seluruh pembuluh darah di tubuh dan otaknya telah mengkhianatinya. Bibit-bibit cinta rupanya telah bersemi di hati Damian terhadap Dimi. Meski ia selalu memendamnya karena tak mungkin bukan bersaing dengan adik sendiri? Ia berlari ke pematang sawah yang kini kering hanya bersisa jerami-jerami kaku. Dibiarkannya kakinya bertelanjang dan ia merebahkan di bawah rindang satu-satunya pohon besar di pinggir sawah.

Tak tahu berapa lama Damian tertidur di situ. Ketika ia bangun, seseorang duduk di sampingnya dan memandanginya entah sejak kapan. Damian segera terbangun.

“Hei Boss, kok ada di sini? Mana Den?” tanyanya heran. Dimi memandang sayang pada pemuda yang rambutnya berantakan dan penuh rumput kering menempel. Setelah kecewa pada Bagas dan Denova, kali ini Dimi tak mau kecewa lagi.

“Sedang makan dengan teman-teman. Kau mau gabung, Bang?”

“Ah, nanti sajalah. Belum lapar. Kalian sudah baikan?” tanya Damian pahit.

“Waktu juga yang ternyata bisa menyembuhkan,” ujar Dimi lirih. Damian membuang muka ke tengah sawah.

“Bang…” panggil Dimi lalu menyusupkan tangannya ke tangan Damian yang terheran-heran.

“Terimakasih atas semua bantuanmu. Tanpa Bang Dam, penelitian ini takkan pernah berhasil,” bisik Dimi dan menggenggam erat tangan Damian.

“Sama-sama, Dim,” sahutnya berdebar.

“Hmm, aku diminta melakukan percobaan lagi di Kalimantan. Mm, maukah kau membantuku lagi, Bang?” bisik Dimi. Keringat mengalir di genggaman tangan Damian.

“Bagaimana dengan Den? Kamu tega meninggalkannya lagi?”

“Sudah tak ada apa-apa di antara kami. Aku sudah lelah menghadapinya. Maukah kau ikut, Bang?”

Pemuda itu tersenyum. Tanpa kata, tanpa perlu bunga, ia tahu, Dimi pun merasakan hal yang sama yang ia rasakan. Damian meremas tangan Dimi hangat.

“Tentu saja, Boss. Tapi bisakah kali ini aku yang menjadi Boss?” goda Damian. Dimi tertawa renyah.

Kini Dimi tahu, di tangan lelaki dewasa inilah ia akan memercayakan cintanya. Ia tahu, Damian akan selalu mendukungnya, mereka sama, punya ambisi dan cita-cita yang sama. Biarlah Denova mencari cinta yang lain.

******* THE END *********

Horeeeee……. “Cerita ini diikutkan Giveaway Suka-suka Dunia Pagi

Wish me luck 😉

Iklan

11 thoughts on “Episode Empat Belas: Sebentuk Cinta yang Lain

  1. monda November 13, 2011 / 9:56 pm

    Ah , lega deh endingnya so sweet begini

    choco:

    Saya senang yang sweet sweet, BuMon 😛

  2. ~Amela~ November 14, 2011 / 6:32 am

    mana mas bagas? oh, pasti disembunyiin buat naratornya heheheh..

    makasih udah ikutan ya kakak 😀

    choco:

    Mas Bagasnya ngurusin burung mulu siy, Dimi jadi males 😛

  3. Lidya November 14, 2011 / 11:10 am

    aku bingung mbak kokudah episode 14, aku pikir kelanjutan bakul jamu marni 🙂
    good luck ya kontesnya

    choco:

    Hihihihi….ngontes dulu, Jeng. Marni tinggal 2 episode lagi kok 😀

  4. Mabruri Sirampog November 14, 2011 / 3:38 pm

    waduuuhhh,,,
    ternyata malah jadinya sama Damian,,
    aah, cinlok ni jadinya.. hahah

    sukses bu konternya,,,
    aku pikir tadi juga ini kelanjutan si marni…. hihihi

    choco:

    Cinlok itu bukannya jajananmu waktu SD, Mas? :mrgreen:

    Makasiy yaaa, oya Marni tinggal 2 episode lagi mudah-mudahan yagn satu minggu ini bisa publish 😀

  5. kakaakin November 14, 2011 / 3:39 pm

    Kasihan ya Denova… 😀
    Semoga sukses di acaranya Amel ya, Mbak 🙂

    choco:

    Hehehehe… makasiy ya, Kak 😀

  6. Orin November 15, 2011 / 2:42 pm

    Aaaah…co cwiiiiittt…. memang yaa, pria matang itu lebih meyakinkan, kyk mas Bimo gitu lho #eh?
    qiqiqiqi…

    Gudlak ngontesnya mba Choco 😉

    choco:

    Qiqiiqiqi….kalo Mas Bimo terlalu matang, kelamaan ngrebusnya :mrgreen:

    Makasiy, Orin San 🙂

  7. Puteriamirillis November 18, 2011 / 2:42 am

    aih ini malahan ama damian ya mbak, sehati, sejiwa, selamanya, moga bulir2 padi itu sebagai saksi…^^

  8. Evan November 21, 2011 / 3:56 am

    so sweet…. dan bagus banget suka ending cerita ini.. 🙂
    semoga menang kontesnya

  9. tuaffi November 29, 2011 / 1:56 pm

    menang nihh.. selamat yahh.. 😀

    Salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s