Anak Sunyi

Antara lena dan jaga aku melihatnya berjalan tertatih-tatih menuju ke arahku berbaring. Rambut keriting ekor kudanya bergoyang-goyang, pipinya bulat kemerahan sewarna tomat masak. Kedua lengan montoknya terjulur ke arahku dan tawanya berderai menggemaskan. Inikah anakku? Gadisku? Cantik sekali! Serupa benar dengan boneka berpipi tembam bergigi empat yang kulihat di toko mainan kompleks rumah.

Ragu kusambut uluran tangannya, dan anak mungilku tenggelam dalam pelukanku.

“Mam…ma….Mamma…..” celotehnya riang. Kubelai-belai rambut keritingnya yang sama benar dengan ikal rambutku. Anak itu menggelinjang dan meronta. Kulepaskan pelukan dan ia memain-mainkan pipiku, bibirku, rambutku diiringi celotehnya yang tergagap-gagap. Aku masih tak percaya, inikah anakku? Anak yang menggelung di gua garbaku? Kuamati wajahnya. Memang benar ia anakku. Matanya milikku, bibirnya milikku juga, namun alis tebal berbaris dan bulu mata hitam pekat itu jelas punya lelaki itu. Sekejap wajahku mengerut dan anak manis yang terngkurap di dadaku itu pun menangis.

“Mam…ma…mam…” gumamnya. Tangan mungilnya meraba-raba dadaku dan mulutnya mengerucut. Apa? Apa yang dimauinya? Aku tak mengerti. Anak manis ini merengek meminta sesuatu yang tak kumengerti. Dan tiba-tiba perih menusuk-nusuk bawah perutku. Setiap manisku ini merengek, pedih seketika menghunjam perutku. Rasanya seperti ada ular yang meliuk-liuk menyusuri garbaku. Dan perutku melilit-lilit nyeri. Sakit kutahan. Nyeri kuredam. Aku masih tak mengerti apa mau anakku. Yang kutahu kini, sejenak nyeri terlupa. Mungkin karena ular berbisa itu sudah menemukan tempat yang nyaman dan tenang dalam garbaku. Atau karena cantik manisku ini terlelap kelelahan di dadaku. Kubelai dan kubelai keriting rambutnya dan merah pipinya. Sisa air mata masih mengalir di sudut indah matanya. Aku tak mengerti.

 ****************************

Antara lena dan jaga aku melihatnya berputar-putar dalam komidi putar. Tawanya nyaring melengking tergelak-gelak.

“Mamaa, mari turut bersamaku. Kita berputar-putar bagai terbang! Seperti peri cantik yang kita tonton kemarin!” pekiknya ceria. Aku tersenyum memandanginya. Begitu cepat ia tumbuh menjadi anak gadis yang cantik. Ekor kudanya masih keriting dan pipinya masih sewarna tomat segar. Namun celotehnya telah jelas, kata-katanya semakin terang, meski ompong gigi depannya. Tungkainya telah panjang, lengannya langsing dan alisnya semakin tebal. Mengapa alisnya selalu mengingatkanku pada lelaki itu?

Komidi putar itu berhenti berputar. Anak cantik manis, ia anakku, berlari menghambur dalam pelukanku. Kuberikan harum manis padanya.

“Terimakasih, Mama,” ujarnya girang. Tangannya menggandeng tanganku, membimbingku berjalan perlahan. Tangan satunya memegang tongkat harum manis dan mulut delimanya mengecap manis kudapan itu. Sesekali ia mendongak melirik ekspresiku. Seolah kuatir wajahku mengernyit perih. Dan memang itu yang terjadi. Mengapa ular besar itu masih meliuk-liuk di perutku?

“Sakit itu datang lagi, Ma?” bisik anakku pelan. Seolah kuatir suaranya akan menimbulkan sakit tak terperi dari perutku. Aku hanya menggeleng dan mencoba tersenyum padanya. Gadis manis cantik, anakku, kembali ceria melihat senyum di bibirku. Sebentar kemudian berlari mendekati permainan lempar gelang.

“Bolehkah aku bermain ini, Mama?” tanyanya. Aku mengangguk. Ular tak berwujud ini kembali menggulung-gulung seluruh isi perutku. Perut? Atau bawah perut? Atau bagian mana dari tubuhku yang terasa nyeri ini? Rasanya aku ingin teriak, namun kelu lidahku dan entah tersumbat apa tenggorokanku?

 *************************

Antara lena dan jaga aku melihatnya terisak di tempat tidur. Bahunya naik turun. Mungkin bantalnya telah kuyup terkena air matanya. Kubelai rambut panjang keritingnya. Ekor kudanya sudah tak ada lagi. Anak cantikku berbalik dan memelukku kencang. Kubalas pelukannya dan kuhapus air matanya. Pipinya tak lagi tembam sewarna tomat. Satu jerawat nakal telah menodai pipi halusnya.

“Dia tak mau datang lagi, Ma. Hu…hu…hu… katanya dia tak mau lagi berkencan denganku hu…hu…hu…,” tangisnya pilu. Kutangkupkan kedua tanganku pada wajahnya. Kupandangi betapa cantik dan muda gadisku ini. Mana ada teman lelakinya yang tega menyakitinya. Bola mata sebening kaca itu menatapku pilu. Hidung bangirnya memerah menahan tangis. Dan alis hitam sebaris itu, mengapa selalu mengingatkanku pada lelaki itu?

“Dia…dia…lebih memilih kawan baikku untuk jadi pacarnya. Jahat dia, Mama. Tega dia berlaku begitu padaku hu…hu….,” tangisnya sungguh memilukan. Kurasa air mata juga telah turun di pipiku. Menganak sungai hingga turun ke leherku dan dadaku. Lalu tangan halus anak cantik manis anakku itu mengusap pipiku. Ah, anak cantik manisku telah jatuh cinta rupanya. Cepat sekali ia bertumbuh. Ingin kumenghiburnya. Mengucapkan kata-kata penuh cinta dan sayang untuk melipur dukanya. Siapa anak muda bodoh itu, Nak? Sungguh ia tak layak untukmu. Biarkan dia pergi. Seribu anak muda lain akan berbaris rapi mengemis cintamu. Dan kelak seribu anak muda tampan akan patah hati dibuat olehmu. Biarkan dia pergi. Biarkan dia meninggalkan hidupmu. Tak pantas kau tangisi anak bodoh itu. Tak kusadar wajahku mengernyit. Anak manis cantikku mencoba tersenyum. Sudut-sudut bibirnya bergetar. Aku tahu, ia tak mau melihatku menahan perih. Cepat ia mengecup dahiku, pipiku, hidungku. Ia yang menghiburku kini.

“Maafkan aku, Mama, telah membuatmu bersedih. Biarlah dia tak memilihku, masih banyak lagi kawan yang mau denganku. Mama jangan sedih ya? Aku sudah tak lagi sedih. Dalam pelukan Mama, aku menjadi orang paling berbahagia. Aku mencintaimu, Mama,” bisiknya lalu memelukku kencang.

Dan ular itu menggeliat, meronta dalam perutku. Atau bawah perutku? Atau sebetulnya ada di mana ular jahanam itu? Nyeri tak terperi. Pedih tak terkira. Kudekap erat anak manis cantikku. Takut, aku takut. Aku takut kehilangan anak manisku ini. Aku takut kehilangan diriku. Aku takut kehilangan lelaki beralis hitam sebaris itu. Aku takut. Tetapi ular  berkulit dingin itu terus menerus mendesis-desis dalamku. Lidahnya menjulur-julur menjilati apa saja yang ditemuinya, meninggalkan panas dan bara dalamku. Ouh, tak tahan rasanya. Anak manis gadis cantikku makin erat memelukku. Ia tahu, aku tengah berjuang untuknya. Ia tahu, nuraniku tengah berperang. Ia pun tahu, aku sangat mencintainya, meski aku takut. Kucengkeram bibir tempat tidurku atau tempat tidur anakku? Hawa dingin menyelubungiku. Merembes hingga dalamku.

********************

Antar lena dan jaga aku melihatnya tersenyum lebar. Toga hitamnya membuatnya nampak semakin putih dan berkilau. Rambut keriting panjangnya tak nampak, berganti sanggul manis berhias melati terangkai. Kawan-kawannya tertawa riang di sekelilingnya. Sekilas ia melirikku dan melambaikan tangannya. Aku tersenyum menatapnya bangga. Gadis manis anak cantikku telah dewasa. Selesai sekolahnya. Sarjana gelarnya. Dokter? Atau insinyur? Atau ahli bahasa? Ah, mengapa tak kutanyakan tadi. Biarlah, apapun itu adalah kebanggaanku.

Upacara telah selesai nampaknya. Anak manis, gadis cantikku memelukku riang. Ia memang selalu memelukku. Seolah ingin meredakan sakit yang selalu timbul dalamku. Atau karena ia tak mau kehilanganku? Karena ia tak mau kupisahkan dariku?

“Lihatlah Ma, baru saja diwisuda aku sudah ditawari pekerjaan,” katanya riang. Kebaya merah mudanya menyembul dari balik jubah hitamnya. Ah, manis cantik sekali gadisku.

“Tapi di luar negri, Ma. Gajinya besar sekali. Dan sudah pasti aku menolaknya. Tak mungkin aku meninggalkan Mama sendirian,” celotehnya acuh. Aku bingung. Sendiri? Mengapa aku sendiri? Lalu ke mana lelaki beralis hitam berbaris yang seharusnya adalah ayahnya? Yang menyuruhku mengabaikan anak manisku ini? Meski nyatanya anak cantik gadisku ini selalu ada di sisiku.

“Mama tak usah sedih. Lulusan terbaik anakmu ini, pasti mudah mendapat kerja. Tak perlu jauh-jauh ke negri orang. Negri sendiri berlimpah kekayaannya, negri sendiri butuh orang sepertiku bukan, Mama?”

Ingin aku menjawab, memberinya penghiburan. Namun lidahku selalu kelu. Leherku selalu tersumbat. Dan anak gadisku selalu memelukku. Ia yang menghiburku, meredakan pedihku. Lalu kawan-kawannya datang mengajaknya berpesta. Merayakan kelulusan yang melegakan, meski setelah itu tak tahu lagi mesti ke mana. Mencari kerja di negri nan subur dan kaya ini tidaklah mudah. Anak-anak muda penuh gairah itu segera akan mengirim lamaran ke mana saja sebanyak-banyaknya. Bulan-bulan pertama masih akan semangat, melihat kawan yang telah bergaji, telah diterima di mana-mana. Enam bulan kemudian akan ada wisuda lagi, bertambahlah para pencari kerja ini. Begitu seterusnya hingga akhirnya semangat akan padam. Putus asa dan pergilah mencari hidup di negri seberang, negri penuh emas dan berlian. Gelar sarjana tak lagi berarti, yang penting perut terisi dan dompet terpenuhi.

Kulihat anak cantikku melirik padaku, lalu menggeleng pada kawan-kawannya.

“Kalian saja yang pergi, aku akan merayakannya dengan Mamaku saja,” katanya acuh. Lalu anak manis cantikku ini merangkul leherku. Mencium pipi dan dahiku lalu menggandengku pergi. Jubah hitamnya masih berkibar-kibar. Tinggiku hanya sedagunya, maka dengan mudah ia merangkul bahuku. Aroma manis parfumnya melekat erat di hidungku. Wangi anakku, cantik manis cintaku ini. Indah tubuhnya, jenjang lehernya, putih kulitnya, jika ia mau maka segala gelar putri-putri negri ini akan ada dalam dekapannya. Tapi anak cantikku ini lebih memilih bersamaku. Menemaniku, melekat erat bagai kembar siam denganku. Tak mau ia jauh daripadaku. Keras kemauannya, merdu rayunya, padat wataknya, mirip sekali dengan lelaki beralis hitam berbaris yang ada juga pada manis cantikku ini.

Kembali ular dingin itu menggeliat, membuatku terbungkuk seketika. Nyaris lepas rangkulan anak manisku. Namun kuat ia memelukku.

“Sakit itu datang lagi, Mama?” bisiknya. Kali ini aku mengangguk. Anakku telah dewasa tak perlu kututupi sakit pedih nyeri yang selalu datang. Maka ia semakin kuat memelukku. Dan ular itu semakin keras menggulung dalamku. Seolah bergulat dengan cantik anakku, siapa yang paling tangguh. Sesiapa yang terkuatlah yang akan memenangkannya. Aku meremas perutku, mencoba merenggut ular di dalamku. Nyaris ku berteriak ketika tiba-tiba ular itu diam. Sakit pedih itu sejenak menghilang. Sejenak, karena aku tahu nyeri itu akan datang lagi, mengaduk-aduk entah bagian mana dari tubuhku. Dan pelukan anak gadisku merenggang.

Masih dengan toganya ia menatapku pilu. Air mata menetes-netes tanpa henti di pipinya.

“Mengapa Mama selalu kesakitan? Maafkan aku, Mama. Karena akulah Mama menderita. Aku hanya ingin hidup bersama Mama, mengapa Mama tersiksa karenanya?” tanyanya pilu. Ingin aku menjawab namun selalu kelu lidahku.

“Hanya Mama yang kucinta, tak ada siapapun lagi yang kutahu selain Mama. Salahkah jika aku tak mau meninggalkan Mama? Tak cukupkah peluk ciumku untuk Mama? Secantik ini rupaku karena mu, secerdas ini isi otakku karena mu, secinta ini aku padamu karena mu. Salahkah, Mama?”

Selesai mendengar ucap pilu anakku, ular itu bangkit lagi. Keras ia meronta, mengisap dalamku, menancapkan taringnya pada dalamku. Dan aku berteriak tertahan karena lidahku masih juga kelu. Leherku masih juga tersumbat.

 *********************

Antar lena dan jaga aku melihat anakku terkapar berdarah-darah. Apa? Apa yang terjadi padanya? Aku panik, langit runtuh tepat di kepalaku. Samudra bergolak menggelontorku, mengandaskan jiwa ragaku ke hamparan karang tajam. Burung-burung laut mematuki tubuhku. Apa? Apa yang terjadi pada anak manis cantikku? Dengan sisa kekuatan kuhampiri cantik manisku. Bening matanya berpendar melihatku. Bibir merah delimanya bergetar memberikan senyum tercantiknya. Rambut keriting panjangnya bersimbah cairan merah. Pipi sewarna tomatnya berubah penuh cairan merah kental. Mengapa kau, Anakku? Aku menangis tanpa suara.

“Mama…..,” pangilnya lirih. Aku memeluk anak cantikku yang terbaring.

“Mama…..,” bisiknya.

Tiba-tiba keseluruhan anakku berubah. Kembali ia menjadi anak bayi lucu yang tertatih-tatih berjalan ke arahku. Giginya empat seperti mutiara. Pipinya sewarna tomat masak. Dan ekor kudanya yang keriting bergoyang-goyang.

“Mam…ma….Mamma….,” celotehnya. Aku mengulurkan tangan menyambutnya dalam pelukan. Tapi anakku berubah wujud. Ekor kudanya masih keriting, namun tungkainya panjang dan lengannya langsing. Sebelah tangannya menggenggam harum manis, dan rupanya gigi depannya ompong satu. Tapi senyumnya manis seperti madu.

“Terimakasih, Mama. Aku suka harum manis ini, nanti kita ke pasar malam lagi yaa,” ujarnya riang. Kuulurkan tanganku hendak memeluknya. Tapi lagi-lagi ia berubah wujud. Gadis cantik berjerawat satu yang menangis tapi lalu tertawa.

“Aku sudah punya pacar yang baik, Mama. Nanti akan kukenalkan pada Mama. Mama pasti suka padanya. Ia lucu dan pintar, Ma,” riangnya. Lagi-lagi kuulurkan tanganku untuk menggapainya. Dan lagi-lagi anakku berubah wujud.

Toganya sudah dilepas. Kebaya merah mudanya begitu manis.

“Lihatlah, Mama. Aku akan bekerja di benua sana. Mama bisa bukan tanpaku? Biarlah kali ini aku meninggalkan Mama. Kini aku percaya, Mama takkan sendiri. Aku hanyalah bagian dari hidup Mama yang sebentar lagi akan hilang bersama waktu. Ingatlah Ma, aku bukan siapa-siapa untukmu. Tanpa kau sadari, Mama akan segera melupakanku,” katanya lembut. Aku panik. Apa maksud anakku? Jangan, jangan pergi, kau tak boleh pergi jauh-jauh! Lidahku masih kelu.

Kali ini aku bisa memeluk anakku. Namun ia berubah, menjadi ujud semula, yang terbaring penuh darah. Kuyup lengket tubuhku karena merahnya. Aku tak peduli. Kupandangi mata bening anak cantik manisku. Air mata menetes-netes dan membuyarkan warna merah di pipinya. Kuusap wajahnya penuh cinta. Mata itu kian meredup.

Dan tiba-tiba ular dalam tubuhku meronta. Mulutnya menganga lebar, taring-taringnya menancap dinding dalamku. Aku kesakitan luar biasa. Aku berteriak, lidahku telah terbebas dari belenggunya. Leherku telah tersapu bersih dari sumbatannya. Sejenak anakku melebarkan matanya, lalu menangis tanpa suara.

“Mamaku….cintaku…..”

Hanya itu yang sanggup kudengar dari bisik pilu anak cantik manisku. Karena sakit itu semakin luar biasa. Merajam isi dalamku, taringnya merobek apapun yang ditemuinya. Semakin keras ular itu menyiksaku, semakin redup bening mata anakku. Aku berteriak untuk terakhir kalinya, melihat mata anakku terpejam rapat meski air mata masih mengalir tak berhenti. Darah terus mengguyur tubuhnya, hingga napasnya tak berembus lagi. Jangan! Jangan pergi, Anakku! Mama cinta padamu!

 *********************

Kini aku terjaga sepenuhnya, tak lagi dalam frekuensi lena dan jaga. Kupandang sekelilingku, asing, dingin. Mana anakku? Suara laki-laki itu terdengar berat di telingaku.

“Sudah selesai, Nona,” katanya. Apanya yang selesai? Kurasa aku bertanya.

“Aborsi sudah berhasil, agak sulit karena janin sudah terlalu besar dan melekat kuat. Namun semua sudah beres. Kini tinggal pemulihan, silakan istirahat.”

Aborsi? Aku berteriak-teriak. Jangan ambil anakku! Aku mau anakku!

Seorang lelaki segera menghambur masuk ruangan mendengar teriakanku. Alisnya hitam berbaris, bulu matanya hitam pekat. Aku melihat anakku pada wajahnya. Aku histeris! Aku meraung!

**************************

Gambar dari Google

Iklan

13 thoughts on “Anak Sunyi

  1. ~Amela~ November 24, 2011 / 8:00 am

    aaaaaaah.. keren banget mbak.. sampe nahan nafas bacanya. .
    beneran jadi fansnya mbak choco nih saya..
    eh, serial Marni belum berlanjut ya mbak?

    choco:

    Hiks…hiks…Melaaa, daku terharu sekali….
    Seumur-umur baru kali ini ada yang mau jadi fans saya hiks… padahal saya kan bukan penyanyi (ngelap ingus)
    Mari sini daku peluk hiks… makasiy..makasiy….
    (maap, kumat lebay nya 😀 )

    Marni sebentar lagi yaa, lagi nyari lagu yang pas nih 😀

  2. Mabruri Sirampog November 24, 2011 / 9:03 am

    ajaaaiibbb,,,,
    luar biasa buu,, kereeen bangeetttt…..
    tak bisa ditebak dari awal endingnya bercerita ttg apa. dan ternyata luar biasaaa,,
    mampu membuat pembaca untuk mengikuti satu persatu dari awal sampai habis..

    choco:

    Waa….makasiy, Masbrur 😀
    Meski namanya bukan cerpen tapi cerpan ya 😀

  3. Lidya November 24, 2011 / 9:49 am

    walah kok aborsi ya mbak. aku udah komen semalem tapi error kayanya gak ada 🙂

    choco:

    Wah, saya kan publish nya nyaris tengah malem, Jeng? berarti Jeng Lid kena insomnia jugak ya hihihihihi….
    Yah, sekedar prihatin dengan banyaknya aborsi yang terjadi. Mereka gak tau bahwa semua anak mempunyai hak hidup dan tumbuh 😦 Janin-janin itu hanya ingin terus berlindung pada ibunya 😥

  4. honeylizious November 24, 2011 / 1:34 pm

    keren!

    suka suka suka banget!

    choco:

    Makasiy, Honey 😀

  5. elaine November 25, 2011 / 10:20 am

    mbakkkk, si marninya apa kabar? yang episode 17 belum di-link yah? karena lampu mati, aku bela2in baca di HP lhoo… 🙂 ayo ndang ditulis hehehehe

    choco:

    Waah, Jeng, ngikutin Marni jugak to? Makasiy yaa 😀
    Sebentar lagi saya publish cuma kurang dikiiiiiit lagi 😀

  6. dmilano November 25, 2011 / 2:00 pm

    Saleum,
    Mantep ceritanya …. seperti kenyataan mbak 🙂

    saleum dmilano

    choco:

    Makasiy, Bang, untunglah ini hanya fiksi 😀

  7. Imelda November 26, 2011 / 5:26 am

    Bravoooooooooo. Suka sekali penggambaran karakter yang kuat di sini. Fantasimu hebat!

    choco:

    Aduuuh, BuEm, saya jadi tersanjung sekali 😳 Makasiy yaa… 😀

  8. Mood November 26, 2011 / 8:08 pm

    Anak sunyi meronta sendiri. Dilangit, kidungnya pilu menatap dalam diam pada mata mata yang pernah menebar aroma kasih dalam balutan birahi pada nafsu nafsu yang busuk.

    Cerianya keren Mbak 😀

    Salam.. .

    choco:

    Kereeen, top! kalo Bang Mood sudah turun tangan jadi makin kereeeen 😀
    Makasiy, Bang 😀

  9. Orin Desember 5, 2011 / 4:00 pm

    mba Choco….kirimin ke kompas ajah, pasti dimuat nih, keren bgt ceritanya, ah pokonya mah speechless aku ngomentarinnya…

    choco:

    Waduh, kalo Kompas ndak level nampaknya, Oriin 😀 di blog aja deh 😀
    Makasiy ya, Saay….

  10. nunk2 Desember 9, 2011 / 3:59 pm

    agak telat bacanya…. tapi keren..

    choco:

    Tak ada kata terlamabt kok 😀
    Makasiy ya, Say 🙂

  11. mas stein Desember 12, 2011 / 2:11 pm

    mak jleb sekali, dari awal sampai akhir. ternyata oh ternyata, sampeyan memang penulis juwara!

    choco:

    Mak jleb! Saya langsung menderita GR stadium 4! 😀
    Makasiy, Mas 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s