Marni Bakul Jamu Eksekutif – 17

Episode 17 : Aku, Kamu, dan Dia

Hingga tengah malam menjelang, Marni tak kunjung dapat memejamkan mata. Hatinya masih galau memikirkan Mas Bimo. Ia merasa cerita ini sudah terlalu panjang dan melebar, sudah saatnya diakhiri dengan ending yang membahagiakan. Bahagia untuknya, Mas Panji dan tentu saja Mas Bimo. Meski Marni masih ragu, akhir seperti apa yang akan terjadi? Mas Bimo tentu tidak memercayainya lagi semenjak mengetahui hubungannya dengan Nancy. Sementara Panji pasti akan bahagia jika Marni menerima cintanya, tapi haruskah ia mengorbankan perasaannya sendiri? Tidak! Ia bertekad memperjuangkan cintanya.

Maka Marni bangkit dari tidurnya dan segera mengemas pakaiannya ke dalam koper. Besok ia akan kembali ke Jakarta. Bila episode ini tak juga berakhir, maka Marni bertekad mengakhirinya di episode ke-18! Ibu pasti akan bersedih, tapi Marni memang harus segera menyelesaikan semuanya agar cinta ini tak mengambang dan melayang-layang. Setelah semuanya beres, Marni kembali tidur dan segera memimpikan Mas Bimo yang tampah, gagah dan berumur. Hiks…nampaknya Marni merindukan figur seorang ayah.

***************************

“Mengapa harus kembali ke Jakarta, Dik?” tanya Panji putus asa melihat Marni menyeret trolley bag nya keluar rumah.

“Aku harus menyelesaikan sesuatu, Mas.”

“Bimo kah penyebabnya?” tanya Panji sendu mengharu biru. Marni pun tertunduk sayu dan kelabu. Sementara Ibu menangis tersedu-sedu. Pertanyaan yang tak terlalu mengharap jawaban.

“Apapun keperluanmu di sana, Nak, cepatlah kembali hiks…hiks… Ibu tak mau sendiri lagi hiks..hiks…,” tangis Ibu. Marni pun memeluknya erat-erat sementara Panji segera mendekat berharap dipeluk juga.

Setelah saling bertangisan anak-beranak itupun berpisah sekali lagi. Panji menaikkan tas Marni ke atas motornya dan Marni pun segera naik di boncengan. Sengaja Panji mengambil jalan melewati Bengawan Solo lalu menghentikan motornya dan turun dari motor. Marni terheran-heran dan segera melompat turun.

“Dik Marni…,” panggil Panji lembut dengan jantung yang terus-menerus memainkan genderang.

“Ada apa, Mas? Kok malah berhenti di sini? Kita kan mau ke stasiun?”

“Dik, aku mau bicara sebentar. Mm, kemaren aku sudah bilang pada Ibu…eehh…mmm….”

“Bilang apa to, Mas? Kok grogi gitu sih?” tanya Marni polos.

“Itu, Dik. Soal lamaranku dulu, eehh…Ibu sudah merestui. Tinggal Dik Marni bilang “iya” nanti eehh… biar keluargaku melamar secara resmi,” ujar Panji. Lega, keluar sudah apa yang tertahan di lehernya sejak tadi. Marni terenyak lalu tertunduk gelisah. Mas Panji ternyata serius, Marni tak sampai hati menyakitinya tapi hatinya sudah terlanjur tertambat pada Bimo. Tak sampai hati Marni menolak, tak tahu lagi apa yang harus diucapkannya.

“Ehh, Mas, biarkan aku selesaikan urusanku dulu di Jakarta ya. Mm, nanti sepulang dari sana aku akan memberi jawaban,” elak Marni. Nanti di Jakarta akan dipikirkan bagaimana cara menolak Panji tanpa membuatnya sedih. Mana bisa?

Panji hancur berkeping-keping, namun masih menyimpan setitik harapan semoga Marni tak berhasi menemui Bimo dan segera kembali padanya. Harapan yang tipis namun didaraskan terus menerus dalam hatinya.

************************

Nirwana! Marni mendongak menatap gedung tinggi hingga menyentuh awan itu. Di sinilah ia jatuh cinta untuk pertama kalinya dan berharap untuk terakhir kalinya. Kakinya gemetar melangkah hingga nyaris tersandung. Dandanannya rapi dengan rok span panjang agak pendek dan blouse ungu agak biru. Seperti biasa rambut disanggul agak terurai dan make up tipis agak tebal. Selalu mempesona. Semoga Mas Bimo masih tertarik padanya, batin Marni. Ia masih belum mempunyai keberanian untuk datang ke Menteng, maka dengan berjualan jamu ia berhaap bisa menemui Mas Bimo di kantornya.

Tanpa perlu berbasa-basi di resepsionis, cukup dengan sedikit anggukan yang anggun, Marni langsung menuju ruangan Sonya. Maklumlah, semua sudah hafal dan sudah tahu kalau Marni kekasih Pak Bimo. Begitu berdiri di pintu ruangan Sonya yang terbuka, langsung disambut dengan pekikan.

“Marnii…. aaaaahhh…. ke mana saja kamu? Di mana…..di mana….di mana?” Sonya berlari menyongsong Marni dan memeluknya hingga Marni sulit bernapas. Terharu ia mendapat sambutan yang hangat dari sekretaris Mas Bimo ini. Ia membalas pelukan Sonya dengan hangat.

“Habis pulang kampung, Mbak. Kangen sama Ibu.”

“Uhh, kok gak bilang-bilang sih? Mana oleh-olehnya?” Sonya membimbing Marni duduk di sofa. Marni tertawa lalu menyerahkan paper bag berisi blouse batik yang dibelinya di Pasar Klewer. Sonya langsung jatuh hati pada hadiah Marni.

“Makasiy, ya, Say. Cantik banget, Jumat depan kupakai ah,” ujar Sonya sambil mematut-matut bajunya. Seperti tersadar akan sesuatu Sonya segera duduk di samping Marni yang sedang meramu jamu kesukaan Sonya.

“Eh, Mar, Bapak nyariin kamu terus lho. Emang kamu gak pamit Bapak?”

Gemetar tangan Marni membuat gelas kupperware nya ikut bergetar.

“Eh, saya mendadak pulangnya, ndak sempat bilang siapa-siapa,” gumam Marni sambil menyerahkan jamu segar untuk Sonya.

“Mar, kamu pasti terpengaruh karena kasus Pak Bimo ya?” tanya Sonya dengan tajam, setajam silet! Marni tertunduk dan tergugu.

“Kamu harus percaya, Mar, Bapak gak bersalah. Pengadilan tidak bisa membuktikannya dan jelas-jelas Bapak sudah bebas,” ujar Sonya. Dan sudah ke rumahku, Mbak, batin Marni.

“Nah, kamu gak usa ragu. Bapak memang orangnya tegas tapi hatinya baik, Mar. Kamu seharusnya beruntung dan bersyukur karena Bapak mencintai kamu,” lanjut Sonya sukses membuat Marni yang sedang menderita karena rindu jadi menangis.

“Hiks…Bapak ada di sini, Mbak?” tanyanya lirih.

“Sudah dua minggu Bapak gak ke kantor. Padahal banyak berkas yang harus ditandatangani,” Sonya menghela napas panjang.

“Eh, Mbak Sonya gak ke Menteng saja?” tanya Marni lirih.

“Gak berani, Mar. Telepon saja tidak diangkat, Bapak cuma kirim pesan lewat e mail, minta supaya gak diganggu dulu,” desah Sonya bingung. Marni semakin galau, rindu tapi takut bertemu.

“Kamu coba saja ke sana, Mar. Kalo sama kamu pasti Bapak mau bertemu, gih datang ke Menteng aja sana, kalopun gak ketemu coba cari kabar ada di mana Pak Bimo,” usul Sonya.

Marni menguatkan hatinya, baiklah ia akan ke sana. Ia harus bertemu Mas Bimo untuk menjelaskan semuanya.

**********************

Rumah Menteng memang selalu sepi kecuali jika ada acara jamuan makan. Dan kebetulan sekali Mbok Sum sedang ada di halaman depan maka Marni segera menghampirinya. Perempuan tua itu terkejut namun sekaligus senang, air matanya berlinang-linang. Gadis ini sudah membuat tuannya jungkir balik tak menentu, ingin segera dilihatnya mereka bersanding, maka rumah Menteng takkan sepi lagi.

Setelah sambutan yang mengharu biru itu Mbok Sum segera meminta Marni ke kebun belakang. Di sana Pak Bimo menghabiskan waktunya setiap hari, hanya memandangi bunga-bunga dan sesekali berenang. Tak mau lagi melakukan kegiatan apapun selain itu. Dan Marni pun segera ke sana.

Marni memandang sosok itu dari belakang dengan penuh rindu. Tubuhnya masih tegap, perutnya memang tidak six pack, hanya four and a half pack (hiiiiyy, kok bisa?) berkat fitness dan golf yang teratur. Meski Marni bingung apa hubungan golf dengan perut ramping? Para pengusaha atau pejabat yang di TV itu tetap berperut gendut meski rajin main golf?

Perlahan Marni menghampiri Bimo yang sedang berbaring di kursi malas membelakanginya dan menikmati juice terong belanda. Seluruh tubuhnya masih basah habis berenang. Ragu Marni memanggilnya.

“Mas Bimo,” lirih suaranya. Karena suasana yang sedemikan sepi di pagi hari ini, Bimo segera mendengarnya. Ia segera menoleh dan terpana, serasa mimpi melihat gadis itu di sini.

“Marni?” Ingin Bimo berlari memeluknya, tapi ia masih kecewa teringat bagaimana cara mereka bertemu.

“Duduklah sini,” akhirnya Bimo menentukan sikap. Ditepuk-tepuknya kursi malas di sampingnya. Marni segera duduk dengan hati tak karuan. Tanpa suara Mbok Sum menghidangkan juiceΒ  untuk Marni lalu segera mengundurkan diri lagi.

“Saya…mau minta maaf soal Bu Nancy, Mas. Tapi….,” Marni mulai terisak.

“Tapi karena Bu Nancy saya bisa bertemu Mas Bimo, saya ndak menyesal hiks…malah bersyukur…kalau Mas Bimo marah saya bisa ngerti hiks…karenanya saya minta maaf..hiks…setelah ini saya akan kembali ke Solo hiks…tapi tolong maafkan saya hiks… agar saya bisa tenang hiks…saya ndak akan menganggu Mas Bimo lagi. Dan Mas Bimo harus ahu, bahwa saya percaya, Mas Bimo tidak melakukan apa yang dituduhkan Bu Nancy ataupun yang lainnya hiks…,” sedan Marni. Bahkan dalam keadaan sedih pun naluri bakul jamunya masih kuat, hingga bicara panjang lebar tanpa memberi kesempatan lawan bicaranya menyela.

Bimo langsung meleleh melihat kekasihnya menangis. Ia memang paling tidak tahan melihat wanita menangis apalagi kekasihnya. Lagipula ia sudah mendapat penjelasan sejelas-jelasnya dari Juna mengenai Marni dan Nancy. Ia sudah memafkan Marni meski masih kecewa. Bagaimanapun karena Marni bermain-main jadi detektif lah mereka bisa bertemu. Maka Bimo segera mendekati Marni dan memeluknya.

“Aku sudah memafkanmu, Sayang,” bisik Bimo sambil membelai rambut Marni yang kini beraroma orang aring itu.

Lagi-lagi tanpa suara Mbok Sum muncul, kali ini membawa sebuah kotak kecil perak yang lalu diserahkannya pada tuannya. Bimo tekejut namun tersenyum penuh terimakasih pada pembantu setia itu. Mbok Sum mengedipkan sebelah matanya lalu kembali mengundurkan diri.

Bimo membuka kotak perak itu, mengeluarkan cincin bermata berlian dan segera berlutut di hadapan Marni.

“Sekali lagi aku melamarmu. Marni, maukah kau menikah denganku?” tanya Bimo dan tanpa menunggu jawaban segera menyematkan cincin itu ke jari manis kekasihnya. Marni tak sanggup berkata apa-apa, hanya manangis haru dan mengangguk kuat-kuat.

Mbok Sum mengusap air matanya dari dapur melihat pasangan itu berpelukan. Akhirnya rumah ini takkan sepi lagi dan tuannya akan berbahagia untuk selama-lamanya.

*********************

Dear Mas Panji,

Apa kabar? Semoga baik-baik saja, juga kabar Ibuku, Bapak dan Ibu Mas Panji, Pakde, Bude, Paklik, Bulik, dan semua keluarga di kampung. Aku di sini baik-baik saja ndak kurang suatu apapun baik jasmani maupun rohani, seger waras. Sudah ah kabar-kabarannya.

Gini Mas, aku mau menyampaikan kabar baik. Memang sih baik buatku, tapi belum tentu baik untukmu. Mas Bimo melamarku! Dan tentu saja aku mau menerimanya. Mas Panji, aku sudah berusaha untuk mencintaimu, tapi ndak bisa, Mas. Kamu sudah tak anggap kakakku sendiri, sodaraku, abangku.

Lagipula, aku memang sudah jatuh hati sama Mas Bimo sejak pertama kali bertemu. Rasanya aku ndak bisa pisah dengannya. Ibaratnya andai dipisah laut dan pantai, ndak akan goyah gelora cinta, Mas. Apalagi andai dipisah api dan bara, ndak akan pudar sinaran cinta. Kayak lagu ya, Mas, tapi gimana lagi begitulah perasaanku padanya. Persis kayak lagunya Pak Cik Ami dan Mbak Inka.

Kembali ke persoalan semula. Intinya aku mau minta maaf sama Mas Panji, aku ndak bisa menerima lamaranmu, Mas. Tapi kuharap, kamu ndak marah dan kita tetap bersaudara. Aku tahu kamu pasti sedih, marah, kecewa dan terluka. Percayalah, aku masih sayang sama kamu, selamanya kamu adalah kakakku. Terimakasih atas cintamu padaku.

Baiklah, Mas Panji. Sekian suratku. Titip Ibu ya, kasihan pasti Ibu juga sedih dan kecewa. Bulan depan aku pulang, karena Mas Bimo akan melamarku secara resmi. Mas Panji datang ya? Oh ya, bersama surat ini aku kirimkan juga mobil kecil hasil kerjaku. Semoga bisa bermanfaat untuk distribusi jamu kita, biar Mas Panji ndak capek lagi naik motor.

Salam sayang selalu,

Sumarni Setyaningsih Rahayuningtyas Indah Bestari

Panji menangis dalam hati dan akhirnya merembes hingga ke mata. Sia-sia doanya sepanjang malam memohon agar Marni menerima lamarannya. Pria tua itu jugalah yang mengalahkannya. Ya sudahlah, setidaknya ia masih punya harapan kelak suatu saat Bimo kena serangan jantung dan lewat. Hush! Doa yang kejam dari orang yang patah hati. Baiklah Marni, kan kutunggu jandamu!

***********************

Episode 18 : Samudera Menjadi Saksi Bisu

Horeeee …. tinggal satu episode lagi, Kawan πŸ˜€ Akankah Marni bahagia sesuai angan-angannya? πŸ˜‰ Sabar yaaa…..

Iklan

19 thoughts on “Marni Bakul Jamu Eksekutif – 17

  1. suke November 27, 2011 / 2:20 pm

    kasian agan panji…
    masih banyak wanita lain gan… yang lebih eksekutip… πŸ˜€

    choco:

    Wkwkwkwkw….yang eksekutip banyak, tapi yang bisa bikin jamu cuma Marni πŸ˜€

  2. Mabruri Sirampog November 27, 2011 / 4:34 pm

    sebelum baca, mau acungin jempoool dulu dengan soundtrack yg dipilihnya.. hahaha
    suka bangeeetttt….

    lanjut bacaaaa

    choco:

    Mengenang kemesraan dengan negara tetangga jaman dulu hahahaha….

  3. Mabruri Sirampog November 27, 2011 / 4:45 pm

    “Sumarni Setyaningsih Rahayuningtyas Indah Bestari” ………*terkejuuuttttt….
    Ternyata, namanya cantiiikkk sekallliiiiiii, hahahaha

    Duuh, ga capai apa yah waktu ujian sekolah dulu. keburu habis waktunya buat nglingkarin nama pake pensil 2b, hahah

    Waah,, Panji patah hati nih,,, kira2 bunuh diri apa gak yah??

    choco:

    Sumpah, saya aja ketawa ngakak pas tahu namanya Marni panjang bener πŸ˜†
    Dulu pas mbuletin kertas ujian, Marni dibantuin gurunya πŸ˜†

    Gak, gak bunuh diri. Kan masih ada Ibu yang mirip Marni :mrgreen: (gubrakk)

  4. Mood November 27, 2011 / 7:37 pm

    Gak ku_ku dengar lagu pengiringnya (syahdu nian) Lama ga dengar lagu ini, beruntung bisa mendengarnya disini πŸ˜€

    Sukses buat Marni _ikutan menunggu jandamu πŸ˜›

    Salam.. .

    choco:

    Lagunya mendayu-dayu ya, Bang πŸ˜› Terinspirasi gara-gara nonton bola pas Sea Games kemaren πŸ˜€

    Hahahahaha….ngambil nomor antrian dulu, Bang :mrgreen:

  5. endipiran November 28, 2011 / 7:32 am

    pagi-pagi sudah dengar lagu amy dan inka cristi jadi melankolisku keluar……. @mas Panji……, biarin aja si Marni dengan mas Bimo, masih banyak…… ceweq yang lebih survive jadi bakul jamu ketimbang Marni

    Salam kenal dari endi piran, endipiran mengajak Chocovanilla dan teman bloger lain untuk mendukung persamaan hak bagi penyandang disabilitas di Indonesia dan bagaimana ya…pandangan Chocovanilla terhadap penyandang disabilitas?

    Ditunggu kunjungan baliknya ya Chocovanilla…………..

    choco:

    Lagunya enak yaa πŸ˜€

    Saya sudah berkunjung dan berkomen, Mas πŸ™‚

  6. ~Amela~ November 28, 2011 / 8:57 am

    Mas Panji.. kemarilah.. aku bersedia menerima lamaranmu *dikeplak narator*

    choco:

    Tuker ama Bang Dam yak…. *dikeplak bapaknya anak-anak* :mrgreen:

  7. elaine November 28, 2011 / 9:15 am

    ee akhirnya, yang ditunggu dateng juga, lucu buanget, nget… sip mbak chocho, lanjutkan

    choco:

    Ditunggu ya, Jeng, ending yang mengejutkan πŸ˜€

  8. Dewifatma November 28, 2011 / 6:17 pm

    hahahahahaa…. Mbak, dirimu sukses bikin aku tertawa ngakak saat tau nama si Marni sepanjang itu. Ditambahi komen Mabruri dan reply dari Mba Choco, makin ngakak koprol aku…hahaha…… :O

    (Lelah ketawa, aku jadi lapher…)

    choco:

    Itu pun sudah disingkat lho, Jeng, nama sesungguhnya itu: “Sumarni Setyaningsih Rahayuningtyas Indah Bestari Selalu Berseri-seri Sepanjang Hari” πŸ˜›

    (mamam yuuk)

  9. Lidya November 28, 2011 / 11:46 pm

    waaaah mbak aku nyaris ketinggalan,ini lagio ngejar BW πŸ™‚
    Allhamdulillah marni balik lagi ke Bimo.tapi kok aku jadi deg-degan ya,takut diepisode akhir gak berjodoh

    choco:

    Harapan saya juga berkahir dengan bahagia, Jeng, tapiii yahh…. πŸ˜€

  10. Una November 30, 2011 / 1:17 am

    Hm, ini cerbung ya?
    Wah mesti baca dari awal.
    Tak bukmark dulu aja deh πŸ˜€

    choco:

    Unaaa….kolom komenku diborong dengan sukses hahahaha….
    Makasiy ya sudah sabar membacanya πŸ˜€

  11. Una Desember 1, 2011 / 1:28 pm

    Hahaha jenenge rek dowo banget…
    Akhirnya sudah baca sampai episod 17, ditunggu episod terakhirnya.
    Btw aku mesam mesem dewe liat di sidebarmu mbak, di bagian komentar terakhir, sak baris isine aku thok hehehe

    c

    hoco:

    Akte kelahirannya sampe 2 lembar lho πŸ˜›
    Qiqiqiqiqi…. thanks ya, Say, sudah mengikuti kisah Marni, nantikan episode terakhirnya πŸ˜€

  12. Orin Desember 5, 2011 / 3:29 pm

    Hoalaaah…lagunya pak Cik Ami sama mba Inka beneran dijadiin sontreknya hihihi…
    jadi episode 18 marni dilamar nih ya? ah tak sabar menunggu πŸ˜‰

    choco:

    Seru lagunya ya, Rin πŸ˜€

  13. tyo Desember 6, 2011 / 3:36 pm

    ga sabar nunggu yg terakhir..kaya apa nasib marni.jd penasaran
    cepetan dong mba,jgn lama2…hhhhhhhhhhhhhhrrrrrrrrrrrgggggggggggggggg
    hehhehehehhehe
    πŸ™‚

    choco:

    Hahahahaha….. maap, lagi sok sibuk banget. SUdah diposting kok, selamat menikmati πŸ˜€

  14. bintangtimur Desember 6, 2011 / 5:45 pm

    Aduh, aduh…kutunggu jandamu…pas denger lagu Inka Christie sebagai back sound, kayaknya pas banget deh dengan posting yang saya baca ini…
    Salam kenal ya, hebat deh, soalnya saya nggak bisa banget bikin cerita, apalagi yang panjang kayak ini…wah, udah nyerah duluan πŸ˜€

    choco:

    HIhihihihihi……lagunya enak, BuIr πŸ˜€

  15. anie Desember 7, 2011 / 7:33 am

    nice blog

  16. mamah Aline Desember 7, 2011 / 10:28 pm

    saya ketinggalan cerbung eoisode lalu rupanya… tapi sekali baca kisah marni ini jadi penasaran ngikutin lanjutan episode 18nya mbak choco…

    choco:

    Langsung ending gak papa kok, Mam, sudah terbit lho πŸ˜€

  17. ghea Desember 9, 2011 / 12:20 am

    nice post gan…
    oya kalo boleh tukeran link ini link saya
    http://blog.umy.ac.id/ghea
    kalo sudah terpasang tolong dikabarin yah..
    terima kasih..

  18. Lidya Desember 9, 2011 / 9:22 pm

    mbak, udah 14 hari belum update nih πŸ™‚ penasaran sama akhirnya marni

    chococ:

    Maap, Jeng, lagi sok sibuk kerjaan akhir tahun πŸ˜€
    Sudah terbit lho, makasiy ya diingatkan πŸ™‚

  19. Emanuel Setio Dewo Desember 15, 2011 / 5:36 pm

    Ihik-ihik… Lagunya jadul… Tapi mengena. Eh, kalau dibuwat buku mestinya dibundle sama CD lagu2nya ya? Hehehe

    choco:

    Lagune enak yak πŸ˜›

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s