Iseng Aja

Ladies Parking

Cuma yang berekor kuda yang boleh parkir di sini πŸ˜›

Mengunjungi mal pada saat week end adalah satu hal yang cukup menguras tenaga, pikiran dan tentu saja dompet πŸ˜› Tapi gimana lagi, lha bisanya pergi berempat kan hanya saat akhir minggu saja bukan? Mengapa menguras tenaga dan pikiran? Nah ini, cari parkirnya itu lho, susaaaaah bangget!

Seperti Sabtu kemaren ketika kami sekeluarga menuju salah satu mal di Jakarta, kekasihku ngomel-ngomel mencari parkir. Sudah sampai tiga kali putaran tetap saja belum mendapatkan tempat parkir. Malah dia ngedumel gara-gara ada beberapa kapling yang bertuliskan “Ladies Parking“.

“Katanya emansipasi, semua minta disamakan, lha kok parkir saja dikhususkan. Coba tuh ada banyak tempat kosong. Harusnya kan biarin aja terbuka buat siapa aja.”

Weladhalah (hayah, kebawa Yu Minah), ini kekasihku ngomel terus.

“Lho, kan bukan perempuan yang minta, pihak mal yang menyediakan,” sanggahku membela diri.

“Ya sama aja, itu berarti memang perempuan masih dianggap punya hak istimewa. Masih dianggap perempuan lemah to? Sampai parkir aja disediakan tempat khusus.”

Dan kekasihku sudah mau mutar yang keempat kali. Dan ngomelnya pun gak brenti-brenti, memberikan kultum soal emansipasi.

“Gini aja, minggir depan situ, sini aku aja yang nyetir, nanti kan dikasih tempat.”

Kekasihku girang alang-kepalang, maka segera menepilah ia. Dan kami pun bertukar tempat. Ia pindah belakang dan aku duduk di belakang stir.

Dan benarlah. Begitu melihat ada “lady” yang menyetir, langsung si tukang parkir membuka kerucut oranye dan memanduku parkir. Amboooiiii, dengan sedapnya daku parkir.

Dan begitu ada lelaki jantan nan gagah keluar dari pintu belakang, wajah si tukang parkir melongo. Welhadalah, ketipu saya!

:mrgreen:

P.S. Gambar diambil dari Google

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

Lamaran

Ibu girang sekali menata pernak-pernik lamaran. Semua barang-barang itu ditata dalam kotak-kotak berhias.

“Ibu bahagia sekali, Nak, akhirnya kau mau melepas masa lajangmu. Sudah mapan lahir batin, tinggal pernikahan ini yang Ibu nantikan,” ujar Ibu penuh bahagia.

“Sri memang gadis cantik, pantas sekali buatmu, meski Ibu belum terlalu mengenalnya,” lanjut Ibu, “Tapi Ibu yakin Sri gadis yang baik…..”

“Bu…,” potongku. Tapi Ibu tak menggubris. Diteruskannya saja bicaranya.

“Aduuh, cantik sekali kebaya ini. Langsing, warnanya lembut, ahh pasti cocok dengan kulit Sri yang langsat.”

“Bu…,” potongku lagi. Dan Ibu terus saja bicara.

“Tenang, Nak, meski Ibunya janda dan masih muda toh Ibu dan Bapakmu ini tidak mempermasalahkan. Mereka nampak dari keturunan baik-baik.”

“Tapi Bu….”

“Yang penting kamu bahagia, perbedaan umurmu yang jauh dengan Sri tidak masalah. Lebih baik malah mendapat istri yang jauh lebih muda. Kamu bakal diurus dengan baik.”

Ibu terus saja bicara dan bicara. Hingga dengan terpaksa kutegur dengan suara keras.

“Ibu!”

Ibu menghentikan senyum dan kegiatannya. Wajahnya terheran-heran menatapku. Maka aku bersimpuh di kakinya.

“Bukan Sri yang aku minta Ibu lamarkan. Tapi Ibunya, Bu,” bisikku lirih.

******

P.S. Gambar dipinjam dari Google

Cintaku · Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · I feel blue

Aku Pulang

Sendiri aku menatap langit dari atas bukit. Berjuta bintang atau mungkin bermilyar, tak kuasa aku menghitungnya mengilaukan seluruh angkasa raya. Sementara dari jauh terdengar senandung merdu penuh rindu. Akupun rindu. Akupun sendu. Sebuah bintang jatuh, turun tepat di hadapanku. Kilaunya membutakanku.

“Mengapa kau menatapku terus menerus?” tanya bintang itu padaku.

“Aku…aku mengharap datangnya tanda itu lagi,” jawabku malu. Bintang meredupkan cahyanya dan aku membuka mata. Indahnya!

“Tanda itu selalu ada, meski tak selalu ada padaku,” kata Bintang lembut dan merdu.

“Aku tahu. Dia akan selalu mengundangku meski tanpamu. Tapi… tidakkah Ia juga mengundang orang-orang yang kucintai?” tanyaku lirih.

Bintang sedikit berpendar lalu meredup.

“Bagaimana Ia akan mengundang mereka jika kau pun tak selalu menyambut undanganNya?”

Aku tertegun. Hatiku hampa. Air mata bergulir di pipi dan jiwaku. Pedih mengoyak jantungku, mengiris nadiku. Aku menangis tanpa suara.

“Sudahlah. Cintailah mereka sepenuh hatimu, namun ingat, Ia juga mencintaimu dan keluargamu lebih dari cintamu. Terimalah seluruh curahan cintaNya dan penuhi undanganNya,” hibur Bintang.

“Marahkah Ia padaku?”

“Pernahkan Ia memarahimu? Bukankah segala yang kau pinta diberiNya? Bukankah segala yang kau butuhkan dipenuhiNya? Bukankah sedihmu selalu dihiburNya? Sakitmu selalu disembuhkanNya?” Bintang balik bertanya.

Air mataku jatuh berderai-derai. Dadaku sesak terhimpit beban sebesar gunung.

“Pulanglah. Ia takkan pernah meninggalkanmu meski kau tak selalu penuhi panggilanNya.”

Aku berterimakasih pada Bintang lalu berlari menuruni bukit. Maafkan aku. Tapi aku akan selalu pulang padaMu. Terimakasih atas cintaMu.

Merry Christmas

God always bless you πŸ™‚

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

Belenggu

Belenggu

“Mengapa Ibu melepas belenggu ini?” tanyaku.

“Biar, Nak, Ibu tak tega melihatmu seperti ini.”

“Ibu tak kuatir aku mengamuk?” tanyaku ragu. Ibu bergegas membuka gembok pada belenggu besi di kakiku.

“Tidak, Nak. Ibu percaya padamu,” jawab Ibu. Sesaat Ibu nampak ragu dan menghentikan usahanya membuka gembok. Tangannya gemetar.

Aku memberikan senyuman atau mungkin seringaiku yang paling manis. Ibu meneruskan membuka rantai besi yang kubenci ini.

Dan…aku bebas! Aku lepas! Aku berlari seperti kuda liar. Kuterabas pintu kandang ini, kutendang semua yang nampak di mata. Aku bebas! Dan akan kuhancurkan semua yang membelengguku. Mula-mula akan ku tebas Bapakku yang membelengguku, lalu tetua kampung yang menyuruh Bapakku, lalu kepala desa yang tak mau repot, lalu laki-laki setan yang merusakku itu. Nantikan! Aku datang membalas dendam!

Sayup kudengar Ibu menangis memanggil-manggil namaku. Aku hanya menyeringai padanya. Setelah dendamku terbalas, aku akan berlutut padamu, Ibu.

Aku berlari dan terus berlari dan Ibuku terus mengejarku hingga tak terdengar lagi suaranya. Aku menoleh. Kulihat Ibu jatuh dengan darah di kepalanya dan air mata bercucuran. Kuhampiri Ibu.

Aku berlutut di hadapannya. Seringaiku menjadi tangis bersama Ibu. Bara api dalamku padam tersiram air mata Ibu. Kuulurkan tanganku padanya.

“Belenggu lagi aku, Ibu. Agar aku tak menyakitimu.”

Aku dan Ibu menangis dalam diam.

Selamat hari Ibu…

Aku cinta padamu, Ibu πŸ™‚

PS. Gambar diambil dari Google

Cari Solusi · Dongeng insomnia · Iseng Aja · Serial Yu Minah · Tak Enak

Mandi Lumpur

Sudah lama sekali aku tak menyambangi warung Yu Minah. Selain karena perut sedang bermasalah, pulangnya pun malam terus. Maka Sabtu ini sengaja aku datang ke warungnya. Seperti biasa setelah mengucap salam aku langsung bertengger di bangku favorit.

“Lhadalah, tak pikir sudah pindah rumah sampeyan, Jeng. Lama banget ndak main sini,” sambut Yu Minah antusias. Untung gak pake cipika cipiki segala deh.

“Iya, Yu, kangen juga sama rujak sampeyan ini. Buatkan rujak ulek Yu, pedesnya sedeng aja.”

“Baru pulang jalan-jalan, Jeng? Kok kayaknya capek gitu?” tanya Yu Minah sembari meracik bumbu sambal.

“Bukan habis jalan-jalan, Yu. Aku ini memang lagi kesel banget! Pokoke kalo tak umpamakan, diriku ini bagai gunung berapi yang siap meletus dan memuntahkan lahar panas kemana-mana. Belum lagi kan kutiupkan wedus gembel segembel-gembelnya! Kan kulibas segala yang merintangi jalanku! Agar segera lapang dadaku dan sejuk jiwaku!”

“Qiqiqiqiqiqi…….” Lho? Kok Yu Minah yang montok semlohay ini malah cekikikan sambil ngulek?

“Sampeyan ini, Yu, wong aku lagi marah kok malah diketawain?”

“Saya baru tau, Jeng, rupanya amarah itu bisa membuat seseorang jadi putis jugak ya? Memangnya marah sama siapa to?”

“Sama PDAM! Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Bogor!”

“Walah? Kenapa memangnya, kok sampe segitu marahnya sampeyan ini?”

Maka aku segera mengutak-atik ponsel pintarku.

“Nih, Yu, sebelum tak jelaskan mengapa aku marah lihat dulu foto ini.”

Lanjutkan membaca “Mandi Lumpur”

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

Hujan

“Mengapa kamu bersembunyi melihatku?’ Tanyamu padaku. Aku tersipu dan merapat pada pohon beringin besar ini.

“Kan hujan, memang kamu gak merasakan?” Jawabku sekaligus bertanya.

“Kamu aneh, langit cerah begini kok dibilang hujan. Lihat, jutaan bintang ada di atas sana.”

“Tapi, mengapa ada air mengalir di pipiku?” Tanyaku heran sembari mengusap pipiku.

“Kamu menangis,” jawabmu lirih sambil membelai pipiku.

“Mengapa aku menangis?” Tanyaku tak mengerti.

“Karena sudah bertahun-tahun aku meninggalkanmu di sini.”

“Benarkah? Lalu mengapa sekarang kau datang?”

“Karena kita sudah berada di alam yang sama,” jawabmu dan pipimu pun basah.

Dan akupun berganti mengusap pipinya. Kami bergandengan tangan menuju tanah merahnya, yang masih basah.

Dongeng insomnia · Iseng Aja

Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 18

Episode 18 : Samudera Menjadi Saksi Bisu

Kapal pesiar pribadi berjejuluk “Harjuna” yang berukuran tujuh puluh kaki itu melaju dengan kecepatan 35 knot membelah Samudera Indonesia. Langit begitu cerah dengan ribuan bintang berkelap-kelip seumpama intan berlian. Nampak sebuah lebih terang cahayanya, itulah bintang kejora yang indah slalu. Hampir tengah malam, samudera begitu tenang dan damai dengan angin yang cukup kencang dan dingin. Kapten kapal menghirup kopi hangatnya dengan nikmat, sementara beberapa awak berkeliling di luar anjungan. Tak seorangpun berani berlama-lama di bagian utama kapal di mana terdapat satu kamar tidur utama, dua kamar lebih kecil, mini bar yang dilengkapi sebuah grand piano serta TV 3D berlayar lebar, serta sebuah gallery lukisan mini.

Dan di kamar tidur utama mewah itu, Bimo memandangi istrinya yang tidur lelap dalam pelukannya. Parasnya begitu cantik dibingkai rambut ikal terurai. Bahu telanjangnya menyembul dari balik selimut dan senyum bahagianya membuat Bimo lemas tak berdaya. Setelah pernikahan sederhana namun mewah di Solo, Bimo mengajak Marni berbulan madu di lautan, menikmati malam pertama di atas kapal pesiar diiringi alunan gelombang yang kadang tenang kadang menggelora. Persis seperti malam indah yang baru saja mereka lalui.

Bimo membelai anak-anak rambut di dahi istrinya yang lalu melenguh lembut, tak kuasa menahan lelah dan kantuk yang nikmat. Berkali-kali Bimo memanjatkan syukur karena telah menyunting gadis muda nan cantik serta baik hatinya. Meski perkawinannya banyak mengundang pro dan kontra. Bagaimanapun Bimo adalah salah satu pria yang menjadi incaran kaum selebrita dan sosialita metropolitan namun ternyata justru memilih perempuan dari kelas bawah yang lugu dan ndeso. Cibiran dan sindiran terutama dari media tak menyurutkan langkah Bimo untuk menyunting kekasih hatinya. Bahkan hingga mereka berada di tengah samudera pun semua TV masih menyiarkan perkawinanΒ  kontroversial ini.

Tak hanya itu, Bimo juga membuat langkah besar dengan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden direktur PT. Immortal Bros, digantikan oleh salah seorang kemenakannya. Namun namanya tetap tercantum sebagai salah satu pemegang saham perusahaan keluarga ini. Semua orang tahu kekayaan Bimo cukup membuat makmur seluruh keturunannya hingga tujuh turunan. Namun Bimo sendiri yang tahu, bahwa kekayaannya takkan habis sampai tujuh turunan, empat tanjakan, enam belokan, dan tiga prapatan. Ini hanya Bimo yang tahu, serius! Dan lagi-lagi tanpa tercium oleh media manapun, Bimo segera membuat surat wasiat untuk mewariskan sebagian hartanya untuk Juna dan sebagian lagi untuk istrinya. Ia hanya ingin menikmati sisa hidupnya bersama gadis pujaannya, bertualang ke seluruh penjuru dunia, membawa kekasihnya ke tempat-tempat paling eksotis di seluruh dunia. Ia akan sangat bersyukur jika masih bisa dikaruniai anak bersama Marni. Namun bila tidak, ia sudah cukup bahagia hidup bersama Marni dan kelak akan menimang cucunya, anak Juna.

Membayangkan segala kebahagiaan itu, Bimo perlahan menarik lengannya dari bawah kepala Marni, mengecup sekilas bibir kekasihnya lalu bangkit dari tidurnya. Marni yang mengantuk berat hanya memiringkan badannya tanpa terbangun sama sekali. Setelah mengenakan kimononya, Bimo berjalan keluar kamar, menuju mini gallery di kabin tengah, mencari sesuatu lalu keluar ke dek. Udara dingin menyambutnya, membuat tubuhnya sedikit menggigil. Tangannya disembunyikan di dalam saku kimono. Seorang awak kapal yang sedang berpatroli mendekatinya dan menyapanya.

“Selamat malam. Bapak membutuhkan sesuatu?”

“Tidak, tinggalkan aku sendiri sebentar saja.”

“Baik, Pak. Saya ada di anjungan, jika Bapak membutuhkan sesuatu.”

Bimo mengangguk dan awak kapal itu meninggalkan Bimo sendirian. Perlahan Bimo berjalan mengitari setengah bagian kapal lalu menuju ke tepian buritan. Ia ingin bahagia, ingin Marni bahagia tanpa ada yang mengusik. Hanya ada satu cara untuk membuat semuanya berjalan dengan semestinya. Bimo berpegangan pada pagar dari baja stainless dan menjulurkan kepalanya ke bawah.

Dari ketinggian + 4 m air laut nampak begitu hitam dan begitu dalam seperti tak berdasar. Sesekali kilau bintang berpadu dengan penerangan kapal membuat air membiaskan kilauan yang memukau. Namun Bimo tak peduli. Kakinya sedikit berjinjit hingga tubuhnya separuh berada di luar kapal. Tekadnya telah bulat. Setelah menarik napas panjang, Bimo melakukan apa yang memang seharusnya dilakukannya. Sedetik kemudian terdengar bunyi sesuatu yang berat tercebur, memuncratkan air laut ke permukaan kemudian perlahan membentuk lingkaran-lingkaran tenang. Tak seorangpun tahu apa yang dilakukan pria tampan yang baru saja menikah itu. Dan samudera hanya diam membisu.

Lanjutkan membaca “Marni, Bakul Jamu Eksekutif – 18”