Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

Hujan

“Mengapa kamu bersembunyi melihatku?’ Tanyamu padaku. Aku tersipu dan merapat pada pohon beringin besar ini.

“Kan hujan, memang kamu gak merasakan?” Jawabku sekaligus bertanya.

“Kamu aneh, langit cerah begini kok dibilang hujan. Lihat, jutaan bintang ada di atas sana.”

“Tapi, mengapa ada air mengalir di pipiku?” Tanyaku heran sembari mengusap pipiku.

“Kamu menangis,” jawabmu lirih sambil membelai pipiku.

“Mengapa aku menangis?” Tanyaku tak mengerti.

“Karena sudah bertahun-tahun aku meninggalkanmu di sini.”

“Benarkah? Lalu mengapa sekarang kau datang?”

“Karena kita sudah berada di alam yang sama,” jawabmu dan pipimu pun basah.

Dan akupun berganti mengusap pipinya. Kami bergandengan tangan menuju tanah merahnya, yang masih basah.