Cari Solusi · Dongeng insomnia · Iseng Aja · Serial Yu Minah · Tak Enak

Mandi Lumpur

Sudah lama sekali aku tak menyambangi warung Yu Minah. Selain karena perut sedang bermasalah, pulangnya pun malam terus. Maka Sabtu ini sengaja aku datang ke warungnya. Seperti biasa setelah mengucap salam aku langsung bertengger di bangku favorit.

“Lhadalah, tak pikir sudah pindah rumah sampeyan, Jeng. Lama banget ndak main sini,” sambut Yu Minah antusias. Untung gak pake cipika cipiki segala deh.

“Iya, Yu, kangen juga sama rujak sampeyan ini. Buatkan rujak ulek Yu, pedesnya sedeng aja.”

“Baru pulang jalan-jalan, Jeng? Kok kayaknya capek gitu?” tanya Yu Minah sembari meracik bumbu sambal.

“Bukan habis jalan-jalan, Yu. Aku ini memang lagi kesel banget! Pokoke kalo tak umpamakan, diriku ini bagai gunung berapi yang siap meletus dan memuntahkan lahar panas kemana-mana. Belum lagi kan kutiupkan wedus gembel segembel-gembelnya! Kan kulibas segala yang merintangi jalanku! Agar segera lapang dadaku dan sejuk jiwaku!”

“Qiqiqiqiqiqi…….” Lho? Kok Yu Minah yang montok semlohay ini malah cekikikan sambil ngulek?

“Sampeyan ini, Yu, wong aku lagi marah kok malah diketawain?”

“Saya baru tau, Jeng, rupanya amarah itu bisa membuat seseorang jadi putis jugak ya? Memangnya marah sama siapa to?”

“Sama PDAM! Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Bogor!”

“Walah? Kenapa memangnya, kok sampe segitu marahnya sampeyan ini?”

Maka aku segera mengutak-atik ponsel pintarku.

“Nih, Yu, sebelum tak jelaskan mengapa aku marah lihat dulu foto ini.”

Lanjutkan membaca “Mandi Lumpur”