Mandi Lumpur

Sudah lama sekali aku tak menyambangi warung Yu Minah. Selain karena perut sedang bermasalah, pulangnya pun malam terus. Maka Sabtu ini sengaja aku datang ke warungnya. Seperti biasa setelah mengucap salam aku langsung bertengger di bangku favorit.

“Lhadalah, tak pikir sudah pindah rumah sampeyan, Jeng. Lama banget ndak main sini,” sambut Yu Minah antusias. Untung gak pake cipika cipiki segala deh.

“Iya, Yu, kangen juga sama rujak sampeyan ini. Buatkan rujak ulek Yu, pedesnya sedeng aja.”

“Baru pulang jalan-jalan, Jeng? Kok kayaknya capek gitu?” tanya Yu Minah sembari meracik bumbu sambal.

“Bukan habis jalan-jalan, Yu. Aku ini memang lagi kesel banget! Pokoke kalo tak umpamakan, diriku ini bagai gunung berapi yang siap meletus dan memuntahkan lahar panas kemana-mana. Belum lagi kan kutiupkan wedus gembel segembel-gembelnya! Kan kulibas segala yang merintangi jalanku! Agar segera lapang dadaku dan sejuk jiwaku!”

“Qiqiqiqiqiqi…….” Lho? Kok Yu Minah yang montok semlohay ini malah cekikikan sambil ngulek?

“Sampeyan ini, Yu, wong aku lagi marah kok malah diketawain?”

“Saya baru tau, Jeng, rupanya amarah itu bisa membuat seseorang jadi putis jugak ya? Memangnya marah sama siapa to?”

“Sama PDAM! Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Bogor!”

“Walah? Kenapa memangnya, kok sampe segitu marahnya sampeyan ini?”

Maka aku segera mengutak-atik ponsel pintarku.

“Nih, Yu, sebelum tak jelaskan mengapa aku marah lihat dulu foto ini.”

Mana tega? πŸ˜₯

“Iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiyyyy…. Apa ini?” pekik Yu Minah demi melihat gambar yang kutunjukkan.

“Ini air PAM yang mengalir di rumahku, Yu! Nggilani, to? Gimana aku gak emosi ngeliat air kayak gini? Mana belum mandi,” omelku kesal. Yu Minah geleng-geleng kepala dengan bahu bergidik.

“Bau ndak itu airnya, Jeng? Trus yang bikin item itu apa? Lumpur, pasir ato apa?” tanyanya bertubi-tubi.

“Bau sih gak, Yu, dan kayaknya itu pasir campur tanah halus. Soalnya kalo didiamkan mengendap, tapi ya lamaaaaaa banget dan hasilnya tetep keruh. Mana tega mandi pake air kayak gini?” keluhku.

“Padahal aku gak punya sumur. Hidupku sekeluarga sudah tergantung pada PDAM. Tiap bulan gak pernah telat bayar tagihan, mana tarifnya naiiiik terus. Terakhir untuk pemakaian 50 kubik aku mesti bayar dua ratus ribu lebih lho, Yu. Inikah balasan akan kesetianku pada PDAM? Padahal aku tak pernah melirik tawaran gali sumur. Apalagi tawaran masang jet pump, jet lee, apalagi jet coaster. Sungguh terlalu,” lanjutku bercucuran air mata (sumpah, yang ini lebay!)

“Waduh, repot juga ya? Kalo saya memang ndak langganan, Jeng. Air kita ini kan masih bagus banget, jernih, ndak bau, dan lancar terus.”

“Sebetulnya dari sekian lama saya tinggal di sini ya baru sekali ini air PAM kayak air got gitu. Biasanya kalo lagi dikuras ya keruh, berpasir tapi gak pernah sehitam itu. Dah gitu gak lama. Lha ini, udah seharian begini terus mana gak ada pengumuman lagi. Kalo ada kan bisa antisipasi dulu.”

“Ya sudah, anggap saja mandi lumpur, Jeng. Kan tempo hari sampeyan cerita habis mandi lumpur di spa yang mbayarnya mahal banget itu to? Lah ini kan sudah ada lumpurnya, ngirit, tinggal nyari yang mijet to?” goda Yu Minah sambil membungkus rujak.

Bener-bener penghiburan yang menyebalkan. Tiba-tiba dari arah dalam terdengar si Tole anak Yu Minah berteriak.

“Maaak, airnya habiiiiis. Nyalain pompanya, Tole lagi kramas nih.. huwaaaaa…….”

“Welhadalah, airnya habis? Sik…sik…tahan dulu, Le, tak nyalain duluuu,” teriak Yu Minah terbirit-birit lari ke dalam.

“Huwaaaa, samponya masuk mata, Maaaakk!”

Dengan santainya aku ikut teriak.

“Tayamum aja, Le!”

“Welhadalah, lha wong cuci muka kok tayamum to, Jeeeengg!” teriak Yu Minah.

:mrgreen:

Iklan

14 thoughts on “Mandi Lumpur

  1. Lidya Desember 19, 2011 / 1:49 pm

    hahaha cuci muka dg tayamum, kalau mandi wajib tayamum gimana ya πŸ™‚

    choco:

    Iiih, Jeng Lid 😳 berarti “wajib” nya itu tayamum jugak lho, gak boleh beneran πŸ˜›

  2. CakCholik in BlogDetik Desember 19, 2011 / 2:02 pm

    Semua itu yng salah yo jeng Pipit sendiri karena gak baca pengumuman disana. Kan sudah dijelaskan tarifnya

    Kategori I-air bening sekian ribu/kubik
    Kategori II- air gak bening : segini ribu/kubik
    Kategori III- air gak bening blas : segitu/kubik

    Lah kok yang dipilih kategori III dengan dalih “entar disaring pake sewek” ha ha ha, piye..piye..piyeeeeeeeeee..sekarang kok ngomel2. Upgrade donk kategorinya.

    Yo wis..tayamum..tayamum….jangan sering2 mandi kramas-tanpa saya dampingi.

    Salam sayang selalu

    choco:

    Wuahahahahaha….. πŸ˜† Pakdee….Pakdee… selalu membuat saya tertawa terbirit-birit πŸ˜†
    Sudah tak upgrade ke katagori I, Pakdee πŸ˜€

    Hihihihihihi….emangnya Pakdee buka usaha salon? πŸ˜›

    Salam hangaaaaatttt dari Bogor

  3. honeylizious Desember 19, 2011 / 3:20 pm

    sukses membuat terbahak :))

    choco:

    Hati-hati sakit perut, Hon πŸ˜€

  4. @zizydmk Desember 19, 2011 / 10:06 pm

    Aiihhh air PAM kok coklat begitu ya. Saya kira air pam itu jernih. Mungkin karena di rumah saya pakai air sumur (dan sebenarnya coklat juga sih heheee….) jadi belum pernah benar2 merasakan air pam. Air pam sudah dipasang sekarang, tapi belum pernah kejadian air mati lagi jadi belum pernah dipakai hehee…

    choco:

    Sebetulnya air PAM di rumah saya itu bagus, Jeng. Airnya jernih, mengalir deras, tapi entah mengapa pada hati itu airnya keruh sekali 😦
    Semoga gak pernah terulang πŸ™‚

    Memang idealnya ada sumur, PAM hanya untuk memasak atau kebutuhan darurat saja ya πŸ˜€

  5. ais ariani Desember 19, 2011 / 11:02 pm

    hueeeeeeeehhh… toast Bu Piet.. aer di kontrakan (baruku) juga kotornya minta ampun… tapi bedanya: di kontrakan ku ini aernya pake aer sumur, dan wajar juga.. secara lagi musim hujan. tapi ya itu.. bikin gregetan kalau mau mandi
    😦

    disaring pake kaous kaki bekas aja Bu Piet..

    choco:

    Wis mandi lumpur ae to, Riani πŸ˜›

    Apa? Pake kaos kaki? Bisa bau jempol airnya, Rianiiii :mrgreen:

  6. outbound malang Desember 20, 2011 / 10:04 am

    Wah kok gitu ya PDAM mbak?

    choco:

    Baru sekali ini sih mengalami air hitam begitu. Semoga gak terulang lagi πŸ™‚

  7. Orin Desember 20, 2011 / 2:34 pm

    Iiiih…mba Choco, tempo hari di tempatku PDAMnya malah matiiiii.. dari malem, sampe besok sorenya, pagi2 ngantor ga mandi, lah sholat shubuh aj terpaksa ke mesjid kok (lho kok terpaksa hihihi) gara2 di rumah ga bs wudlu. Eh, kok esmosi bgt ya hihihihi

    choco:

    Nah ini, kan bisa tayamum, Orin πŸ˜›

    Itulah gawatnya kalo hanya bergantung pada PDAM. Sekalinya mati gak berkutik, deh! Cuma mau gali sumur males juga, takut keluar lumpur kayak di Sidoarjo πŸ˜›

  8. ~Amela~ Desember 20, 2011 / 4:44 pm

    hahhahaha.. lucu-lucu.. ini sekaligus curhatan ya mbak?

    choco:

    Curcol, Say 😳

  9. Emanuel Setio Dewo Desember 21, 2011 / 9:02 am

    Mantab, bisa buat spa. Jadinya SPAM (SPA dgn PAM). Xixixi…

    (kabur…)

    choco:

    Hahahaha…. nek masuk SPAM mesti dilepeh lagi πŸ˜›

  10. Berny Sjofyan Desember 21, 2011 / 3:42 pm

    Katanya siy PDAM mau ganti nama jadi PDAC, Perusahaan Daerah Air Comberan qiqiqi…

    choco:

    Waaaa, gak mauuu ahh…. πŸ˜₯

  11. Imelda Desember 21, 2011 / 4:19 pm

    waktu ibuku ke sini, dia amat sangat gembira mencuci baju! Karena airnya deraaaas dan bersih… hahaha. Aku tertawa kok sepertinya kampungan banget! Tapiiiiii waktu mudik ke Jkt, ampuuuun deh, keciiil banget. Untung tidak keruh dan berbau πŸ˜€

    choco:

    Inilah air kita, BuEm, sudah membayar keruh pula 😦

    Tapi PAM saya tergolong deras dan jernih, hanya sekali itu aja jelek πŸ™‚

  12. hajarabis Desember 22, 2011 / 3:33 pm

    nice πŸ™‚
    saya senang mengikuti postingan anda
    postingan yang menarik .

    salam kenal yya dan sempatkan mampir ke
    website kami.

  13. Jiah Al Jafara Desember 11, 2015 / 1:52 pm

    iki curhat mesti…

    aku alhamdulillah gak pake PDAM, nggak kuat bayar. nggak punya air lari ke kali

    Mak, ketombean blogmu ternyata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s