Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

Belenggu

Belenggu

“Mengapa Ibu melepas belenggu ini?” tanyaku.

“Biar, Nak, Ibu tak tega melihatmu seperti ini.”

“Ibu tak kuatir aku mengamuk?” tanyaku ragu. Ibu bergegas membuka gembok pada belenggu besi di kakiku.

“Tidak, Nak. Ibu percaya padamu,” jawab Ibu. Sesaat Ibu nampak ragu dan menghentikan usahanya membuka gembok. Tangannya gemetar.

Aku memberikan senyuman atau mungkin seringaiku yang paling manis. Ibu meneruskan membuka rantai besi yang kubenci ini.

Dan…aku bebas! Aku lepas! Aku berlari seperti kuda liar. Kuterabas pintu kandang ini, kutendang semua yang nampak di mata. Aku bebas! Dan akan kuhancurkan semua yang membelengguku. Mula-mula akan ku tebas Bapakku yang membelengguku, lalu tetua kampung yang menyuruh Bapakku, lalu kepala desa yang tak mau repot, lalu laki-laki setan yang merusakku itu. Nantikan! Aku datang membalas dendam!

Sayup kudengar Ibu menangis memanggil-manggil namaku. Aku hanya menyeringai padanya. Setelah dendamku terbalas, aku akan berlutut padamu, Ibu.

Aku berlari dan terus berlari dan Ibuku terus mengejarku hingga tak terdengar lagi suaranya. Aku menoleh. Kulihat Ibu jatuh dengan darah di kepalanya dan air mata bercucuran. Kuhampiri Ibu.

Aku berlutut di hadapannya. Seringaiku menjadi tangis bersama Ibu. Bara api dalamku padam tersiram air mata Ibu. Kuulurkan tanganku padanya.

“Belenggu lagi aku, Ibu. Agar aku tak menyakitimu.”

Aku dan Ibu menangis dalam diam.

Selamat hari Ibu…

Aku cinta padamu, Ibu 🙂

PS. Gambar diambil dari Google