Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

Lamaran

Ibu girang sekali menata pernak-pernik lamaran. Semua barang-barang itu ditata dalam kotak-kotak berhias.

“Ibu bahagia sekali, Nak, akhirnya kau mau melepas masa lajangmu. Sudah mapan lahir batin, tinggal pernikahan ini yang Ibu nantikan,” ujar Ibu penuh bahagia.

“Sri memang gadis cantik, pantas sekali buatmu, meski Ibu belum terlalu mengenalnya,” lanjut Ibu, “Tapi Ibu yakin Sri gadis yang baik…..”

“Bu…,” potongku. Tapi Ibu tak menggubris. Diteruskannya saja bicaranya.

“Aduuh, cantik sekali kebaya ini. Langsing, warnanya lembut, ahh pasti cocok dengan kulit Sri yang langsat.”

“Bu…,” potongku lagi. Dan Ibu terus saja bicara.

“Tenang, Nak, meski Ibunya janda dan masih muda toh Ibu dan Bapakmu ini tidak mempermasalahkan. Mereka nampak dari keturunan baik-baik.”

“Tapi Bu….”

“Yang penting kamu bahagia, perbedaan umurmu yang jauh dengan Sri tidak masalah. Lebih baik malah mendapat istri yang jauh lebih muda. Kamu bakal diurus dengan baik.”

Ibu terus saja bicara dan bicara. Hingga dengan terpaksa kutegur dengan suara keras.

“Ibu!”

Ibu menghentikan senyum dan kegiatannya. Wajahnya terheran-heran menatapku. Maka aku bersimpuh di kakinya.

“Bukan Sri yang aku minta Ibu lamarkan. Tapi Ibunya, Bu,” bisikku lirih.

******

P.S. Gambar dipinjam dari Google