Iseng Aja · Tak Enak

Naik Ojek

Sesungguhnya naik ojek adalah sebuah pilihan bagiku. Kalo mau cepat keluar kompleks atau menghindari angkot kompleks yang hobi ngetem di tiap gang, ya naik ojek. Kalo mo santai jalan kaki tentu lebih sehat. Tapi kalo waktu banyak, gak terburu-buru naik angkot tentu lebih nyaman (meski siap maboks 😦 ).

Dan setelah kurenungkan, ternyata selama ini aku lebih sering naik ojek karena harus cepat dan selalu terbirit-birit takut terlambat 😦 Meski banyak hal yang membuatku tak suka naik ojek 😦 Jelas karena tukang ojek bukan mukhrim (lebaaay :mrgreen:  ), jadi duduknya harus 2,5 spasi. Sebetulnya hal ini bisa diantisipasi, tapi yang menyebalkan adalah ketika jok motornya itu yang modelnya nungging! Jadi jok belakang lebih tinggi dari depannya. Ada kan yang begitu?

Nah, ketika melewati polisi tidur ato ngerem mendadak menghindari lubang, maka dengan serta merta posisi akan langsung melorot ke depan. Dan tentu saja spasi berubah jadi 1 – 1,5 bukan? Nah, ini yang menyebalkan! Paling sebal kalo dapat motor yang begini. Masalahnya kita gak bisa memilih, Kawan. Mereka itu ada antriannya, jadi yang dapat giliranlah yang akan membawa kita ke tempat tujuan 😦

Belum lagi kalo tukang ojeknya gak pake helm. Mending kalo rambut cepak, kadang rambut gondrong ato gundul sekalian. Ih, aku kok gilo ya mbonceng ama yang beginian. Nek gondrong berkibar-kibar tapi nek gundul kok kayaknya gimanaaaa gitu 😦 Maka seringkali aku suruh abangnya pake helm.

Resiko naik ojek gak sampai di situ saja, Kawan. Kalo tiba-tiba hujan. Wekss, Si Abang yang sudah sejak tadi pakai ponco langsung menawarkan diri untuk tandem. Ampyuun, dah! Tapi mo gimana lagi? Berhenti gak mungkin, karena gak ada juga tempat berteduh. Mau terus tanpa jas hujan jelas bakal basah. Maka terpaksa deh, ngumpet di balik punggung abangnya. Hiks…hiks…

Maka untuk mengantisipasi hal-hal tersebut, aku selalu liat-liat. Kalo sekiranya bakal hujan, lebih baik naik angkot deh! Dengan resiko ngetem di tiap gang dan maboks darat lautan udaraaaaa….. Namun tak dipungkiri, jasa tukang ojek ini juga luar biasa. Merekalah solusi di kala kita terbirit-birit ato angkot gak lewat-lewat. Yah, semua adalah pilihan. Tinggal kita mau pilih nyaman ato cepat tentu dengan segala resikonya.

Kalo aku sih milih yang jadi tukang ojeknya Mas John Travolta 😳 Biar jauhnya ampek ke Krawang ya gak papa, malah maunya makin jauuuuh 😳

Kalo ojeknya Mas JohnTra, aku mau langganan 😳

(ngumpet dulua aah, siap-siap digebuk Bapaknya Jendral G πŸ˜› )

PS. Gambar pinjam dari Google

Cari Solusi · Dongeng insomnia · Iseng Aja · Nimbrung Mikir · Serial Yu Minah

Wajah-wajah Itu…

Siang yang panas, cuaca antara terik dan mendung. Hawa-hawa begini paling enak makan rujaknya Yu Minah yang sedep dan pedes itu. Maka dengan berjalan kaki tentu dengan payung berumbai-rumbai aku menyambangi warung Yu Minah. Sempat bertemu beberapa pengunjung yang menenteng bungkusan rujak nan lezat itu πŸ˜€ Seperti biasa setelah mengucap salam aku langsung bertengger di bangku kesayangan.

“Buatkan rujak serut dua Yu, satu pedas datu sedang,” ujarku.

“Kok tumben Jeng, week end gini ndak pergi mana-mana?” tanyanya sambil mulai menyiapkan bumbu sambal.

“Iya Yu, mau istirahat aja. Badan pegel semua gara-gara macet kemaren. Masa berangkat kena macet 3 jam lha pulangnya malah lebih parah, 4,5 jam!” keluhku.

“Ooo, gara-gara demo buruh kemaren ya, Jeng? Saya nonton beritanya di tipi, wuidddihh segitu banyak orang ck..ck..ck..”

“Saya sempat terhenti di gerbang tol, yo wis matikan mesin dan nonton demo bareng-bareng sopir truk dan pengguna jalan lainnya. Semua pada motret tapi saya gak brani keluar, Yu, lha wong emak-emak sendiri,” ceritaku sambil menimang-nimang kedondong yang mencurigakan asemnya.

“Kalo saya mendukung para buruh itu, Jeng, lha sekarang gini. Kalo pabrik itu keuntungannya misal seratus juta, trus dengan adanya kenaikan upah keuntungan jadi 60 juta. Mereka bilang rugi, padahal kan sebetulnya tetep untung, cuma berkurang. Gitu kan, Jeng? Apalagi kalo pabrik-pabrik besar yang harga jual produknya bisa gak ketulungan mahalnya, lha untungnya kan besar to?” tanya Yu Minah dengan penuh perasaan, sehingga nguleknya pun membuat tubuh montoknya bergoyang kian kemari. Sungguh, aku gak ngerti yang beginian. Maka aku diam saja.

“Coba sampeyan bayangkan, Jeng, UMK yang mereka ajukan itu sebetulnya masih masuk akal, lha wong pendapatan saya sebulan aja kadang bisa melebihi upah minimum yang golongan tiga itu kok. Coba dengan pendapatan mereka yang minimum itu mereka harus menghidupi istri dan anak, apa cukup? Belum biaya yang semakin tinggi, sekolah, ini itu. Kasihan to?” oceh Yu Minah. Digerusnya gerombolan kacang itu dengan gemas sampai lumat mat! Aku masih diam.

“Mestinya ikutin aja, tapi harus seimbang. Kalo upah udah naik ya karyawan harus disiplin, kerja keras, karena pasti target jadi naik. Dah gitu tingkatkan kualitas sehingga perusahaan juga senang mempekerjakan mereka,” lanjut Yu Minah.

Soal ini sungguh aku gak mengerti. Seandainya Yu Minah kenal dengan Le’Ndor atau Mastein tentu mereka akan bisa menjelaskan dengan lebih baik.

“Sepertinya gak segampang itu, Yu. Tapi kemaren emang aku lihat wajah-wajah pendemo yang kelelahan, mungkin juga terbersit kekuatiran di hati mereka akan nasib mereka nanti. Sebetulnya gak semua pabrik gak memenuhi tuntutan, Yu. Banyak yang sudah menerapkan, malah di wilayah kantor saya banyak pabrik yang sudah pasang spanduk |Kami mendukung sepenuhnya UMK 2012| gitu.”

“Lha ndak semua to?”

“Ya gak, Yu. Kalo semua ya gak perlu unras dong! Kan gak semua pabrik mampu, terutama yang padat karya ato yang modalnya pas-pasan. Aku malah kuatir kalo unras yang sampe nutup jalan gitu malah bikin investor pada kabur. Atau malah jadi PHK besar-besaran,” keluhku sedih.

“Jadi sebetulnya sampeyan ini mihak sapa to, Jeng? Katanya kasihan sama wajah-wajah lelah itu? Lah kok sekarang kayaknya lebih berat ke pabrik?” tanya Yu Minah dengan nada mengancam sambil mulai membungkus rujakku.

“Aku gak mihak siapa-siapa, Yu. Aku gak ngerti yang beginian, aku cuma pengen semua berakhir dengan baik. Tak ada pihak yang dirugikan atau dikecewakan. Bisa mengambil jalan tengah yang masuk akal. Itu saja,” sahutku seraya mengeluarkan uang dua puluh ribuan.

Yu Minah menyerahkan rujakku yang segera kubayar dan siap berlalu.

“Eh, Jeng, maap…hehehehe…. rujaknya sekarang naik, lho. Sebungkus tiga belas ribu, Jeng hehehehehe…..,” ujar Yu Minah sambil cengengesan. Lhah?

“Lho kok naik, Yu? Kan masih boleh beli premium to? Katanya pendapatan sampeyan melebihi UMK?” tanyaku kaget.

“Ehehehehe…iya sih, tapi harga gula merah naik, Jeng, ndak nutut saya hehehehe….”

“Walah, ini menaikkan sepihak, Yu, Harusnya kan diumumkan dulu to,” omelku sambil merogoh kantong celana. Gawat, aku gak bawa dompet, cuma bawa pas-pasan!

“Hehehehe… tapi ndak usah demo Jeng, wong cuma naik tiga ribu kok hehehhe.” Yu Minah masih cengengesan.

“Aku gak mau demo tapi ngutang dulu, Yu. Gak bawa dompet je, makanya mesti kesepakatan dulu tadi jadi aku kan gak perlu ngutang!” omelku sambil berlalu.

“Welhadalah, yo wis, sampeyan ngutang enam ribu lho, Jeng!” serunya.

Sial, kenceng banget! Dua orang ibu yang baru datang melirikku dengan aneh! 😑

Rujaknya bikin ketagihan, meski yang juwal bawel 😦

Iseng Aja

Dua Belas

Minggu pagi, hujan rintik-rintik kekasih dan kedua malaikatku masih pulas. Saat yang tepat unutk mengerjakan PR dari Bang Necky πŸ˜€

Meski saya pernah buka-bukaan beberapa waktu lalu, tapi baiklah aku kan membuka lagi πŸ˜›

Deskripsikan diri Anda dalam 12 kata

1. Pemalu 😳 tapi kalo sudah akrab malah sering malu-maluin 😳
2. Kurang gawul 😳
3. Gak pedean
4. Mudah tertawa
5. Mudah terharu
6. XL
7. Memuja anak
8. Book eater
9. Takut gelap
10. Pemabok (kalo angkotnya ugal-ugalan)
11. Anti film horor mo yang lucu kek, yang esek-esek kek, apalagi horor serius hiiiyyyy…
12. Baik hati πŸ˜›

Sebutkan 12 kata yang kamu ketahui tentang transportasi umum di Indonesia

1. Banyak yang rusak dan jorok 😦 (angkot Jabodetabek)
2. Gak memadai (sepur)
3. Gak manusiawi kalo diberantas, lebih gak manusiawi kalo gak diberantas 😦 (becak)
4. Seringkali melebihi daya muat (kapal)
5. Banyak pilihan (pesawat)
6. Ugal-ugalan (bus)
7. Takut kalo naik sendiri (taxi)
8. Belum pernah coba (transJak)
9. Berisik (bajaj)
10. Paling males (naik ojek) eh, ini transportasi umum bukan yak? πŸ˜›
11. Sudah punah (bemo)
12. Tolong diperhatikan agar kami para pengguna transum bisa lebih nyaman dan jagalah kebersihan wahai para penumpang (buat semua transum dan penumpangnya πŸ˜› )

Sebutkan 12 jenis masakan yang menjadi favoritmu

1. Soto yang gak pake santan
2. Asem-asem sandung lamur (aku bisa masaknya lhooo πŸ˜› )
3. Bakso
4. Asam padeh
5. Dendeng lambok made in mertua πŸ˜›
6. Sayur lodeh plus ikan asin yang tipiiiiissss trus pake sambel trasi made in Ibunda πŸ˜›
7. Mpek-mpek yang enak kalo gak enak gak ah πŸ˜›
8. Gulai ayam plus ketupat made in mertua πŸ˜› (asli, enak bangget!)
9. Rujak tapi gak suka yang asem
10. Kepiting saos padang
11. Pecel trus pake kerupuk gendar πŸ˜€
12. Tahu pletok

Aduuuuhhh, jadi ngelih 😦

Pilih 12 blog lain yang belum mendapatkan #resolusi12!

1. BuEm
2. BuMon
3. @yangmira
4. MamiZidane
5. MasBrur
6. Iyhaaaaa
7. Jeng Lidya
8. Om NH (saya tau lagi sibuk beliau, tapiii…yah gak dikerjakan gak papa kok, Om πŸ˜€ )

Delapan juga πŸ˜›

Buat 12 pertanyaan lain untuk 12 blog pilihan Anda! Atau pertanyaan yang sama seperti ini juga boleh ^^

1. 12 kelebihan Anda
2. 12 hal yang paling tidak Anda sukai
3. 12 hal tentang Jakarta
4. 12 tujuan wisata yang paling diinginkan
5. 12 makanan yang paling Anda gak suka

Untuk yang terakhir ada 12 pertanyaan:

1. Apa arti dari nama Anda?
Nama depan adalah nama permandian, nama tengah artinya mmm….artinya bunga kali yaa 😳 nama akhir adalah nama semua anak perempuan Ibundaku πŸ˜›
2. Apa maksud judul/tagline blog anda, dan kenapa anda memilih kalimat tersebut?
Aahh, itu karena aku penggemar coklat dan suka makan 😳
3. Kenapa anda ngeblog?
Pada awalnya biar gak dianggap ketinggalan jaman :oopsL namun pada akhirnya untuk melepaskan hasrat ndobos dan berkawan πŸ˜€
4. Apa yang paling Anda takuti di dunia ini?
Takut kehilangan
5. Apa yang paling tidak Anda sukai?
Dibohongi
6. Apa yang anda lakukan untuk menjaga lingkungan?
Membuang sampah pada tempatnya
7. Sebutkan 1 orang yang paling anda cintai!
Gak bisa 1 Bang, harus 2, kedua malaikatku –> ini sudah paket
8. Apa yang anda lakukan untuk menjaga kesehatan anda?
Belum ada 😦 tap berusaha jogging pagi hari
9. Apa yang membuat anda menjadi nyaman?
Berada di samping anak-anak dan saling berpelukaaaaannn πŸ˜›
10. Apa hobi Anda?
Membaca
11. Apa motto hidup anda?
“Bersedih secukupnya saja setelah itu tertawalah” (opo to yo?)
12. Apa yang anda ketahui tentang transportasi umum?
Transportasi untuk umum yang seharusnya keberadaannya dapat memenuhi kebutuhan umum dan tentu saja harus diatur dan diperhatikan oleh pemerintah πŸ˜€

Demikianlah, Bang Necky, PR sudah saya kerjakan dengan seksama dan sebenar-benarnya. Dan semoga para sahabat bersedia mengerjakan PR ini juga πŸ˜€

PS. Warna-warni di atas juga belajar dari Pak Mars πŸ˜€

Iseng Aja

Terjebak

Unras hari ini membuatku tak berdaya. Tadi di pintu tol Cibitung semua kendaraan dibuang keluar. Tol ditutup. Bodohnya aku selepas keluar kawasan MM2100 malah lewat kali malang, coz gak tau jalan. Dan inilah aku, terjebak gak isa maju gak isa mundur apalagi muter πŸ˜₯

Belum cukup deritaku sekarang kebelet pipis huwaaaa… Ini memang jam biologisku 😦

Semoga unras ini segera berlalu dengan win-win solution. Meski info dari teman unras akan berlangsung sampai sore jika APINDO tak juga mau penuhi tuntutan.

Trus sampai kapan aku harus bertahan? Huwaaaaaaaaa

Cintaku · Iseng Aja · Nimbrung Mikir

Cinta Rasa Rendang

Cintaku Padamu Seperti Rendang

tahukah kau, bahwa cinta itu seperti rendang
pertama melihat mungkin tak begitu terasa
karena bentuk dan rupa yang mbleketek
namun sekali kau merasakan, kau akan ketagihan
dan kau ingin menikmatinya lagi dan lagi

mengapa seperti rendang?
karena cinta tidak datang tiba-tiba dan begitu saja
cinta harus diolah dengan bumbu yang rumit
diaduk berulang kali dengan penuh perasaan
sesekali dengan api besar namun sesekali dengan api kecil
kadang kau lelah dan ingin menyerah
namun bila terbayang kenikmatannya kau takkan berhenti
semakin lama kau masak akan semakin nikmat

mengapa seperti rendang?
karena cinta itu sedap dan lezat
ada pedas, gurih, sesekali bersemu pahit, sesekali liat dan menantang
namun terasa memikat bila kau sesap dengan memejamkan mata

tapi, mengapa rendang?
karena kekasihku urang Minang 😳
dan semakin aku mengolah dan memasaknya
semakin aku menikmatinya
dan semakin aku cinta padanya 😳
karena dia lezat seperti rendang πŸ˜›

β€œUngkapan Anti Biasa, Ungkapan Dengan HTMLβ€œ.

Cintaku · Iseng Aja · Ketawa dulu

Fitting Room

Bagus ya? Foto minjem dari Google.

Akhir tahun adalah masa-masa yang penuh godaan buat para wanita. Mengapa? Karena eh karena sale in everywhere! Yups, dan seperti kebanyakan wanita ato wanita kebanyakan akupun ikutan mericuhkan suasana πŸ˜€ Bersama Cantik mencari-cari sesuatu yang menarik. Dan kau tentu tahu, Kawan, dalam suasana seperti ini pasti kamar pas ngantre luar biasa. Demikian juga ketika aku dan Cantik hendak mencoba blouse. Fitting room segitu banyak tak ada yang terbuka satupun! Bahkan satu pintu bisa diantri oleh beberapa orang. Sungguh berat perjuangan seorang wanita dalam membeli baju!

Tapi aku punya siasat, Kawan. Aku antri di satu pintu dan Cantik kusuruh antri di pintu lain. Nanti siapa yang terbuka duluan kami masuk bareng πŸ˜€ Demikianlah pada suatu hari aku ngantri di ujung gang dan Cantik di ujung lainnya. Suasana tentu mencekam. Jika kau lihat wajah para wanita yang sudah kebelet mencoba baju, jangan sekali-sekali kau rebut antriannya. Bakal terjadi cakar-cakaran dan jambak-jambakan! Serius!

Karena suasana sepi dan mencekam itu aku berusaha mencairkan suasana dengan menggoda Cantik. Kulihat dia sudah mulai bosan tapi tentu saja aku harus mencoba 2 helai blouse ini! Discount 30% boo! Tanpa memedulikan wanita lain yang sedang mengantri dengan tegang aku mulai melancarkan serangan menggoda Cantik.

“Eeh, sendirian ya, Dek? Mamanya mana?” godaku. Cantik menjulurkan lidahnya menanggapi godaanku.

“Iih, hebat yaa, berani nyoba baju sendiri. Sudah kelas berapa sih?”

Cantik mulai malu dengan godaanku, mengingat para wanita nan garang tadi mulai memerhatikan kami dengan senyum geli.

“Bundaaaaa!” tegur Cantik.

“Oh, mana Bundanya, Dek?” godaku semakin menjadi sambil pura-pura menengok. Para wanita tadi sudah mulai tertawa kecil. Dan Cantik yang malu pun meninggalkan antriannya dan mendekatiku.

Tepat pada saat Cantik mendekatiku pintu terbuka. Aaarrrgghhhhh, wanita tak tahu malu yang di sebelah Cantik ngantri tadi langsung menyerobot masuk.

“Yaaaah, Adek siy pake pindah dekat Bundaaaa,” desahku tak berdaya.

“Salah Bunda sendiri godain Adek, kan malu?”

Gara-gara godain Cantik ngantrinya gak jadi cepet deh 😦 Dan sejak saat itu akupun akan berwajah garang di depan fitting room 😑

Nimbrung Mikir · Tak Enak

Jangan Panggil Dia Mama!

Sesungguhnya aku tak ingin menuliskan kisah sedih ini. Karena sungguh membuatku hancur, hiks… Bahkan baru nulis judulnya saja hatiku sudah teriris-iris. Andai kau bisa melihatku sekarang Kawan, maka kau akan melihat air mataku menetes-netes, lalu berderai-derai, lalu bocor hingga kemana-mana, pedih, perih, hancur…. (maaf Kawan, kalo lagi sedih, bahagia, marah, bahkan lagi gak ngapa-ngapain aku emang suka lebay).

Kisah ini bermula ketika Jendral G masih bayi dan aku kembali bekerja. Untunglah aku punya pengasuh bayi yang trampil, meski bukan baby sitter tapi dia punya pengalaman melebihi seorang nanny πŸ™‚ Namanya Karti. Pokoknya sama dia aku percaya 100%. Hingga Jendral G berumur 7 bulan ternyata aku kembali hamil. Bahagia sekaligus bingung tentunya. Menyesal? Ouh, tentu tidak. Aku justru bersyukur diberi anugerah kesuburan olehNya yang saking suburnya cuma dilempar handuk suami aja bisa hamil (lebay lageeeeee).

Seperti umumnya wanita hamil tentu mengalami morning sickness, afternoon sickness hingga night sickness. Alias mabuk terus 😦 Nah, karenanya ketika pulang kerja, dimana baby Jendral G selalu mengulurkan tangan padaku karena rindu, kadang hanya aku ajak canda sebentar lalu aku terkulai lemas. Setelah aku  mandi baru aku susui dan mengajaknya kembali. Kadang aku melupakan ajaran Ibundaku yang berbunyi seperti ini:

Selelah apapun kau bekerja, sesumpek apapun pikiranmu, seberat apapun beban kerjamu, kalau sudah sampai rumah anak adalah prioritas! Biarkan pembantu istirahat setelah seharian mengurus anakmu, maka anakmu akan selalu dekat padamu.

Apalagi ketika kehamilanku semakin membesar, aku tak sepenuhnya menjalankan nasehat Ibunda. Bahkan atas kemauan Karti sendiri dia selalu memegang Jendral G.

“Biar sama Karti aja, Bu. Ibu istirahat saja.” Demikian kata Karti setiap kali aku hendak menimang Jendral G. Dan entah pake hipnotis ala Uya Kuya atau Romi Rafael, aku menurut saja. Setelah Jendral G bobok baru diberikan padaku. Sering aku memintanya sebelum bobok, tapi dengan banyak alasan Karti tak memberikan.

Hingga pada suatu hari, ketika Baby G sudah mulai berkata-kata dan memanggilku “nDa”, aku dibuat terkejut setengah mati. Karena selain memanggilku “nDa” dia memanggil Karti…oh, tak sanggup ku mengatakannya, tak sampai hati. Menangis aku, remuk jantungku, hancur hatiku, sesak napasku, bengkak tubuhku, tipis dompetku πŸ˜₯ (yaa terus manggilnya apaaa???). Simaklah percakapan di bawah ini, Kawan.

“Eeeh, Kakak Guanteng, sini Nak, Bunda punya mainan lucu,” rayuku agar Jendral G mau bersamaku. Maka tertatih-tatih bayiku mendekatiku. Diambilnya mainan dari tanganku lalu segera kembali lagi ke pelukan Karti (sedih gak sih?).

“Bagus ya mainan, Kakak. Coba kasih Bunda lagi, Nak,” kata Karti menyuruh Jendral G kembali padaku. Tapi Jendral G tetap duduk di lantai di pangkuan Karti sambil bermain-main. Aku pun merayu-rayu tapi rupanya Jendral G sudah begitu lengketnya dengan Karti. Sampai terpaksa kuhampiri dan akan kugendong dia. Namun apa yang terjadi?

Baby G menangis dan mengulurkan tangannya pada Karti sambil berkata, “Mamaa.”

Ooohhhh, remuk gak sih? Hancur gak sih? Aku begitu shock nya hingga ingin rasanya membeli Ferrari saat itu juga (sayangnya gak punya uang). Ingin ku teriak AAAAAAAAAAAAArrrrrrggggghhhhhh….. Coba kau dihadapkan pada situasi seperti itu. Apa yang akan kau lakukan, Kawan? Karti nampaknya gak enak juga dan langsung menggendong Jendral G dan membawanya ke teras. Aku terduduk lemas di kursi. Ingin marah tapi marah sama siapa? Aku yakin itu pasti ajaran Karti. Tak mungkin Jendral G yang baru bisa ngomong kok memanggilnya Mama. Pasti Karti yang ajarin kan?

Aku segera tersadar. Langsung kuambil Jendral G dari pelukan Karti. Nangis biarin. Ini anakku, cintaku, bayiku. Kubawa masuk kamar dan kami berdua menangis bersama. Aku berkata-kata pada bayiku entah mengerti atau tidak, bahwa akulah ibunya, mamanya. Tak ada orang lain yang boleh dipanggil dengan sebutan itu. Aku merasa bersalah tak menuruti nasehat Ibundaku. Aku merasa bersalah karena tak menghabiskan banyak waktu untuk bayiku. Hiks… hiks… πŸ˜₯

Sejak saat itu, Kawan, sesampai di rumah pulang kerja aku langsung mandi dan ku minta Jendral G dari gendongan Karti. Mau capek kek, ngelih kek, lemes kek, aku harus bersama anakku! Tak kuberi kesempatan Karti menguasai cintaku lagi. Meski kerjanya sempurna, anakku sehat dan montok serta wangi, dia hanyalah pengasuh. Akulah Ibunya!

Dan ketika Cantik lahir, aku tak mengulangi kesalahan yang sama. Hingga kini Kawan, kedua belahan jiwaku dekat sekali denganku. Tentunya aku juga berterimakasih pada Karti tidak saja atas pengabdiannya namun juga karena memberi pelajaran yang sangat berharga untukku. Hingga akhirnya Karti pun mengundurkan diri karena menikah.

Semoga para ibu muda kini tak mengalami apa yang kualami. Pengasuh biarlah menjalankan perannya sebagai pengasuh, ketika kita sudah di rumah, ambil alih, karena kitalah Ibunya.

Baiklah, akan kuteruskan dulu tangisanku karena membuka luka lama ini. Hiks…hiks… πŸ˜₯

*********************************

Setelah menghabiskan 1 kotak tissue, 2 helai handuk dan 1 lembar serbet, maka aku putuskan untuk mengikutkan tulisan ini pada kontes Emak Kecebong 3 Warna πŸ˜€

β€œchocoVanilla berpartisipasi dalam β€˜Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng SoesJeng DewiJeng Nia”. Disponsori oleh : β€œJeng Anggie, Desa Boneka, Kios108β€œ

Wish me luck, again πŸ˜‰

Iseng Aja · Nimbrung Mikir · Tak Enak

Mama Vira

Sesungguhnya aku ini termasuk dalam golongan emak-emak kurang pergawulan 😦  Namun saking takutnya aku dibilang gak gaul, tiap keluar rumah ada ibu-ibu lewat pasti aku senyumin. Padahal mbuh ini ibu dari blok mana rumahnya mana. Kadang si ibu membalas senyumku, ada juga yang membalas dengan ragu ‘coz merasa gak kenal, bahkan ada yang lari ketakutan ketika kuajak senyum. Kemaren malam malah ada ibu-ibu berteriak histeris ketika kuberi senyum manis. Lah aku tersinggung to?Aku langsung masuk kamar dan bercermin, segitu menyeramkankah wajahku? Ouh, ternyata masih maskeran :mrgreen:

Meski demikian aku wajib rajin ikut arisan RT lho. Nah, kendalanya adalah aku tak hafal nama ibu-ibu tetangga itu hiks… Untunglah kebiasaan di kompleks kalo saling memanggil memakai nama anaknya. Mama Hani, Ibu Guruh, Bunda Kesia, dll. Kadang malah hanya menyebut nama anaknya saja tanpa embel-embel “Mama”. Itu yang sebaya. Kalo yang udah berumur biasa dipanggil dengan nama suami. Bu Agus, Bu Dani, Bu Haji. Nah, parahnya aku bahkan tak tau nama anak atau suaminya hiks…hiks… keterlaluan banget! Tau sih, paling yang sekitar rumah 😦

Di situlah awal kisah ini. Pada suatu hari aku datang arisan ke salah satu ibu. Tentu saja aku berangkat bareng tetangga sebelah rumah, maklum takut salah rumah. Pernah aku berfikir pokoknya cari rumah yang banyak sandalnya, itu pasti arisan. Eh, bener itu emang arisan tapi ternyata arisan RW! Untung baru assalamualaikum langsung sadar πŸ˜€ Kembali ke kisahku. Biasalah saat arisan pasti banyak rumpi dan obrolan bahkan ada yang juwalan. Dan seperti biasa aku sok akrab ngajak ngobrol meski hanya teman sebelah menyebelah.

Kebetulan di sebelahku ibu yang wajahnya sangat familiar, karena sering lewat depan rumahku kalau mengantar anaknya. Dia ramah dan tidak sombong. Hanya saja aku gak tau namanya! Busyet deh! Tapi sekilas tadi aku dengar seseorang memanggilnya “Vira”. Ah, ini pasti Mamanya Vira. Maka aku ngobrol tanpa kuatir menyebut namanya.

“Mama Jendral, mau gak tuh ambil bajunya? Tiga kali bayar lho,” ujar Mama Vira ini sembari memberiku beberapa potong pakaian.

“Bagus sih, tapi kayaknya gak muat deh,” sahutku halus. Padahal aku emang gak tertarik, lha wong bajunya loreng-loreng.

“Eh, ini melar lho. Dicoba dulu aja,” desaknya. Padahal bukan dagangan dia juga sih. Maka aku pura-pura mematut-matut di badan.

“Ngomong-ngomong, Jendral sekarang ikut jemputan sekolah ya, Ma? Masih di *sensor* kan sekolahnya?” tanya Mama Vira padaku.

“Masih, iya aku ikutkan jemputan. Udah lama sih, sejak mbaknya yang momong dari kecil keluar,” sahutku.

“Ooh, gak papa, biar mandiri juga,” imbuhnya. Saat itu Ibu RT sudah mulai mengumumkan pengocokan arisan.

“Kalo Vira udah kelas berapa sekarang?” tanyaku berbasa-basi. Mama Vira menatapku heran. Maka aku ulangi pertanyaanku.

“Kalo gak salah udah SMP ya? Saya sering ngeliat kalo Vira berangkat pagi-pagi. Rajin banget ya, seneng juga kalo anak udah besar. Cantik lagi Si Vira itu, pasti banyak yang naksir ya hihihihihi…..,” ocehku. Mama Vira makin melongo menatapku. Sementara Ibu RT sudah mengumumkan nama yang keluar arisan.

“Waah, Bu Vira nih yang dapat,” seru Bu RT. Semua bertepuk untuk….untuk…Ibu yang selama ini ngobrol denganku!!! Wajahku pucat, merah, pucat lagi, biru, pink dan terakhir ungu!!

“Vira itu nama saya, anak saya namanya Putri,” bisiknya padaku. Aaaahhhhh, andai aku bisa nyungsep mblesek ambles ke dalam tanah. Maluuuuu….. πŸ˜₯ 😦 Bisikannya lirih, tapi dalem banget! Hiks….

*******************************************

Horeeee…. kisah memalukan ini aku ikutkan kontes Diajeng Kecebong 3 Warna nan cantek-cantek dan menik-menik πŸ˜€ Sebenar-benarnya aku bingung mau dimasukkan di katagori cerita lucu atau cerita sedih ya. Tapi berhubung hanya air mataku yang keluar maka aku ikutkan CL aja deh πŸ˜€

β€œchocoVanilla berpartisipasi dalam β€˜Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng SoesJeng DewiJeng Nia”. Disponsori oleh : “Jeng Anggie, Desa Boneka, Kios108

Wish me luck πŸ˜‰

Cintaku · Iseng Aja

Grasshopper and Butterfly

Aku sedang menggoreng tahu pletok oleh-oleh dari mbakayune ketika Cantik berlari-lari menyusulku ke dapur.

Cantik : Buuundaaaa….. (dengan nada dasar A minor, birama 7/8)

AkuΒ Β Β Β Β  : Apaaaa….. (nada dasar C)

Cantik : Bahasa Inggrisnya belalang apa sih?”

AkuΒ Β Β Β Β  : Mmm, grasshopper.

Cantik : Kalo siang?

AkuΒ Β Β Β Β  : Siang? Apa ya? Noon atau daytime kali (maaf jika salah, Nak)

Cantik : Okay….

Lalu Cantik berlari lagi ke ruang tengah. Tak lama kemudian terdengar ia bernyanyi. Begini Kawan,

Pok ame-ame

Grasshopper butterfly

Daytime eating rice

In the night drinking milk

Qiqiqiqiqiqiqi……. aku tertawa tertahan di dapur. Meski lagunya dipas-pasin dan bahasa Inggrisnya entah benar ato tidak, tapi kok ya lucuuuu gitu :mrgreen:

Cantiiiik….Cantiiikk…. kamu selalu membuat Bunda tertawa deh πŸ˜† Yang aku heran kok dia gak bertanya bahasa Inggrisnya Pok Ame-ame ya? Dan untung gak bertanya :mrgreen: