Iseng Aja · Nimbrung Mikir

Flash Fiction

Berawal dari ikutan lomba di blognya Riani, yang harus membuat cerita mini alias cermin dengan syarat tak lebih dari 160 karakter, sekarang aku kecanduan membuat cerita mini. Atau yang lebih dikenal dengan flash fiction atau fiksi mini atau aku lebih suka menyebutnya dengan Fiksi Kilat™ 😀

Apalagi karena aku memenangkan lomba itu 😳 jadi makin tertantang. Sampai-sampai membuat akun twitter ku tampil di sidebar dengan jejuluk “La Petite”. Maksudnya sih mau kuisi dengan fiksi kilat buatanku. Tapi ternyata, uangel buanget membuat fiksi dengan hanya 140 karakter! Weks, kalo sekedar berkata-kata sih gampang, tapi berkata-kata yang mengandung makna dan mengundang perhatian itu yang susyah. Maka La Petite ku itu hanya berisi kicauan semata 😛 (yang bahkan jarang banget di update). Segera aku mencari tahu tentang Fiksi Kilat™ ini.

Beruntung salah satu kawan yang pernah komen di blog ku ini salah seorang pembuat flash fiction. Adduhhh, sapa ya saya lupa 😦 mau nyari kok ya dah kelamaan arsipnya 😥 Kalo gak salah beliau dari Makasar, Daeng Iwan ato siapaaaa gitu 😦 Flash fiction beliau bagus-bagus. Dari situ terbuka mataku bahwa flash fiction tak harus sependek itu, bisa lebih panjang lagi. Simak kata wikipedia di bawah ini:

Flash fiction adalah karya fiksi yang sangat singkat, bahkan lebih ringkas daripada cerita pendek. Walaupun tidak ada ukuran jelas tentang berapa ukuran maksimal sebuah flash fiction, umumnya karya ini lebih pendek dari 1000 atau 2000 kata. Rata-rata flash fiction memiliki antara 250 dan 1000 kata. (Sebagai perbandingan, ukuran cerita pendek berkisar antara 2.000 dan 20.000 kata. Rata-rata panjangnya antara 3.000 dan 10.000 kata.)

Beberapa karya di Indonesia sudah menyebut flash fiction dengan beberapa nama[rujukan?]. Graffiti Imaji terbitan Yayasan Multimedia Sastra, sebagai contoh, adalah antologi “cerpen pendek”. Flash! Flash! Flash! terbitan Gradien menyebut dirinya sebagai kumpulan “cerita sekilas”. Sejumlah sastrawan juga menyebutnya sebagai “cerita mini”, disingkat “cermin”. Semua ini mengacu pada rupa flash fiction yang sepertinya dirancang untuk dibaca sekaligus.

Keterbatasan jumlah kata flash fiction sendiri sering kali memaksa beberapa elemen kisah (protagonis, konflik, tantangan, dan resolusi) untuk muncul tanpa tersurat; cukup hanya disiratkan dalam cerita. Secara ekstrem, prinsip ini dicontohkan oleh Ernest Hemingway dalam cerita enam katanya, “Dijual: sepatu bayi, belum pernah dipakai.”[1]

Satu jenis flash fiction menggunakan jumlah kata yang spesifik. Contohnya cerita lima puluh lima kata atau cerita seratus kata.

Asyiiik, berarti kan gak harus pendek bangget to? Ahaaiii, maka aku langsung bereksperimen dengan Fiksi Kilat™ ini 😀 Rupanya sangat menyenangkan, karena tak ada beban, pembaca gak bosan (menurutku lho 😛 ), dan bener-bener hanya sekilas baik membuatnya maupun membacanya 😀 Karena masih belum ada aturan baku untuk panjang cerita, maka Fiksi Kilat™ yang aku buatpun masih bervariasi panjang dan pendeknya 😛

Berikut percobaanku dalam membuat Fiksi Kilat™ : Hujan, Hujan (2), Belenggu, Lamaran, ML 😀 Memang baru sedikit karena memang masih belajar. Dan terutama idenya yang kadang datang sekonyong-konyong namun kadang mampet tak mengalir 😀 Dan aku paling senang dengan ending yang menjengkelkan :mrgreen: jadi cukup sulit mencari idenya 😛

Nah, Kawan, mari kita ber Fiksi Kilat™. Cukup meluangkan sedikit waktu dan taarraaa….. jadilah sebuah fiksi 😀 Yuukk…mariiiii……