Iseng Aja · Nimbrung Mikir · Tak Enak

Mama Vira

Sesungguhnya aku ini termasuk dalam golongan emak-emak kurang pergawulan 😦  Namun saking takutnya aku dibilang gak gaul, tiap keluar rumah ada ibu-ibu lewat pasti aku senyumin. Padahal mbuh ini ibu dari blok mana rumahnya mana. Kadang si ibu membalas senyumku, ada juga yang membalas dengan ragu ‘coz merasa gak kenal, bahkan ada yang lari ketakutan ketika kuajak senyum. Kemaren malam malah ada ibu-ibu berteriak histeris ketika kuberi senyum manis. Lah aku tersinggung to?Aku langsung masuk kamar dan bercermin, segitu menyeramkankah wajahku? Ouh, ternyata masih maskeran :mrgreen:

Meski demikian aku wajib rajin ikut arisan RT lho. Nah, kendalanya adalah aku tak hafal nama ibu-ibu tetangga itu hiks… Untunglah kebiasaan di kompleks kalo saling memanggil memakai nama anaknya. Mama Hani, Ibu Guruh, Bunda Kesia, dll. Kadang malah hanya menyebut nama anaknya saja tanpa embel-embel “Mama”. Itu yang sebaya. Kalo yang udah berumur biasa dipanggil dengan nama suami. Bu Agus, Bu Dani, Bu Haji. Nah, parahnya aku bahkan tak tau nama anak atau suaminya hiks…hiks… keterlaluan banget! Tau sih, paling yang sekitar rumah 😦

Di situlah awal kisah ini. Pada suatu hari aku datang arisan ke salah satu ibu. Tentu saja aku berangkat bareng tetangga sebelah rumah, maklum takut salah rumah. Pernah aku berfikir pokoknya cari rumah yang banyak sandalnya, itu pasti arisan. Eh, bener itu emang arisan tapi ternyata arisan RW! Untung baru assalamualaikum langsung sadar πŸ˜€ Kembali ke kisahku. Biasalah saat arisan pasti banyak rumpi dan obrolan bahkan ada yang juwalan. Dan seperti biasa aku sok akrab ngajak ngobrol meski hanya teman sebelah menyebelah.

Kebetulan di sebelahku ibu yang wajahnya sangat familiar, karena sering lewat depan rumahku kalau mengantar anaknya. Dia ramah dan tidak sombong. Hanya saja aku gak tau namanya! Busyet deh! Tapi sekilas tadi aku dengar seseorang memanggilnya “Vira”. Ah, ini pasti Mamanya Vira. Maka aku ngobrol tanpa kuatir menyebut namanya.

“Mama Jendral, mau gak tuh ambil bajunya? Tiga kali bayar lho,” ujar Mama Vira ini sembari memberiku beberapa potong pakaian.

“Bagus sih, tapi kayaknya gak muat deh,” sahutku halus. Padahal aku emang gak tertarik, lha wong bajunya loreng-loreng.

“Eh, ini melar lho. Dicoba dulu aja,” desaknya. Padahal bukan dagangan dia juga sih. Maka aku pura-pura mematut-matut di badan.

“Ngomong-ngomong, Jendral sekarang ikut jemputan sekolah ya, Ma? Masih di *sensor* kan sekolahnya?” tanya Mama Vira padaku.

“Masih, iya aku ikutkan jemputan. Udah lama sih, sejak mbaknya yang momong dari kecil keluar,” sahutku.

“Ooh, gak papa, biar mandiri juga,” imbuhnya. Saat itu Ibu RT sudah mulai mengumumkan pengocokan arisan.

“Kalo Vira udah kelas berapa sekarang?” tanyaku berbasa-basi. Mama Vira menatapku heran. Maka aku ulangi pertanyaanku.

“Kalo gak salah udah SMP ya? Saya sering ngeliat kalo Vira berangkat pagi-pagi. Rajin banget ya, seneng juga kalo anak udah besar. Cantik lagi Si Vira itu, pasti banyak yang naksir ya hihihihihi…..,” ocehku. Mama Vira makin melongo menatapku. Sementara Ibu RT sudah mengumumkan nama yang keluar arisan.

“Waah, Bu Vira nih yang dapat,” seru Bu RT. Semua bertepuk untuk….untuk…Ibu yang selama ini ngobrol denganku!!! Wajahku pucat, merah, pucat lagi, biru, pink dan terakhir ungu!!

“Vira itu nama saya, anak saya namanya Putri,” bisiknya padaku. Aaaahhhhh, andai aku bisa nyungsep mblesek ambles ke dalam tanah. Maluuuuu….. πŸ˜₯ 😦 Bisikannya lirih, tapi dalem banget! Hiks….

*******************************************

Horeeee…. kisah memalukan ini aku ikutkan kontes Diajeng Kecebong 3 Warna nan cantek-cantek dan menik-menik πŸ˜€ Sebenar-benarnya aku bingung mau dimasukkan di katagori cerita lucu atau cerita sedih ya. Tapi berhubung hanya air mataku yang keluar maka aku ikutkan CL aja deh πŸ˜€

β€œchocoVanilla berpartisipasi dalam β€˜Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng SoesJeng DewiJeng Nia”. Disponsori oleh : “Jeng Anggie, Desa Boneka, Kios108

Wish me luck πŸ˜‰