Nimbrung Mikir · Tak Enak

Jangan Panggil Dia Mama!

Sesungguhnya aku tak ingin menuliskan kisah sedih ini. Karena sungguh membuatku hancur, hiks… Bahkan baru nulis judulnya saja hatiku sudah teriris-iris. Andai kau bisa melihatku sekarang Kawan, maka kau akan melihat air mataku menetes-netes, lalu berderai-derai, lalu bocor hingga kemana-mana, pedih, perih, hancur…. (maaf Kawan, kalo lagi sedih, bahagia, marah, bahkan lagi gak ngapa-ngapain aku emang suka lebay).

Kisah ini bermula ketika Jendral G masih bayi dan aku kembali bekerja. Untunglah aku punya pengasuh bayi yang trampil, meski bukan baby sitter tapi dia punya pengalaman melebihi seorang nanny πŸ™‚ Namanya Karti. Pokoknya sama dia aku percaya 100%. Hingga Jendral G berumur 7 bulan ternyata aku kembali hamil. Bahagia sekaligus bingung tentunya. Menyesal? Ouh, tentu tidak. Aku justru bersyukur diberi anugerah kesuburan olehNya yang saking suburnya cuma dilempar handuk suami aja bisa hamil (lebay lageeeeee).

Seperti umumnya wanita hamil tentu mengalami morning sickness, afternoon sickness hingga night sickness. Alias mabuk terus 😦 Nah, karenanya ketika pulang kerja, dimana baby Jendral G selalu mengulurkan tangan padaku karena rindu, kadang hanya aku ajak canda sebentar lalu aku terkulai lemas. Setelah aku  mandi baru aku susui dan mengajaknya kembali. Kadang aku melupakan ajaran Ibundaku yang berbunyi seperti ini:

Selelah apapun kau bekerja, sesumpek apapun pikiranmu, seberat apapun beban kerjamu, kalau sudah sampai rumah anak adalah prioritas! Biarkan pembantu istirahat setelah seharian mengurus anakmu, maka anakmu akan selalu dekat padamu.

Apalagi ketika kehamilanku semakin membesar, aku tak sepenuhnya menjalankan nasehat Ibunda. Bahkan atas kemauan Karti sendiri dia selalu memegang Jendral G.

“Biar sama Karti aja, Bu. Ibu istirahat saja.” Demikian kata Karti setiap kali aku hendak menimang Jendral G. Dan entah pake hipnotis ala Uya Kuya atau Romi Rafael, aku menurut saja. Setelah Jendral G bobok baru diberikan padaku. Sering aku memintanya sebelum bobok, tapi dengan banyak alasan Karti tak memberikan.

Hingga pada suatu hari, ketika Baby G sudah mulai berkata-kata dan memanggilku “nDa”, aku dibuat terkejut setengah mati. Karena selain memanggilku “nDa” dia memanggil Karti…oh, tak sanggup ku mengatakannya, tak sampai hati. Menangis aku, remuk jantungku, hancur hatiku, sesak napasku, bengkak tubuhku, tipis dompetku πŸ˜₯ (yaa terus manggilnya apaaa???). Simaklah percakapan di bawah ini, Kawan.

“Eeeh, Kakak Guanteng, sini Nak, Bunda punya mainan lucu,” rayuku agar Jendral G mau bersamaku. Maka tertatih-tatih bayiku mendekatiku. Diambilnya mainan dari tanganku lalu segera kembali lagi ke pelukan Karti (sedih gak sih?).

“Bagus ya mainan, Kakak. Coba kasih Bunda lagi, Nak,” kata Karti menyuruh Jendral G kembali padaku. Tapi Jendral G tetap duduk di lantai di pangkuan Karti sambil bermain-main. Aku pun merayu-rayu tapi rupanya Jendral G sudah begitu lengketnya dengan Karti. Sampai terpaksa kuhampiri dan akan kugendong dia. Namun apa yang terjadi?

Baby G menangis dan mengulurkan tangannya pada Karti sambil berkata, “Mamaa.”

Ooohhhh, remuk gak sih? Hancur gak sih? Aku begitu shock nya hingga ingin rasanya membeli Ferrari saat itu juga (sayangnya gak punya uang). Ingin ku teriak AAAAAAAAAAAAArrrrrrggggghhhhhh….. Coba kau dihadapkan pada situasi seperti itu. Apa yang akan kau lakukan, Kawan? Karti nampaknya gak enak juga dan langsung menggendong Jendral G dan membawanya ke teras. Aku terduduk lemas di kursi. Ingin marah tapi marah sama siapa? Aku yakin itu pasti ajaran Karti. Tak mungkin Jendral G yang baru bisa ngomong kok memanggilnya Mama. Pasti Karti yang ajarin kan?

Aku segera tersadar. Langsung kuambil Jendral G dari pelukan Karti. Nangis biarin. Ini anakku, cintaku, bayiku. Kubawa masuk kamar dan kami berdua menangis bersama. Aku berkata-kata pada bayiku entah mengerti atau tidak, bahwa akulah ibunya, mamanya. Tak ada orang lain yang boleh dipanggil dengan sebutan itu. Aku merasa bersalah tak menuruti nasehat Ibundaku. Aku merasa bersalah karena tak menghabiskan banyak waktu untuk bayiku. Hiks… hiks… πŸ˜₯

Sejak saat itu, Kawan, sesampai di rumah pulang kerja aku langsung mandi dan ku minta Jendral G dari gendongan Karti. Mau capek kek, ngelih kek, lemes kek, aku harus bersama anakku! Tak kuberi kesempatan Karti menguasai cintaku lagi. Meski kerjanya sempurna, anakku sehat dan montok serta wangi, dia hanyalah pengasuh. Akulah Ibunya!

Dan ketika Cantik lahir, aku tak mengulangi kesalahan yang sama. Hingga kini Kawan, kedua belahan jiwaku dekat sekali denganku. Tentunya aku juga berterimakasih pada Karti tidak saja atas pengabdiannya namun juga karena memberi pelajaran yang sangat berharga untukku. Hingga akhirnya Karti pun mengundurkan diri karena menikah.

Semoga para ibu muda kini tak mengalami apa yang kualami. Pengasuh biarlah menjalankan perannya sebagai pengasuh, ketika kita sudah di rumah, ambil alih, karena kitalah Ibunya.

Baiklah, akan kuteruskan dulu tangisanku karena membuka luka lama ini. Hiks…hiks… πŸ˜₯

*********************************

Setelah menghabiskan 1 kotak tissue, 2 helai handuk dan 1 lembar serbet, maka aku putuskan untuk mengikutkan tulisan ini pada kontes Emak Kecebong 3 Warna πŸ˜€

β€œchocoVanilla berpartisipasi dalam β€˜Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi oleh Jeng SoesJeng DewiJeng Nia”. Disponsori oleh : β€œJeng Anggie, Desa Boneka, Kios108β€œ

Wish me luck, again πŸ˜‰

18 tanggapan untuk “Jangan Panggil Dia Mama!

  1. bukan bermaksud ngetawain.. tapi baca tulisannya mbak choco aku malah ketawa2 igh

    choco:

    Oohh Melaaa, pliz nangis dong, biar jurinya ikutan nangis 😦

    (bales komen masih sambil nangis)

  2. Iya emang sedih juga ya kalo anak kita dekat dengan pengasuh dan memanggilnya Mama sama pengasuhnya,noo…
    makanya dulu aku pas lahiran langsung resign,biar sellau deket dengan anakku ..

    Syukurlah kalo sekarang si Jendral dan si Cantik manggil Mama kan?/hhe..

    choco:

    Sedih dan hubungan dengan ART jadi kurang harmonis, tapi karena butuh ya jadi tak berdaya.
    Pilihan yang tepat Jeng, resign dari kerjaan. Sayangnya aku belum melakukan itu 😦

  3. #pukpuk mbak choco
    kudoakan semoga menang deh kontesnya ya mbak πŸ˜€
    tapi masalahnya gaya bercerita mbak choco kocak sekali
    haruskah kukupas bawang agar mengalir air mataku??

    baidwei,, pelajaran berharga buatku nih mbak..

    choco:

    Kupaslah bawang merah sekilo, Melaa, agar kau menangis bersamaku 😦

    Iya, jangan sampai kelak kau mengalami ya, Say πŸ™‚

  4. huwaaaa…….jangan sampai terjadi di aku…

    e tapi anaknya kk’ku manggil guru di TPA-nya “Ibu”, manggil ibunya “mama” πŸ˜€

    choco:

    Kalau panggilan “Ibu” memang bisa digunakan untuk siapa saja. Tapi kalo “Mama” kan hanya untuk ibu kandung 😦

    Belajar dari pengalamanku ya, Jeng, jangan sampai terjadi πŸ˜€

  5. Katanya cerita sedih, tapi kok aku ngakak terus… piye ???
    eh..ehh.. Blom dilempar handuk lagi ya, Mbak?? hahah.. *ngakak*

    Yowislah, aku catat di CS aja, wong ndaftarnya gitu kok… Makasih Mbakku sayang yang manis cimilikiti..

    Mbak’e tinggal satu kategori lagi tuh.. Embat aja skalian! Aku tantang nih!

    choco:

    Waaa, kok ketawa sih, Jeng? Ini kan sudah kudramatisir a la Bollywood biar menguras air mata? πŸ˜₯

    Hohoho, sudah kebal biar dilempar handuk 17 kali sehari. Lha wong sudah pasang “anti hamil” di mana-mana :mrgreen:

    Tantangan foto unik? Aarghh, itu kelemahanku 😦

  6. Sik … sik …
    Aku mau tanya Bu … Aku mau tanya …
    Ibu Choco ini mau ikut kontes cerita sedih … atau cerita lucu ?
    Kategori yang mana yang Ibu Pilih … tolong putuskan …

    Soalnya … cerita ini … Cerita Sedih tapi aromanya aroma Lucu …
    lha rak bingung tooohhh …
    (kalo bingung beli ferrari …)

    (ditunggu keikut sertaannya di kategori kontes mak cebong yang satu lagi … yang lomba foto itu …) (dan Bu choco pun jongkok … ngambek … maen tanah …)

    Salam saya Bu

    choco:

    Ini sedih, Om. Bahkan air mataku selalu mengalir jika mengingatnya. Benar-benar pedih! Jangan bingung lagi ya, Om… (nanti tak traktir ferrari lho)

    Lomba foto? Aarrghhh, kalo sampai fotoku nongol bisa luntur susukku nanti :mrgreen:

  7. beneran nih… aku juga bingung. Mending cerita sedih, tanpa becandaan kalau dilihat dari topiknya. Soalnya masalah ini masalah serius. Di Indonesia pakai baby sitter biasa, di sini tidak.
    Supaya bisa jadi pedoman untuk yang muda-muda nih

    choco:

    Saya sudah berusaha serius, BuEm, entahlah mengapa jadinya begini 😦
    Sungguh aku prihatin dengan para ibu yang 100% menyerahkan anaknya di tangan pengasuh dan lebih senang bermain dengan BB nya 😦

  8. Mak Cebong 3 dataaannngg πŸ™‚

    Ya ampyuuuunnn Jeng, ini mah mo ambil anduk ga jadi karena kudunya ambil ember buat nampung iler gara2 kebanyakan ketawa πŸ™‚

    Ekye mah dimari boro2 mo pake babysitter, wong cari ART aje kaga dapet2. Hiks!

    Thanks yah Jeng udah berpartisisapi (again). Yang 1 kategor lagi dibungkus ajah Say. Sapu bersih sapa tau bisa dapet Ferrari πŸ™‚

    choco:

    Ouuhh, Mak Juri, kok malah pada ketawa sih? Ini kisah kan sedih bangget 😦 Plizz, bacanya sambil ngiris cabe sekilo dong, biar eykeh menaaaang 😦

    Makasiy ya, Jeng sudah dicatat πŸ˜€
    Lomba foto? Aaahh, aku kan pemalu sekaliiiii. Wong nubruk pohon aja aku tersipu-sipu je, malu ama pu’unnya 😳

  9. your post is nice.. πŸ™‚
    keep share yaa, ^^
    jadi terharu juga.. :’)
    di tunggu postingan-postingan yang lainnya..

    jangan lupa juga kunjungi website dunia bola kami..
    terima kasih.. πŸ™‚

    choco:

    Makasiy yaa πŸ™‚

  10. mbak aku komen ceria atau sedih nih?
    hancur ya hati kalau anak menolak kita.pernah tuh mbak waktu pascal umur 1 bln bukan dia menolak sih tapi tiap nangis aku ga diberikesempatan menggendong kgs diambil alih mertua hiks aku benar2 marah.oops knapa aku curcol gini πŸ™‚

    choco:

    Sedih dong Jeng, ini kan kisah sedih πŸ™‚
    Naah, ini dia, mertua selalu merasa lebih berkepentingan daripada ibunya πŸ˜€ Ini menjadi pembelajaran kelak kalo kita jadi mertua, Jeng. Apalagi Jeng Lid bakalan mantunya cewek semua hehehehe….

  11. hihihi…ini cerita sedih apa cerita lucu sech…jurinya jd bingung…abis boro2 mo nangis…yg ada malah ketawa cekikikan hihihih…….mbak dilempar handuk dr jarak brp meter langsung jadi anak hahahaha…..mo ngetes juga ahh….berhasil ngga hihihi…..

    kalo anak2ku pengasuhnya banyak mbak…manggilnya mama juga tp beda2…kalo ke aku manggil mama….ke tetangga sebelah yg ngasuh anakku manggilnya mamake…ke uwaknya manggil mama tatin…ke tantenya manggil mbu (ibu)…..jd aku teutep sbg emaknya hehehhe…..

    terimakasih mbak choco atas partisipasinya….satu kategori lagi mbak…..nanggung atuhhh……

    choco:

    Huwaaa, Emak Jurinya malah pada ketawaaa πŸ˜₯

    Psst, gunakanlah jalan yang benar Jeng, pasti akan terasa lebih nikmat, daripada cuman dilempar handuk, gak seru ah :mrgreen:

    Iya, kadang manggil Mama ke orang lain tapi diiringi nama ya πŸ˜€
    Makasiy Jeng, sudah dicatat. Satu lagi? Waduuuh, kayaknya saya nyerha deh klo yang itu 😦

  12. aku juga ikut bingung,,
    hati ikut merasakan sedih, tapi lidah maunya ketawa… mungkin karena moderatornya blum dilakban lagi tuh mulutnya… qkqkqk

    tpi justru hidup seperti iinilah yang bagus untuk dijalani, maksudnya meskipun lagi suasana sedih, tapi tetep dibawa untuk bisa tersenyum, apalagi masih tetep bisa membuat orang lain ikut senyum2 juga.. jadi pahala malah.. πŸ˜€ πŸ˜€

    yg sudah2 ya wislah, cukup jadi pelajaran, yg penting skarang kan, ka Jenderal & si cantik makin sayang sama ibunya πŸ˜€

    sukses kontasnya

    choco:

    Iyo, bener MasBrur, lali gak dilakban kuwi, marai repot!
    Saya selalu berusaha tersenyum, Mas, bahkan kadang suak senyum sendiri πŸ˜›

    Alhamdulillah, anak-anak sekarang nempel terus kayak perangko πŸ˜€
    Makasiy ya, Mas πŸ™‚

  13. Wah-wah-wah kering itu air matanya jatuh bergguran dari tadi mba…
    Sampai dua box tissue habis…
    Semoga menang Mba..

    choco:

    Sampai-sampai saya harus lari ke warung sebelah beli tissue, Mas 😦
    Makasiiy yaa πŸ˜€

  14. saya kok ngakak ya mbaca yang ini, lha sampek ketelepasan “sookoorrrr” hahahaha
    Tapi di dalam hati yang sangat dalam sampai gak bisa digali lagi, saya bersedih ketika seorang anak memanggil mama kepada orang lain. duh miris sekali

    choco:

    Jiyan! Wong lagi susah kok malah disokorke ki lho? 😦

    Iyo, Le’Ndor, sedih yang terperi itu, masa kalo kita brangkat ngantor anake dadah-dadah dengan riang giliran mbak’e mulih ditangisi ampek bengok-bengok. Perih kan? πŸ˜₯

  15. sama kaya temen-temen, udah mau terbawa suasan, eh dibuat ngakak. jail banget deh mba :0 qiqiqiq. eniwey, tulisan ini penuh inspirasi, ga dibuat2 namun tepat penyampaiannya. semoga sukses kontesnya ya mba.

    choco:

    Iya, ini nyata, Yank. Semoga gak kejadian ama yang lain ya 😦
    Eh, dah malem kok lom bpbok sih? πŸ˜€
    Makasiy ya, Yank, tapi kayaknya gak menang deh, abis emak jurinya malah pada ketawa 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s