Iseng Aja

Gadis Kota atau Gadis Pesisir?

Sungguh hati ini menjadi berbunga-bunga, berkupu-kupu, berangin-angin, dan tentu saja berdendang riang. Bagaimana tidak? Para sahabatku yang baik hati mendukung ke”pengen“anku untuk kembali menerbitkan cerbung.  Meski aku sesumbar bahwa kali ini ingin menerbitkan cerbung yang serius. Jauuuuuh lebih serius dari Marni dan Om Bimo apalagi Ramuan Cinta 😦

Ternyata Kawan, ada dua pilihan cerbung yang ingin kuramu. Yang satu serius banget, tapi romantis banget 😳 Satu lagi serius tapi agak becanda juga 😀

Sekarang aku bingung mau buat yang mana. Mari, Kawan tengok ide ceritanya (ini baru ide, karena lom dibuat 😛 )

Lukisan Cinta

  • Katagori: Serius abis, romantis, agak miris, dewasa
  • Tokoh: banyak, kompleks
  • Ide cerita: Sandra, seorang gadis kota yang berlibur-ato tepatnya baru saja keluar dari pekerjaannya– di pesisir pantura. Jatuh hati pada pemuda nelayan yang angkuh, Sang Poseidon! Sementara seorang dokter muda juga jatuh hati pada Sandra yang sudah bertunangan. Percintaan yang kompleks bahkan nyaris menimbulkan petaka.
  • Setting: pantai, laut, kampung nelayan, kota

Arum, Gadis Pesisir

  • Katagori: Komedi romantis, remaja
  • Tokoh: gak banyak
  • Ide cerita: Arum, gadis pantai bersuara emas. Ditemukan seorang pencari bakat. Pindah ke kota untuk meraih mimpi sebagai penyanyi. Jatuh bangun, jungkir balik menjadi seorang penyanyi yang diakui. Dijatuhi hati secara diam-diam oleh seorang penyanyi sekaligus pelatih vokalnya 🙂
  • Setting: pantai, kota

Mengapa sama-sama di pantai? Aku takut pada laut tapi aku suka pantai 😀

Mengapa selalu ada percintaan? Karena cinta itu indah, tak ada yang bosan pada cinta 😛 Kisah yang hampir mirip 🙂

Nah Kawan, bantulah aku menentukan kisah mana yang akan kubuat? Maafkan jika aku merepotkan, tapi saat ini aku memang sedang terobsesi jadi penulis dan pengen belajar menulis 😳

Dan maafkan, seperti biasa itu baru ide. Khusus yang Luksian Cinta sudah punya 32 halaman, karena sesungguhnya itu adalah embryo sebuah novel 😳 Dan sudah pasti belum selesai, apalagi yang opsi kedua, baru ada di benak 😛

Aduuuhh, berani-beraninya aku sesumbar seperti ini? Bahkan menyuruh Kawan untuk memilihkan?  😳

Tapiiiiii, bantu aku yaaaa…. ;;) Terimakasiiiiiy….. 😀

Iseng Aja

Pengen

Pengen bikin cerbung serius, kira-kira bisa gak ya? Ada yang mau membaca gak ya?

Kalau kau tak mencoba, darimana tau bisa atau tidak? Ada yang mau membaca atau tidak tak perlu kau risaukan. Membaca dan menulis itu harus dinikmati. Kalau tulisanmu tak nikmat ya tentu tak ada yang mau baca. Tapiiiii, nikmat atau tidak itu tergantung selera. Dan tiap orang punya selera berbeda-beda. Dari sekian banyak pembaca, pasti ada aja yang satu selera denganmu 🙂

Jadi, tulis aja nih?

Ya! Tulis aja!

Mmm….errrr….eeeehhh….. baiklah, aku akan coba! 😳

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

Don’t Kiss Him!

Hujan masih saja turun dengan derasnya. Langit kadang melemparkan cahaya yang menyilaukan, lalu suara guntur memekakkan telinga. Dan aku masih saja melihatnya termenung sendirian, sementara keluarga besar kami riuh menyambut hujan.

“Hai,” sapaku. Ia hanya menoleh sayu dan tersenyum tipis padaku.

“Kau masih saja memikirkannya ya?” Tanyaku. Ia mendekatiku dan menyentuhku halus.

“Tidak, Sayang. Aku hanya sedang menikmati hujan,” jawabnya. Tapi aku tahu ia berbohong. Matanya sedikit berkabut dan senyumnya dibuat-buat. Aku tak terlalu peduli sesungguhnya, karena kini ia telah jadi milikku sepenuhnya. Aku tersenyum padanya.

“Kau menyesali keputusanmu, Prince?”  Tanyaku lagi. Ia menggeleng kuat-kuat. Aku tersenyum puas.

Ingatanku melayang ke beberapa minggu lalu, saat kudapati ia bercengkrama dengan Sang Putri. Hatiku panas, mendidih dan nyaris meledak! Melihat kemesraan mereka berdua, saat Sang Putri membelai-belai Prince dan sesekali berkejaran. Ih, benci aku melihatnya!

Maka pada suatu sore, saat Prince tak mengunjungi Sang Putri, akulah yang mendatanginya ke dekat kolam di belakang istana. Dan benar saja, Sang Putri sedang duduk di kursi taman sambil menikmati teh sore. Cantik sekali putri itu, pantas saja Prince terpesona, huh! Aku sembunyi di balik daffodil dan menimbulkan bunyi gemerisik. Sang Putri menoleh ke arahku.

“Prince, kaukah itu?” Tanyanya dengan suara merdu luar biasa, membuatku merasa mempunyai suara paling sumbang di seluruh alam raya ini. Aku menampakkan diri. Sang Putri tampak kecewa melihatku.

“Ah, aku kira Prince,” keluh Sang Putri lalu kembali sibuk dengan tehnya. Kesal sekali aku, tak dipandang sebelah mata kehadiranku di sini. Maka kuinjak kakinya dan Sang Putri memekik.

“Dengarkan aku, Putri!” Geramku. Sang Putri ketakutan, kulihat tubuhnya menggigil, meski entah dia mengerti atau tidak perkataanku.

“Jangan sekali-sekali lagi kau dekati Prince, dia milikku! Jika kau masih saja bersamanya, maka aku akan menyerangmu bersama teman-temanku!” Ancamku. Melihat ekspresiku yang mungkin mengerikan dan tak karuan dengan suara tertahan di tenggorokan dan mata melotot, Sang Putri berlarian meninggalkanku. Huh!

Beberapa hari kemudian, kulihat Prince mendatangi Sang Putri dan mereka lagi-lagi bercengkrama. Amarahku telah memuncak! Kesabaranku habis sudah! Esok sorenya kukerahkan teman-temanku mendatanginya. Lagi-lagi aku menginjak kakinya.

Sang Putri memekik kecil dan memandangku dengan jijik.

“Dengar, Putri! Kuingatkan sekali lagi, jangan kau dekati Prince! Dan terutama, jangan sekali-sekali kau CIUM dia! Mengerti?” Bentakku. Sang Putri membuang muka, seolah tak mengerti perkataanku. Maka kupanggil kawan-kawanku yang sembunyi di balik rumpun daffodil, jumlahnya kira-kira dua puluh. Semua bertubuh besar dengan muka paling buruk dan mata melotot nyaris keluar.

Demi melihat kami, Sang Putri memekik ngeri dan berlari sambil berteriak-teriak. Aku terkikik-kikik melihatnya tunggang langgang. Kali ini, ia takkan pernah lagi mendatangi kolam di belakang istana.

Dan kini kupandangi Prince yang masih saja berduka. Kukecup pipinya lembut.

“Biarkan aku menghibur hatimu, Prince. Yuk, kita bergabung dengan yang lain. Sepertinya hujan tinggal gerimis saja, tentu sejuk dan indah untuk kita nikmati,” bujukku merayu. Prince tersenyum dan mengangguk.

Kami berdua melompat ke atas teratai dan bergabung bersama yang lainnya, memadukan suara dengan sisa hujan, bersatu dengan alam menyambut cinta yang kini milikku sepenuhnya (dan tentu saja kutukan yang terus melekat pada Prince).

Kung…kong…kung…kong…

PS. Gambar minjem dari Google 😉

Nimbrung Mikir · Nyam...nyam...sedaaap...

Sotoji Linaklijo

Rasanya sudah lamaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget aku gak posting hobiku yang satu ini ya, kuliner 😀 Aku memang hobi makan tapi aku gak hobi masak. Lha, kalo masak itu sudah berkutat di dapur lama, eeeehhhh habisnya cepet. Ih, rasanya gimanaaa gitu 😛

Sebagian Kawan tentu tau kalo aku ni hobi banget makan soto. Ada beberapa posting tentang soto di sini. Bahkan dalam tulisanku PT. Soker Indonesia yang membuat aku tertawa gak ketulungan di hadapan boss 😆 Nah, pada suatu hari kekasih mayaku, Iyha (huweeekksss) menginformasikan tentang lomba blog Sotoji padaku. Weits, bisa dapat soto gratis, kemudian mereview. Pucuk dicinta ulam tiba. Lha wong aku ini hobi makan soto tapi gak bisa masaknya :mrgreen: Maka tanpa mikir banyak-banyak langsung ku request Sotoji ini. Dan taraaaa….. tak berapa lama Sotojiku datang 😀

Sotoji 3 biji 😀

Melihat penampilannya, kedua malaikatku langsung tergoda. Mana hujan makan anget-anget pasti enak. Padahal aku mau masak dengan caraku hiks…. tapi demi memuaskan Jendral G, maka aku masak satu. Original, gak pake apa-apa!

Original

Percaya ato tidak, Kawan, Jendral G ini paling gak suka makan soto. Mau soto Jawa kek, Betawi kek, Sunda kek, Padang kek. Maka awalnya aku ragu doyan ato gak. Eh, ternyata doyan! Habis sendiri satu mangkok! Weksss, aku dan Cantik gak kebagian 😦

Beberapa hari kemudian, aku memasak Sotoji ini dengan caraku dan seleraku hehehe…. :mrgreen:

Yuk mariiiii……

  • Cuci bersih 4 bh ceker ayam, rebus hingga empuuuuuuuuuk bangget
  • Setelah empuk, masukkan 2 bungkus soun Sotoji, tambahkan air jika perlu
  • Masukkan jamur yang tersedia dalam kemasan
  • Masukkan 2 bh bakso (hihihihi….di kulkas tinggal dua, Jeng)
  • Aduk rata dengan penuh perasaan
  • Sementara itu tuang bumbu-bumbu dalam mangkuk
  • Setelah soun, jamur, dan bakso empuk, tuang dalam mangkuk bumbu
  • Oiya, tambahkan daun bawang dan perasan jeruk nipis
  • Hidangkan panas-panas

Nah, lha kiye SOTOJI LINAKLIJO a la chef chocoVanilla…… 😀

Menggodaaa.....

Menikmati soto paling enak dengan sambal kecap yaaa 😀

Tetap yang original 😀

Nah Kawan, inilah kisahku dengan Sotoji yang seger, rasa mantap, dan asli soto. Sungguh solusi di tengah kejenuhan menikmati mie instan dari waktu ke waktu. Sayangnya belum di release di market-market ya. Semoga segera bisa dijumpai kayak mie instan yang aneka macam itu.

Oh iyaaa, kok namanya SOTOJI LINAKLIJO siiiy? Hehehehe…. linaklijo itu ajaran Mbah Kakungku dulu. Jika kita menikmati makanan yang sangat lezat membuat lali anak lali bojo (linaklijo) yang artinya lupa anak lupa pasangan alias gak nengak-nengok 😛

Selamat mencobaaa….. 😀

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

Be My Queen

“Kamu harus menjadi ratuku!” Teriak James pada Laura.

“Aku gak mau, aku lebih suka jadi tabib!” Seru Laura tak mau kalah. Bergegas ia bereskan tas dokternya yang penuh dengan obat-obatan dan peralatan kedokteran.

“Tidak bisa, kamu cantik, rambut kamu panjang dan pirang, kamu pasti cocok jadi ratu.” James terus memaksa Laura. Masa hanya gara-gara itu harus menjadi ratu? Laura mengibaskan rambutnya dan berbalik menatap James yang gagah dengan mahkota emasnya.

“Kalau kamu rajanya aku jadi tabib saja. Aku senang memeriksa orang, memberi mereka obat dan membuat mereka sembuh,” kata Laura pedas. Raja James membelalak marah.

“Jadi kalo bukan aku yang jadi raja kamu mau jadi ratunya? Kalau Michael rajanya?” Tanya James menunjuk pada Michael yang diam saja sedari tadi. Laura melirik Michael dan tersenyum.

“Tentu saja. Kelak kami akan menikah dan hidup bahagia selamanya,” jawab Laura lembut. Michael hanya menunduk dan memperbaiki letak pedang di pinggangnya.

“Tidak bisa! Aku rajanya! Michael hanya panglima perang! Aku yang berkuasa di kerajaan ini!” Teriak James marah. Ia mendekati Laura dan menarik tangannya. Laura memberontak dan menangis.

“Lepaskan dia, James!” Seru Michael tiba-tiba sambil menghunus pedangnya.

“Kamu tidak usah ikut-ikutan!” Bentak James sambil terus memaksa Laura duduk di sampingnya.

Michael menarik lengan Laura yang bebas. Laura kesakitan dan menangis keras. Melihat Laura menangis keras-keras, James dan Michael melepaskan Laura dengan ketakutan.

“Kalian nakal! Aku gak mau lagi main dengan kalian!” Tangis Laura lalu pulang ke rumahnya.

PS. Gambar minjem dari Google 😉

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Nimbrung Mikir

Hadiah Istimewa untuk Budhe

Malam sudah semakin larut, tapi kantuk tak juga mau datang. Sementara gerimis di luar sana membuat hatiku ikut bergerimis. Bagaimana tidak, esok Budhe tercinta berulang tahun. Dan tak tahu aku hadiah apa mesti kuberikan. Lagi -lagi aku menyesali isi dalam dompetku yang hanya tinggal selembar seratus ribuan, selembar lima puluh ribuan, dan receh-receh yang bila dijumlah tak sampai lima puluh ribu. Ah, padahal aku tahu sekali Budhe sangat mendambakan satu set alat rajut yang pernah dilihatnya saat kuajak ke toko Cina beberapa minggu lalu.

Ketukan di pintu membuatku bangkit dari tempat tidurku.

“Eh, ada apa, Budhe? Belum tidur?” Tanyaku heran melihat Budhe di ambang pintu.

“Budhe gak bisa tidur, Le. Mau menemani Budhe minum teh?”

Dengan keheranan aku mengangguk dan mengikuti Budhe ke dapur. Kuperhatikan saat Budhe menyedu teh hangat untuk kami berdua. Betapa sudah sepuh Budhe tercintaku ini. Sejak kelas empat SD hingga bekerja begini aku memang ikut Budhe karena orang tuaku sudah tak ada. Budhe sudah kuanggap sebagai Ibuku sendiri.

“Minumlah, Le,” kata Budhe sembari menyuguhkan segera teh hangat untukku. Kuhirup teh manis yang selalu melegakan jika Budhe yang membuatnya.

“Maaf yo, Le, Budhe membangunkanmu tengah malam begini. Ah, tadi Budhe sudah tertidur tapi …..” Budhe tak melanjutkan perkataannya malah menghapus titik air mata di pipinya. Aku jadi bingung.

“Tapi apa, Budhe?”

“Tiba-tiba Pakdhemu datang, Le. Rasanya seperti nyata, dia…dia mengusap kening Budhe,” tangis Budhe. Aku terkejut. Pakdhe memang sudah berpulang belasan tahun lalu. Mengapa sekarang tiba-tiba Budhe memimpikannya?

“Trus Pakdhe bilang apa?”

“Gak bilang apa-apa. Budhe kangen, Le, pengen nyekar ke kampung,” lanjut Budhe. Aku memeluk Budhe yang Ibuku ini. Budhe menumpahkan segala pilunya.

“Hari Sabtu nanti, kita pulang, Bu. Mau? Kita nyekar Pakdhe sekalian Bapak Ibu. Aku juga merindukan mereka.”

“Tapi… warung Budhe lagi sepi, Le. Ndak cukup nanti buat pulang,” bisik Budhe. Aku tersenyum.

“Budhe tenang saja, Insya Allah Jumat nanti aku gajian. Hadiah dariku, Bu.”

“Hadiah?” Budhe terheran-heran. Aku memang belum pernah memberikan Budhe hadiah, karena tak pernah cukup gajiku jadi karyawan magang begini.

“Besok Budhe kan ulang tahun? Ini hadiah dariku ya, Bu?”

Budhe memelukku bahagia. Gaji bulan kedua ini akan kupersembahkan untuk Budhe tercinta. Selamat ulang tahun, Budhe.

************************

Horeeeee….ikutan kontes lagi. Moga-moga lom telaaat….

Artikel  ini dikutsertakan dalam Kontes Menulis Cerita Mini

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

Persaingan

“Jangan kau ambil roti isi itu, Susan! Itu pesananku dari pantry! Tidak pakai mentega dan sardin!”

“Hei, aku juga pesan yang sama, sudah jelas ini milikku. Ambillah roti yang lain!” gerutuku sambil tetap mengambil roti itu. Lusi, wanita yang paling tak mau kujumpai itu merengut dan segera menuju ke pantry. Ia memang selalu kalah jika bersaing denganku. Biar saja, toh aku yang datang duluan di sini.

Setelah sarapan di teras dengan dibuai angin yang masih dingin, aku membaca surat kabar. Tiba-tiba pagar terkuak dan masuklah seorang pria tampan dengan trolley bag besar. Sejenak ia melambai pada mobil yang baru saja mengantarnya. Lalu ia menuju ke arahku dan bertanya.

“Selamat pagi. Aku calon penghuni baru di sini, bisakah kau tunjukkan di mana kantornya?”

Dengan senang hati kuajak ia pavilion belakang, kukenalkan pada Ami yang bertugas lalu kutinggalkan mereka. Di kebun aku sempat melihat Lusi yang memandangiku penuh tanya.

“Mau apa dia, Susan?” tanyanya. Aku mengangkat bahu dan meninggalkannya.

******************************

Makan malam kali ini berlangsung hangat. Selain menu istimewa kesukaanku, kami semua dikenalkan dengan pria penghuni baru yang tadi pagi datang. Namanya Harry. Orangnya humoris dan menyenangkan. Nampaknya semua orang akan menyukainya. Kecuali, Lusi. Di manakah dia? Mengapa tak ikut makan malam? Ah, biarpun aku tak suka padanya tapi sepi rasanya jika ia tak ada. Rasanya tak seru karena tak ada yang kuajak berebut hal-hal yang kami sukai.

Usai makan malam kami masih ngobrol di ruang tengah. Sam memainkan piano dengan merdunya, sementara yang lain ada yang berdansa, ada yang membaca, atau sibuk sendiri-sendiri. Sekilas kulihat Lusi hendak bergabung, namun ketika melihat aku mengobrol dengan Harry ia bergegas keluar ruangan. Ada apa? Mengapa Lusi tampak aneh?

*****************************

“Jangan kau ambil kopiku, Susan. Itu pesananku dari pantry, tanpa cream.”

“Aku pesan yang sama. Ambillah kopi yang lain!” Lagi-lagi aku menggerutu dan tetap mengambil kopi hangat itu. Seperti biasa tanpa perlawanan hanya cemberut Lusi menuju ke pantry. Namun langkahnya terhenti di pintu, nyaris bertabrakan dengan Harry. Tanpa kata Lusi menerjang Harry dan berlari keluar. Sungguh tak sopan kurasa. Harry tak sempat berkata apa-apa bahkan mungkin tak sempat melihat Lusi, hanya mengangkat alis kebingungan.

“Dia Lusi, kau belum kenal dengannya. Yuk, kita sarapan di kebun,” ajakku. Harry mengambil secangkir kopi dan setangkup roti isi lalu mengikutiku ke kebun.

****************************

“Ambillah roti itu, Susan. Kurasa ini terakhir kalinya aku mengalah,” desah Lusi tanpa perlawanan ketika aku mengambil roti isi tanpa mentega itu. Aku heran. Aneh sekali perangai Lusi hari ini.

“Terakhir? Maksudmu?”

“Aku akan pindah pagi ini,” jawabnya. Aku terkejut. Pindah? Akukah penyebabnya? Setitik rasa bersalah bersarang di dadaku.

“Mengapa? Mengapa begitu mendadak?”

Lusi hanya tersenyum dan memelukku hangat.

“Aku akan merindukan pertengkaran kita, Susan,” ujarnya. Seseorang memasuki ruang sarapan. Ami, membawa surat yang harus ditandatangani Lusi.

“Sudah siap, Oma Lusi? Bob yang akan mengantar Oma ke panti yang baru,” kata Ami lalu meninggalkan kami berdua.

Aku masih bertanya-tanya tak mengerti. Tentu saja aku akan sangat kehilangan Lusi.

“Akukah penyebab kepindahanmu, Lusi?” Tanyaku penuh sesal. Lusi tertawa.

“Tentu saja bukan. Tapi Harry, ia mantan suamiku,” bisiknya lalu berlalu meninggalkanku.

PS. Gambar dipinjam dari Google 🙂

Dongeng insomnia · Iseng Aja · Serial Yu Minah

Valentine Digrebek

Sudah lebih seminggu aku gak singgah di warung Yu Minah, padahal kan masih punya utang enam ribu hihihihihi…. Meski tambah mahal tapi rujaknya memang membuat kecanduan 😀 Maka sore ini aku mendatangi warungnya. Seperti menjalani ritual, aku mengucap salam lalu duduk manis di bangku kebangsaan.

“Tumben lama ndak kemari, Jeng? Sampai kangen saya,” celotehnya begitu melihatku.

“Gak mau sering-sering, Yu, wong rujaknya sekarang mahal,” sahutku agak ketus. Alih-alih tersinggung Yu Minah malah cekikikan.

“Hihihihi….sampeyan ni lho, wong naik cuma tiga ribu kok ndak ikhlas to, Jeng?” godanya.

“Rujak ulek satu aja, Yu. Pedes tapi gak banget,” pesanku tanpa menanggapi godaannya. Kuambil surat kabar langganan Yu Minah. Heran, Yu Minah seneng banget baca koran gak jelas begini. Eh, lebih heran lagi kok ya aku ikutan baca hihihihihi…..

Tertulis headline “MENYAMBUT VALENTINE SEJUMLAH HOTEL MELATI DIGREBEK.” Aku tengok kanan kiri, ah sepi, langsung kulalap berita itu hihihihihi….. :mrgreen:

“Sampeyan dah baca sampe abis, Jeng?” tegur Yu Minah tiba-tiba. Tentu saja aku kaget.

“Sudah, Yu,” jawabku sambil buru-buru cari berita lainnya.

“Kok menurut saya ndak adil yo, Jeng,” ujar Yu Minah, tentu saja dengan goyangan ulekan yang hot. Aku terheran-heran.

“Gak adil gimana to, Yu?”

“Lha iya, itu hotel melati pada digrebek. Pasangan bukan suami istri pada ditangkepin, ada yang masih belia, ada yang sudah bau tanah, ada yang selingkuh,” gerutu Yu Minah semakin hot menggerus sambal. Aku malah bingung.

“Lha bagus kan? Di mana gak adilnya, Yu?”

“Sampeyan ini piye to, Jeng? Ya jelas gak adil! Kenapa kok cuma hotel-hotel melati yang digrebek? Lha yang hotel-hotel berbintang itu gimana? Di sana lebih buanyaaaak yang berbuat maksiat!” Cerocos Yu Minah sambil mengiris buah dengan gemas. Aku deg degan, takut kepotong jemarinya. Tapi aku diam saja.

“Itulah hidup di negara tercinta ini, Jeng. Kalo punya duit, ya slamet aja mau ngapain juga. Mau selingkuh di hotel bintang lima, mau pesta narkoba, wis pokoke kalo punya duit dijamin aman! Kalo mlarat ya siap-siap aja masuk bui kalo berbuat maksiat!”

Waduh, aku cuma garuk-garuk kepala gak tau mau ngomong apa. Ada benarnya juga ocehan Yu Minah ini. Uang bisa bicara.

“Mungkin kalo di hotel berbintang ada aturannya, Yu. Gak boleh nggrebek sembarangan, harus pake ijin kali,” akhirnya aku bicara meski ngasal aja. Sumpah, aku gak tau aturan mengenai perhotelan ini.

“Lha mau pake ijin mau enggak, kalo mau menegakkan tata krama, membersihkan penyakit amoral, ya harus adil. Yang mlarat digrebek yang kaya juga digrebek. Kalo harus pake ijin ya urus ijinnya. Berantas tuntas tas, gak usah pilih-pilih! Saya juga sebel kok sama orang-orang itu. Wong kiamat sudah dekat (kata Bang Deddy Mizwar) kok ya masih pada berani berbuat maksiat! Memangnya merayakan valentine harus dengan cara itu? Kasih sayang itu beda jauuuuh dengan syahwat, lho! Gak insap-insap, huh!”

Kalo Yu Minah sudah emosi dan ngelantur gini aku berharap rujaknya cepat-cepat selesai. Untunglah sudah tahap pembungkusan. Aku segera mengeluarkan uang.

“Nih Yu, sama utangku dulu.”

Melihat aku mengulurkan uang Yu Minah kembali tersenyum. Timbul keisenganku.

“Hati-hati Yu, warung sampeyan juga bakal digrebek lho.”

“Weh? Apanya yang mau digrebek, Jeng? Saya kan baik-baik saja?” tanya Yu Minah bingung.

“Rujaknya kemahalan!” sahutku sambil berlalu.

“Welhadalaaaah, sampeyan ini, Jeng, kok masih dendam aja siiiiiih?”

:mrgreen:

Cintaku · Nimbrung Mikir

Dua Malaikatku

Bukan semata-mata mengikuti kontes, namun ternyata ide brilliant dari Pakdee ini membuatku bersemangat mengumpulkan foto-foto Ryan dan Dinda (Si Guanteng dan Cantik), kedua malaikatku 😀

Meski mereka sudah mempunyai blog sendiri-sendiri buatan mereka, tapi yang kubuat adalah perjalanan malaikatku mulai dari kecil hingga saat ini. Dengan segala peristiwa lucu, sedih, dan menarik dari mereka 😀

Kalo Kawan sempat, tengoklah blog yang kubuat untuk kedua malaikatku ini, hehehehe…..

http://duamalaikatku.wordpress.com/

Hahahahaha…. kalo emaknya malu tampil, maka anaknya PD untuk tampil 😛

Thanks, Pakdee atas ide brilliant nya 😀

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Nimbrung Mikir

Keabadian?

Dedaunan itu masih saja luruh berguguran, meski musim telah berganti dan ranting-ranting nyaris membeku. Bahkan salju tipis dan lembut sudah mulai melayang-layang turun. Andai abadi itu ada, tentu dedaunan ini masih melekat pada rantingnya. Dan musim takkan pernah berganti.

Aku merapatkan syal yang membebat leher. Dingin jelas-jelas mampu menembus mantelku, setebal apapun. Namun hatiku hangat, mengingat siapa yang kutuju di taman ini. Ah, itu dia! Pria tampan berambut coklat yang duduk di bench¹. Senyumnya hangat, tangannya terentang menyambutku. Aku berlari kecil dan tenggelam dalam dekapannya.

“Aku rindu,” bisikku di bahunya. Ia membelai rambutku dan mengecupnya.

“Mengapa aku harus selalu menemuimu di sini? Mengapa tidak di tempatku saja, lalu kita berpelukan di depan perapian semalaman,” gumamku. Ia tertawa kecil. Dilepasnya pelukannya dan matanya menembus mataku.

“Kau tahu alasannya bukan? Di sinilah akhirku, dan hanya di sini kita bisa bertemu,” ujarnya.

Aku melenguh dan menyerah. Ia membimbingku duduk di sampingnya dan tak mau melepas pelukannya.

“Apa kabarmu, ma chérie²?” tanyanya sambil menjumput segumpal salju tipis dari bahuku.

“Pedih, selalu mengingatmu dan berharap selalu ada di sisimu,” desahku.

“Lalu mengapa tidak?” tanyanya.

Aku merogoh kantong mantelku. Di dalamnya kuraba botol kecil berisi cairan merah delima, amerta³. Carian keabadian yang kutemukan dari saku baju kekasihku beberapa waktu silam. Kukeluarkan kembali tanganku.

“Aku tak berani, amour,” bisikku. Bahuku sedikit menggigil entah kedinginan atau dibayangi kengerian.

“Hei, kau menggigil, chérie! Yuk, kita mainkan waltz seperti dulu.”

Ia membungkuk dan menarik tanganku. Aku tertawa menyambut uluran tangannya.

Kami berdansa di tengah hujan salju tipis, tentu saja diiringi orkestra dalam angan. Beberapa pasang mata menatapku keheranan. Aku tersenyum pada mereka dan sesekali mengangguk anggun.

“Lihatlah, mereka memandangi kita,” bisikku pada kekasihku. Ia menoleh ke arah orang-orang yang lalu lalang di sekitar kami.

“Mereka memandangmu, Sayang, bukan padaku. Karena kau terlihat cantik sekali malam ini,” ujarnya lalu tertawa kecil. Aku merona. Ia menciumku hangat. Dan orang-orang itu bahkan menghentikan langkahnya sejenak dan tersenyum. Aku semakin tersipu.

Musik nyaris berakhir dan dansa hampir usai. Ini saatnya perpisahan, aku sedih dan ingin menangis. Lelah dengan pertemuan sesaat seperti ini, hari demi hari, bulan demi bulan, nyaris setahun derita ini.

“Aku ingin ikut denganmu, amour,” bisikku.

“Ikutlah, Sayang, bukankah sejak pertama aku telah mengajakmu?” jawabnya penuh suka cita.

“Kau yakin, setelah itu kita akan selalu bersama? Tak terpisahkan? Abadi?” tanyaku ragu.

Ma chérie, pernahkah aku mendustaimu? Bahkan aku belum pernah tak datang sekalipun bukan?”

Aku tertunduk. Orang-orang semakin ramai menikmati salju pertama di musim ini. Taman tak lagi sepi. Semakin dekat waktunya untuk berlalu.

Lagi-lagi aku meraba saku mantelku. Kekasihku mulai menjauh dari pelukku, jauh, jauh, dan menghilang seperti asap. Aku limbung. Cairan ini telah berada dalam genggamanku.

Dalam keraguan, kurebahkan tubuhku di kursi taman. Lagi-lagi tubuhku menggigil, entah dingin entah apa. Kudekatkan cairan amerta itu ke bibirku, dan sebelum kehilangan keberanian kutelan cairan itu dalam satu tegukan lalu tanganku terkulai lemas.

Aliran sedingin es melewati kerongkonganku lalu turun ke lambung. Dalam sekali tarikan napas, aku berjuang menuju ke keabadian. Masih sempat kudengar orang-orang berlari ke arahku.

“Hei, kenapa gadis itu?”

“Sepertinya pingsan, seseorang cepat panggil ambulans!”

“Terlambat! Dia sudah mati!”

“Kasihan, hampir setiap malam ia ke sini, bercakap dan berdansa seorang diri.”

Tak mampu lagi kudengar suara-suara itu. Aku hanya merasa dingin, gelap, tersesat dan kebingungan. Mana? Mana kekasihku? Mana keabadian itu? Mengapa ia tak menjemputku?

 *********************************

bench¹ : bangku panjang

ma chérie² : kekasihku

amerta³ : minuman para dewa

amour⁴ : cinta

Cerita di atas hanya sekedar fiksi belaka, ditulis dalam rangka meramaikan Kontes Flashfiction Ambrosia yang diselenggarakan Dunia Pagi dan Lulabi Penghitam Langit.

 Horeeee…… ikutan kontes lagi 😀 Wish me luck 😉