Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

Pura-pura

Belum lama aku mengenalnya, mungkin baru sekitar 3 bulanan. Tapi ia sudah mampu mengisi kekosongan jiwaku, perasaan terbuangku dan tentu saja sepiku. Ia seorang pria yang menawan, humoris dan rasanya tak habis-habisnya cerita indah keluar dari mulutnya. Padahal belum lama istrinya meninggalkannya untuk selamanya. Aku selalu mengaguminya.

Seperti sore ini ketika aku kembali merasa hampa dan sepi, hanya termenung di kebun dan memeluk tali ayunan sambil termenung. Lalu ia datang dan mulai mendorong ayunanku perlahan.

“Mengapa setiap sore akhir pekan begini, selalu kudapati bunga lotusku termenung?” sapanya riang. Aku tertawa kecil.

“Mereka tak datang lagi hari ini. Aku kesepian,” sahutku. Ia menghentikan ayunannya dan duduk di sampingku. Tentu saja aku harus menggeser tubuhku ke samping agar ayunan ini muat untuk kami berdua.

“Mereka tentu sedang sibuk. Yuk, kita main pura-pura lagi,” ajaknya.

Aku senang. Dia punya cara aneh dalam menghiburku. Mengajakku bermain pura-pura sedang di…. gunung, bioskop, dinner di restoran, camping di hutan, barbekyu di pulau terpencil. Macam-macam. Kami menikmati sekali permainan itu karena cara menceritakannya seperti kami sedang benar-benar berada di tempat itu. Imajinasinya sungguh luar biasa.

“Kali ini ke mana kita?” tantangku. Ia memejamkan mata dengan lucu seolah sedang berpikir keras. Aku suka sekali gayanya, selalu membuat hatiku terhibur.

“Menikmati dinner romantis di pantai,” serunya sambil menjentikkan jarinya.

“Ah, jangan malam-malam nanti masuk angin,” godaku. Ia cemberut, mulutnya mengerucut. Aku suka sekali.

“Ini kan cuma pura-pura, jangan merusak suasana, ah!” Rajuknya. Aku tertawa.

“Baiklah, ayo kita mulai,” kataku. Ia lalu mengenggam tanganku dengan hangat. Ayunan kami ayun perlahan. Lalu ia memulai permainan ini.

“Saat ini, kita sedang berada di pantai. Angin sejuk, langit dan laut begitu birunya. Kau tak mau malam bukan? Lalu kita berdua duduk menghadap ke laut, menikmati hamparan samudera tanpa batas. Sesekali rambut keritingmu berkibaran tertiup angin (ia membelai rambutku). Suara debur ombak lembut sekali, seperti symphony yang memabukkan. Sesekali camar-camar itu hinggap di pasir putih, mencari hewan laut untuk santapannya.”

Ia berhenti sejenak. Seperti biasa, aku mulai terhipnotis dan merasa relaks. Kusandarkan kepalaku ke dadanya. Ia memelukku sementara senja semakin tua.

“Buih-buih ombak itu selalu memeluk pasir, seolah enggan meninggalkannya sendirian. Tapi ia harus selalu mengikuti alunan ombak.”

“Mengapa ia tak tinggal saja, supaya pasir tak lagi merasa sepi?” potongku.

“Buih itu ada karena ombak membawanya ke pantai dan pasir berusaha menyesapnya, Sayang. Buih itu tak abadi, ia akan memecah dan musnah. Namun ombak akan selalu mengantar buih-buih baru kepada pasir.” Lanjutnya. Tiba-tiba ia terdiam. Aku tahu, ia teringat mendiang istrinya. Kurasa ia bermain pura-pura yang sesungguhnya mengenang kemesraan bersam aistrinya. Tapi aku suka sekali permainan ini. Maka kuremas tangannya hangat.

“Hei, lalu mana dinner kita?” Tanyaku berusaha mengalihkan pikirannya. Ia tertawa.

“Oh, iya hahaha… Tak lama kemudian, seorang pelayan mengantarkan makanan untuk kita. Tentu saja sebelumnya mereka menyalakan lilin-lilin dalam gelas, dan seseorang memainkan biola di samping meja kita. Nanti aku akan pecahkan kepiting sedap ini untukmu. Dan kau suapkan lobster manis itu ke mulutku. Ah, setelah semua makanan kita habis, kita pindah duduk di sofa di tepi pantai.”

Ia diam lagi. Meski kadang ceritanya tak masuk akal, tapi aku sangat menikmatinya. Aku merapatkan syal ku, seolah angin laut itu benar-benar datang kemari dan membuatku kedinginan. Aku mendongak, menatap wajahnya meminta ia melanjutkan permainan pura-pura ini. Ia tersenyum lalu meneruskan ceritanya.

“Lalu kita akan duduk berpelukan seperti sekarang, saling menghangatkan. Menatap matahari yang mulai redup dan turun ke laut. Buih-buih ombak itu menggelitik kaki telanjang kita. Air laut masih sedikit hangat, seperti selimut air yang tebal. Lalu kita saling menggenggam, dan diam menatap matahari.”

Ia diam lagi. Aku pun terdiam, terhanyut akan ceritanya, dan benar-benar merasakan air laut yang hangat meneylimuti kakiku. Hingga mataku tertumbuk pada papan nama di pagar.

“Sayang…,” panggilku. Ia terbangun dari khayalnya.

“Papan nama itu menggangguku,” bisikku,” Menghalangiku memandang matahari.”

Ia menghela napas panjang lalu memandang papan nama besar itu.

“Ah, kau merusak suasana lagi,” keluhnya. Tapi tangan keriputnya masih menggenggam tanganku yang sama keriputnya. Dan mata kami sama-sama memandang plang nama yang menyedihkan itu.

PANTI JOMPO

KASIH ABADI

Jl. Nirwana 12

NEVERLAND