Keabadian?

Dedaunan itu masih saja luruh berguguran, meski musim telah berganti dan ranting-ranting nyaris membeku. Bahkan salju tipis dan lembut sudah mulai melayang-layang turun. Andai abadi itu ada, tentu dedaunan ini masih melekat pada rantingnya. Dan musim takkan pernah berganti.

Aku merapatkan syal yang membebat leher. Dingin jelas-jelas mampu menembus mantelku, setebal apapun. Namun hatiku hangat, mengingat siapa yang kutuju di taman ini. Ah, itu dia! Pria tampan berambut coklat yang duduk di bench¹. Senyumnya hangat, tangannya terentang menyambutku. Aku berlari kecil dan tenggelam dalam dekapannya.

“Aku rindu,” bisikku di bahunya. Ia membelai rambutku dan mengecupnya.

“Mengapa aku harus selalu menemuimu di sini? Mengapa tidak di tempatku saja, lalu kita berpelukan di depan perapian semalaman,” gumamku. Ia tertawa kecil. Dilepasnya pelukannya dan matanya menembus mataku.

“Kau tahu alasannya bukan? Di sinilah akhirku, dan hanya di sini kita bisa bertemu,” ujarnya.

Aku melenguh dan menyerah. Ia membimbingku duduk di sampingnya dan tak mau melepas pelukannya.

“Apa kabarmu, ma chérie²?” tanyanya sambil menjumput segumpal salju tipis dari bahuku.

“Pedih, selalu mengingatmu dan berharap selalu ada di sisimu,” desahku.

“Lalu mengapa tidak?” tanyanya.

Aku merogoh kantong mantelku. Di dalamnya kuraba botol kecil berisi cairan merah delima, amerta³. Carian keabadian yang kutemukan dari saku baju kekasihku beberapa waktu silam. Kukeluarkan kembali tanganku.

“Aku tak berani, amour,” bisikku. Bahuku sedikit menggigil entah kedinginan atau dibayangi kengerian.

“Hei, kau menggigil, chérie! Yuk, kita mainkan waltz seperti dulu.”

Ia membungkuk dan menarik tanganku. Aku tertawa menyambut uluran tangannya.

Kami berdansa di tengah hujan salju tipis, tentu saja diiringi orkestra dalam angan. Beberapa pasang mata menatapku keheranan. Aku tersenyum pada mereka dan sesekali mengangguk anggun.

“Lihatlah, mereka memandangi kita,” bisikku pada kekasihku. Ia menoleh ke arah orang-orang yang lalu lalang di sekitar kami.

“Mereka memandangmu, Sayang, bukan padaku. Karena kau terlihat cantik sekali malam ini,” ujarnya lalu tertawa kecil. Aku merona. Ia menciumku hangat. Dan orang-orang itu bahkan menghentikan langkahnya sejenak dan tersenyum. Aku semakin tersipu.

Musik nyaris berakhir dan dansa hampir usai. Ini saatnya perpisahan, aku sedih dan ingin menangis. Lelah dengan pertemuan sesaat seperti ini, hari demi hari, bulan demi bulan, nyaris setahun derita ini.

“Aku ingin ikut denganmu, amour,” bisikku.

“Ikutlah, Sayang, bukankah sejak pertama aku telah mengajakmu?” jawabnya penuh suka cita.

“Kau yakin, setelah itu kita akan selalu bersama? Tak terpisahkan? Abadi?” tanyaku ragu.

Ma chérie, pernahkah aku mendustaimu? Bahkan aku belum pernah tak datang sekalipun bukan?”

Aku tertunduk. Orang-orang semakin ramai menikmati salju pertama di musim ini. Taman tak lagi sepi. Semakin dekat waktunya untuk berlalu.

Lagi-lagi aku meraba saku mantelku. Kekasihku mulai menjauh dari pelukku, jauh, jauh, dan menghilang seperti asap. Aku limbung. Cairan ini telah berada dalam genggamanku.

Dalam keraguan, kurebahkan tubuhku di kursi taman. Lagi-lagi tubuhku menggigil, entah dingin entah apa. Kudekatkan cairan amerta itu ke bibirku, dan sebelum kehilangan keberanian kutelan cairan itu dalam satu tegukan lalu tanganku terkulai lemas.

Aliran sedingin es melewati kerongkonganku lalu turun ke lambung. Dalam sekali tarikan napas, aku berjuang menuju ke keabadian. Masih sempat kudengar orang-orang berlari ke arahku.

“Hei, kenapa gadis itu?”

“Sepertinya pingsan, seseorang cepat panggil ambulans!”

“Terlambat! Dia sudah mati!”

“Kasihan, hampir setiap malam ia ke sini, bercakap dan berdansa seorang diri.”

Tak mampu lagi kudengar suara-suara itu. Aku hanya merasa dingin, gelap, tersesat dan kebingungan. Mana? Mana kekasihku? Mana keabadian itu? Mengapa ia tak menjemputku?

 *********************************

bench¹ : bangku panjang

ma chérie² : kekasihku

amerta³ : minuman para dewa

amour⁴ : cinta

Cerita di atas hanya sekedar fiksi belaka, ditulis dalam rangka meramaikan Kontes Flashfiction Ambrosia yang diselenggarakan Dunia Pagi dan Lulabi Penghitam Langit.

 Horeeee…… ikutan kontes lagi 😀 Wish me luck 😉

Iklan

12 thoughts on “Keabadian?

  1. Mabruri Sirampog Februari 10, 2012 / 2:25 pm

    wwweeeww,, kerennnn

    kasihan banget mpe mati. coba kalau aku ada di sana, pasti tk tolongin..hiiih

    mana ada yg abadi di dunia ini ya bu??

    sukses bu ngontesnya,,, menang lagi pokoke 😀


    Adoh, MasBrur, nang Eropa kono 😀
    Tak ada yang abadi, Mas, keabadian hanya milikNya 😀
    Waa, makasiy yaaa, semoga beruntung lagi 😛

  2. ~Amela~ Februari 10, 2012 / 2:37 pm

    kereeen mbaak.. sukses nih ngayalnyaa ya..
    terimakasih udah meramaikan..
    bingung deh bingung deh si abi ngejurinya 😀


    Waaa, thanks Mellaaaa…..
    Semoga Abi khilaf dan memilihku yaa :mrgreen:

  3. ~Amela~ Februari 10, 2012 / 2:37 pm

    gud lak 😀


    Thanks, Honey 😀

  4. Lidya Februari 10, 2012 / 2:40 pm

    butuh kehangatan mbak? aku bawain jaket deh 🙂


    Ouh, Jeng Lid, so sweet…. 😀 (ama sup anget sekalian yaaa 😛 )

  5. yustha tt Februari 10, 2012 / 3:05 pm

    wah…kaya romeo n juliet aja….
    Keren.. Jempol sejuta…


    Iya ya, jadi keingetan 😀
    Maturnuwun, Jeng 😳 Waduh, kuwi sejuta jempole wong sak Jepang digowo kabeh to? 😆

  6. Imelda Februari 10, 2012 / 8:40 pm

    suka!


    Makasiy, BuEm 😀

  7. Lidya Februari 10, 2012 / 11:54 pm

    mbaaak, komenku di blognya sicantik dansiganteng masuk spam kayanya ya


    Iya Jeng, satpam di sana galak banget 😦

  8. tiara Februari 11, 2012 / 12:42 am

    nice FF 😀


    Thanks, yaa 😀

  9. toko baju wanita Februari 11, 2012 / 10:30 am

    bagus tulisannya…salam kenal dan sukses slalu ya…ditunggu lho tulisan selanjutnya…:P


    Makasiy, Jeng 😀

  10. advertiyha Februari 11, 2012 / 10:56 am

    aku gak jadi ikut…!!
    minder abissssssssssss,,,, apiikkk pwooolll say.. 🙂

    gutlak..
    menang bagi 2 yooo… hahahha


    Waaa, kok gak jadi? Ikut ajaaaaa…… biar rame yuuukkk….
    Thanks yo, Say 😀

  11. necky Februari 11, 2012 / 2:12 pm

    wah…wah….ajarin donk caranya buat FF….minimal step stepnya lah….maklum nih ga pernah buat FF…mau mulai aja udh bingung sendiri


    Serius nih, Bang? Kalo serius nanti aku bagi tipsnya, kalo ngajarin gak bisa wong aku juga baru belajar kok 😀

  12. Orin Februari 13, 2012 / 2:40 pm

    Wuiiihhh…keren seperti biasanya bu Choco *jempol*

    Thanks, Orin 😀 Mana punyamu, Say?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s