Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

Persaingan

“Jangan kau ambil roti isi itu, Susan! Itu pesananku dari pantry! Tidak pakai mentega dan sardin!”

“Hei, aku juga pesan yang sama, sudah jelas ini milikku. Ambillah roti yang lain!” gerutuku sambil tetap mengambil roti itu. Lusi, wanita yang paling tak mau kujumpai itu merengut dan segera menuju ke pantry. Ia memang selalu kalah jika bersaing denganku. Biar saja, toh aku yang datang duluan di sini.

Setelah sarapan di teras dengan dibuai angin yang masih dingin, aku membaca surat kabar. Tiba-tiba pagar terkuak dan masuklah seorang pria tampan dengan trolley bag besar. Sejenak ia melambai pada mobil yang baru saja mengantarnya. Lalu ia menuju ke arahku dan bertanya.

“Selamat pagi. Aku calon penghuni baru di sini, bisakah kau tunjukkan di mana kantornya?”

Dengan senang hati kuajak ia pavilion belakang, kukenalkan pada Ami yang bertugas lalu kutinggalkan mereka. Di kebun aku sempat melihat Lusi yang memandangiku penuh tanya.

“Mau apa dia, Susan?” tanyanya. Aku mengangkat bahu dan meninggalkannya.

******************************

Makan malam kali ini berlangsung hangat. Selain menu istimewa kesukaanku, kami semua dikenalkan dengan pria penghuni baru yang tadi pagi datang. Namanya Harry. Orangnya humoris dan menyenangkan. Nampaknya semua orang akan menyukainya. Kecuali, Lusi. Di manakah dia? Mengapa tak ikut makan malam? Ah, biarpun aku tak suka padanya tapi sepi rasanya jika ia tak ada. Rasanya tak seru karena tak ada yang kuajak berebut hal-hal yang kami sukai.

Usai makan malam kami masih ngobrol di ruang tengah. Sam memainkan piano dengan merdunya, sementara yang lain ada yang berdansa, ada yang membaca, atau sibuk sendiri-sendiri. Sekilas kulihat Lusi hendak bergabung, namun ketika melihat aku mengobrol dengan Harry ia bergegas keluar ruangan. Ada apa? Mengapa Lusi tampak aneh?

*****************************

“Jangan kau ambil kopiku, Susan. Itu pesananku dari pantry, tanpa cream.”

“Aku pesan yang sama. Ambillah kopi yang lain!” Lagi-lagi aku menggerutu dan tetap mengambil kopi hangat itu. Seperti biasa tanpa perlawanan hanya cemberut Lusi menuju ke pantry. Namun langkahnya terhenti di pintu, nyaris bertabrakan dengan Harry. Tanpa kata Lusi menerjang Harry dan berlari keluar. Sungguh tak sopan kurasa. Harry tak sempat berkata apa-apa bahkan mungkin tak sempat melihat Lusi, hanya mengangkat alis kebingungan.

“Dia Lusi, kau belum kenal dengannya. Yuk, kita sarapan di kebun,” ajakku. Harry mengambil secangkir kopi dan setangkup roti isi lalu mengikutiku ke kebun.

****************************

“Ambillah roti itu, Susan. Kurasa ini terakhir kalinya aku mengalah,” desah Lusi tanpa perlawanan ketika aku mengambil roti isi tanpa mentega itu. Aku heran. Aneh sekali perangai Lusi hari ini.

“Terakhir? Maksudmu?”

“Aku akan pindah pagi ini,” jawabnya. Aku terkejut. Pindah? Akukah penyebabnya? Setitik rasa bersalah bersarang di dadaku.

“Mengapa? Mengapa begitu mendadak?”

Lusi hanya tersenyum dan memelukku hangat.

“Aku akan merindukan pertengkaran kita, Susan,” ujarnya. Seseorang memasuki ruang sarapan. Ami, membawa surat yang harus ditandatangani Lusi.

“Sudah siap, Oma Lusi? Bob yang akan mengantar Oma ke panti yang baru,” kata Ami lalu meninggalkan kami berdua.

Aku masih bertanya-tanya tak mengerti. Tentu saja aku akan sangat kehilangan Lusi.

“Akukah penyebab kepindahanmu, Lusi?” Tanyaku penuh sesal. Lusi tertawa.

“Tentu saja bukan. Tapi Harry, ia mantan suamiku,” bisiknya lalu berlalu meninggalkanku.

PS. Gambar dipinjam dari Google 🙂