Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

Don’t Kiss Him!

Hujan masih saja turun dengan derasnya. Langit kadang melemparkan cahaya yang menyilaukan, lalu suara guntur memekakkan telinga. Dan aku masih saja melihatnya termenung sendirian, sementara keluarga besar kami riuh menyambut hujan.

“Hai,” sapaku. Ia hanya menoleh sayu dan tersenyum tipis padaku.

“Kau masih saja memikirkannya ya?” Tanyaku. Ia mendekatiku dan menyentuhku halus.

“Tidak, Sayang. Aku hanya sedang menikmati hujan,” jawabnya. Tapi aku tahu ia berbohong. Matanya sedikit berkabut dan senyumnya dibuat-buat. Aku tak terlalu peduli sesungguhnya, karena kini ia telah jadi milikku sepenuhnya. Aku tersenyum padanya.

“Kau menyesali keputusanmu, Prince?”  Tanyaku lagi. Ia menggeleng kuat-kuat. Aku tersenyum puas.

Ingatanku melayang ke beberapa minggu lalu, saat kudapati ia bercengkrama dengan Sang Putri. Hatiku panas, mendidih dan nyaris meledak! Melihat kemesraan mereka berdua, saat Sang Putri membelai-belai Prince dan sesekali berkejaran. Ih, benci aku melihatnya!

Maka pada suatu sore, saat Prince tak mengunjungi Sang Putri, akulah yang mendatanginya ke dekat kolam di belakang istana. Dan benar saja, Sang Putri sedang duduk di kursi taman sambil menikmati teh sore. Cantik sekali putri itu, pantas saja Prince terpesona, huh! Aku sembunyi di balik daffodil dan menimbulkan bunyi gemerisik. Sang Putri menoleh ke arahku.

“Prince, kaukah itu?” Tanyanya dengan suara merdu luar biasa, membuatku merasa mempunyai suara paling sumbang di seluruh alam raya ini. Aku menampakkan diri. Sang Putri tampak kecewa melihatku.

“Ah, aku kira Prince,” keluh Sang Putri lalu kembali sibuk dengan tehnya. Kesal sekali aku, tak dipandang sebelah mata kehadiranku di sini. Maka kuinjak kakinya dan Sang Putri memekik.

“Dengarkan aku, Putri!” Geramku. Sang Putri ketakutan, kulihat tubuhnya menggigil, meski entah dia mengerti atau tidak perkataanku.

“Jangan sekali-sekali lagi kau dekati Prince, dia milikku! Jika kau masih saja bersamanya, maka aku akan menyerangmu bersama teman-temanku!” Ancamku. Melihat ekspresiku yang mungkin mengerikan dan tak karuan dengan suara tertahan di tenggorokan dan mata melotot, Sang Putri berlarian meninggalkanku. Huh!

Beberapa hari kemudian, kulihat Prince mendatangi Sang Putri dan mereka lagi-lagi bercengkrama. Amarahku telah memuncak! Kesabaranku habis sudah! Esok sorenya kukerahkan teman-temanku mendatanginya. Lagi-lagi aku menginjak kakinya.

Sang Putri memekik kecil dan memandangku dengan jijik.

“Dengar, Putri! Kuingatkan sekali lagi, jangan kau dekati Prince! Dan terutama, jangan sekali-sekali kau CIUM dia! Mengerti?” Bentakku. Sang Putri membuang muka, seolah tak mengerti perkataanku. Maka kupanggil kawan-kawanku yang sembunyi di balik rumpun daffodil, jumlahnya kira-kira dua puluh. Semua bertubuh besar dengan muka paling buruk dan mata melotot nyaris keluar.

Demi melihat kami, Sang Putri memekik ngeri dan berlari sambil berteriak-teriak. Aku terkikik-kikik melihatnya tunggang langgang. Kali ini, ia takkan pernah lagi mendatangi kolam di belakang istana.

Dan kini kupandangi Prince yang masih saja berduka. Kukecup pipinya lembut.

“Biarkan aku menghibur hatimu, Prince. Yuk, kita bergabung dengan yang lain. Sepertinya hujan tinggal gerimis saja, tentu sejuk dan indah untuk kita nikmati,” bujukku merayu. Prince tersenyum dan mengangguk.

Kami berdua melompat ke atas teratai dan bergabung bersama yang lainnya, memadukan suara dengan sisa hujan, bersatu dengan alam menyambut cinta yang kini milikku sepenuhnya (dan tentu saja kutukan yang terus melekat pada Prince).

Kung…kong…kung…kong…

PS. Gambar minjem dari Google 😉