Cintaku · Iseng Aja

Solidaritas

Seperti biasa, laporan penggunaan uang saku.

Aku      : Cantiiiik, tadi beli apa di sekolah, Nak?

Cantik : Beli susu, Bundaaa.

Aku      : Ooo, trus beli apa lagi?

Cantik : Cuma beli susu, kan harganya empat ribu masih sisa seribu, tapi udah habis.

Aku      : Lho, kok habis? Katanya masih sisa seribu?

Cantik : Gini Bunda, tadi pas pulang Diba beli pop mie trus kesenggol kakak kelas enam. Tumpah deh sampai abis, Dibanya nangis.

Aku      : Kakak kelas enamnya kabur?”

Cantik : Cuma bilang “gak papa kan, Dek?” trus pergi deh. Padahal tangan Diba sakit kena panas sama katanya dia laper banget.

Aku      : Trus?

Cantik : Ya udah Adek kasih uang yang seribu, trus Shahnaz kasih juga seribu, sama uang Diba sendiri seribu. Trus Diba beli lagi tapi yang kecil.

Aku     : Ouuhh, pinter, bagus itu, Nak. Kita memang harus menolong teman yang kesusahan.

Dan kupeluk erat gadis kecilku 🙂

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Serial Yu Minah · Tak Enak

Nggilani!!!

Tumben sekali setelah sekian hari Bogor panas membara dengan temperatur 33 – 35° C, hari ini hujan turun dengan indahnya. Sueger, adem, meski diiringi geluduk yang membahana. Dan ketika rinai berubah menjadi rintik, aku menyambangi warung Yu Minah dengan payung berumbai-rumbai. Sepi warungnya. Siapa pula yang akan berkunjung di antara gerimis dan basah? character00292 Free Emoticons   Characters

Salam kuteriakkan dengan merdu bernada dasar A minor dan Yu Minah tergopoh-gopoh keluar.

“Eeee, Jeeeeng, lha kok lama sekali ndak mampir sini to? Lha ini ndak kerja? Kok tumben jam segini udah nongol?” Sapanya riuh rendah. Aku langsung duduk di bangku kecintaanku sambil sedikit mengibaskan sisa gerimis di gerai rambutku (halah…halah…).

“Bolos, Yu. Katanya mau ada demo besar-besaran, daripada terjebak kayak waktu itu mendingan bolos aja deh. Rujak ulek ya Yu, pedes,” sahutku. Yu Minah mulai menyiapkan bahan-bahan rujak.

“Walaaah, sampeyan ini, dikit-dikit bolos, wong demo aman-aman aja kok?”

“Cuti, Yu, bukan bolos. Lagipula apa sampeyan berani jamin kalo aman? Tuh di beberapa kota di luar udah rusuh,” ujarku, “Apalagi katanya ada yang bawa senjata rahasia segala.”

“Heh? Senjata apa tuh? Apa kayak senjatanya Naruto gitu, Jeng?” Tanya Yu Minah dengan heran. Goyangannya membuatku ikut bergetar dari bangkuku. Aku tengok kiri kanan takut ada yang mendengar.

Tinja, Yu!” Bisikku.

“Heehhh???” Nyaris saja ulekan segede Gaban itu terlempar ke arahku. Untung aku sigap dan segera berkelit dengan kuda-kuda yang kokoh.

“Sampeyan ni ngawur, Jeng? Lha dapet tinja darimana sebanyak itu? Mbawanya pake apa?” Tanyanya takjub.

“Iihh, ya gak tau, Yu. Sampeyan ini kok nggilani temen to, segala mbawanya gimana ditanyain?” Perutku nyaris bergolak karenanya sick0022 Free Sick Emoticons

“Kok sekarang aneh-aneh ya, demo kok bawa gituan. Menurut saya gak eleikhan itu, gak mencerminkan intelektual! Meskipun gak berbahaya tapi itu merupakan penghinaan luar biasa. Njijiki, siapapun jika kena barang keramat itu pasti akan terhina dan justru memicu kemarahan,” kata Yu Minah dengan gemas. Kata-kata eleikhan itu mengingatkanku pada seorang Om-om yang baru saja patah giginya innocent0009 Free Emoticons   Innocent

“Katanya senjata rahasia itu paling aman, Yu, gak kena pasal hukum karena gak melukai, jadi masih sah,” jelasku setelah tadi membaca berita di inet.

“Kalo gitu harus segera dibikin UU baru, ndak boleh pake barang-barang yang njijiki dan nggilani gitu!” Sergah Yu Minah. Dengan emosi yang sedikit membara itu aku jadi ngeri rujakku terlalu pedas. Maka kuawasi dengan seksama berapa cabai yang telah diuleknya.

“Lagian menurut saya BBM naik itu wajar saja yo, Jeng? Lha daripada gak boleh beli sama sekali, disuruh beli pertamax kan harganya malah makin mahal.”

Wah, nek Yu Minah sudah ngajak debat gini males aku. Banyak pendapat tentang perlu gak naiknya BBM, dengan data dan angka yang rakyat macam aku ini apa mudheng? Males! Males! Semua punya kepentingan dengan tiap argumennya. Rakyat ketjil macam aku ni tinggal menikmati dampaknya saja. BBM naik maka ongkos naik, beras naik, listrik naik, yang gak naik paling-paling dasterku saja, malah makin panjang karena makin kurus badanku (Kuruuss? Dari Hongkong??) Dibilang apatis yo wis ben. Emang udah muak semuak-muaknya melihat data yang entah akurat atau hasil menyulap.

“Wah, nek soal gituan aku gak ngikutin, Yu. Males! Mestinya kalo mo naikin harga itu pemerintah gak usah ngomong-ngomong. Bilang aja mau naik, kapannya gak usah kasih tau. Kan gak perlu ada demo gini,” umpatku kesal. Yu Minah sudah mulai membungkus rujakku.

“Weeh, ya ndak bisa gitu, Jeng. Memangnya sampeyan gak protes kalo tiba-tiba beli bensin harganya naik tanpa pemberitahuan?” Sergah Yu Minah. Aku merogoh dompet untuk menyiapkan uang.

“Lha kan sudah diberitahu mau naik. Kalo diumumkan per tanggal segini naik nanti malah pada nimbun, isyu macem-macem bertebaran gak jelas, dan tentu demo heboh kayak sekarang,” sahutku sambil menerima rujakku.

“Tetap aja gak boleh, Jeng. Kalo ada kenaikan BBM, listrik, PAM dll harus disosialisasikan dulu, kan menyangkut hajat orang banyak. Jangan tiba-tiba mak jegagik harga naik, lha apa ndak malah menuai protes?”

“Ah, buktinya rujak sampeyan naiknya tiba-tiba, tanpa pemberitahuan. Dan biar diprotes harganya tetap segitu kan?” Sahutku lalu ngeloyor pergi.

“Welhadalaaah, wong sudah lama kok sampeyan masih dendam aja to, Jeeeng?”

tongue0003 Free Emoticons   Sticking Out Tongue

Iseng Aja

Lukisan Cinta, Episode 4

Sebelumnya, baca yang lalu dulu yaa….

BAB DUA

PASIR BASAH

“Sejak ratusan atau ribuan tahunkah

Butir-butir pasir  menerima lautan dengan penuh kerahiman

Menyesap asinnya garam dan menelan buih-buih pahit

Pasir, seringkali lebih menjanjikan kehangatan”

 Episode 4

Sandra bergegas menyusul Tante Liz ke dalam mobil. Malam ini ia diajak Tante Liz untuk menghadiri perayaan ulang tahun kedua RS. Apollo tempat Tante Liz memimpin. Sebenarnya Sandra enggan ikut tapi tak sampai hati ia mengecewakan Tantenya yang sudah begitu baik padanya. Apalagi Om Darma, suami Tante Liz yang sedianya akan datang dari Jakarta mendadak tak jadi datang karena ada urusan dinas.

“Ini acara buat seluruh karyawan, Tan?”

“Gak, malam ini khusus direksi dan para dokter. Untuk karyawan dan keluarganya minggu depan piknik ke Pantai Alam Indah.”

“Wuih, asyik banget? Boleh ikutan gak?”

“Boleh, mau ikut yang kapan? Sabtu depan atau depannya lagi?”

“Lho, emang dua kali, Tan?”

“Iyalah, gantian, kalo gak rumah sakit tutup, dong?”

“Ooo, hmmm…. Sabtu depan aja deh, ya.”

“Siipp lah.”

Tak sampai tiga puluh menit mereka tiba di rumah sakit. Tante Liz menyerahkan kunci pada petugas valet dan segera menuju auditorium di lantai tujuh. Sandra mengekor saja di samping Tantenya. Suasana sudah tampak ramai. Beberapa orang manager segera menghampiri mereka. Tante Liz mengenalkan Sandra pada mereka. Berbarengan mereka masuk menuju auditorium. Ruangan sudah nyaris penuh. Di tengah ruangan sudah tertata menu buffet sedangkan aneka pondok-pondok hidangan berjajar di pinggir-pinggir. Persis acara pernikahan saja. Di depan dengan latar belakang hiasan dan tulisan besar ulang tahun RS. Apollo berdiri panggung rendah yang ditata dengan apik. Untuk tamu-tamu VIP disediakan round table yang ditata dengan anggun.

Tante Liz mengajaknya menuju salah satu meja yang telah disediakan untuknya. Selanjutnya Sandra bak sapi cantik yang siap disembelih untuk hari raya kurban. Bagaimana tidak? Tantenya yang ibu direktur itu segera dikelilingi orang-orang dan tamu-tamu. Sementara Sandra tak tahu harus berbuat apa atau bicara apa. Akhirnya diam-diam ia meninggalkan meja dan segera hinggap di sudut ruangan dekat meja soft drink diletakkan. Diambilnya gelas kecil berisi fanta merah dan langsung diminumnya hingga tandas.

“Wah, haus sekali nampaknya?” Suara lembut seseorang mengejutkannya. Sandra menoleh ke samping. Seorang pria muda yang bertampang lumayan tersenyum padanya. Sederet gigi putih dipamerkannya bak iklan pasta gigi. Sandra tersenyum. Pria itu mengulurkan tangan padanya.

“Frans, Dokter Frans Hena ” ujarnya memperkenalkan diri. Sandra menyambut uluran tangannya.

“Sandra.”

“Kulihat tadi kau datang bersama dr. Liza?” Sejenak Sandra bingung. Lalu tersenyum sendiri. Dr. Liza, tak biasa ia mendengar nama itu.

“Iya, beliau tanteku,” sahutnya pendek. Entah mengapa malam ini ia sedang malas bercakap-cakap dengan siapapun.

“Owh, kok aku gak pernah melihatmu?” Duh, cerewet sekali sih, batin Sandra dalam hati.

“Aku belum lama datang ke kota ini, sedang berlibur, aku tinggal di Jakarta,” jawab Sandra panjang berharap tak ada lagi pertanyaan-pertanyaan. Baru saja dokter itu hendak membuka mulut lagi, MC mengumunkam bahwa acara segera dimulai dengan sambutan dari direktur rumah sakit. Kesempatan bagi Sandra untuk meninggalkan Frans dan segera mengambil kamera andalannya. Bergegas ia ke depan agar bisa mengabadikan Tantenya yang sedang memberi sambutan.

Acara berlangsung hingga larut dengan Frans yang tak henti-hentinya mengekor ke manapun Sandra melangkah. Hih, agak kesal ia sebenarnya walaupun akhirnya dapat menikmati obrolan dengan pria yang ternyata sangat nyambung dan juga hobi fotografi itu

“Kapan-kapan aku akan tunjukkan hasil foto-fotoku ya, juga cara mengedit agar foto nampak lebih soft dan alami,” ujarnya.

“Wah, dengan senang hati. Hasil jepretanku memang masih polos apa adanya, “ balas Sandra.

“Sabtu depan kita janjian di sini?”

Sandra hampir saja mengiyakan ketika teringat bahwa ia akan ikut Tantenya piknik ke pantai.

“Mm, mungkin Sabtu depannya lagi kalau Dokter gak ada cara?”

“Ah, sudah selama ini kita ngobrol, panggil saja aku Frans, tanpa embel-embel dokter, okay?”

Sandra mengangguk dan tertawa kecil. Pria ini sebetulnya cukup menarik, dengan tubuh atletis dan wajah lumayan. Usianya mungkin sekitar tiga puluh limaan, lebih tua dari Aryo. Obrolan pun terhenti karena Tante Liz telah menelponnya dan mengajak pulang. Sandra segera melepaskan diri dari Frans dan menyusul Tantenya di pintu auditorium.

“Tampaknya kau sudah punya kenalan baru, Non?” Tanya Tante Liz ketika mobil mereka melaju menuju rumah.

“Iya, dr. Frans Hena. Dokter apa dia, Tan?”

“Frans? Oh, dia internis baru lulus, tapi cerdas dan cekatan. Dan lagi, ia anak Prof. Sukma, salah satu investor rumah sakit ini. Pasiennya banyak dan…. masih single, lhooo,” goda Tante Liz tertawa.

“Ah, aku gak minat, Tante. Orangnya emang menyenangkan tapi rada-rada sok juga. Males jadinya.”

“Baru juga berapa jam ketemu, ntar kalo naksir beneran tau rasa deh!”

“Gak akan!”

***********************************

to be continued 🙂

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

I Adore You

Tentu saja berita kematian itu ku kliping, bersama dengan guntingan koran lainnya yang telah menguning. Berita setengah halaman tentang kematian Marina, dengan fotonya yang masih cantik meski usianya mendekati tujuh puluh tahun. Aku tak tahu harus berduka atau justru terbebas? Entahlah, aku begitu mencintainya sekaligus membencinya.

Kupandangi buku besar yang nyaris penuh dengan berita tentang Marina. Mulai dari aku mengenalnya hingga aku aku tak mau mengenalnya, atau tepatnya ia yang tak mau lagi mengenalku. Sedemikan rupa ia menghindariku. Akupun menutup mataku mencoba kembali menghadirkan Marina dalam anganku.

 ************************************

“Ah, mawar merah lagi. Siapa sih yang begitu murah hatinya mengirimiku mawar? Bukankah ini sudah yang keenam kalinya?” Tanya Marina padaku. Aku hanya mengangkat bahu dan membereskan script yang baru dibacanya.

“Pengagum rahasia tentunya,” sahutku acuh. Marina menciumi bouquet mawar yang begitu indahnya dan membaca kartu kecil yang tersemat. Hanya kata-kata penuh pujian dan pernyataan cinta.

“Pasti mahal harganya. Ah, andai aku tahu siapa dia,” gumamnya. Aku mengernyitkan dahi.

“Lalu, kalau kau tahu?” Tanyaku sedikit ketus. Marina tertawa kecil.

“Tentu saja aku akan berterimakasih padanya,” jawabnya ringan.

“Hanya itu?”

“Iyalah, apalagi? Kau kan tahu aku sudah bertunangan dengan Surya? Meski hanya kau yang tahu,” sahutnya.

Aku cemburu setengah mati. Mengapa aku harus mengenalnya? Menjadi asistennya pula. Huh! Setiap kali aku harus menahan diri melihatnya dikerumuni para pengagumnya, para pria hidung belang. Terlebih lagi jika sudah berduaan dengan Surya, seolah aku hanyalah pajangan saja. Hiasan mati yang melihatnya bermesraan dengan kekasihnya. Aku tak tahan berdekatan dengannya, tapi aku bisa mati kalau jauh darinya!

 ********************************

Kiriman bouquet yang kesembilan. Kali ini bukan mawar merah, tetapi anggrek kuning. Marina tak mau menyentuhnya. Aku mengangkat bahu dan mencampakkan bunga itu ke sudut sofa.

Seminggu kemudian kembali datang bouquet, kali ini mawar putih. Marina sangat menyukainya, dipajangnya di dalam vas dan berkata akan diletakkan di kamar tidurnya. Perasaan aneh berdesir dalam dadaku. Rupanya setelah sekian lama, aku baru tahu bahwa ia menyukai mawar putih daripada mawar merah. Dan sejak itu tak sekalipun mawar merah terkirim, hanya putih dan putih.

 ********************************

Aku sedang membayar pesananku di toko kecil itu ketika Marina tiba-tiba muncul.

“Hei, sedang apa kau?” Tanyanya terheran-heran. Aku terkejut bukan kepalang.

“Eh…mmm…kau sendiri sedang apa?” Tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya.

“Aku mau memesan bunga untuk ultah Ibuku,” jawabnya. Dadaku berdebaran tak karuan, terlebih ketika pelayan toko itu mendekatiku.

“Dikirim ke tempat biasa bukan? Nona Marina…..,” pelayan itu tak melanjutkan ucapannya karena telah kutarik menjauhi Marina. Tapi terlambat. Ia tentu sudah mendengarnya. Aku lemas.

“Jadi…jadi…selama ini…?” Marina tergagap mendekatiku. Aku tertunduk lesu, tak mampu menjawabnya. Dasar pelayan tolol!

“Mengapa? Maksudmu apa?” Desak Marina. Air matanya jatuh bercucuran, wajahnya memucat.

“Aku…mencintaimu,” bisikku tak berdaya. Marina terbelalak.

“Kau….kau…kau sakit, Nenie!”

Aku memang sakit dan tak berdaya karena memujanya.

  ********************************

Kututup buku besar penuh kenangan itu. Cintaku telah terkubur bersama Marina. Selamanya aku akan sebatang kara. Dan aku masih tak tahu, cinta atau bencikah aku padanya? Aku memujanya.

 

Bogor, 26 Maret 2012

Cari Solusi · Iseng Aja · Nimbrung Mikir

Tang Ting Tang Ting Tung

Kalo dalam bahasa Jawa namanya “ngudang“. Bahasa Indonesanya apa ya? Menimang ato nggodain ato ngeledek? Pokoknya gitu deh 😀

Ceritanya beberapa waktu lalu ada salah satu karyawan yang membawa anak bayinya ke kantor. Nah, dengan lincahnya para emak di kantorku segera menyambut si anak dengan riang gembira, lebay tralala, dan tentu ramai trilili. Dengan gemasnya mereka menggoda si bayi dengan suara yang dibuat kecil menyerupai suara bayi, meski fales dan rada melengking. Awalnya si bayi tergoda dan tertawa-tawa. Lama-lama karena makin banyak yang mengerumuni dan makin banyak yang menggoda si bayi malah ketakutan dan akhirnya menangis dengan keras. Waaaa…. maka para emak yang lebay tralala itu panik dan lari pontang-panting. Sementara ibu si bayi sibuk menenangkan bayi manisnya.

Hihihihihihihihi….lucu deh! Bukannya aku tak tergoda dan tak gemas melihat si bayi, namun caraku tidak seperti itu. Kalo temanku ada yang bernyanyi,”Tang ting tang ting tang ting tung, blangblangblang tung.” Ada yang, “Nang ning ning nang ning nung, dangdut dangdangdangdut!” Ada juga yang, “Plak ketiplaktipluk ada anak pipinya empuk.” party0001 Free Party Emoticons Wis pokoknya segala bunyi-bunyian ajaib dengan ritmik tertentu terdengar di mana-mana. Bahkan ada yang membawa seperangkat alat kendang dan kecapi (hayah, kumat lebay!) yang pada awalnya menarik hati si bayi namun lama-lama membuat kaget 😀

Gak tau sih sudah ada yang meneliti tentang ini atau belum. Tapi menurutku memang sebaiknya tidak “mengudang” secara berlebihan, karena bayi malah akan takut dan menangis. Sapa saja seperti biasa, tentu dengan suara lembut, “Hallo Sayaaang, ikut Mama ke kantor yaaa? Aduuuh, pinternya gak nangis.” Tentu dengan senyum paling manis, tak perlu mencubit pipi atau menciumnya, atau bermain cilukba dengan lembut, biasanya si bayi malah tertarik dan akan mengoceh 😛 Hahahahaha…. itu sih berdasarkan pengalamanku saja. Mungkin banyak juga bayi yang senang dengan tang ting tang ting tung itu yaa party0010 Free Party Emoticons

Dulu kedua malaikatku juga suka menangis kalo terlalu sering digoda teman-temanku atau tetangga 😛 Tapi sekarang aku malah senang menggoda Cantik dengan, “tak pluntak pluntak pluntik, anakku paling cantik.” Nada dasar A minor dan juga diiringi marching band yang membahana hahahahaha…. lebaaaay…. 😆

Postingan ini sangat tidak bermutu dan ra jelas, yaah…sing penting nulis character00275 Free Emoticons   Characters ashamed0002 Free Emoticons   Shame cool0003 Free Emoticons   Cool

Iseng Aja · Nimbrung Mikir

Untuk 17 th ke Atas

Waktu ku kecil hidupku amatlah senang, senang dipangku-dipangku dimanjanya jarang sekali nonton bioskop. Karena kata Ibunda film di bioskop itu kebanyakan film dewasa, untuk 17 th ke atas! Maka tertanamlah di benakku bahwa dewasa adalah ketika kita sudah berumur 17 th. Sudah boleh nonton film apa aja (meski tetep gak boleh ma Ibunda), boleh lihat adegan kissing (tetep aja mata ditutup) dan tentu saja sudah boleh pacaran (asal gak ketahuan evilgrin0039 Free Emoticons   Evil ).

Sekarang, setelah aku menjadi emak-emak, kok mendadak pikiranku berubah ya. Menurutku dewasa itu tidak dimulai di umur 17 th (gak ngomongin soal akil balik lho ya), melainkan di usia 21 th! Mengapa? Bayangkan saja Kawan, usia 17 itu kan masih sekolah, kelas 2 atau 3 SMU. Lagi seneng-senengnya bereksperimen, mengeksplor segala sesuatu yang menurutnya berbau “dewasa”. Juga masih mudah galau, risau, senang kwetiau dan bakpau. Ah, pokoknya masih butuh bimbingan deh! Sedangkan dewasa menurutku adalah sudah bisa mengambil keputusan sendiri, bertanggungjawab terhadap keputusan dan perbuatannya, matang, stabil, tak mudah galau dan risau.

Dewasa juga tak diukur dari ketidaktergantungan secara materi terhadap ortu. Lihatlah sekarang banyak artis usia 8 th sudah berpenghasilan sendiri. Bolehkah mereka disebut dewasa? Nope! Kalo gak salah, di Amerika sana, seseorang sudah lepas dari perwalian ketika telah menginjak usia 21 th. Nek gak salah lho yaa :mrgreen: Yang menurutku berarti di usia itulah mereka telah dianggap dewasa secara administratif (halah, opo meneh!).

Menurutku usia 17 th adalah usia pra dewasa, di mana anak sudah mulai dilatih untuk menjadi dan bersikap dewasa. Namun tetap dalam arahan ortu. Nanti ketika sudah berusia 21 th, ortu sudah tak banyak berperan lagi dalam menentukan kehidupan mereka. Tetap memberi saran dan bimbingan sebagai ortu, namun keputusan sudah ada di tangan mereka sendiri 😀 Ouuhhh, sungguh mengerikan ya membayangkan anak-anak kita tak lagi meminta saran dan pendapat kita sad0144 Free Sad Emoticons

So Kawan, menurutmu di usia berapakah seorang anak boleh dianggap “dewasa”?

Artikel ini ada kaitannya dengan cerbung yang sedang dibuat evilgrin0039 Free Emoticons   Evil

Artikel ini juga dibuat karena prihatin dengan anak-anak baru gede yang sudah (merasa) dewasa tanpa tahu arti dewasa yang sesungguhnya  😥

Dongeng insomnia · Iseng Aja

Lukisan Cinta, Episode 3

Sebelumnya, baca yang lalu dulu yaa….

Episode 3

“Haii…,” sapa Sandra salah tingkah ketika lelaki itu tak juga mengeluarkan sepatah katapun.

“Kulihat kau bersama adikku tadi?” suara baritone itu menggema dan memantul di gendang telinga Sandra.

“Ee…iya, dia menunggumu tadi tapi segera pulang katanya kuatir terlambat sekolah,” jawab Sandra.

Lelaki itu mengangguk dan segera berbalik, namun Sandra memanggilnya.

“Agung…. namamu bukan? Aku Sandra,” ujarnya sembari mengulurkan tangan. Lelaki itu hanya tersenyum tipis tanpa menyambut uluran tangannya dan meneruskan langkahnya. Sandra menjejeri langkahnya, tak dipedulikannya rinai yang juga mengguyur tubuhnya.

“Kau mau ke mana? Kebetulan aku hendak pulang, barangkali kita bisa bareng?”

“Makasih. Aku tinggal di dekat sini,” jawab Agung singkat. Langkahnya semakin bergegas. Sandra berlari-lari kecil mengikutinya.

“Ee, aku ini sedang belajar fotografi, bolehkah kapan-kapan aku memotret perahumu?”Tanyanya di antara napas yang memburu.

“Tidak.”

“Mengapa? Bahkan jika boleh aku ingin sekali ikut berlayar denganmu, agar bisa mengabadikan samudera luas ini,” desak Sandra. Agung menolehnya tajam.

“Tidak. Kau gadis kota jangan usik aku,” ujarnya ketus.

Sandra terpana. Langkahnya terhenti dan membiarkan Agung bergegas mendahuluinya. Sombong sekali lelaki ini. Tapi anehnya Sandra sama sekali tidak tersinggung namun justru semakin penasaran. Mengapa lelaki ini bisa angkuh sekali? Menurut beberapa pendapat yang pernah ia dengar kesombongan bisa disebabkan justru oleh rasa kurang percaya diri. Mungkinkah Agung demikian? Tapi melihat raut wajahnya sesaat tadi Sandra merasa ada yang aneh. Agung tidak seperti nelayan lainnya yang pasrah, menerima nasib dan mencintai kehidupan yang mereka warisi turun-temurun. Agung mempunyai aura yang berbeda. Ia nampak seperti orang yang terpelajar, keras, dan ada rasa tak puas yang terpancar dari wajahnya. Mengapa? Sandra semakin penasaran terhadap sikap lelaki tampan itu.

Hujan semakin deras mengguyur. Sandra berlari-lari menuju ke mobilnya. Seluruh tubuhnya kuyup, untunglah kameranya aman dalam tasnya yang kedap air. Begitu sampai mobil segera ia masuk dan menyalakan mesinnya. Samar-samar di kejauhan sosok perkasa itu berjalan semakin cepat menuju ke perkampungan nelayan. Sebuah perkampungan sederhana yang pernah ia lihat sekilas. Suatu saat nanti ia akan berkunjung ke sana. Tunggu aku, Poseidon!

Lanjutkan membaca “Lukisan Cinta, Episode 3”

Iseng Aja · Nimbrung Mikir · Tak Enak

Kecelakaan!

Pada suatu hari, Ibunda menelponku dan mengabarkan kalo kakakku, Mbakayune, kecelakaan! Mobilnya tertabrak truk tronton saat hendak menuju kantor. Tentu saja jantungku berlompatan tak karuan, bahkan air mata sudah mulai mengembang, terbayang nasib para keponakanku yang lutju-lutju itu sad0144 Free Sad Emoticons

Tapi aku berusaha tetap tenang, jangan sampai Ibunda ikutan panik (padahal emang udah panik). Aku meminta Ibunda tetap tenang dan segera aku mencoba menelpon Kangmase, kakak iparku. Tapi telpon sibuk semua gak isa dihubungi. Maka kutinggalkan pesan di semua nomor telponnya. Bahkan akupun mencoba menelpon Mbakayune siapa tahu masih bisa dihubungi. Tapi telpon bernada sambung terus dan tak diangkat sad0144 Free Sad Emoticons Kali ini aku benar-benar panik level 137! Sesekali kutelpon kembali namun hanya ada nada sibuk ndak brenti-brenti.

Tapi lalu aku tersadar, Ibunda tahu kabar itu dari siapa? Kembali aku menelpon Ibunda.

“Dari dr. Sugiyono,” jawab Ibunda.

“Hah? Siapa itu?” Tanyaku mulai curiga.

“Dokter yang mengoperasi Mbakayune. Dia butuh obat dan Ibu harus transfer sekian juta. Piye to, Nduk, Ibun kan ndak bisa kemana-mana,” jawab Ibunda mulai panik, “Ini Ibun sudah siapkan ATM tapi siapa yang mau mengantar? Aduh, piye Mbakyumu?”

Aku langsung berteriak bak jagoan silat yang udah di dubbing.

Mother, don’t go to anywhere! Just stay at home, pray and don’t cry! I’ll handle it! Ceritakan kronologisnya.” mad0257 Free Emoticons   Anger

Lalu Ibunda bercerita bahwa si dr. Sugiyono ini menelpon kalo Mbakayune yang kebetulan bekerja di luar kota kecelakaan. Saat ini membutuhkan obat yang hanya bisa dibeli di apotek X dengan harga berjuta-juta dan harus segera. 15 menit lagi si dr. Sugiyono ini akan menelpon kembali. Kebetulan Mbakayune adalah seorang dokter gigi yang bekerja sebagai pimpinan di RS di kota itu. Si dr. Sugiyono ini bahkan menyebutkan nama kakakku, dr. Mbakayune! Tapi karena kejadian kecelakaan di dekat RS tempat dr. Sugiyono ini maka dirawatlah di situ. Separuh hatiku mendesah lega, meski yang separuh lagi masih panik. Ini jelas modus penipuan. Namun mengapa Mbakayune gak bisa ditelpon?

Akupun segera menelpon RS tempat Mbakayune berkerja. Dan tahukah Kawan, apa jawaban sekretarisnya?

“Dr. Mbakayune sedang meeting, bisa Ibu telpon kembali sekitar setengah jam lagi?”

Aku setengah menangis karena lega dan meyakinkan si sekretaris.

“Tapi betul kan dr. Mbakayune baik-baik saja? Saat ini masih meeting ya?”

“Iya Bu, beliau sedang memimpin meeting sekarang ini.”

Legaaaaa!!! Aku segera menelpon Ibunda dan mengabarkan keadaan Mbakayune. Papa dan Ibu menangis lega (terutama Papa). Tak lama Kangmase menelpon bahwa semua baik-baik saja. Dan sesaat kemudian Mbakayune menelpon. Kuceritakan semuanya. Dan ternyata telponnya di silent karena meeting, namun memang beberapa kali ada telpon masuk tapi ketika diangkat tak ada suara apa-apa (si penipu sengaja membuat telpon korban sibuk terus agar tak bisa dihubungi).

Nah Kawan, ini adalah modus penipuan yang mungkin Kawan sudah pernah mendengar atau bahkan mengalami. Sungguh penipuan yang kejam! Bahkan ternyata Mbakayune juga pernah tertipu, dikabarkan bahwa anaknya kecelakaan di sekolah. Padahal ketika menghubungi ke sekolah Si Anak baik-baik saja, bahkan sedang main basket.

Berikut beberapa tips yang mungkin bisa membantu jika Kawan mengalami hal yang sama.

  1. Jangan panik! Berusahalah untuk tetap berpikir jernih.
  2. Bila si penelpon tak menyebutkan nama anggota keluarga yang kecelakaan (nama suami/istri/anak, dll), tanyakanlah! Dan jangan sekali-sekali menyebut nama anak/suami/istri terlebih dahulu.
  3. Segera hubungi sekolah, kantor, atau teman yang mungkin saat itu sedang bersama anak/suami/istri, karena biasanya si penipu akan membuat nomor ponsel anak/suami/istri sibuk.
  4. Jika memungkinkan, pasang caller ID di telpon rumah (meski biasanya no tel si penelpon akan susah dihubungi)
  5. Jangan mentransfer atau mengirim apapun sebelum semua jelas
  6. Biasanya si penipu mendapat nomor dari buku telepon atau tempat isi ulang elektronik (maka jangan menulis no hp di tempat penjual pulsa elektronik)
  7. Jika memungkinkan mempunyai satu no tel yang hanya keluarga saja yang tahu, tak usah publish
  8. Lapor polisi, biasanya si penipu akan meminta Anda menghubungi no ponselnya untuk urusan transfer
  9. Sebarkan modus ini agar kerabat atau teman lain tidak tertipu

Oh ya, kembali ke kasus Mbakayune. Karena si penipu meninggalkan no ponsel ke Ibunda, maka Mbakayune meminta temannya menelpon ke nomor itu. Dan dijawab!

“Eh, nape lo bikin berita bohong kalo dr. Mbakayune kecelakaan? Dosa lo!” kata teman Mbakayune mad0222 Free Emoticons   Anger.

Dan tahukan apa jawaban si penipu? Dia menyebutkan banyaaaak sekali nama hewan yang telah Tuhan ciptakan di dunia fana ini 😆

Kawan, kejahatan terjadi karena adanya kesempatan. Maka, waspadalah…waspadalah….animal0017 Free Emoticons   Animals

Minjem Bang Napi hihihihihihihihi…… evilgrin0039 Free Emoticons   Evil

PS. Dan tadi pagi dengar di radio kabarnya komplotan ini telah tertangkap. Syukurlah 🙂

Dongeng insomnia · Iseng Aja

Lukisan Cinta, Episode 2

Sebelumnya, baca yang ini dulu yaa…

Episode 2

Sandra menikmati kopi hangat di pagi yang berawan ini. Tante Liz masih sibuk dengan laptopnya. Sandra sangat sayang pada adik Mama ini, Tante yang sabar, selalu bersedia mendengarkan keluh kesahnya. Bahkan kunjungannya kali ini ke rumah Tante Liz dalam rangka melarikan diri. Yah, melarikan diri dari Mama, dari Aryo, dari masalah hidupnya.

Baru seminggu Sandra menerima pesangon dari perusahaan tempatnya bekerja. Kantornya dilikuidasi karena perselisihan antara investor. Malaysia dan Indonesia. Hah, klasik sekali. Serumpun tapi tak akur. Akar budaya nyaris sama tapi tak sejalan. Si investor Malaysia telah pergi dan berganti menggandeng investor dari India. Masih ingat di benak Sandra ketika ia dipanggil menghadap si India.

“Hello, Sandra, saya dengar kamu sangat berprestasi di perusahaan ini. Maka kami tawarkan untuk tetap bergabung di sini, tentu saja dengan label perusahaan yang baru,” ujar Mr. Anand Sen dengan bahasa Indonesia yang lancar. Senyum India ganteng ini bak Sahruk Khan sedang menggoda Kajol dalam film Kuch Kuch Hotahai.

“Ehh… emm…,” Sandra masih belum menentukan.

“Soal gaji you tak perlu kawatir, semua karyawan yang masih loyal akan diberi kenaikan sekitar 10%. Bagaimana?”

Senyum Sahruk Khan itu sungguh mendebarkan. Di hadapannya ada seberkas kontrak kerja. Mr. Anand menyorongkan ke hadapan Sandra. Sandra bergeming. Ini bukan masalah naik gaji 10%. Terlalu sedikit? Tidak, bukan jumlah. Tapi Sandra memang sudah tak merasa nyaman bekerja di sini. Selama tiga tahun berkerja di perusahaan ini sudah tiga kali berganti kongsi. Indonesia – Indonesia, Indonesia – Malaysia, sekarang Indonesia – India. Sudah tiga kali pula berganti nama walaupun bisnis yang dijalani tetap sama. Nanti siapa lagi? Dalam kurun waktu itu hidup seluruh karyawan selalu tak tenang. Akan terus dipekerjakan? Atau cukup sampai di sini saja? Lalu kelak bagaimana lagi? Sandra lalu memutuskan.

Lanjutkan membaca “Lukisan Cinta, Episode 2”