Dongeng insomnia · Iseng Aja · Serial Yu Minah

Cita-Cita Si Tole

Siang hari nan cerah, saat yang tepat menikmati rujak Yu Minah sebelum hujan turun seperti biasa di sore hari. Tumben-tumbenan ada Si Tole di warung. Setelah mengucap salam aku duduk di bangku kesayangan.

“Ibumu ke mana, Le? Kok tumben gak ada?” Tanyaku heran sambil mencomot sebatang timun yang nampak segar.

“Lagi ke warung sebentar, Tante. Gak lama kok, Tante, permisi,” jawab Tole ramah. Lalu remaja menjelang dewasa itu masuk ke dalam. Rupanya ia diminta ibunya menjaga warung. Tak lama kemudian Yu Minah datang.

“Ee, sudah lama, Jeng?” Tanya Yu Minah. Di tangannya ada tas plastik yang entah apa isinya.

“Barusan kok, Yu. Buatkan rujak ulek pedes ya,” sahutku. Yu Minah meletakkan bawaannya dan segera meracik bumbu.

“Repot juga ya, Jeng, punya anak kelas tiga SMU begini. Mau lanjutkan sekolah kok ya susah bener. Perguruan tinggi sudah pada buka pendaftaran, tapi lihat uang sekolahnya kok saya jadi migrain begini,” keluh Yu Minah sambil ngulek bumbu rujak.

“Oh iya, Si Tole tahun ini ujian akhir ya?” Tanyaku.

“Iya, Jeng. Sudah dapat undangan dari Univeritas Masa Muda Masa Bergelora, masuk tanpa tes. Tapi uang masuknya 10 juta. Duit darimana? Kalo diterima trus gak jadi masuk, uang melayang,” Yu Minah masih berkeluh kesah.

“Mana undangannya di fakultas hukum pula,” lanjut Yu Minah.

“Lho, bagus itu, Yu. Jadi pengacara itu balik modalnya cepet, Yu. Lihat para pengacara yang sering nongol di TV itu. Mobilnya mewah, jamnya aja Rolex, jari sepuluh pake cincin berlian semua. Kalung emas kayak rantai gembok. Apalagi Tole kan pinter, otaknya encer, pasti cepet karirnya, cepet kaya!” Celotehku panjang lebar.

“Eeehh, amit-amiiiit, Jeng! Jangan sampai Tole jadi kayak mereka. Aduuh, bisa remuk jantungku, mengkeret ususku kalo Tole kayak mereka itu!” Seru Yu Minah sambil mengelus dadanya, lupa kalo tangannya belepotan gula Jawa. Kotor deh dasternya :mrgreen: Aku heran sekali mendengar ucapannya. Orang tua mana yang gak mau melihat anaknya sukses seperti mereka?

“Memangnya kenapa, Yu? Sampeyan gak suka Tole jadi pengacara sukses kayak mereka? Lihat tuh Hot Perancis, Elsa Surip, Ruh Simpul, kaya semua mereka, Yu!”

“Ndak, Jeng! Saya ndak suka melihat cara mereka membela klien. Pekerjaan mereka itu cenderung menghalalkan cara-cara yang tidak etis,” geram Yu Minah sambil mengupas kedondong yang nampak asam. Air liurku mulai terbit.

“Gak etis gimana to, Yu?”

“Sampeyan lihat tuh Si Elsa Surip. Belum lama ini ia membuka “kisah pribadi” tersangka Enjel Sendok. Dia mendongeng kisah rumah tanggal Anjel dan almarhum suaminya Eji. Tau to? Itu kan ndak etis namanya! Ngapain coba ia menceritakan kalo Mbak Enjel dan Mas Eji mau bercerai gara-gara hobi belanja Mbak Enjel. Mana ada yang tau kisah itu bener ato ndak, lha Mas Eji udah ndak bisa ditanyain to?” gerutu Yu Minah kesal.

“Itu namanya membentuk opini publik. Terlepas Mbak Enjel bersalah ato ndak, korup ato ndak, nerima apel ato ndak, kan ndak perlu mengungkit-ungkit kisah rumah tangganya? Apa hubungannya coba? Saya kok masih ndak ngerti sampai sekarang?” Yu Minah masih menggerutu sambil mengiris-iris timun dengan lincahnya.

“Err, mungkin untuk mengarahkan bahwa Mbak Enjel itu hobi belanja sampai duitnya gak keitung. Dari situ kan bisa kelihatan kalo dia gak tahan ama duit dan mau menerima uang panas,” ujarku sok tau. Bingung juga mau menanggapi apa kalo Yu Minah sudah emosi begini.

“Nah itu! Itu namanya menggiring publik untuk memvonis sebelum tersangka diadili. Itu cara-cara yang ndak etis menurut saya! Sekarang setelah publik menghujat Enjel dengan enaknya Si Surip itu bilang ‘Saya sudah tidak mau lagi menceritakan kisah itu. Sudah tutup‘ Lha iya jelas sudah tutup! Mission accomplished! Publik sudah mencap Enjel perempuan ndak bener, pembohong, sok mesra, sok cinta suami, menelantarkan anak, dan lain-lain yang ndak ada hubungannya sama apel Malang itu!”

Aku sampai terlompat mendengar Yu Minah mengatakan Mission accomplished. Wedeh, jago juga bahasa Inggris. Diajarin Tole barangkali?

“Ya sudah, Yu, barangkali begitulah cara para pengacara membela kliennya,” ujarku menenangkan Yu Minah.

“Ndak bisa gitu. Kalo sampeyan hobi baca novelnya Mas John Grisham pasti sampeyan akan tau, banyak cara untuk membela klien.”

Sekali lagi aku terlompat. Kenal John Grisham juga si Yu Minah ini?

“Sebenernya apa sih Yu, cita-cita Si Tole?” Tanyaku mengalihkan amarah gak jelasnya Yu Minah ini. Yu Minah langsung berseri-seri kalau membicarakan Tole.

“Dia pengen jadi hakim Jeng, hakim yang bijak yang ndak mempan suap, yang adil bijaksana,” jawab Yu Minah dengan mata berbinar-binar sambil membungkus rujakku. Aku sampai terbengong-bengong.

“Ya kalo gitu dah bener Yu, masuk ke fakultas hukum,” ujarku kebingungan. Yu Minah melongo.

“Lho, bukan Fakultas Kehakiman yo, Jeng?” Tanyanya.

Ealaaaaah, tak pikir pinter Yu Minah ini, bisa bahasa Inggris, kenal John Grisham segala. Gak taunyaaaa?

😈