Lukisan Cinta, Episode 1

BAB I

 OMBAK YANG MENGGODA

“Ombak bergulung-gulung lembut

Sebentar membelai pantai lalu menarik diri dan kembali lagi

Menggoda, merayu, mencumbu

Seakan pantai begitu merindu”

Episode 1

Sandra berjalan sendiri menyusuri pantai senja. Buih-buih ombak menjilati kaki telanjangnya. Hangat sekaligus dingin. Di hadapannya anak-anak lautan bercengkrama, saling mendorong, saling menarik, riuh dan ramai. Tak ada beban hidup, semua penuh tawa dan canda. Sandra ikut tersenyum memandang mereka.

Tiba-tiba seorang anak kecil terdorong menabraknya. Sandra nyaris jatuh terduduk bila tak ada tangan kukuh yang tiba-tiba menopangnya. Anak-anak itu terdiam, wajah mereka menunjukkan ketakutan. Sandra membalikkan badan. Seketika darahnya berdesir. Sesosok lelaki tampan dengan kulit sewarna madu pekat memandangnya sekilas lalu beralih ke anak-anak lautan itu.

“Hei, kalian, hati-hati kalau bermain!” Hardik lelaki itu pada anak-anak pantai yang segera menghambur pergi. Sandra terkejut mendengar gelegar suara itu.

“Ah, mereka kan hanya anak-anak. Terimakasih,” ujar Sandra. Lelaki itu hanya mendengus dan berbalik meninggalkannya. Langkahnya tegap menuju ke sebuah perahu besar di dermaga kayu kecil, lalu dengan sigap melompat ke dalam perahu. Lengan kukuhnya menggapai tali temali perahu. Sandra takjub memandangnya. Seorang nelayan muda yang tampan! Tak disadarinya seberapa lama ia memandang ke arah lelaki itu hingga perahu besar itu mulai melaju meninggalkan dermaga. Sesaat lelaki itu menatapnya tajam lalu membuang muka. Perahu itu meluncur anggun menuju matahari yang kian meredup.

“Itu kakakku,” sebuah suara lirih mengejutkan Sandra. Berdiri di sampingnya seorang gadis remaja, kira-kira lima belas tahun usianya.

“Ooh…hai…,” sapa Sandra tergagap. Remaja itu mengulurkan tangannya. Bibirnya menyungging senyum ramah dan lucu.

“Aku Ningrum.” Sandra menyambut uluran tangannya.

“Sandra,” balasnya. Mereka berjalan bersisian menuju dermaga.

“Kak Sandra bukan orang sini, ya?”

“Bukan, aku datang dari Jakarta. Ee, itu tadi kakakmu kau bilang?” Entah mengapa pipi Sandra memanas ketika menanyakan itu. Ningrum tertawa kecil, matanya bersinar-sinar.

“Iya, Kak. Namanya Mas Agung, satu-satunya saudara yang aku punyai dan orang paling baiiiik sedunia,” ujar Ningrum. Sandra ikut tertawa kecil.

“Nampaknya kamu sayang sekali sama kakakmu?”

“Wah, sudah tentu. Mas Agung sangat sayang padaku dan Ibu,” ujar Ningrum. Gadis remaja itu kemudian berlari-lari kecil menjauhi Sandra.

“Aku pulang dulu, Kak, kasihan Ibu menunggu,” serunya menjauh.

“Eehh… tungguuu…” Tapi Ningrum sudah semakin jauh. Sandra menghentikan langkahnya, pandangannya mengikuti langkah-langkah Ningrum. Dalam waktu kurang dari setengah jam ia bertemu seorang lelaki tampan namun angkuh dan sekaligus adiknya yang sangat ramah.

Senja kian meredup, namun Sandra masih belum ingin meninggalkan pantai. Merasakan angin laut yang kian dingin. Ombak kini semakin berani melahap pantai, gelombang pasang mulai tak ramah, suaranya bergemuruh seolah mengusir makhluk daratan untuk menajuh. Sandra menepi, pantai telah sepi. Ke mana perginya anak-anak pantai tadi? Mungkin telah kembali ke pangkuan ibu. Ah, Ibu! Ingin ia pun berlari ke pangkuan Mama di saat masalah menumpuk seperti ini. Tapi Mama tak bersahabat. Dirinyalah yang selalu bersalah, mengambil keputusan bodoh, dianggap gegabah, tak memakai logika, ah tak ada yang benar di mata Mama. Air mata mulai menetes. Cepat Sandra menghapus pipinya. Langkahnya semakin cepat menuju mobil kecilnya di parkiran. Senja semakin menghitam, Tante Liz pasti kawatir jika ia tak cepat kembali. Sandra membuka jendela mobilnya, merasakan angin pantai yang semakin dingin, laju mobilnya perlahan meninggalkan pantai dan para nelayan yang bersiap untuk melaut tengah malam nanti.

to be continued….

(maaf, ini bakal panjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang bangget ceritanya 😀 )

Iklan

15 thoughts on “Lukisan Cinta, Episode 1

  1. advertiyha Maret 5, 2012 / 11:22 am

    akan selalu kunantikan lanjutannya say.. 🙂
    semua untukmu, hehehe..
    *enak dong, bahan postingan buanyaaaaaaaaakk… 😛 ngibrittt… *

    Ah, Cintah, kau membuatku tersipu 😳
    *nuduh kok pas!*

  2. ~Amela~ Maret 5, 2012 / 11:53 am

    mas agung,. oh mas agung..

    Nah, nah, belum-belum kok udah kepincut 😛

  3. nique Maret 5, 2012 / 12:02 pm

    gpp panjang mbak 😀

    tapi kenapa ada nama MAS AGUNG? huhuhu

    *beli cemilan dulu baru mo terusin baca :D*

    Waaa, siapakah Mas Agung? Kekasihmu yaa 😀 , maap…maap… 😀
    Tapi gak mungkin juga ganti Mas Nanang, nanti aku mesti bayar royalti double, ke Om NH dan Iyha 😛

  4. Ngai Maret 5, 2012 / 12:11 pm

    kata eMak, puisi ombak bude ini khusus utk yg sudah besar.
    hedeehh, eMak lebay deh.
    itu kan cuman ombak gulung² gitu ajah, 😛

    lanjutkan bude,
    Ngai minta ombaknya yg lebih dahsyat!!!

    😛 😛 😛

    Huahahahaha…. hawong itu ombak lagi mencumbu pantai, Ngaiii, maka menurutlah pada eMak bukannya malah minta yang lebih dahsyat :mrgreen:

  5. Mabruri Sirampog Maret 5, 2012 / 1:56 pm

    asiiikkkkk…
    jangan sampai ketinggalan satu episode pun nih… 😀

    Bener ya, MasBrur, biar aku semangath! 😀

  6. Orin Maret 5, 2012 / 4:42 pm

    Menunggu kelanjutannya dengan (tidak) sabar 😀

    Makasiy, Oriin, jadi semangath nih 😀

  7. lidya Maret 5, 2012 / 10:48 pm

    panjang gak apa2 mbak aku pembaca setia disini 🙂 aku belum bisa membayangkan seberapa tampan mas agung.

    Owh, Jeng Lid, aku percaya itu 😳 Makasiy yaaa…. 😀
    Deskripsi Mas Agung ada di episode selanjutnya yaa 😛
    Psst, yang pasti lebih macho dari Juna lhoo ….. 😳

  8. Pemilik Restoran Suroboyo Maret 6, 2012 / 6:35 am

    Gak sabar menunggu Sandra mandi.
    Ini hasil belajar menulis cerpen dengan panduan mas Hermawan Aksa ya jeng.
    Apik kok.
    Cobalah mengirim cerpen ke Majalah/Koran, kan lumayan untuk menambah uang jajan.

    Salam sayank selalu

    Hahahhaha…. Sandra gak mandi udah wangi kok, Pakdee… 😛
    Mas Hermawan emang banyak membantu, Pakdee, maturnuwun yaa 😀
    Ah, saya ngirim ke Pakdee ajah, sudah pasti dapat hadiah buku. Kalo ke majalah pasti ditolak 😀

  9. kabutpikir Maret 6, 2012 / 2:29 pm

    Haduuuh…. belum apa2 aku udah penasaran sama “Mas Agung”…
    Lanjutannya musti panjang ya….. 😛

    Dia emang bikin penasaran, Mas 😛
    Sipppp….makasiy yaaa….

  10. bunda lily Maret 9, 2012 / 10:46 am

    gelar tiker, bawa aqua botol plus camilan…..
    sambil nugguin tukang baso lewat…….. 😛
    ( kok kayak pendemo ya aku?…… ) 😀 😀
    nungguin gimana Sandra dan Agung akhirnya….. 🙂
    salam

    Hahahahaha…. sudah disediakan es kelapa lho, Bun 😀
    Maturnuwun Bundaa Sayaaang, bersedia membacanya, ihiiiiyy 😀

  11. Imelda April 16, 2012 / 5:15 pm

    lelaki tampan dengan kulit sewarna madu pekat <<< bisa dijilat juga ngga ya…. hmmm slurppp hihihi **tampar muka hentikan khayalan** 😀

    Nooo…jangan lakukan itu, BuEm! Asiiiiiinnnn…. :mrgreen:

  12. Dewi Fatma April 20, 2012 / 2:45 pm

    Nggak papa panjang. aku emang suka yang panjaaaaaaaaaaaaaanggg… 😀

    Lanjooott..!!

    Dan lamaaaaaaaa…. 😛

  13. yustha tt Mei 3, 2012 / 11:06 am

    Yattaaa….aku telah membaca ceritamu dengan alur mundur, dari episode 9 sampai episode 1. Menarik. Serasa kembali ke masa SMA dan awal2 kuliah membaca novel Mira W.

    Owh Jeng, komenmu sungguh membuat semangatku melambung tinggi. Tadinya ini adalah embryo yang mati suri 😀 Makasiy ya, Say 😀

  14. Wong Cilik November 19, 2012 / 11:17 am

    ternyata disini awal mulanya Sandra … 😀
    asyik,bisa merunut balik …

    Waah, makasiy lho udah baca dari awal 😀
    Langsung aku kirim password nya deh 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s