Lukisan Cinta, Episode 2

Sebelumnya, baca yang ini dulu yaa…

Episode 2

Sandra menikmati kopi hangat di pagi yang berawan ini. Tante Liz masih sibuk dengan laptopnya. Sandra sangat sayang pada adik Mama ini, Tante yang sabar, selalu bersedia mendengarkan keluh kesahnya. Bahkan kunjungannya kali ini ke rumah Tante Liz dalam rangka melarikan diri. Yah, melarikan diri dari Mama, dari Aryo, dari masalah hidupnya.

Baru seminggu Sandra menerima pesangon dari perusahaan tempatnya bekerja. Kantornya dilikuidasi karena perselisihan antara investor. Malaysia dan Indonesia. Hah, klasik sekali. Serumpun tapi tak akur. Akar budaya nyaris sama tapi tak sejalan. Si investor Malaysia telah pergi dan berganti menggandeng investor dari India. Masih ingat di benak Sandra ketika ia dipanggil menghadap si India.

“Hello, Sandra, saya dengar kamu sangat berprestasi di perusahaan ini. Maka kami tawarkan untuk tetap bergabung di sini, tentu saja dengan label perusahaan yang baru,” ujar Mr. Anand Sen dengan bahasa Indonesia yang lancar. Senyum India ganteng ini bak Sahruk Khan sedang menggoda Kajol dalam film Kuch Kuch Hotahai.

“Ehh… emm…,” Sandra masih belum menentukan.

“Soal gaji you tak perlu kawatir, semua karyawan yang masih loyal akan diberi kenaikan sekitar 10%. Bagaimana?”

Senyum Sahruk Khan itu sungguh mendebarkan. Di hadapannya ada seberkas kontrak kerja. Mr. Anand menyorongkan ke hadapan Sandra. Sandra bergeming. Ini bukan masalah naik gaji 10%. Terlalu sedikit? Tidak, bukan jumlah. Tapi Sandra memang sudah tak merasa nyaman bekerja di sini. Selama tiga tahun berkerja di perusahaan ini sudah tiga kali berganti kongsi. Indonesia – Indonesia, Indonesia – Malaysia, sekarang Indonesia – India. Sudah tiga kali pula berganti nama walaupun bisnis yang dijalani tetap sama. Nanti siapa lagi? Dalam kurun waktu itu hidup seluruh karyawan selalu tak tenang. Akan terus dipekerjakan? Atau cukup sampai di sini saja? Lalu kelak bagaimana lagi? Sandra lalu memutuskan.

“Eee, I’m sorry, Sir, mmm… saya ingin istirahat dulu. Terimakasih atas kepercayaan Anda, tapi saya tidak ingin menandatangani kontrak ini,” ujar Sandra akhirnya. Tiba-tiba lega sekali dadanya setelah mengatakan itu. Seperti terbebas dari beban yang sangat berat.

What do you mean? You tidak mau menerima tawaran ini?” Tanya Mr. Anand ketus. Tiba-tiba senyum Sahruk Khan tadi menghilang, berganti menjadi seringai Rahwana. Sandra menggeleng pelan.

“Maaf, Pak, saya ingin istirahat dulu.”

Mr. Anand menarik kontrak di depan Sandra dengan kasar.

“Ok, fine, silakan keluar, pesangon you akan segera ditransfer.”

Dan di sinilah Sandra, tinggal bersama Tante Liz yang sedang ditugaskan sebagai direktur Rumah Sakit swasta di Tegal. Mama tentu saja marah-marah mengetahui Sandra memilih keluar daripada menerima tawaran kontrak barunya.

“Aduuh, Sandra, Mama gak melarang kamu untuk keluar, tapi mestinya sebelum mendapat pekerjaan baru lebih baik kamu terima dulu kontrak itu!”

“Sandra udah gak betah di situ, Ma,” jawabnya lirih.

”Ok, gak betah, tapi bertahan saja beberapa waktu sampai kamu dapat gantinya. Sekarang kamu mau ngapain nganggur begini?”

“Mama gak usah kawatir, pesangon Sandra cukup untuk hidup sederhana selama satu tahun.”

“Heiii, bukan masalah itu. Mama gak suka aja liat kamu nganggur begini. Apa kata orang tua Aryo nanti? Disangkanya kamu hanya mau enak saja, mau kawin dengan Aryo karena mau numpang hidup enak!”

“Mama! Kenapa Mama berpikir begitu?”

“Dengar ya San, kita sebagai perempuan harus punya harga diri. Sebisa mungkin kita tetap bekerja, agar tidak tergantung pada orang lain. Lihat Mama, untung Mama punya pekerjaan, jadi ketika Papamu kawin lagi Mama masih bisa mengurus hidup kita. Ngerti?”

Tanpa terasa air mata menetes di pipinya. Sebuah tepukan halus di pundaknya menyadarkannya.

“Heii, kenapa? Tuh kopimu sudah beku sejak tadi dan ini, sandwich ini sudah bisa buat nimpuk doggy sebelah karena keras,” tegur Tante Liz. Sandra tertawa kecil dan segera mengusap air matanya.

Sorry, Tan, keasyikan melamun, nih!” ujar Sandra. Segera digigitnya sandwich isi telur dan keju itu.

“Anak gadis gak boleh keseringan melamun, ntar gampang kerasukan, lho!” goda Tante Liz.

“Ah, Tante bisa aja,” Sandra tertawa kecil. Tante Liz mengemasi laptopnya.

“Apa rencanamu hari ini, San?”

“Belum tau, Tan. Mmm, paling di rumah aja atau jalan-jalan dikit lah.”

“Sayang hari ini Tante kedatangan tamu dari Dinkes, kalo gak mendingan kamu ikut Tante aja.”

“Ah, ikut Tante juga gak bisa ngapa-ngapain kok.”

“Heii, Tante punya misi mengenalkanmu pada dokter-dokter muda di Rumah Sakit. Ssst, ganteng-ganteng, lhoo,” goda Tante Liz.

“Ah, Tante, trus mau dikemanakan Aryo?”

“Alaa, selama janur kuning belum melengkung, kau masih boleh tengok kiri kanan. Sebelum kawin sama Om mu dulu Tante juga masih sempet ngelaba dikit, kok!” ujar Tante sambil mengedipkan matanya. Sandra tertawa kecil. Tante Liz mengambil tasnya lalu mengecup pipi Sandra sekilas.

Bye, jangan kemalaman pulangnya nanti. Kayaknya mo hujan sepanjang hari ini.”

“Ok, Tan. Kalo hujan Sandra gak kemana-mana kok.”

Sandra mengantar Tante Liz hingga pintu depan. Setelah Camry itu meninggalkan halaman Sandra kembali ke ruang makan. Sandwich nya masih setengah tapi nafsu makannya sudah hilang. Tiba-tiba teringat olehnya pantai jingga kemarin sore. Senyum menghiasi wajahnya, hari ini ia akan ke sana lagi. Tentu tak lupa membawa Kodak DSLR nya. Bukan, bukan untuk mengabadikan nelayan muda tampan itu, tapi untuk mengabadikan pantai. Yah, kalau nelayan itu sampai terekam kameranya itu pasti karena tak sengaja. Sandra senyum-senyum sendiri mendengarkan dialog di benaknya. Entah mengapa Sandra sangat tertarik pada lelaki ketus itu. Bukan ketertarikan seperti rasanya pada Aryo, kekasihnya, tapi entah apa, seperti magnet yang membuatnya ingin selalu berdekatan pada lelaki angkuh itu. Aneh, kenal juga tidak tapi kok bisa terbayang-bayang seperti ini.

Sandra segera membuka laptop mungilnya untuk mencurahkan isi hati pada blognya. Tak apalah sedikit menulis tentang lelaki asing itu. Toh takkan ada yang tau. Apalagi Aryo, kekasihnya itu sama sekali tak menyukai dunia tulis-menulis. Hidupnya adalah bisnis dan bisnis. Boro-boro punya blog, jangan-jangan arti blog saja ia tak tahu. Dan anehnya Sandra mencintai lelaki kaya pewaris tunggal perusahaan travelling itu. Mendadak ia merindukan Aryo yang penuh perhatian dan selalu memanjakannya. Masih teringat ketika ia berpamitan pada Aryo untuk sesaat menyepi di kota kecil ini.

“Pergilah liburan yang sesungguhnya, San. Toh kau tinggal sebut mau kemana, aku yang bereskan. Bali? Singapore? Atau mewujudkan keinginanmu berlibur ke Belanda?”

“Thanks, Babe, tapi aku tidak ingin berlibur. Aku hanya ingin menyendiri, mencari tempat sunyi di mana tak ada kehebohan dan keributan,” ujarnya waktu itu. Aryo masih saja membujuknya dengan mengiming-imingi berlibur yang mewah dan menyenangkan. Tapi Sandra pun masih ingat perkataan Mama tentang “menumpang hidup mewah” pada Aryo. Tidak! Itu sama sekali tak terpikirkan olehnya. Adalah bonus bila ternyata pria yang dicintainya ini adalah seorang yang mapan secara financial.

“Ah, sungguh keras kepala kau ini. Herannya kok aku bisa jatuh cinta sama kamu ya?” desah Aryo putus asa. Sandra tertawa, memeluk bahu kekasihnya.

“Sudah takdir kalau kau harus tekuk lutut padaku, Honey. Jadi jangan menyesal gitu, ah!”

Aryo tersenyum dan mengacak-acak rambul ikal Sandra.

Dan kini, tiba-tiba ia merindukan pria baik hati itu. Sandra menutup kembali laptopnya, tak satupun kata bisa ia tuliskan. Hatinya terlalu kacau untuk bisa menorehkan tulisan. Maka ia memutuskan untuk pergi ke pantai siang ini saja. Dikenakannya celana pendek yang kemudian ditutup dengan sarung Bali yang diikat di pinggulnya. Kancing blouse longgarnya dibiarkan terbuka di bagian atas, sehingga menampakkan tank top pink di dalamnya. Sesungguhnya Sandra bertubuh indah dengan kulit sawo matang dan paras yang cantik dibingkai rambut ikal sebahunya. Namun ia tak menyadari daya tariknya sehingga sering sekali berdandan serampangan. Hal itulah yang sangat disukai Aryo, tampil apa adanya, casual dan natural. Nyaman sekali melihatnya.

Sejurus kemudian ia melaju dengan Honda Jazz merahnya. Mobil fasilitas soft loan dari kantornya ini telah lunas tepat sebulan sebelum kantornya dilikuidasi. Dan kini Sandra merasakan nikmatnya bebas hutang dan tak perlu memikirkan cicilan-cicilan lagi dalam hidupnya. Kartu kreditnya yang dua buah itu telah dilunasinya dengan sebagian uang pesangonnya. Kini tinggal hidup sederhana dan segera mencari pekerjaan baru. Tapi, nanti sajalah, ia masih ingin menikmati hidup tanpa beban.

Tak sampai setengah jam Sandra telah memasuki area pantai. Sengaja ia tak melalui pintu masuk tempat wisata namun memilih agak jauh mendekati kampung nelayan. Hampir pukul sebelas, tentu saja pantai wisata sepi apalagi di hari kerja seperti ini. Sandra memarkir mobilnya sedekat mungkin dengan dermaga di ujung pantai. Beberapa perahu nelayan nampak telah berlabuh di pinggiran. Kesibukan para nelayan yang baru pulang melaut atau sedang membereskan hasil tangkapan nampak begitu dinamik. Riuh rendah di area kapal-kapal nelayan itu berlabuh, kontras sekali dengan pantai tempat Sandra berdiri sekarang, sepi, hanya ada beberapa penjaja minuman di dekat parkiran. Sementara di sana ada pembeli, penjual, nelayan saling menawar harga, saling menilai untuk mendapatkan harga terbaik. Namun semua nampak begitu alami dan menawan. Nelayan menurunkan hasil tangkapan ke darat yang segera diangkut oleh kuli-kuli ke mobil-mobil pick up atau truk. Dan lembaran rupiah pun berpindahtangan dari satu tangan ke tangan lain. Tak ada keributan, semua menjalankan titah alam demi penyambung hidup.

Sandra mengeluarkan kamera DLSR nya. Ia mulai memotret kehidupan manusia-manusia pantai yang bertransaksi dengan manusia daratan. Semua demi menjalankan wahyu kehidupan. Tiba-tiba sebuah sentuhan di lengannya mengagetkannya. Sandra menoleh, senyum manis seorang gadis remaja menyambutnya.

“Hai Kak Sandra, masih ingat aku?”

“Ningrum, tentu saja aku ingat. Ngapain kau di sini? Gak sekolah?”

“Masuk siang, Kak. Kok Kak Sandra ada di sini pagi-pagi? Gak kerja?” Tanya Ningrum dengan keheranan. Sandra hanya tersenyum.

“Aku kan pengangguran, Ningrum. Kau sedang apa di sini?”

“Mmm… menunggu Mas Agung. Biasanya dia sudah kembali ke rumah jam segini, tapi Ningrum tunggu-tunggu gak datang juga,” jawab gadis remaja itu sambil menjulurkan lehernya panjang-panjang ke arah kerumunan tempat transaksi jual beli berlangsung.

“Kau mau ke sana? Yuk aku antar?” Ajak Sandra menggandeng lengan Ningrum. Namun remaja itu menarik tangannya.

“Aku gak boleh ke sana, Kak. Mas Agung bisa marah kalau aku ke sana.”

Dahi Sandra mengernyit.

“Kenapa? Bukankah kau sudah hafal perahu abangmu? Gak mungkin salah kan?”

Ningrum mengangkat bahu, lehernya masih dijulurkan berharap segera menemukan sosok yang dicarinya.

“Kata Mas Agung, aku tidak pernah boleh mendekat ke sana. Di sana banyak orang barbar kasar yang bertubuh besar. Para pedagang ikan, kuli angkutan, belum lagi sopir-sopir itu suka mengganggu gadis-gadis. Pernah sekali aku ke sana bersama Ridwan temanku dan Mas Agung marah besar, jadi aku tak berani lagi ke sana,” jelas Ningrum panjang lebar. Sandra terdiam. Matanya menyapu ke arah transaksi jual beli ikan sedang berlangsung. Memang betul, sembilan puluh delapan persen manusia di sana berjenis kelamin laki-laki. Dan memang betul rata-rata mereka bertampang kasar dan seram. Walau tentu saja tak mencerminkan isi hati dan kepala bukan?

Ningrum masih gelisah dan berjinjit-jinjit berusaha melihat perahu abangnya di antara perahu warna-warni lainnya. Ada puluhan perahu yang tertambat di pelabuhan kecil itu. Perahu besar, sedang, kecil dengan aneka bentuk dan warna. Semuanya adalah sarana untuk menyambung kehidupan tiap pemiliknya.

“Dengan siapa abangmu melaut, Ningrum? Dengan ayahmu?”

Ningrum memandang Sandra dengan bulat mata seorang gadis remaja yang nyaris menyerupai wanita sepenuhnya. Kemudian raut wajahnya melunak, seolah berkata tentu saja perempuan cantik di depannya ini tak tahu.

“Mas Agung ke laut dengan Mas Heri dan Mas Yanto, sepupu kami. Bapak tak penah kembali lagi dari lautan sejak sepuluh tahun lalu.”

“Oh, maaf…. Aku tak tahu..” Sandra tergagap-gagap. Ningrum kembali ke sikap gelisahnya. Sandra kembali membidikkan kamera ke arah para nelayan, ke perahu-perahu cantik itu, dan ke arah Ningrum yang menjadi tersipu-sipu.

“Memang jam berapa mestinya Mas Agung kembali?”

“Biasanya subuh perahu sudah merapat dan sebelum tengah hari sudah di rumah. Tapi ini lama sekali.”

“Ooo. Mmm, apa setiap hari kamu selalu menunggunya?”

“Tidak, Kak. Kebetulan hari ini…..mmm….” Ningrum tak meneruskan perkataannya.

“Ada apa hari ini?” Sandra penasaran.

“Eee…, hari ini hari terakhir bayar sekolah. Biasanya aku tak pernah terlambat, malu kalau sampai terlambat,” ujar Ningrum lirih. Kepalanya tertunduk, kaki telanjangnya mengorek-ngorek pasir. Dan entah mengapa langit yang sudah berawan sejak pagi semakin gelap terasa.

“Ooo. Tapi perahu Mas Agung sudah kelihatan belum?” Tanya Sandra sambil ikut-ikutan menjulurkan kepala dan berjinjit-jinjit. Otaknya mencoba mengingat-ingat perahu yang sekilas pernah dilihatnya dalam keremangan senja.

“Sepertinya sudah, itu yang paling ujung berwarna biru. Perahu Mas Agung yang paling bagus bukan? Dia membuat sendiri lho, dengan bantuan sepupu-sepupu kami tentu saja. Tapi mengapa Mas Agung belum nampak juga ya? Hari sudah begini siang.” Suara Ningrum sungguh mengibakan. Antara takut terlambat membayar sekolah dan mencemaskan kakaknya. Sandra mengambil inisiatif.

“Heii, begini saja, daripada kamu terlambat, bagaimana kalau aku pinjami uang dulu? Nanti sore … atau kapanpun, kita ketemu lagi di sini dan kamu bisa kembalikan uangku?”

Sejenak mata Ningrum berbinar namun seketika itu pula meredup.

“Mas Agung pasti marah besar,” ujarnya lirih.

“Abangmu itu tak perlu tahu kan? Ini antara kita saja. Nanti sore kau minta pada abangmu seolah-olah kau belum bayar sekolah. Gimana?”

“Tapiii….., Kak Sandra kan orang asing. Bagaimana bisa sebaik ini? Kak Sandra gak ada maksud apa-apa kan? Menculik lalu menjualku, atau mengancam ibuku?” Sejenak Sandra melongo mendengar pertanyaan Ningrum. Namun sedetik kemudian tawanya meledak.

“Aduuh… Ningrum, memangnya aku ada tampang penculik atau penjual gadis-gadis ya?” tanyanya di sela tawanya. Ningrum menggeleng dan ikut tersenyum.

“Mas Agung bilang…”

“Ah, kamu tahu Ningrum, abangmu itu terlalu paranoid!” Potong Sandra, “Percayalah, aku tulus kok membantu. Dan heii, ini pinjaman lho, karena aku pun seorang pengangguran. Jadi berapa uang sekolahmu?”

Sejenak Ningrum memandang lekat-lekat wajah Sandra seolah menguji keseriusan Sandra. Wanita itu mengeluarkan dompet dari tas kecilnya dan kembali bertanya pada Ningrum. Gadis remaja itu menyebutkan jumlah yang… oh membuat Sandra terharu. Sejumlah uang yang bahkan tak cukup untuk membeli satu loyang pizza dengan topping termurah sekalipun! Diangsurkannya sejumlah uang pada Ningrum dan gadis remaja itu menyambutnya dengan ragu.

“Nah, sekarang pulang dan bersiap-siaplah nanti terlambat,” ujar Sandra. Ningrum tersenyum manis.

“Terimakasih, Kak. Tolong jangan katakan pada Mas Agung ya, nanti aku kena marah besar.”

“Tentu saja aku takkan bilang-bilang padanya. Kau tahu, abangmu itu galak!”

Ningrum tertawa kecil lalu setengah berlari ia meninggalkan Sandra.

“Heiii Ningrum, jangan bilang pada abangmu kalau kukatai galak ya!” teriak Sandra. Gadis remaja itu membalikkan badan dan tertawa.

“Ini rahasia antar kita, Kak!” balas Ningrum. Sandra tertawa. Hatinya lega, setidaknya telah meringankan beban seorang remaja. Hmm, heran juga ia mengapa semudah itu membantu Ningrum? Bahkan baginya gadis remaja itu pun sosok asing yang belum genap 24 jam dikenalnya. Ah, tapi jumlah yang dikeluarkan bahkan nyaris tak ada arti baginya.

Gerimis kecil-kecil mulai turun. Bergegas Sandra memasukkan kameranya ke dalam tas dan berlari menuju gazebo kecil agak jauh dari pantai. Setidaknya ia bisa berteduh di situ. Akhir-akhir ini cuaca memang tak menentu. Bahkan pemerintah telah mengimbau kepada para nelayan untuk segera mencari sumber penghidupan yang lain. Cih, Sandra emosi mendengar imbauan itu. Memangnya semudah membalik telapak tangan? Mereka adalah para penguasa samudera, laut adalah hembusan napasnya dan gelombang adalah detak jantungnya. Kekayaan lautlah yang menjadi penyambung hidup mereka. Bagaimana mungkin mereka diminta beralih profesi? Tak apalah kalau pemerintah bersedia memfasilitasi dan membagi pengetahuan. Kalau hanya sekedar mengimbau go to hell aja!

Tiba-tiba lamunan Sandra terhenti. Sesosok tubuh tegap melangkah menyusuri pantai di antara rinai hujan. Tak sedikitpun goyah karena angin atau terganggu rinai yang menusuk-nusuk kulit. Langkahnya tegap menantang, dagunya terangkat. Tak jelas parasnya, tak jelas ekspresinya, namun nampak begitu indah. Refleks Sandra meraih kameranya dan mengabadikan siluet indah itu. Kilau blitz nya tak mampu menembus hujan, tapi setidaknya sosok itu telah terekam abadi di dalamnya.

Sandra masih sibuk dengan kameranya hingga tak disadarinya obyek bidikannya ternyata berbelok dan mendekatinya. Sandra menurunkan kameranya perlahan, jantungnya berdebar laksana gemuruh badai. Raut wajah tampan bak ukiran pemahat ulung itu menatapnya tajam. Rasanya lebih cocok menjadi seorang model rokok yang macho daripada seorang nelayan. Sinar matanya langsung menghunjam ke jantungnya. Air hujan yang mengalir di ujung hidung tinggi lalu jatuh ke dagu terbelah  itu menghipnotisnya. Mungkinkah pemuda nelayan ini titisan Poseidon yang gagah perkasa itu?

to be continued 😀

Iklan

12 thoughts on “Lukisan Cinta, Episode 2

  1. Mabruri Sirampog Maret 13, 2012 / 1:28 pm

    haahh?? Tegal????
    asiiikkk,, aku paranin aaaaahhhh,,,
    di pantai pula, brarti sandra lagi di PAI ya bu… asik asik.. hahahaha

    Dulu waktu kecil aku sering ke PAI, entah sekarang sperti apa 😀
    Tuh Sandra lagi makan es kelapa, MasBrur, gek ndang mrono 😛

  2. ~Amela~ Maret 13, 2012 / 1:37 pm

    aw… aw.. aw.. ngebayangin mas agung pasti cakeep… *melting*
    tapi kok aku tergoda sama mas aryo yang kaya raya itu ya? *bimbang*

    Tentukan pilihanmu, Mellaa! Mendapatkan pria ganteng sekaligus kaya raya ituuuu mmmm…eeehhh… 😳

  3. Lidya Maret 13, 2012 / 2:43 pm

    ikut deg2an saat lelaki gagah itu menghampiri Sandra 🙂 aaaah mbak harusnya ditambah sedikiiiiiiit aja tulisannya hehehe. next episode kira-kira mereka ngobrol gak ya

    Lha ini sudah panjang to, Jeng 😀
    Aku juga deg degan, asli! :mrgreen:

  4. marsudiyanto Maret 13, 2012 / 3:15 pm

    Kapan mau dibukukan Mbak…
    Kayaknya akan diterbitkan nich…

    Waaa, doain ya, Pak’e 😀
    (tapi katanya klo dah terbit di blog gak isa dibukukan 😦 )

  5. nique Maret 13, 2012 / 4:31 pm

    ah lagi asyik2nya dibaca malah bersambung 😦

    Hihihihi….aku tak bermaksud mengecewakanmu Jeng, tapi takut kepanjangan 😀

  6. Ngai Maret 13, 2012 / 5:24 pm

    Ngai ingin tau alamat blognya tante sandra,
    juga penasaran sama dagu belahnya om Agung.. 😛

    lanjutkan bude,.!

    Hihihihihi blognya dah ndak aktif, Ngai. Ke blog Bude ajah yaa 😀
    Psst, jangan nanya-nanya belahan dagunya ah, nanti ketahuan eMak lhooo…. 😛

  7. Orin Maret 14, 2012 / 10:25 am

    Poseidon? aw…aw…aw….
    ditunggu kelanjutannya bu Cho 😉

    Kebayang kan Orin, kegagahannya :mrgreen:

  8. kabutpikir Maret 14, 2012 / 10:54 am

    Aduuuh…. Poseidon?
    kebayang gagahnya Mas Agung…
    (inget! aku bukan tipe jeruk makan jeruk, cuman penasaran sama kegagahan mas Agung… hehe)
    ditunggu ah terusannya!

    Hahahaha…. aku percaya kok, Kang 😀
    Baca lanjutannya yaaa….

  9. bunda lily Maret 15, 2012 / 4:39 pm

    waaaah……diriku kuciwa, lagi asik asik baca, tiba2 kok ada …..to be continued siiihhh…. 😦
    kapan dong disambungnya lagi,Mbak Choco?
    trus, nanti Aryo nyusul Sandra gak ya…
    atau Sandra malah jadi kesengsem sama nelayan macho itu?
    hedeh…..hedeh….penasaraannn …… 🙂
    jadi mengkhayal sendiri deh tuh kelanjutannya…hahaha….
    salam

    Kalo kepanjangan nanti gak seru, Bundo 😀
    Hahahaha…. sama siapa yaa. masih ada satu pria lagi, Bundoo hahahaha
    Yuk, kita ngayal bersama 😛

  10. Imelda April 16, 2012 / 5:59 pm

    asyik asyik… ngelaba! seruuu 😀

    Qiqiqiqiqiqi….. 😳

  11. Dewi Fatma April 20, 2012 / 3:52 pm

    penasaran aku akan kegantengan si agung ini. Kok nggak jadi bintang iklan obat kelek aja sih, Mbak?

    Lanjoott..!

    Hiiiiiy, kelex berbulix …..

  12. Dewi Fatma April 20, 2012 / 3:55 pm

    Protes!

    Mbok ya di ‘to be continued’ itu di kasih link ke episode selanjutnya toh, Mbak. Biar aku nggak bolak-balik ke sono ke sini.. 😦

    Qiqiqiqiqiq…..lom semept, Jeng, nanti deh aku tambahin 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s