Lukisan Cinta, Episode 3

Sebelumnya, baca yang lalu dulu yaa….

Episode 3

“Haii…,” sapa Sandra salah tingkah ketika lelaki itu tak juga mengeluarkan sepatah katapun.

“Kulihat kau bersama adikku tadi?” suara baritone itu menggema dan memantul di gendang telinga Sandra.

“Ee…iya, dia menunggumu tadi tapi segera pulang katanya kuatir terlambat sekolah,” jawab Sandra.

Lelaki itu mengangguk dan segera berbalik, namun Sandra memanggilnya.

“Agung…. namamu bukan? Aku Sandra,” ujarnya sembari mengulurkan tangan. Lelaki itu hanya tersenyum tipis tanpa menyambut uluran tangannya dan meneruskan langkahnya. Sandra menjejeri langkahnya, tak dipedulikannya rinai yang juga mengguyur tubuhnya.

“Kau mau ke mana? Kebetulan aku hendak pulang, barangkali kita bisa bareng?”

“Makasih. Aku tinggal di dekat sini,” jawab Agung singkat. Langkahnya semakin bergegas. Sandra berlari-lari kecil mengikutinya.

“Ee, aku ini sedang belajar fotografi, bolehkah kapan-kapan aku memotret perahumu?”Tanyanya di antara napas yang memburu.

“Tidak.”

“Mengapa? Bahkan jika boleh aku ingin sekali ikut berlayar denganmu, agar bisa mengabadikan samudera luas ini,” desak Sandra. Agung menolehnya tajam.

“Tidak. Kau gadis kota jangan usik aku,” ujarnya ketus.

Sandra terpana. Langkahnya terhenti dan membiarkan Agung bergegas mendahuluinya. Sombong sekali lelaki ini. Tapi anehnya Sandra sama sekali tidak tersinggung namun justru semakin penasaran. Mengapa lelaki ini bisa angkuh sekali? Menurut beberapa pendapat yang pernah ia dengar kesombongan bisa disebabkan justru oleh rasa kurang percaya diri. Mungkinkah Agung demikian? Tapi melihat raut wajahnya sesaat tadi Sandra merasa ada yang aneh. Agung tidak seperti nelayan lainnya yang pasrah, menerima nasib dan mencintai kehidupan yang mereka warisi turun-temurun. Agung mempunyai aura yang berbeda. Ia nampak seperti orang yang terpelajar, keras, dan ada rasa tak puas yang terpancar dari wajahnya. Mengapa? Sandra semakin penasaran terhadap sikap lelaki tampan itu.

Hujan semakin deras mengguyur. Sandra berlari-lari menuju ke mobilnya. Seluruh tubuhnya kuyup, untunglah kameranya aman dalam tasnya yang kedap air. Begitu sampai mobil segera ia masuk dan menyalakan mesinnya. Samar-samar di kejauhan sosok perkasa itu berjalan semakin cepat menuju ke perkampungan nelayan. Sebuah perkampungan sederhana yang pernah ia lihat sekilas. Suatu saat nanti ia akan berkunjung ke sana. Tunggu aku, Poseidon!

Sesampai di rumah Sandra segera mengeringkan diri dan bergegas membuka laptopnya. Penasaran ia menyambungkan kameranya dengan kabel USB ke laptop. Tak lama segera terpampang di layar monitor hasil jepretan kameranya. Sosok perkasa dari kejauhan, samar-samar tertutup kabut hujan. Namun Sandra masih bisa melihat jeans pudar dan T shirt biru sosok itu. Ah, andai ada produser film yang melihatnya pasti sudah ditawari kontrak eksklusif pria ini. Masih terbayang di benak Sandra langkah tegap dan dagu menantang dari lelaki ini. Sama sekali tak mencerminkan rasa rendah diri namun justru keangkuhan yang anehnya terasa begitu indah di mata Sandra. Sedang asyik Sandra mengamati gambar di monitornya, lagu Just For You dari Richard Conciate mengalun lembut dari ponselnya. Aryo! Sandra bergegas mengambil ponselnya.

“Hallo, Sayang,” suara yang begitu dirindukannya menyapa dari seberang.

“Honey, kok baru nelpon sih?” rajuk Sandra. “Sorry, aku baru selesai meeting dengan staff. Apa kegiatanmu hari ini, Sayang?”

“Hmm, gak banyak. Aku ke pantai mau ambil gambar di sana, tapi keburu hujan.”

“Di sini juga hujan sejak pagi. Kau gak kehujanan kan?”

“Gak kok, kan buru-buru pulang,” ujar Sandra bohong. Toh tak ada gunanya membuat kekasihnya kuatir bukan?

“Belum mau pulang, San?” Tanya Aryo hati-hati.

“Yeee, belum juga seminggu aku di sini.”

“Abis aku dah kangen nih,” ujar Aryo. Sandra tertawa lirih.

“Aku juga kangen, tapi masih bisa ditahan kan?” Goda Sandra.

“Nanti kalau kerjaanku sudah tak terlalu menumpuk aku akan menyusul, ya.”

“Hmm, kapan itu, Babe? Pekerjaanmu kan tak pernah ada habisnya?” Sindir Sandra halus.

“Heii, jangan begitu. Untukmu aku pasti ada waktu kok, hanya mencari waktu yang tepat saja,” elak Aryo. Sandra tertawa.

“Aku tunggu waktu yang tepat itu, Babe. Aku gak lari ke mana-mana kok.”

“Jaga diri di sana ya, jangan-jangan nanti kau terpikat pada pemuda di sana,” goda Aryo. Sandra merasakan sesuatu berdesir di dadanya.

“Heii, mana mungkin? Di sini aku selalu dalam pengawasan Tante Liz. Dan lagi entah ke mana perginya para lelaki di sini, tak satupun kutemui yang semenarik kamu,” balas Sandra. Tak diceritakannya bahkan Tante Liz pun ingin mengenalkannya pada dokter-dokter muda di rumah sakitnya.

“Jangan-jangan justru kau nanti dirayu klien-klienmu yang kaya-kaya itu?” lanjut Sandra. Suara tawa Aryo yang renyah terdengar di seberang.

“Aku masih normal, Non. Biar kaya kalo tante-tante aku gak minat laaa.”

“Jadi kalo anaknya tante-tante masih mau ya?” rajuk Sandra.

“Hahahaha….. gak laah. Kan hatiku sudah kau curi, tak mau kau balikin pula, bagaimana aku bisa membagi dengan yang lain?”

“Ahh, merayuuu…..”

Keduanya masih berbincang sesaat sampai akhirnya Sandra menutup ponselnya. Sungguh ia rindu pada lelaki yang hanya selalu punya waktu sedikit untuknya itu. Tapi itu demi masa depan bukan? Kedua orang tua Aryo sudah menyukai Sandra dan menerimanya layaknya seorang menantu kesayangan. Sedangkan Mama juga sudah menyayangi Aryo seperti anak sendiri. Sebetulnya tanggal pernikahan tinggal ditentukan, tapi Sandra masih mengulur-ulur waktu. Sungguh ia mencintai Aryo, hanya entah mengapa masih ada sesuatu yang menahannya untuk segera mengikat diri. Usianya sudah dua puluh enam dan Aryo tiga puluh. Usia yang sudah matang untuk membentuk sebuah keluarga. Untunglah Aryo begitu sabar dan bersedia mengerti dirinya meski orang tuanya sudah mendesaknya untuk segera menikah.

Sandra kembali mengamati foto yang terpampang di monitornya. Ini bukan suatu pengkhianatan bukan? Ini hanya rasa penasaran yang begitu menggebu terhadap lelaki angkuh yang tergambar pada layar monitornya. Lelaki angkuh dengan latar belakang samudera dengan ombak yang bergulung dan rinai hujan yang menyerupai kabut. Sungguh mempesona. Dewa Poseidon penguasa lautan!

to be continued, again…. 😉

Iklan

14 thoughts on “Lukisan Cinta, Episode 3

  1. Mabruri Sirampog Maret 18, 2012 / 6:00 pm

    sandra 26?? aaahh, masih seumuran dengan saya,, jadi bisa dong saya berharap… wkwkwkwk

    kita jumpa di episode selanjutnya, sandra.. 😀 😀

    Wakakaka…terus yang “itu” mo dikemanain, MasBrur 😛

  2. alamendah Maret 18, 2012 / 7:40 pm

    Wah sama kek saya nih Si sandra. Lagi sama-sama belajar fotografi. Kapan2 boleh dong ikutan hunting foto bareng. 🙂
    Lumayan biar jadi beken masuk dalam episode selanjutnya. 😀

    Yuk…yuk… banyak obyek di lautan, Mas 😀
    Sik…sik…nanit tak masukin di episode berapa yaa…. 😀

  3. lidya Maret 18, 2012 / 7:59 pm

    aku juga nikah umur segituan mbak 🙂 duh kurang panjang nih mbak episode ini

    Hihihihihii….karena episode selanjutnya udah masuk Bab II, Jeng 😀

  4. lidya Maret 18, 2012 / 8:01 pm

    aku juga nikah umur segituan mbak 🙂 duh kurang panjang nih mbak episode ini. aryo jgn datang buru2 menjumpai sandra ya supaya lebih asyik 🙂

    Aryo masih sibuk kok, Jeng. Eh, tapi nanti datangnya di saat terduga, waaa bisa berabe nih 😛

  5. Ni CampereniQue Maret 18, 2012 / 10:05 pm

    hmm … sandra kepincut sama laki-laki nelayan
    dan aryo ditinggalin …
    terus … *lho kok ngarang sendiri?* hahaha … sudah tau deh gak bakal bikin kayak gitu kan mbak xixixi

    Waduh, JengNi, aku bahkan lom tau mo gimana endingnya :mrgreen:

  6. ~Amela~ Maret 19, 2012 / 7:16 am

    huaaa sandram jangan main mata dong, kan udah ada mas aryo ih,.
    mas agung kan milikku sajaaa

    Mellaaaaa, kok senengane sing macho ngono kuwi lho :mrgreen:

  7. Orin Maret 19, 2012 / 11:04 am

    Bukan Sandra, mengagumi seorang Poseidon bukan pengkhianatan *ups* qiqiqiqiq

    Ouh, maka Sandra pun melanjutkan menatapi wajah Agung 😛

  8. bunda lily Maret 19, 2012 / 12:01 pm

    kalau sekedar penasaran gak apa apa kok,sandra………
    yg penting jgn sampai meninggalkan Aryo demi Agung…..
    ( kalau pakai acara ninggalin segala, pasti sedih deh … 😦 )
    dan…..aku pasti ikutan mewek…hiks…. 😦
    salam

    Bundoo, Sandra bakalan galau nih 😀

  9. maminx Maret 19, 2012 / 4:25 pm

    oww penasaran nih..akankah sandra terbujuk rayu oleh pesona dewa poseidon, Agung sesuai namanya, cocok jadi dewa yang agung ya, hehe…

    berarti semakin cowok membuat cewek penasaran, semakin asik ya? ada tangangannya gitu ya?
    kasian aryo kalau ampe ditinggal sandra, kan mau merit tuh 😛

    Hihihihihihi….cowok yang terlalu cuek malan nyebelin, bukan nantangin 😛

  10. Hanggar PS Maret 20, 2012 / 3:02 am

    huuumt pemilik blog ini pasti sangatlah menyayangi anaknya

    Bahkan sangat memuja mereka 😀

  11. dokter anak Maret 20, 2012 / 8:40 am

    bagus ceritanya…

    Makasiy, ikuti terus yaa 😀

  12. Imelda April 16, 2012 / 6:07 pm

    poseidon! Aku juga ingin menaklukkanmu! huh …… hahahaha

    Gantengnyaaaa, gak tahaaannn 😳

  13. Dewi Fatma April 20, 2012 / 4:44 pm

    Sandra, sudahlah. Kau dengan Poseidon aja, biarkan Aryo untukku…hak..hak..hak..

    Kok yang ini pendek, Mbak?

    Enak jadi bojone Aryo, jalan-jalan teroooosss 😛
    Sekali-sekali memendek lah 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s