I Adore You

Tentu saja berita kematian itu ku kliping, bersama dengan guntingan koran lainnya yang telah menguning. Berita setengah halaman tentang kematian Marina, dengan fotonya yang masih cantik meski usianya mendekati tujuh puluh tahun. Aku tak tahu harus berduka atau justru terbebas? Entahlah, aku begitu mencintainya sekaligus membencinya.

Kupandangi buku besar yang nyaris penuh dengan berita tentang Marina. Mulai dari aku mengenalnya hingga aku aku tak mau mengenalnya, atau tepatnya ia yang tak mau lagi mengenalku. Sedemikan rupa ia menghindariku. Akupun menutup mataku mencoba kembali menghadirkan Marina dalam anganku.

 ************************************

“Ah, mawar merah lagi. Siapa sih yang begitu murah hatinya mengirimiku mawar? Bukankah ini sudah yang keenam kalinya?” Tanya Marina padaku. Aku hanya mengangkat bahu dan membereskan script yang baru dibacanya.

“Pengagum rahasia tentunya,” sahutku acuh. Marina menciumi bouquet mawar yang begitu indahnya dan membaca kartu kecil yang tersemat. Hanya kata-kata penuh pujian dan pernyataan cinta.

“Pasti mahal harganya. Ah, andai aku tahu siapa dia,” gumamnya. Aku mengernyitkan dahi.

“Lalu, kalau kau tahu?” Tanyaku sedikit ketus. Marina tertawa kecil.

“Tentu saja aku akan berterimakasih padanya,” jawabnya ringan.

“Hanya itu?”

“Iyalah, apalagi? Kau kan tahu aku sudah bertunangan dengan Surya? Meski hanya kau yang tahu,” sahutnya.

Aku cemburu setengah mati. Mengapa aku harus mengenalnya? Menjadi asistennya pula. Huh! Setiap kali aku harus menahan diri melihatnya dikerumuni para pengagumnya, para pria hidung belang. Terlebih lagi jika sudah berduaan dengan Surya, seolah aku hanyalah pajangan saja. Hiasan mati yang melihatnya bermesraan dengan kekasihnya. Aku tak tahan berdekatan dengannya, tapi aku bisa mati kalau jauh darinya!

 ********************************

Kiriman bouquet yang kesembilan. Kali ini bukan mawar merah, tetapi anggrek kuning. Marina tak mau menyentuhnya. Aku mengangkat bahu dan mencampakkan bunga itu ke sudut sofa.

Seminggu kemudian kembali datang bouquet, kali ini mawar putih. Marina sangat menyukainya, dipajangnya di dalam vas dan berkata akan diletakkan di kamar tidurnya. Perasaan aneh berdesir dalam dadaku. Rupanya setelah sekian lama, aku baru tahu bahwa ia menyukai mawar putih daripada mawar merah. Dan sejak itu tak sekalipun mawar merah terkirim, hanya putih dan putih.

 ********************************

Aku sedang membayar pesananku di toko kecil itu ketika Marina tiba-tiba muncul.

“Hei, sedang apa kau?” Tanyanya terheran-heran. Aku terkejut bukan kepalang.

“Eh…mmm…kau sendiri sedang apa?” Tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya.

“Aku mau memesan bunga untuk ultah Ibuku,” jawabnya. Dadaku berdebaran tak karuan, terlebih ketika pelayan toko itu mendekatiku.

“Dikirim ke tempat biasa bukan? Nona Marina…..,” pelayan itu tak melanjutkan ucapannya karena telah kutarik menjauhi Marina. Tapi terlambat. Ia tentu sudah mendengarnya. Aku lemas.

“Jadi…jadi…selama ini…?” Marina tergagap mendekatiku. Aku tertunduk lesu, tak mampu menjawabnya. Dasar pelayan tolol!

“Mengapa? Maksudmu apa?” Desak Marina. Air matanya jatuh bercucuran, wajahnya memucat.

“Aku…mencintaimu,” bisikku tak berdaya. Marina terbelalak.

“Kau….kau…kau sakit, Nenie!”

Aku memang sakit dan tak berdaya karena memujanya.

  ********************************

Kututup buku besar penuh kenangan itu. Cintaku telah terkubur bersama Marina. Selamanya aku akan sebatang kara. Dan aku masih tak tahu, cinta atau bencikah aku padanya? Aku memujanya.

 

Bogor, 26 Maret 2012

Iklan

9 thoughts on “I Adore You

  1. ~Amela~ Maret 26, 2012 / 2:51 pm

    Keren mbaak 😀
    jadi ternyata Neni itu perempuan ya??
    memang batas cinta dan benci itu segitu tipisnya

    Cinta bisa berubah benci dan benci bisa jadi cinta yaa hahahahaha 😀
    Ho oh, Nenie wedok jeh…

  2. Orin Maret 26, 2012 / 5:21 pm

    eyampuuun, bu Choco ini ngayalnya top markotop bgt seeeeh *ngiri aku* huhuhuhu

    Pengalaman pribadi, Orin. Waaaaaa, bo’ong deeeng 😛 :mrgreen:

    • phingai Maret 26, 2012 / 5:29 pm

      [nebeng tereak bareng Ateu orin..]

      eyampuuuunnn, bude Neniiii.. 😛

      #emang keren sih bude choco ituwh.

      Wakakakaka…. Bude Nenie meranaaaa 😛

  3. alamendah Maret 26, 2012 / 9:28 pm

    Sebuah kepahitan yang tersaji dengan sangat manisnya.

    Owh, Mas Alaaam, bahasanya apik temen, kontradiktif tapi indah 😛

  4. Lidya Maret 26, 2012 / 9:30 pm

    berhasil menipuku hehehe.aku mikirnya cowo ternyata nenie 🙂
    keren mbak.tularin dong ke aku supaya bisa nulis

    Hihihihihi…. mari sini dekat-dekat aku Jeng, nanti tak tularin 😛

  5. Bibi Titi Teliti Maret 26, 2012 / 10:55 pm

    waduh…
    jadi maksudnyah…
    maksudnyaaaa….

    tapi kita kan gak bisa mengendalikan siapa harus cinta ama siapa kan…
    who are we to judge?

    fiksi yang keren mba 🙂

    Gak taunya jeyuk makan jeyuk ya, Jeng 😆
    Makasiiiy….

  6. Imelda April 16, 2012 / 6:11 pm

    aduuuh aku sih suka caramu menceritakannya, tapi amit-amit deh jgn sampe sesama jenis 😀 aku masih lebih suka batangan hahahha

    Saya juga suka batangan, BuEm, tapi emas hihihihihi…. 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s