Iseng Aja

Lukisan Cinta, Episode 4

Sebelumnya, baca yang lalu dulu yaa….

BAB DUA

PASIR BASAH

“Sejak ratusan atau ribuan tahunkah

Butir-butir pasir  menerima lautan dengan penuh kerahiman

Menyesap asinnya garam dan menelan buih-buih pahit

Pasir, seringkali lebih menjanjikan kehangatan”

 Episode 4

Sandra bergegas menyusul Tante Liz ke dalam mobil. Malam ini ia diajak Tante Liz untuk menghadiri perayaan ulang tahun kedua RS. Apollo tempat Tante Liz memimpin. Sebenarnya Sandra enggan ikut tapi tak sampai hati ia mengecewakan Tantenya yang sudah begitu baik padanya. Apalagi Om Darma, suami Tante Liz yang sedianya akan datang dari Jakarta mendadak tak jadi datang karena ada urusan dinas.

“Ini acara buat seluruh karyawan, Tan?”

“Gak, malam ini khusus direksi dan para dokter. Untuk karyawan dan keluarganya minggu depan piknik ke Pantai Alam Indah.”

“Wuih, asyik banget? Boleh ikutan gak?”

“Boleh, mau ikut yang kapan? Sabtu depan atau depannya lagi?”

“Lho, emang dua kali, Tan?”

“Iyalah, gantian, kalo gak rumah sakit tutup, dong?”

“Ooo, hmmm…. Sabtu depan aja deh, ya.”

“Siipp lah.”

Tak sampai tiga puluh menit mereka tiba di rumah sakit. Tante Liz menyerahkan kunci pada petugas valet dan segera menuju auditorium di lantai tujuh. Sandra mengekor saja di samping Tantenya. Suasana sudah tampak ramai. Beberapa orang manager segera menghampiri mereka. Tante Liz mengenalkan Sandra pada mereka. Berbarengan mereka masuk menuju auditorium. Ruangan sudah nyaris penuh. Di tengah ruangan sudah tertata menu buffet sedangkan aneka pondok-pondok hidangan berjajar di pinggir-pinggir. Persis acara pernikahan saja. Di depan dengan latar belakang hiasan dan tulisan besar ulang tahun RS. Apollo berdiri panggung rendah yang ditata dengan apik. Untuk tamu-tamu VIP disediakan round table yang ditata dengan anggun.

Tante Liz mengajaknya menuju salah satu meja yang telah disediakan untuknya. Selanjutnya Sandra bak sapi cantik yang siap disembelih untuk hari raya kurban. Bagaimana tidak? Tantenya yang ibu direktur itu segera dikelilingi orang-orang dan tamu-tamu. Sementara Sandra tak tahu harus berbuat apa atau bicara apa. Akhirnya diam-diam ia meninggalkan meja dan segera hinggap di sudut ruangan dekat meja soft drink diletakkan. Diambilnya gelas kecil berisi fanta merah dan langsung diminumnya hingga tandas.

“Wah, haus sekali nampaknya?” Suara lembut seseorang mengejutkannya. Sandra menoleh ke samping. Seorang pria muda yang bertampang lumayan tersenyum padanya. Sederet gigi putih dipamerkannya bak iklan pasta gigi. Sandra tersenyum. Pria itu mengulurkan tangan padanya.

“Frans, Dokter Frans Hena ” ujarnya memperkenalkan diri. Sandra menyambut uluran tangannya.

“Sandra.”

“Kulihat tadi kau datang bersama dr. Liza?” Sejenak Sandra bingung. Lalu tersenyum sendiri. Dr. Liza, tak biasa ia mendengar nama itu.

“Iya, beliau tanteku,” sahutnya pendek. Entah mengapa malam ini ia sedang malas bercakap-cakap dengan siapapun.

“Owh, kok aku gak pernah melihatmu?” Duh, cerewet sekali sih, batin Sandra dalam hati.

“Aku belum lama datang ke kota ini, sedang berlibur, aku tinggal di Jakarta,” jawab Sandra panjang berharap tak ada lagi pertanyaan-pertanyaan. Baru saja dokter itu hendak membuka mulut lagi, MC mengumunkam bahwa acara segera dimulai dengan sambutan dari direktur rumah sakit. Kesempatan bagi Sandra untuk meninggalkan Frans dan segera mengambil kamera andalannya. Bergegas ia ke depan agar bisa mengabadikan Tantenya yang sedang memberi sambutan.

Acara berlangsung hingga larut dengan Frans yang tak henti-hentinya mengekor ke manapun Sandra melangkah. Hih, agak kesal ia sebenarnya walaupun akhirnya dapat menikmati obrolan dengan pria yang ternyata sangat nyambung dan juga hobi fotografi itu

“Kapan-kapan aku akan tunjukkan hasil foto-fotoku ya, juga cara mengedit agar foto nampak lebih soft dan alami,” ujarnya.

“Wah, dengan senang hati. Hasil jepretanku memang masih polos apa adanya, “ balas Sandra.

“Sabtu depan kita janjian di sini?”

Sandra hampir saja mengiyakan ketika teringat bahwa ia akan ikut Tantenya piknik ke pantai.

“Mm, mungkin Sabtu depannya lagi kalau Dokter gak ada cara?”

“Ah, sudah selama ini kita ngobrol, panggil saja aku Frans, tanpa embel-embel dokter, okay?”

Sandra mengangguk dan tertawa kecil. Pria ini sebetulnya cukup menarik, dengan tubuh atletis dan wajah lumayan. Usianya mungkin sekitar tiga puluh limaan, lebih tua dari Aryo. Obrolan pun terhenti karena Tante Liz telah menelponnya dan mengajak pulang. Sandra segera melepaskan diri dari Frans dan menyusul Tantenya di pintu auditorium.

“Tampaknya kau sudah punya kenalan baru, Non?” Tanya Tante Liz ketika mobil mereka melaju menuju rumah.

“Iya, dr. Frans Hena. Dokter apa dia, Tan?”

“Frans? Oh, dia internis baru lulus, tapi cerdas dan cekatan. Dan lagi, ia anak Prof. Sukma, salah satu investor rumah sakit ini. Pasiennya banyak dan…. masih single, lhooo,” goda Tante Liz tertawa.

“Ah, aku gak minat, Tante. Orangnya emang menyenangkan tapi rada-rada sok juga. Males jadinya.”

“Baru juga berapa jam ketemu, ntar kalo naksir beneran tau rasa deh!”

“Gak akan!”

***********************************

to be continued 🙂

11 tanggapan untuk “Lukisan Cinta, Episode 4

  1. waah.. mestinya terbit kemarin ya mbak??
    makin banyak saja lelaki kece yang mengerubungi sandra..
    tapi tetep dong, hatiku sudah dicuri mas agung yang ganteng. hhohoho

    Ho’oh, maren tergoda proyek lain 😛
    Mas Agung emang top, tapiii judesnyaaaa….. masih minat, Mel?

  2. Pantai Alam Indah itu kan adanya di Tegal toh?
    disebutnya PAI hehehe
    jadi pengen ke sana lagi deh …

    Waaa, padahal di naskah asli dah tak ganti ke Guci. Yang ini kok masih PAI yaa waaaa 😥
    Lho, dah pernah ke sana to, Jeng?

  3. ga ada cerita mas agung episode ini. jadi saat ini ada 3 pria kira2 mana yg akan sandra pilih ya 🙂

    Hehehehe….kalo Mas Agung terus ntar penasarannya ilang ah… 😛

  4. ighh, tante sandra pasti secantik kayak sandra dewi gituwh.
    selalu aja didekatin om2 ganteng..

    aquwh kan jadi sirik bude..
    padahal kayaknya itu om frans, om Aryo atau om Agung lebih cocok sama aquwh. #yang mana aja boleh. 😛

    #lanjutkan bude.!

    Wkwkwkwk…. gak kayak Sandra Dewi kok, tapi kayak Puspita Dewi :mrgreen: (gubraakkk)
    Aih, Ngaiiii, bermainlah dengan anak muda seumurmu, mereka kan dah Om-Om. Ssst, apalagi salah satu dari Om itu jahat lhoo. Hiiiiyy…..

  5. Waduh? pengusaha, nelayan, sm dokter? hmmmm…milih yg mana *berpikir keras*

    Wkwkwkwkw…. salah satunya jahat lho, Say. Yang mana hayooo 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s