Iseng Aja · Ketawa dulu

Duyung Dayani

Dikisahkan kembali berdasarkan penuturan Tirra Djoen. Sebuah kisah nyata.

Pekalongan, 1998

Tangisan pertama seorang bayi yang direnggut paksa keluar dari rahim ibunya, menggegerkan seluruh isi rumah. Seruan-seruan penuh haru dan syukur berkumandang. Seorang bayi perempuan yang sempurna, cantik. Sang Ibu menangis haru ketika si dukun bayi meletakkan bayi tu di dadanya, menyusu untuk pertamakalinya. Sungguh kuasa Tuhan, si bayi lahir dengan sempurna dan mudah, mengingat segala keterbatasan ekonomi yang membelenggu.

Di luar, kakak si bayi -seorang bocah laki-laki berumur 4 tahun- jongkok di halaman sambil mengorek-ngorek tanah. Seolah tak peduli peristiwa yang terjadi di dalam sana. Aku mengampiri Leto (Nama Tole sudah terlalu biasa), si bocah -anak Yu Sri- pembantuku.

Lanjutkan membaca “Duyung Dayani”

Dongeng insomnia · Iseng Aja

Lukisan Cinta, Episode 8

Aw…aw…baca yang lalu dulu yaaa 😉

Episode 8

Frans menatap rombongan karyawan dan keluarganya yang bergerombol di dekat bis. Ada tiga bis untuk menampung sebagian karyawan rumah sakit beserta keluarganya. Mata Frans tak lepas dari sosok bertubuh langsing semampai yang mengenakan jeans selutut, kaus ungu muda dan tentu saja kamera besar terkalung di lehernya. Rambutnya diikat dengan beberapa untaian rambut nakal yang tergerai di telinganya. Sepatu sandalnya manis sewarna dengan kausnya, memberi kesan putih cemerlang pada betisnya. Ia sibuk menggandeng ke sana ke mari seorang gadis remaja yang manis namun tampak tak percaya diri dan sedikit ketakutan.

Frans melirik jamnya. Masih setengah jam lagi sebelum jam prakteknya mulai. Ia berjalan mendekati Sandra di pelataran.

“Hallo, Sandra,” sapanya pada gadis yang menarik hatinya itu. Sandra menoleh dan segera tersenyum melihat Frans.

“Hai, Dok…eh…Frans,” sahutnya lalu tertawa melihat kerut di kening Frans saat ia memanggilnya “Dok”.

“Kau ikut wisata ya?” Tanya Frans.

“Iya, ini aku mengajak adikku. Ning kenalkan ini dr. Frans,” ujar Sandra lalu mengacungkan tangan Ningrum dari genggamannya. Gadis kecil itu tersenyum malu-malu.

“Adik? Aku tak tahu kau datang bersama adikmu?” Frans mengamati keduanya, berusaha mencari persamaan di antara keduanya. Sandra tampak begitu percaya diri sedangkan adiknya tampak malu-malu, bahkan bisa dibilang ketakutan.

Sandra hanya tertawa tak menanggapi kecurigaan Frans.

“Jam segini sudah praktek?” Tanyanya pada Frans.

“Oh, biasa. Setiap pagi visite pasien rawat inap dilanjut praktek sampai tengah hari nanti. Pulang sebentar lalu kembali praktek nanti sore sampai malam. Maklumlah, pasien sudah mulai banyak di sini,” jelas Frans menjelaskan kegiatannya sebagai dokter full time di Apollo.

“Waduh, kapan istirahatnya?” Tanya Sandra terheran-heran. Frans tertawa.

“Sabtu dan Minggu libur. Dan, kapan kita bisa belajar bersama soal forografi?”

“Oh…eh… Sabtu depan bukan? Setelah aku pulang dari wisata ini pasti akan banyak obyek foto kudapat. Kau bisa melihat dan mengoreksinya,” sahut Sandra.

Percakapan mereka terhenti karena ketua rombongan telah memberi perintah agar semua masuk ke dalam bis. Sandra segera berpamitan dan menarik Ningrum masuk ke dalam bis.

Frans melambaikan tangannya ketika bis yang ditumpangi Sandra melaju meninggalkan pelataran rumah sakit. Senyum tersungging di bibirnya, rasanya ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan ia yakin, seyakin diagnosanya pada pasien yang mengidap fatty liver  tadi malam, bahwa Sandra pun tertarik padanya.

*******

Lanjutkan membaca “Lukisan Cinta, Episode 8”

Fiksi Kilat · Iseng Aja

Anak Pertama

Rumah Sakit siang ini tak begitu ramai. Bayi perempuan dalam gendonganku masih menangis meminta susu. Sementara anak lelakiku erat berpegangan pada kemeja batikku. Dan sebelah kiri anak perempuanku merengek minta gendong. Jarak usia anakku tak banyak satu sama lain, dan aku ingin ikut menangis bersama mereka. Lihatlah diriku, seorang ayah dengan tiga balita yang ditinggal ibunya.

Seorang ibu yang iba menghampiriku. Berusaha membantuku yang kerepotan meramu susu dengan bayi dalam gendonganku.

“Aduuh, lucunya bayi ini. Mau imunisasi ya, Pak? Mari saya bantu,” ujar Ibu itu ramah. Dengan lega kuserahkan bayi dalam gendonganku. Kini kedua tanganku bebas meramu susu untuk anakku. Sementara Si Ibu menimang bayiku dengan luwes.

“Wah, ini kakak-kakaknya ya?” Tanya Si Ibu sambil tersenyum ramah pada kedua anakku yang lain.

“Iya, Bu. Terimakasih, mari saya gendong susunya sudah siap,” jawabku lalu meminta bayiku. Namun dengan ramahnya Si Ibu mengambil botol susu dari tanganku dan memberikannya pada bayiku yang menyesap dengan rakusnya.

“Lapar sekali kau, Nak? Oh ya, mana ibunya? Sedang kontrol ya?” Tanya Si Ibu.

“Eh, Ibunya eh…pergi…eh… pulang ke rumah orang tuanya,” jawabku kikuk sambil menenangkan anak perempuanku yang rewel. Si Ibu memandang iba pada bayiku dan kedua anakku yang lain dan aneh padaku. Mungkin dalam hatinya berpikir, setega itukah ibunya pergi meninggalkan anak-anak manis ini? Ah, namun aku maklum.

“Ooh. Ini yang mana anak pertama yang mana kedua? Kok sepertinya tak beda jauh usianya ya?” Tanya Si Ibu lagi melihat aku menggendong anak perempuanku dan memeluk anak laki-lakiku.

“Eh…oh… mereka bertiga anak pertama saya semua, Bu,” jawabku tersipu.

Si Ibu terbelalak, bengong sejenak, lalu segera mengembalikan bayiku dalam gendonganku. Tanpa senyum Si Ibu pergi meninggalkan kami. Dan aku kembali kerepotan mengurus ketiga anak pertamaku.

Fiksi Kilat · Iseng Aja

Forbidden Love (2)

Sepasang kekasih itu duduk berdampingan, memandang bulan penuh yang memantulkan sinar kemilau bintang. Malam yang syahdu.

“Jadi, maukah kau menjadi pasanganku?” Tanya Sang Macho pada kekasihnya.

“Aaahhh, tak ada yang lebih kuinginkan daripada menjadi istrimu,” jawab kekasihnya dengan menghela nafas panjang.

“Lalu, mengapa kau masih ragu?”

Kekasihnya memandangnya dengan tatapan merana.

“Kau kan tahu, orang tua kita, keluarga kita, nenek moyang kita, bermusuhan sejak bertahun-tahun, bahkan berabad-abad lalu. Apa jadinya kalau kita menikah?”

“Ah, persetan dengan mereka! Permusuhan ini takkan ada habisnya. Biar saja mereka bermusuhan, kita putuskan kutukan ini, Sayang. Kelak anak-anak kita akan hidup damai selamanya.”  Ia memeluk kekasihnya dengan satu tangannya. Kekasihnya masih menunduk.

“Aku putus asa. Lihatlah, kau dari kalangan ningrat, sedangkan aku apa? Hanya jelata yang berkeliaran tak tentu arah demi mengisi perut. Apa jadinya kalau keluargamu sampai tahu? Aku hanya akan diusirnya saja,” ujar kekasihnya sedih.

“Tapi aku mencintaimu. Baiklah, kita lari saja, kabur, minggat?” Ajaknya penuh semangat. Kekasihnya memandangnya penuh cinta sekaligus kasihan.

“Kabur? Sayangku, kabur kemanapun aku akan bertahan. Tapi kau? Kau akan mati, Sayang. Aku tidak mau itu terjadi.”

“Lalu bagaimana?”

Siberian Husky itu memandang kekasihnya yang tak begitu rupawan – seekor kucing liar dengan bulu tiga warna – dengan putus asa.

Fiksi Kilat · Iseng Aja

Emansipasi

“Aduuuuh, mengapa kamu pakai kebaya Mamaaa? Itu mau Mama pakai nanti malam!” Mama berteriak terkejut melihat kebaya yang baru saja selesai dijahit dipakai anaknya.

“Kan ini Hari Kartini, Ma. Memperingati emansipasi,” jawab anaknya sambil mematut-matut dirinya di depan cermin. Mama sibuk melepas kebaya itu dari anaknya.

“Aaahhh, tau apa kamu soal emansipasi?” Geram Mama.

“Persamaan hak perempuan dan laki-laki kan? Perempuan boleh jadi pilot, jadi polisi, jadi….”

“Iyaaa, tapi itu tidak berarti anak laki-laki boleh pakai baju perempuan, Doniiii!!!”

Selamat Hari Kartini. Semoga emansipasi ini tidak  kebablasan, perempuan tetaplah perempuan 😉

Dongeng insomnia · Iseng Aja

Lukisan Cinta, Episode 7

Sebelumnya, yuuuuk baca yang ini dulu…

Episode 7

Ningrum menarik tangan Sandra masuk.

“Ayo, Kak, ini rumah kami, maaf ya kalau bau ikan.”

Sandra trenyuh. Di hadapannya berdiri sebuah rumah mungil, dengan hamparan balai-balai bambu tempat menjemur ikan. Rumah bertembok namun tak bercat, berhalaman namun tak berpagar, bergenteng namun hujan tetap merembes. Dan rumah-rumah lain yang serupa bertebaran di sekelilingnya.

Sandra mengikuti Ning masuk ke dalam rumah sederhana itu. Suara lembut seorang Ibu membalas salam Ningrum.

“Ibu, aku membawa tamu. Dari Jakarta lho, namanya Kak Sandra. Kak, ini Ibuku,” ujar Ningrum memperkenalkan tamunya. Seorang wanita yang – kini Sandra tahu darimana Poseidon mendapatkan warisan hidung dan tulang pipi tinggi itu – sudah berumur namun masih cantik meski mulai terkikis oleh gurat-gurat kepedihan. Senyumnya ramah seperti Ningrum, wajahnya menawan seperti anak lelakinya. Sandra mengulurkan tangannya.

“Apa kabar, Ibu? Saya Sandra.”

Lanjutkan membaca “Lukisan Cinta, Episode 7”

Cari Solusi · Cintaku · Iseng Aja

Infeksi

Waktu Cantik berumur enam tahun (setting: sedang belanja bulanan).

Cantik : Bundaaaa….

Aku      : Ya, Sayaaang…

Cantik : Bunda beli apa sih itu?

Aku      : Oh..eh…ini pampers buat Bunda

Cantik : Kok Bunda masih pake pampers?

Aku      : Iya, karena ehh… Bunda “infeksi” jadi harus pakai pampers (tak tau harus menjelaskan bagaimana)

Entah mengerti atau tidak, pembicaraan tak berlanjut.

Sekarang, Cantik berumur delapan tahun (setting: belajar menjelang ujian).

Cantik  : Bundaaaa…..

Aku       : He hemmm….

Cantik   : Menstruasi itu apa sih?

(Aku terlompat sampai ke halaman, dan segera balik lagi)

Aku       : Adek tau kata itu darimana?

Cantik  : Dari guru Adek, ini di buku agama ada. Kalo sedang menstruasi gak boleh sholat.

Aku    : Ooo iya betul. Adek ingat dulu Bunda pernah bilang kalo Bunda infeksi? (Cantik mengangguk) Nah, sebetulnya maksud Bunda bukan infeksi tapi menstruasi itu.

Cantik  : Artinya apa?

Aku       : (mumet maning) Mmm, itu satu hal yang akan dialami setiap perempuan kalo sudah dewasa, sudah akil balik.

Cantik    : Trus kenapa pakai pampers?

Aku        : Karena eh karena… judi itu haraamm… kita akan mengeluarkan darah dari pipis (piye jal njelasine?)

Cantik    : Waaaa, sakit gak, Bundaaaa?

Aku        : Gak laah, gak berasa kok. Itu hal biasa, semua perempuan pasti akan mengalami, tapi nantiii kalo sudah dewasa, masih lamaaaaa. Yuk, belajar lagi.

Dan akupun segera membahas topik lain. Tanpa terasa, peluh mengalir di keningku :mrgreen:

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

Enchanted

Perempuan itu cantik sekali. Tak tertandingi. Memesona, menghipnotis, mematungkan, entah kata apalagi yang bisa menggambarkan keindahan itu. Aku menunduk menatapnya terus menerus, masih tersihir kecantikannya. Senyum tak pernah lepas dari bibirku, mata tak henti mengerjap menikmati raut wajahnya. Ah, betapa indah!

Lalu, sekuntum bunga flamboyan jatuh, tepat di sisi kepalanya. Sedikit wajah itu bergelombang, namun kecantikannya tak pudar.  Seraut bidadari dengan bunga flamboyan sebagai hiasannya. Oouuuhhhh, indah tiada tara!

Meski terus berlutut dan membungkuk, namun tak terasa pegal punggungku. Bagaimana tidak, bibir itu tak hentinya merapalkan mantra yang membuatku tak mampu beranjak darinya. Tiba-tiba seekor katak melompat! Membuyarkan bidadari cantik itu menjadi pendar-pendar rusak! Aku marah! Sangat marah! Murka!

Maka kukejar katak itu, kutangkap dengan tanganku sendiri. Lalu kulempar dia jauh-jauh dan kuat-kuat. Sedetik kemudian kudengar bunyi berkeretak, binatang itu pasti mati. Biar saja! Kuusapkan tanganku pada gaunku.

Bergegas aku kembali ke tepi telaga, membungkuk pada tepinya dan menunggu air tenang. Perlahan, wajah bidadari itu muncul kembali. Cantik, memesona, menyihirku. Aku tersenyum bahagia.

Gambar dipinjam dari Google 🙂

Dongeng insomnia · Iseng Aja

Lukisan Cinta, Episode 6

Sebelumnya, yuuuuk baca yang ini dulu…

Episode 6

“Ning…mmm….mau minta uang, Mas. Untuk bayar SPP. Kemaren gak sempat ketemu Mas Agung kan?” bisik Ningrum. Mencelos hati Sandra. Jadi gara-gara itu? Agung merah padam. Tanpa berkata-kata ia keluarkan beberapa lembar uang dari dompet lusuhnya lalu memberikan pada Ningrum. Setelah itu tanpa berkata apapun ia turun dari perahu meninggalkan mereka berdua.

Setelah yakin Agung jauh dari mereka, Sandra segera membuka mulutnya. Sebelum Sandra mengucap apapun, Ningrum memberikan lembaran uang itu kepada Sandra.

“Ini Kak, Ning gak bisa lama-lama berhutang, takut ketahuan.”

“Aduuuuh, Ningrum, Ningrum! Hanya gara-gara ini kamu rela dimarahi kakakmu? Dengar ya, aku sering-sering datang ke pantai ini bukan untuk menagih hutang! Aku datang karena memang senang datang ke mari. Hiiih, kamu ini, bikin jantung mau copot aja!” Sandra berusaha menahan suaranya yang gemas. Ning tersenyum, tangannya masih terulur dengan lembaran uang. Sandra bimbang.

“Eh, gimana kalau uang ini buat kamu saja. Aku ikhlas kok. Bukan….bukan…. karena aku kasihan, tapi karena aku suka sama kamu. Please, jangan tersinggung ya. Tapi aku sudah menganggap lunas pinjamanmu. Okay?”

Ningrum ragu. Ia memang membutuhkan uang untuk mengganti seragamnya yang sudah robek, tapi menerima pemberian orang lain? Bisa murka Mas Agung kalau sampai tahu. Sandra seolah bisa membaca pikiran remaja itu. Digenggamnya tangan Ningrum.

“Jangan kuatir, aku tetap pegang rahasia kok. Kakakmu gak akan tahu.”

Ningrum masih ragu, namun Sandra menganggukkan kepalanya. Senyum merekah di wajah gadis manis itu.

“Terimakasih. Suatu saat nanti, Ning akan membalas kebaikan Kak Sandra.”

Sandra tersenyum. Dipeluknya gadis yang baru mekar itu. Berdua mereka turun dari perahu. Sandra bahkan lupa niatnya untuk menjelajah perahu biru yang tampak kokoh itu.

Di bawah, Agung tampak membereskan sesuatu. Demi dilihatnya kedua gadis itu ia segera mendekat.

Lanjutkan membaca “Lukisan Cinta, Episode 6”