Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

Makan Malam (2)

Bocah laki-laki itu berumur sekitar tujuh tahun, badannya kurus, pandangannya kosong. Dia duduk satu meja dengan sebuah keluarga kecil. Dua anak termasuk dirinya, ayah dan ibu yang selalu mengatur ini itu di piring gadis kecilnya. Restoran ini memang penuh pada jam makan di hari libur begini.

Meja mereka tepat berada di depan mejaku. Sementara di depanku baru ada segelas sour soup juice, mereka telah menikmati hidangan makan malam lengkap. Namun aku merasa ada sesuatu yang janggal. Mengapa bocah laki-laki itu tak ikut makan? Mengapa Sang Ayah dan Ibu itu hanya memperhatikan gadis kecilnya? Seolah bocah laki-laki itu tak tampak bagi mereka. Lihat, bahkan tak ada segelas air putih pun di hadapannya.

Kuperhatikan wajah bocah laki-laki itu. Memang tak mirip ibunya, tak mirip pula adiknya, atau mungkin mirip ayahnya? Entahlah, karena posisi sang ayah membelakangiku sehingga aku tak tahu pasti wajahnya. Aku terus memandangi bocah yang diam itu. Nyaris tak ada pergerakan, hanya sesekali menunduk atau menatap hampa pada adiknya atau ibunya atau ayahnya.

Pesananku datang. Sejenak kulupakan bocah itu dan dengan lahap segera kunikmati sepinggan steak yang masih mengepul. Mumpung masih tanggal muda tak ada salahnya memanjakan diri dengan hidangan yang tak biasa.

Di tengah-tengah makanku, kulihat keluarga kecil di depanku mulai bersiap-siap pergi. Rupanya makan malam mereka telah usai. Tapi, hei, mengapa bocah laki-laki itu tak ikut berdiri? Si Ibu menggandeng gadis kecilnya dan si ayah melenggang begitu saja. Mereka berjalan tanpa peduli pada bocah kurus itu.

Aku terheran-heran. Dengan mulut setengah penuh kupanggil keluarga itu sambil berdiri.

“Bu….eh…ini anaknya masih ketinggalan!”

Si Ibu menoleh ke arahku dan memandangku heran. Sementara bocah laki-laki itu menatapku, masih dengan pandangan hampa dan memelas.

“Ini anak laki-lakinya kok gak diajak pulang?” Tanyaku sambil menunjuk ke arah bocah kecil itu.

Si Ibu menoleh ke kursi yang kutunjuk dan kembali menatapku heran.

“Anak laki? Ini anak saya, cuma satu, perempuan,” ujar Ibu itu heran.

“Lho, ini lho, Bu, yang duduk semeja dengan ibu tadi?”

Bagaimana mungkin Si Ibu tak sadar anaknya ikut duduk bersamanya?

“Tidak ada, Mbak. Kami hanya bertiga sedari tadi.”

Aku menoleh ke bocah laki-laki tadi. Namun ia sudah tak ada, menghilang tanpa kulihat lewat mana dia pergi. Tiba-tiba bulu kudukku meremang dan sekujur punggungku dingin.

Bekasi, 03 April 2012