Lukisan Cinta, Episode 6

Sebelumnya, yuuuuk baca yang ini dulu…

Episode 6

“Ning…mmm….mau minta uang, Mas. Untuk bayar SPP. Kemaren gak sempat ketemu Mas Agung kan?” bisik Ningrum. Mencelos hati Sandra. Jadi gara-gara itu? Agung merah padam. Tanpa berkata-kata ia keluarkan beberapa lembar uang dari dompet lusuhnya lalu memberikan pada Ningrum. Setelah itu tanpa berkata apapun ia turun dari perahu meninggalkan mereka berdua.

Setelah yakin Agung jauh dari mereka, Sandra segera membuka mulutnya. Sebelum Sandra mengucap apapun, Ningrum memberikan lembaran uang itu kepada Sandra.

“Ini Kak, Ning gak bisa lama-lama berhutang, takut ketahuan.”

“Aduuuuh, Ningrum, Ningrum! Hanya gara-gara ini kamu rela dimarahi kakakmu? Dengar ya, aku sering-sering datang ke pantai ini bukan untuk menagih hutang! Aku datang karena memang senang datang ke mari. Hiiih, kamu ini, bikin jantung mau copot aja!” Sandra berusaha menahan suaranya yang gemas. Ning tersenyum, tangannya masih terulur dengan lembaran uang. Sandra bimbang.

“Eh, gimana kalau uang ini buat kamu saja. Aku ikhlas kok. Bukan….bukan…. karena aku kasihan, tapi karena aku suka sama kamu. Please, jangan tersinggung ya. Tapi aku sudah menganggap lunas pinjamanmu. Okay?”

Ningrum ragu. Ia memang membutuhkan uang untuk mengganti seragamnya yang sudah robek, tapi menerima pemberian orang lain? Bisa murka Mas Agung kalau sampai tahu. Sandra seolah bisa membaca pikiran remaja itu. Digenggamnya tangan Ningrum.

“Jangan kuatir, aku tetap pegang rahasia kok. Kakakmu gak akan tahu.”

Ningrum masih ragu, namun Sandra menganggukkan kepalanya. Senyum merekah di wajah gadis manis itu.

“Terimakasih. Suatu saat nanti, Ning akan membalas kebaikan Kak Sandra.”

Sandra tersenyum. Dipeluknya gadis yang baru mekar itu. Berdua mereka turun dari perahu. Sandra bahkan lupa niatnya untuk menjelajah perahu biru yang tampak kokoh itu.

Di bawah, Agung tampak membereskan sesuatu. Demi dilihatnya kedua gadis itu ia segera mendekat.

“Tunggu sebentar. Aku akan mengantar kalian ke pantai,” ujarnya masih dengan kesal.

Sandra melihat pekerjaan lelaki itu yang tampaknya belum beres benar.

“Biar aku saja yang mengantar Ning. Kau teruskan saja pekerjaanmu,” katanya menawarkan diri. Agung ragu. Di satu sisi ia harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum hujan menderas, tapi di sisi lain ia tak tega membiarkan kedua gadis itu terlebih adiknya harus melalui kerumunan manusia-manusia liar itu.

“Jangan khawatir, I’m a big girl.” Goda Sandra. Agung membuang muka lalu berlalu kembali ke pekerjaannya. Sandra mengangkat bahu lalu menggandeng Ningrum.

“Kakakmu itu, hiiihh sombongnyaa bukan main!” gerutu Sandra.

“Hahahha…. Memang gitu, Kak. Tapi sebenarnya dia baik hati, lho. Sejak Bapak meninggal, Mas Agung jadi terlalu melindungi aku dan Ibu. Apa-apa gak boleh, apa-apa harus diantar, ih pokoknya melindungi banget deh! Kayaknya dia trauma kehilangan tuh,” ujar Ning. Sandra melepas sandal dan menentengnya. Pasir sedikit hangat walau matahari masih sembunyi di balik awan dan gerimis masih menitik.

“Sepertinya jarak usia kalian jauh ya? Kalian cuma dua bersaudara?”

“Iya, Kak. Aku lahir ketika Mas Agung sudah berumur tiga belas tahun. Kata Ibu, sempat dikira Mas Agung gak akan punya adik lagi. Hihihihi….ternyata aku nongol.”

Sandra tersenyum. Agung sepertinya lebih muda dari Aryo namun lebih tua darinya.

“Mm, memangnya berapa usia Mas Agung?”

“Bulan Agustus nanti Mas Agung dua puluh delapan tahun, Kak. Tapi, kami ini orang miskin tak pernah mengenal ulang tahun. Paling hanya berdoa bersama itu saja.”

“Aah, itu juga sudah cukup. Yang penting kan doanya, pesta ulang tahun itu gak penting banget, Ning!”

Sandra teringat di ulang tahunnya yang baru lalu, Mama menghadiahinya pesta meriah di kafe bersama sahabat-sahabatnya. Lalu Aryo memberinya seuntai kalung emas putih cantik.

Sesaat keduanya berjalan dalam diam. Sesekali Ningrum memungut kerang cantik yang ditemuinya. Mendadak terbit rasa sayang Sandra pada gadis remaja ini. Bagaimanapun ia tak pernah punya adik yang bisa disayang dan dimanjanya.

“Ning, rumahmu jauh tidak dari sini?”

“Dekat, Kak. Tuh lurus ke sana sudah masuk perkampungan,” ujar Ning menunjuk ke arah depannya.

“Kuantar pulang, yuk. Aku pengen main ke rumahmu dan berkenalan dengan ibumu.”

“Waah, senang sekali! Eeeh, tapiii…rumah Ning jelek, Kak. Ning malu.”

“Ah, kau ini. Mengapa mesti malu? Aku kan tidak mengejekmu. Naik mobil atau jalan kaki?”

“Hahahaha…..Kak Sandra ini, rumah Ning itu masuk gang kecil-kecil, mobil gak kan bisa masuk.”

“Ya sudah, kita jalan kaki saja.”

“Capek gak, Kak? “

“Kalau dekat menurutmu benar-benar dekat ya gak capek.”

Ning tertawa lepas. Sesekali ia berlari meninggalkan Sandra dan menghambur ke arah gelombang dan sesekali ia menciprati Sandra dengan air asin yang dingin terguyur gerimis. Kedua gadis dengan usia terpaut jauh itu nampak begitu akrab. Seolah mereka berasal dari satu rahim, mesra dan hangat. Yang satu merindukan sosok adik yang manja sedangkan lainnya membutuhkan sosok kakak yang siap menampung keluh kesahnya.

Dari kejauhan Agung menatap mereka. Selama ia masih manusia, maka gadis daratanlah yang mampu mengusik hatinya. Kadang, lautan menjanjikan kenikmatan namun daratanlah yang memberinya kerahiman. Dan kini, setelah hatinya terkunci seperti tiram laut, tiba-tiba kehadiran gadis kota itu membuatnya meleleh. Bukan karena kecantikannya, tapi entah karena apanya. Huh! Agung mendengus, gadis mana yang tertarik pada nelayan berbau amis sepertiku ini? Bisik hatinya sinis. Dilemparnya jala ke atas perahu dan bergegas membereskan sisa pekerjaannya.

to be continued, again…. 😀

Iklan

16 thoughts on “Lukisan Cinta, Episode 6

  1. chocoVanilla April 9, 2012 / 2:05 pm

    Gawat! Stock abis! Mulai minggu depan ngebut deh… sad0049 Free Sad Emoticons

    • Lidya April 9, 2012 / 2:33 pm

      stok rujak yg habis mbak? pesen lagi aja sekalian aku titip 1 , lagi pusing nih 🙂

      Pusign Jeng? Mari sini tak traktir Yu Minah, ato bakmi Awat? 😀

      • bunda lily April 11, 2012 / 7:08 pm

        ikutaaaaannn…………
        pingin bakmi Awatnya aja, boleh?
        ( hihihi….ke ge er an si bunda inih) 😀 😀
        salam

        Ayo Bundooo, enak lho, ada togenya ada asinan cabe hijaunya…hmmm slurrppp….

  2. Lidya April 9, 2012 / 2:32 pm

    Ah mas agung suka meredah gitu, tentu saja ada yg tertarik dong

    Padahal ganteng lho, Jeng 😳

  3. Sista April 9, 2012 / 3:31 pm

    ceritanya sepertinya bakalan dramatis nih,, di tunggu ya mbak kelanjutannya

    Sippp, baca terus yaaa 🙂

  4. LJ April 9, 2012 / 5:27 pm

    lautan menjanjikan kenikmatan namun daratanlah yang memberinya kerahiman..

    aihh, kalimatnya bude emang deh.. ckckck.. 😛

    #setia menunggu..

    Padahal aku sendiri gak tau maksudnya, Maak 😳

  5. Bibi Titi Teliti April 9, 2012 / 5:37 pm

    whuaaaaa….

    kanapa nanggung ginih ceritanyaaaa???

    *penasaran…penasaran…*

    Tapi harus hepi ending ala drama korea ya mbaaaa…hihihi…

    Wkwkwkw….musti survey tentang drama Korea nih, pinjemin CD nya dong, Biii…

  6. alamendah April 9, 2012 / 7:03 pm

    Ternyata Si Agung ini gue banget; suka minder?.

    Wkwkwkwkw…..gak bermaksud lho, Mas 😛

  7. sulunglahitani April 9, 2012 / 9:21 pm

    aduuh, saya kok ya ketinggalan cerita2 yg sebelumnya.
    dibaca dulu ah yg lainnya 😀

    Belum banyak kok, Lung 😀

  8. kabutpikir April 10, 2012 / 12:30 pm

    waaaah…. ternyata Agung pun?????
    gak sabaaar nungguuuuu

    Wkwkwkwkwkw….. 😆

  9. Orin April 10, 2012 / 3:21 pm

    Errr….jadi Poseidon baunya Amis ya bu Cho? *kalem*

    Mmm, gak sih, pake parfum kok, Rin. Bulgari Aqua 😆

  10. umielaine April 11, 2012 / 11:56 am

    mana lanjutannyaaa????? 😦

    Sabar, Say, senin depan yaaa…. 🙂

  11. bunda lily April 11, 2012 / 7:11 pm

    jiaaah,……………..Agung kudu buru2 dikasih tau nih …
    kalau Sandra juga rada ehem ehem sama dia, biar gak minder kayak gituh … 🙂

    teuteup musuhan sama si “to be continued” 😦

    Salam

    Nanti Bundo, klao kecepetan gak seru aahhh :mrgreen:
    Hihihihihi….jangan musuhan dong, Bun…

  12. Imelda April 16, 2012 / 6:35 pm

    ini polanya si Barbara Cartland nih, orang kaya sama orang miskin… yg penting kudu happy ending (kalo si tante Barbara sih)

    HIhihihihi….. saya pernah baca bukunya Oma Barbara barang satu dua, selalu ningrat dan rakyat jelata ya, BuEm 😀

  13. Dewi Fatma April 20, 2012 / 5:03 pm

    Asyiik.. Poseidon mulai meleleh…

    Lanjot lagi ah..

    Abis itu masuk kulkas, beku lagi deeeh….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s