Lukisan Cinta, Episode 7

Sebelumnya, yuuuuk baca yang ini dulu…

Episode 7

Ningrum menarik tangan Sandra masuk.

“Ayo, Kak, ini rumah kami, maaf ya kalau bau ikan.”

Sandra trenyuh. Di hadapannya berdiri sebuah rumah mungil, dengan hamparan balai-balai bambu tempat menjemur ikan. Rumah bertembok namun tak bercat, berhalaman namun tak berpagar, bergenteng namun hujan tetap merembes. Dan rumah-rumah lain yang serupa bertebaran di sekelilingnya.

Sandra mengikuti Ning masuk ke dalam rumah sederhana itu. Suara lembut seorang Ibu membalas salam Ningrum.

“Ibu, aku membawa tamu. Dari Jakarta lho, namanya Kak Sandra. Kak, ini Ibuku,” ujar Ningrum memperkenalkan tamunya. Seorang wanita yang – kini Sandra tahu darimana Poseidon mendapatkan warisan hidung dan tulang pipi tinggi itu – sudah berumur namun masih cantik meski mulai terkikis oleh gurat-gurat kepedihan. Senyumnya ramah seperti Ningrum, wajahnya menawan seperti anak lelakinya. Sandra mengulurkan tangannya.

“Apa kabar, Ibu? Saya Sandra.”

“Aduh, Ning, kamu membawa tamu kok tidak memberitahu Ibu. Maaf ya Nak, begini keadaan kami. Silakan duduk,” sambut Ibu tergagap-gagap. Sandra melihat sofa sederhana yang sudah kusam, mengucapkan terimakasih lalu duduk. Ningrum menemaninya sementara Ibu telah menghilang ke dapur yang hanya dibatasi tembok tak berpintu.

“Ning, kamu jangan merepotkan Ibu lho. Aku kan hanya ingin singgah sebentar aja,” tegur Sandra melihat Ibu bergegas ke dapur.

Ningrum tertawa lalu menyusul Ibu ke dapur. Sandra melihat berkeliling. Ada dua kamar berdampingan. Mungkin kamar Poseidon yang pintunya terbuka itu karena nampak lebih kecil dibandingkan kamar sebelahnya yang mungkin di tempati Ibu dan Ningrum. Iseng Sandra menjulurkan lehernya mengintip ke kamar yang terbuka itu.

Sebuah dipan dengan kasur tipis di atasnya. Sarung terlipat rapi di ujung tempat tidur, lalu sebuah gitar teronggok di salah satu sudut kamar. Sandra makin tertarik, tanpa disadari ia melangkah masuk ke dalam kamar. Pandangannya menyapu seluruh ruangan. Di salah satu sisi dinding nampak rak buku yang sangat rapi. Tak satupun buku keluar dari barisannya. Sandra melangkah masuk. Bahkan tak setitik debupun nampak meski jendela terbuka begitu lebarnya.

Ditariknya salah satu buku tebal dari raknya. Dan Sandra menahan napas. Pengantar Arsitektur, James C. Snyder dan Anthony J. Catanese. Lalu ia mengambil satu buku lagi dari barisan rapi itu. Grafik Arsitektur, Frank Ching. Buku-buku arsitektur?

“Apa yang kamu lakukan?”

Nyaris terlempar buku-buku dalam pegangan Sandra. Suara itu tidak terlalu keras, bahkan cenderung hanya menggeram. Namun dinginnya membuat Sandra membeku tak mampu bergerak. Sepasang tangan kasar berotot merebut buku-buku itu dari tangannya lalu meletakkan kembali ke rak. Sandra mendongak dan dengan gemetar menatap Poseidon yang entah kapan datangnya.

“Maa…maafkan aku. Aa..aku.. tak bermaksud….”

“Keluar dari kamarku,” desis Poseidon dingin. Matanya tajam menembus jantung Sandra. Raut wajahnya kaku seolah terbuat dari tembaga. Bergegas Sandra keluar dan lari ke dapur. Ningrum kebingungan melihat tamunya menyusul ke dapur.

“Lho, Kak Sandra duduk manis aja di sana, Ibu sedang menggoreng ikan, nih,” ujar Ningrum. Ibu pun bergegas bangkit dari jongkoknya. Peluh membasahi kening dan dahinya. Dan Ibu keheranan melihat tamunya berwajah pucat pias.

“Nak Sandra? Kok pucat? Sakit ya?” Tanya Ibu prihatin.

“Eh, gak kok, Bu, gak apa. Mari saya bantu,” gagap Sandra. Antara malu dan takut membuatnya salah tingkah. Ia segera membungkuk menggantikan Ibu menggoreng. Ibu kebingungan namun segera beralih membuat sambal.

Sementara hujan menderas dengan tiba-tiba.

“Waduh, hujan lagi. Kasihan Agung, pasti kehujanan lagi,” gumam Ibu.

“Eh, sudah pulang kok, Bu,” sahut Sandra cepat.

“Lho? Kok gak kedengaran suaranya. Nak Sandra sudah pernah bertemu ya?” Tanya Ibu heran.

“Sudah Bu, kan sudah aku kenalkan,” potong Ningrum mengedipkan sebelah matanya pada Sandra.

“Ooo. Ya sudah, kita makan bersama yuk. Sudah matang semua kan?” ajak Ibu menggamit Sandra.

“Tidak usah repot-repot, Bu,” elak Sandra. Sesungguhnya ingin hatinya makan bersama keluarga sederhana ini andai Poseidon tak segalak itu.

“Jangan menolak Nak, meski hanya ini yang bisa Ibu sajikan,” senyum Ibu lembut. Sandra terharu sekali, bahkan Mamanya jarang sekali menemaninya makan.

Mereka keluar dari dapur. Sandra melirik ke kamar Agung yang kini tertutup rapat. Ibu mengetuk kamar Agung dan mengajak putranya untuk makan bersama.

Meja makan itu persegi dengan empat kursi kayu mengitarinya. Peliturnya telah kusam, namun kokoh kayunya. Ibu dan Ningrum duduk berhadapan. Agung dan Sandra berhadapan. Ritual makan yang sederhana, dimulai dengan doa singkat yang dipimpin Agung, pengganti kepala keluarga.

Tak henti-hentinya Ningrum berceloteh sepanjang makan. Rupanya dialah pengusir sepi dan duka di keluarga ini. Sandra pun tak segan-segan tertawa lepas menanggapi cerita Ningrum tentang teman-temannya. Sesekali ia mencuri pandang pada Poseidon di hadapannya. Lelaki itu makan hanya dengan tangan, lahap dan sangat menikmati. Sesekali menanggapi celoteh Ningrum, namun tak sekalipun menggubris Sandra, seolah-olah gadis itu hanya bayangan yang tak perlu dianggap. Entah mengapa Sandra merasa sedih sekaligus hangat. Sedih karena Poseidon tak menganggapnya sama sekali, namun hangat karena ia merindukan suasana penuh gelak seperti ini. Mama, mana pernah mereka makan bersama? Sesekali mereka janji makan siang di mal, namun karena jam makan siang yang pendek semua dilakukan dengan tergesa. Tak ada bicara dari hati ke hati, tak ada gelak tawa. Untuk pertama kali dalam hidupnya Sandra merasa kesepian meski sekitarnya penuh cerita dan tawa.

****

Wealaah, masih nyambung lagiiii 😀

Iklan

15 thoughts on “Lukisan Cinta, Episode 7

  1. Lidya April 20, 2012 / 12:51 pm

    mas agung kamu tega banget sih sama sandra, tenang aja san nanti diepisode selanjutnya masagus pasti tergila2 deh 🙂

    Wkwkwkwkwkw…..terbirit-birit juga, Jeng :mrgreen:

  2. kabutpikir April 20, 2012 / 1:15 pm

    bukan kesan awal yang baik tuh…. hehehe….
    #penasaran sama lanjutannya

    KEsan awal tak menggoda, apalagi selanjutnya :mrgreen:

  3. ~Amela~ April 20, 2012 / 1:37 pm

    wah,, telat terbit nih lukisannya,.
    pas agung bentak sandra saya sampe ikutan kaget lho saking menghayatinya hehehe
    ternyata mas agung suka arsitektur toh

    Iya telat, gara-gara jadi ketua panitia opening kantor baru, Mella 😦
    Kok kaget to, padahal Mas Agung ngomongnya gak keras-keras lho 😛

  4. Dewi Fatma April 20, 2012 / 2:21 pm

    beugh..beugh.. kok aku nggak dikasih tau ada hidangan lezat di sini, Mbak? Baiklah.. mungkin salahku karena jarang OL saking sibuknya ngurusin sahamku yang bejibun inih..

    Okeh, akan ku telusuri dari awal. Tunggu aku, Poseidon!

    Wkwkwkw…. aku tau dikau sibuk, Jeng makanya gak diganggu 😛
    Silakan menikmati lautan 😀

  5. Bibi Titi Teliti April 20, 2012 / 3:34 pm

    whuaaa….
    galak nian si mas Agung inih…

    ciri ciri inferiority complex kaaaah???

    *nongkrongin blog inih nungguin lanjutannya*

    Nampaknya demikian, Jeng. Bahkan sudah akut 😛

  6. Orin April 20, 2012 / 5:33 pm

    hadeuuuh….jadi laper aku mah bu Cho *halah*

    Nasi anget, ikan asin, sambel trasi plus sayur asem, lalap timun, oh noooo…..

  7. Ngai April 20, 2012 / 5:46 pm

    klo aquwh yg makan di depan di depan mas agung,
    aquwh bakal nambah nasi sampe 5 piring.
    setelah itu mas Agung pasti akan melirik aquwh
    dijamin..!!!

    Tapi kan kamyuh imyut, masa bisa ngabisin limah piring?
    (Mas Agung pasti ternganga dan langsung kenyang :mrgreen: )

  8. Ngai April 20, 2012 / 5:47 pm

    eh ya.. Lanjutkan Bude..!!!

    Siaaaaapp!!

  9. Imelda April 20, 2012 / 6:39 pm

    bandeng goreng pake nasi panas, sambal huahhhhh… jadi pengen 😀

    Jangan lupa sayur asem dan krupuk, BuEm…owhhh….

  10. pututik April 20, 2012 / 10:01 pm

    kasihan sandra, kene pangku pakde

    Wkwkwkwk…. rasah dipangku, kasih duit ajah 😛

  11. ndutyke April 21, 2012 / 10:01 am

    kebahagiaan sejati yang terletak pada hal-hal simpel dan sederhana. sesederhana momen makan nasi hangat dan ikang goreng bersama keluarga, diselingi obrolan dan gelak tawa.

    gak semua orang bisa merasakan kebahagiaan yg sesederhana itu. banyak orang yang harus membeli dan menghabiskan banyak uang sebelum akhirnya bisa merasa puas dan sederhana.

    salam kenal. aku follow blognya ya 🙂

    Setujuuuuu…. meski berlauk ikan asin jika bersama keluarga serasa ikan bandeng yaa 😀
    Salam kenal Jeng, makasiy sudah berkunjung 😀

    • ndutyke April 21, 2012 / 10:02 am

      bisa merasa puas dan sederhana.
      maksudnya : merasa puas dan BAHAGIA 🙂
      salah ketik.

      Sippp 😀

  12. bundadontworry April 24, 2012 / 5:35 pm

    tuuuuh khaaaann………….si to be continued nongol lagih … 😦

    lauknya baru mateng , hangat2 gituh, jadi pingin ikut nyicipin juga ….hehehe 🙂

    kenapa sih Agung ini kok koyo ngono tho ?
    gak sopan sama tamu, moso’ tamu cantik gitu gak direken siiihh… 😦

    salam

    Qiqiqiqi…masih panjaaaaaaaang, Bundoo, lha wong niatnya jadi novel jeh 😛
    Mas Agung emang gitu, biarin aja nanti kualat 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s