Fiksi Kilat · Iseng Aja

Forbidden Love (2)

Sepasang kekasih itu duduk berdampingan, memandang bulan penuh yang memantulkan sinar kemilau bintang. Malam yang syahdu.

“Jadi, maukah kau menjadi pasanganku?” Tanya Sang Macho pada kekasihnya.

“Aaahhh, tak ada yang lebih kuinginkan daripada menjadi istrimu,” jawab kekasihnya dengan menghela nafas panjang.

“Lalu, mengapa kau masih ragu?”

Kekasihnya memandangnya dengan tatapan merana.

“Kau kan tahu, orang tua kita, keluarga kita, nenek moyang kita, bermusuhan sejak bertahun-tahun, bahkan berabad-abad lalu. Apa jadinya kalau kita menikah?”

“Ah, persetan dengan mereka! Permusuhan ini takkan ada habisnya. Biar saja mereka bermusuhan, kita putuskan kutukan ini, Sayang. Kelak anak-anak kita akan hidup damai selamanya.”  Ia memeluk kekasihnya dengan satu tangannya. Kekasihnya masih menunduk.

“Aku putus asa. Lihatlah, kau dari kalangan ningrat, sedangkan aku apa? Hanya jelata yang berkeliaran tak tentu arah demi mengisi perut. Apa jadinya kalau keluargamu sampai tahu? Aku hanya akan diusirnya saja,” ujar kekasihnya sedih.

“Tapi aku mencintaimu. Baiklah, kita lari saja, kabur, minggat?” Ajaknya penuh semangat. Kekasihnya memandangnya penuh cinta sekaligus kasihan.

“Kabur? Sayangku, kabur kemanapun aku akan bertahan. Tapi kau? Kau akan mati, Sayang. Aku tidak mau itu terjadi.”

“Lalu bagaimana?”

Siberian Husky itu memandang kekasihnya yang tak begitu rupawan – seekor kucing liar dengan bulu tiga warna – dengan putus asa.