Lukisan Cinta, Episode 8

Aw…aw…baca yang lalu dulu yaaa 😉

Episode 8

Frans menatap rombongan karyawan dan keluarganya yang bergerombol di dekat bis. Ada tiga bis untuk menampung sebagian karyawan rumah sakit beserta keluarganya. Mata Frans tak lepas dari sosok bertubuh langsing semampai yang mengenakan jeans selutut, kaus ungu muda dan tentu saja kamera besar terkalung di lehernya. Rambutnya diikat dengan beberapa untaian rambut nakal yang tergerai di telinganya. Sepatu sandalnya manis sewarna dengan kausnya, memberi kesan putih cemerlang pada betisnya. Ia sibuk menggandeng ke sana ke mari seorang gadis remaja yang manis namun tampak tak percaya diri dan sedikit ketakutan.

Frans melirik jamnya. Masih setengah jam lagi sebelum jam prakteknya mulai. Ia berjalan mendekati Sandra di pelataran.

“Hallo, Sandra,” sapanya pada gadis yang menarik hatinya itu. Sandra menoleh dan segera tersenyum melihat Frans.

“Hai, Dok…eh…Frans,” sahutnya lalu tertawa melihat kerut di kening Frans saat ia memanggilnya “Dok”.

“Kau ikut wisata ya?” Tanya Frans.

“Iya, ini aku mengajak adikku. Ning kenalkan ini dr. Frans,” ujar Sandra lalu mengacungkan tangan Ningrum dari genggamannya. Gadis kecil itu tersenyum malu-malu.

“Adik? Aku tak tahu kau datang bersama adikmu?” Frans mengamati keduanya, berusaha mencari persamaan di antara keduanya. Sandra tampak begitu percaya diri sedangkan adiknya tampak malu-malu, bahkan bisa dibilang ketakutan.

Sandra hanya tertawa tak menanggapi kecurigaan Frans.

“Jam segini sudah praktek?” Tanyanya pada Frans.

“Oh, biasa. Setiap pagi visite pasien rawat inap dilanjut praktek sampai tengah hari nanti. Pulang sebentar lalu kembali praktek nanti sore sampai malam. Maklumlah, pasien sudah mulai banyak di sini,” jelas Frans menjelaskan kegiatannya sebagai dokter full time di Apollo.

“Waduh, kapan istirahatnya?” Tanya Sandra terheran-heran. Frans tertawa.

“Sabtu dan Minggu libur. Dan, kapan kita bisa belajar bersama soal forografi?”

“Oh…eh… Sabtu depan bukan? Setelah aku pulang dari wisata ini pasti akan banyak obyek foto kudapat. Kau bisa melihat dan mengoreksinya,” sahut Sandra.

Percakapan mereka terhenti karena ketua rombongan telah memberi perintah agar semua masuk ke dalam bis. Sandra segera berpamitan dan menarik Ningrum masuk ke dalam bis.

Frans melambaikan tangannya ketika bis yang ditumpangi Sandra melaju meninggalkan pelataran rumah sakit. Senyum tersungging di bibirnya, rasanya ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan ia yakin, seyakin diagnosanya pada pasien yang mengidap fatty liver  tadi malam, bahwa Sandra pun tertarik padanya.

*******

BAB TIGA

KEPAK SAYAP CAMAR

 “Setinggi-tinggi camar terbang hingga ke awan

Ke pantai pulalah ia akan kembali

Menurut pada sabda Sang Dewa Lautan

Dan camar pun menangkupkan sayap-sayap putihnya”

Pasien terakhir malam ini, seorang wanita dengan gangrene pada jempol kakinya, tak bisa dipertahankan mesti amputasi segera. Begitu pasien keluar ruangannya Frans segera menghambur keluar. Ia ada janji dengan Sandra yang sudah menunggunya sejak sejam yang lalu. Tak digubrisnya panggilan Vira, perawatnya yang berusaha memberitahunya masih ada seorang pasien.

Di kantin, ia melihat Sandra tengah sibuk di depan laptop dengan segelas juice yang sudah tandas di hadapannya.

“Hai, San. Sorry, malam ini pasien ramai sekali,” sapanya lalu mengempaskan diri di kursi di hadapan Sandra.

“Oh, tak apa. Kebetulan aku juga ada kesibukan kok,” jawab Sandra tersenyum.

“Nah, bagaimana, sudah dapat obyek menarik piknik kemaren?” Tanya Frans lalu pindah duduk di sebelah Sandra. Gadis itu segera membuka file foto pada laptopnya lalu mempertontonkannya pada Frans. Hampir seluruh obyek foto Sandra adalah Ningrum dengan berbagai latar belakang dan pose. Beberapa foto nampak alami karena si obyek tak sadar diambil gambarnya. Namun beberapa menunjukkan bahwa Ningrum begitu merdeka dan senang difoto. Gadis remaja itu nampak polos, cantik dan tanpa beban.

“Anak ini fotogenik juga ya, manis dan alami,” puji Frans. Sandra tertawa kecil. Belum kau lihat abangnya, Dok, sangat tampan, baik di kamera maupun aslinya, batin Sandra. Tiba-tiba wajahnya terasa panas membayangkan sosok Poseidon angkuh itu.

“Aku curiga, benarkah ia adikmu? Kalian begitu berbeda namun sekaligus begitu mirip,” gumam Frans sembari melihat-lihat hasil bidikan Sandra.

“Hahaha…apa maksudmu?” Tanya Sandra geli.

“Yah, wajah kalian sama sekali tak ada kemiripan. Tapi ekspresi yang kalian tampilkan begitu mirip. Lepas, merdeka, muda, penuh gairah,” jawab Frans sambil sesekali memandangi Sandra.

“Ah, kau bisa saja. Kami memang bukan saudara sekandung. Tapi yah, aku menganggapnya adik. Hei, bagaimana hasil bidikanku?”

Belum sempat Frans menjawab, panggilan untuknya dari pengeras suara bergema di seluruh rumah sakit. Ia ditunggu di poli.

“Aduh, kukira sudah habis pasien malam ini. Mengesalkan!” Gerutunya sebal. Ini momen yang menyenangkan, berdua dengan Sandra. Mengapa pula mesti diganggu pasien yang entah sakit apa!

“San…..” Belum sempat Frans menyelesaikan perkataannya Sandra mengangguk padanya.

“Pergilah, pasien tentu tak bisa menunggu, aku bisa menunggumu.”

Frans tersenyum dan menepuk lembut bahu Sandra lalu pergi dengan pandangan minta maaf.

“Sebentar lagi aku kembali,” ujarnya lalu meninggalkan Sandra.

Namun setengah jam kemudian, ketika ia kembali ke kantin, Sandara sudah pergi. Sebuah pesan di ponselnya mengatakan kalau Sandra akan kembali jika Frans libur. Frans menggeram kesal.

*******

Aduuuuh, masih panjaaaaaang, Jeng. Tunggu lanjutannya yaaaa…. 😀

(gak pake to be continued, nanti dimarahin Bundooo 😛 )

Iklan

11 thoughts on “Lukisan Cinta, Episode 8

  1. Imelda April 27, 2012 / 6:11 pm

    yaelah sandra kok ngga nungguin sih….
    kacian kan dokter Frans nya 😀

    Gak siap jadi istri dokter tuh, BuEm 😛

  2. LJ April 27, 2012 / 6:51 pm

    iya dok, belum kau lihat abangnya..

    *etapi gak usah kasih lihat bude, kuatir frans juga naksir sama sang poseidon 😛

    Waaaa…jeyuk makan jeyuk doooong….

  3. LJ April 27, 2012 / 6:52 pm

    btw itu header cakep banget, bude..
    ada kupu-kupu yang kemarin aku foto 😛

    Aku punya four season, Mak, yang di atas itu summer 😀
    (ini bukan bros lho 😛 )

    • LJ April 28, 2012 / 2:26 pm

      pingin liat kupu di musim dingin..
      masih lama digantinya bude..?

      Nanti November ya, Mak 😀 lagian yang winter gada kupunya kok 😀
      (psst, kupu winternya minta buatin Pak Mars ajah 😛 )

  4. rizarahmi April 28, 2012 / 6:20 am

    Yah… sebentar lagi itu ternyata lama sekali.

    Sebentarnya orang Indonesa 😛

  5. bunda lily April 28, 2012 / 10:10 am

    jiahahaaaaa…………………. 😛
    masih panjaaaaang juga teuteup ditungguin kok Mbak Choco… 🙂

    ( sambil gelar tiker, minta juice dan camilan sm Mbak Choco) hahaha….

    jadi, bener2 deh Sandra dah klepek klepek bgt sm Agung nih?
    sampai dr.Frans di cuekin gituh ….

    salam

    Hehehhehe…Bundoo, makasiy yaaa ditungguin 😀
    Itu Aryo belum datang lho, Bun :mrgreen:

  6. prih April 28, 2012 / 10:22 am

    Setia menunggu, dan saat buku tersebut terbit bisa cerita, dulu aku nunggunya ndhepipis di beranda pengarangnya lho. Ayo jeng melaju mantap.

    Aduuuh, Mbakyu membuat hatiku berbunga-bunga. Nanti saya terbitkan jadi e book aja 😀
    (sudah lama ndak dengar kata “ndhepipis” hihihihihihi…..

  7. Orin April 30, 2012 / 11:45 am

    Bu Chooo….aku pesen endingnya nanti sm poseidon aja ya, pliiiiiiiis *dengen mata berbintang2* hihihihi…

    Welhadalah, Aryo nya dikemanain, Oriiin 😛

  8. Lidya April 30, 2012 / 1:45 pm

    aku tuh penasaran sama dialognya cowo misterius aka kakaknya Ningrum dgn sandra.

    Hihihihi…sabar ya, Jeng, di episode tengah nanti gak cuma dialog lho, tapiiii…. :mrgreen:

  9. Dewi Fatma Mei 2, 2012 / 2:55 pm

    *bela-belain kesini disela per-kuli-an..hihi..*

    Percaya gak Mbak, aku juga ikut terbayang-bayang Poseidon pantai itu lho.. Kayaknya aku juga jatuh cintrong sama dia…. 😀

    Naksir Poseidon? Eh…Jeng… (tengok kanan kiri), akyu jugak lho 😳

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s