Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

Malam Pertama (2)

Kutempelkan telingaku pada daun pintu yang tak tertutup rapat itu. Samar kudengar bisik-bisik suara perempuan yang sedang bercakap dengan suaminya. Sesekali terdengar desah dan tawa manja, lirih, namun aku bisa mendengarnya dengan jelas.

“Kau menyukainya, Sayang? Katamu aku pandai memijat bukan?” Bisik perempuan itu.

“Ah, betapa bersyukurnya aku menikah denganmu, Sayang. Kau begitu sabar, penuh kasih, menerimaku apa adanya. Aku adalah perempuan paling bahagia di dunia. Dan itu karenamu, Suamiku,” desah perempuan itu.

Kuintip dari celah pintu yang tak rapat. Sedikit cahaya dari lorong membantuku melihat ke dalam ruangan yang gelap. Perempuan itu berbaring miring, membelai-belai suaminya. Sesekali terkikik pelan, sesekali mengecup, dan sesekali membenahi selimut suaminya. Lalu perempuan itu berbaring diam. Samar, kudengar napasnya mulai teratur. Dengkurnya terdengar lembut. Saatnya aku masuk ke dalam kamar itu.

Lanjutkan membaca “Malam Pertama (2)”

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

Makan Malam (2)

Bocah laki-laki itu berumur sekitar tujuh tahun, badannya kurus, pandangannya kosong. Dia duduk satu meja dengan sebuah keluarga kecil. Dua anak termasuk dirinya, ayah dan ibu yang selalu mengatur ini itu di piring gadis kecilnya. Restoran ini memang penuh pada jam makan di hari libur begini.

Meja mereka tepat berada di depan mejaku. Sementara di depanku baru ada segelas sour soup juice, mereka telah menikmati hidangan makan malam lengkap. Namun aku merasa ada sesuatu yang janggal. Mengapa bocah laki-laki itu tak ikut makan? Mengapa Sang Ayah dan Ibu itu hanya memperhatikan gadis kecilnya? Seolah bocah laki-laki itu tak tampak bagi mereka. Lihat, bahkan tak ada segelas air putih pun di hadapannya.

Kuperhatikan wajah bocah laki-laki itu. Memang tak mirip ibunya, tak mirip pula adiknya, atau mungkin mirip ayahnya? Entahlah, karena posisi sang ayah membelakangiku sehingga aku tak tahu pasti wajahnya. Aku terus memandangi bocah yang diam itu. Nyaris tak ada pergerakan, hanya sesekali menunduk atau menatap hampa pada adiknya atau ibunya atau ayahnya.

Pesananku datang. Sejenak kulupakan bocah itu dan dengan lahap segera kunikmati sepinggan steak yang masih mengepul. Mumpung masih tanggal muda tak ada salahnya memanjakan diri dengan hidangan yang tak biasa.

Di tengah-tengah makanku, kulihat keluarga kecil di depanku mulai bersiap-siap pergi. Rupanya makan malam mereka telah usai. Tapi, hei, mengapa bocah laki-laki itu tak ikut berdiri? Si Ibu menggandeng gadis kecilnya dan si ayah melenggang begitu saja. Mereka berjalan tanpa peduli pada bocah kurus itu.

Aku terheran-heran. Dengan mulut setengah penuh kupanggil keluarga itu sambil berdiri.

“Bu….eh…ini anaknya masih ketinggalan!”

Si Ibu menoleh ke arahku dan memandangku heran. Sementara bocah laki-laki itu menatapku, masih dengan pandangan hampa dan memelas.

“Ini anak laki-lakinya kok gak diajak pulang?” Tanyaku sambil menunjuk ke arah bocah kecil itu.

Si Ibu menoleh ke kursi yang kutunjuk dan kembali menatapku heran.

“Anak laki? Ini anak saya, cuma satu, perempuan,” ujar Ibu itu heran.

“Lho, ini lho, Bu, yang duduk semeja dengan ibu tadi?”

Bagaimana mungkin Si Ibu tak sadar anaknya ikut duduk bersamanya?

“Tidak ada, Mbak. Kami hanya bertiga sedari tadi.”

Aku menoleh ke bocah laki-laki tadi. Namun ia sudah tak ada, menghilang tanpa kulihat lewat mana dia pergi. Tiba-tiba bulu kudukku meremang dan sekujur punggungku dingin.

Bekasi, 03 April 2012

Dongeng insomnia · Iseng Aja

Lukisan Cinta, Episode 5

Sebelumnya ke sini dulu yaaa….

Episode 5

Musim memang sedang tidak jelas. Bulan Mei yang seharusnya  mulai disinari hangatnya matahari malah semakin sering turun hujan. Pagi ini pun gerimis masih saja mendinginkan udara. Padahal Sandra ingin sekali kembali ke pantai. Jenuh sudah mulai terasa jika harus seharian di rumah. Dulu sewaktu masih bekerja, pagi-pagi begini sudah berada di jalan, berebut lajur dengan pengemudi lain agar tidak terlambat dan terjebak kemacetan. Di sini waktu seakan berhenti berputar. Semua berjalan lambat dan santai. Tak ada sarapan di mobil atau ber make up di parkiran. Bahkan ketika Tante Liz sudah berangkat, Sandra masih bergelung di tempat tidurnya. Ah, nikmat sekaligus membosankan.

Dalam lamunannya tiba-tiba ia teringat akan pantai. Sesaat bayangan Si Poseidon berkelebat. Sandra tersenyum, bergegas ia bangkit, mandi seadanya dan tanpa sarapan segera menuju pantai. Hari ini ia akan mengunjungi kampung nelayan tempat Poseidon tinggal.

Gerimis tinggal butir-butir halus. Sandra menuju pantai nelayan di mana bahkan  gerimispun tak mengurangi kesibukan pada manusia lautan dan daratan untuk saling bertransaksi. Tanpa disadari ia menjulurkan leher panjang-panjang untuk mencari sebuah perahu indah berwarna biru. Tunggangan Sang Poseidon. Bukan kuda gagah tapi perahu menawan penyambung kehidupan.

Lanjutkan membaca “Lukisan Cinta, Episode 5”