Cintaku · Iseng Aja

Mau Aku Bantuin?

Sabtu lalu kedua malaikatku mengambil nilai ekskul berenang. Maka meski agak malas kuantar juga. Agak terhibur juga sih, karena ketika kedua malaikatku sibuk belajar berenang, aku bisa menyantap novel tanpa gangguan 😛 Dan seperti biasa, meski pengambilan nilai sudah selesai mereka tidak mau juga menyudahi main airnya 😥 Tapi sekali lagi lumayan, baca tanpa gangguan 😀

Nah, ketika matahari sudah semakin tidak bersahabat, mulailah tindakan tegas emak-emak kuperlihatkan. Mula-mula Si Cantik kupaksa untuk berhenti main. Dengan wajah cemburut ia kubilas dan ku dandanin rapi lalu kubujuk dengan semangkuk es krim 😛 Ketika giliran Jendral G, mulailah cerita ini 😀

Rupanya karena kelelahan, ketika mau mentas dari kolam, Jendral G mengalami kesulitan. Hingga berkali-kali ia melorot lagi ke kolam 😆 Sebetulnya ada tangga sih tapi agak jauh dan di kolam dalam. Sampai berulang-ulang, aku dan Cantik tertawa geli. Mau menolong tapi aku sendiri takut kebawa dan kecebur :mrgreen: Sampai akhirnya ada teman cewek Jendral G yang mau membantu. Anaknya kuruuuuuus, tapi baik hati. Ia mengulurkan tangan dari tepi kolam untuk membantu Jendral G. Tapi dengan cool nya malaikatku menolak dan berusaha lagi. Akhirnya berhasil juga, lalu dia melewati teman ceweknya dan mengucapkan terimakasih.

Setelah Jendral G mandi dan aku menggosoknya dengan minyak kayu putih, kuadakan wawancara (seperti biasa, aku selalu ingin tahu percakapan anak-anakku dan teman-temannya :mrgreen: ).

Aku             : Tadi teman Kakak siapa yang mau bantuin?

Jendral G : Oh, itu Dera

Aku             : Ooo, dia bilang apa sama Kakak?

Jendal G    : Yah, cuma bilang “Mau aku bantuin gak?”

Aku              : Trus Kakak bilang apa?

Jendral G   : Gak usah, makasih

Aku             : Kenapa gak mau? Takut dia kecebur juga ya? Kan Dera kurus, padahal Kakak gede?

Jendral G  : Gak Juga (anakku ini gayanya emang cool, jawab cuma sepatah-sepatah)

Aku             : Trus kenapa dong?

Jendral G  : Yah, kan bukan muhrim, Bunda?

Oooowwwhhhhh, hatiku langsung mencelos. Jawaban yang tidak kuduga sama sekali!

Aku             : Kan kalo belum aqil balik gak papa, Kak…

Jendral G  : Yah, biar aja

Ya ampyuuuuun, rupanya pengajaran Ayahnya selama ini direkam betul dalam benaknya. Patjaran itu dosa, kalo gak muhrim gak boleh berpegangan. Ck…ck…ck….

Lifeguard yang lom bisa swimming 😛

Nimbrung Mikir

Semerbak Aroma Jengkol

Pertama kali berkunjung ke Kampong Jengkol buat nonton Opera van Oyen, ya jelas aroma jengkolah yang paling dulu menyambut. Tapi untunglah aku sedikit terbiasa, karena kekasihku adalah anggota JFC (Jengkol Fans Club). Yah, meski kalo kekasihku abis menyantap jengkol balado, sementara kami pisah ranjang dululah scared0012 Free Scared Emoticons 😛

Begitu masuk Kampong Jengkol, langsung masuk ke dunia Betawi yang agak membuat lidahku sedikit kusut. Maklumlah, meski lama tinggal di Jakarta kemringet, bahasaku tetep medok. Lo gue nya pun dengan penekanan pada “G” yang medok dok! Tapi keramahan Mpok Oyen sesepuh ( 😛 ) kampung ini membuat semua itu tak berasa. Karena Mpok nye gawul, lutju, dan sering menyuguhkan cerita-cerita yang bikin senyum-senyum ndiri.

Nah, mari kita review blognya (ya ampoon, ternyata aku lom pernah me review sebuah blog pun!). Tampilannya woke dengan warna yang terang dan tulisan yang font nya pas, gak gede gak ketjil. Dan melihat header nya maka kita akan langsung berwajah teduh dan ingin mengucapkan kata “oooowwwhhhhhh” begitu ditatap oleh panda innocent yang memelas itu. Aku gak tau apakah panda itu adalah perwujudan Si Mpok dalam bentuk lain ato bukan, tetapi siapapun yang menyukai panda pastilah orang yang penyayang, lutju, dan sedikit buwas mungkin :mrgreen: Itu mengenai tampilan blognya, pastilah jelas, enak dibaca, gak suram.

Sekarang mari kita lihat kontennya. Meski lom lama kenal Mpok Oyen, tapi sudah lama baca-baca postingannya 😀 Dan baru belakangan ini semenjak Mpok menikah dan punya Si Cantik Fira, aku aktif kembali maen-maen ke Kampong Jengkol (tentu saja pakai masker). Isi postingan Si Mpok tentu saja menarik, merakjat banget dengan bahasa Betawinya. Berasa ada di tempat kost ku dulu di Klender, gang sempit yang banjak Ibu-ibu rumpinya 😛 Hahahaha….abis bahasanya persis bangget sih 😀 Tapi di luar bahasanya, dalam setiap postingan si Mpok berusaha menyelipkan hikmah di baliknya. Seperti kisah Tole Nguambek yang mengandung pesan bahwa setiap anak pasti membutuhkan perhatian dari ibunya. Bahkan dengan cara negatif seperti Tole, dan akhirnya Ibunya harus meninggalkan karier demi anak tersayang.

Ato postingan ini di mana Si Mpok kulihat rada-rada emosi, telihat dari banyaknya pecahan piring dan gelas di bawah kakinya character0029 Free Emoticons   Characters Sentilan yang cukup membuat kita berpikir lebih dalam lagi. Ehh, tapi Si Mpok juga punya banyak postingan lucu. Seperti serial superhero yang sukses membuat tertawa terpingkal-pingkal melihat tampang para superhero yang unyu abiez

Tapi akhir-akhir ini naluri keemakannya agak memperlembut postingannya, yang membuat sekali lagi kita ingin menyerukan “ooowwwhhhhhh”. Coba saja batja tulisannya yang ini dan nyang ini cool0003 Free Emoticons   Cool

Sekarang saatnya menyampaikan kritik dan saran yang membangun 😛 Si Mpok ini nampaknya malaz ato ndak ada waktu untuk membalas setiap komen yang masuk. Emang siy tiap blogger punya pandangan tersendiri mengenai perlu tidaknya membalas setiap komen yang masuk. Tapi adakalanya si pengomen (apa tjobak?) berharap komentarnya dibalas agar ada interaksi dan ada kelegaan bahwa pesannya dibatja oleh si empunya blog. Banyak seleb blog yang rajin membalas komen yang datang, sehingga kita pun senang dan terhibur dengan jawaban-jawaban yang lutju dan menyenangkan. Contoh yang rajin balas komen tuh Pakdee, eMak empunya Ladang Jiwa, Una ibunya Shirley, Om Mars, dan masih banyaaaaak lagi. Nah, mbok ya Mpok Oyen yang lutju ini juga begitu 😛 😀

Weiitss, ternyata aku sudah ngoceh panjang lebar. Yo wis itu sajalah reviewku tentang Kampong Jengkol (siap melepas masker). Met ultah blog, Mpok, semoga KJ makin jaya, makin rame, penduduknya rukun aman tentram dan damai innocent0007 Free Emoticons   Innocent

So, dengan kesadaran diri sendiri, tidak di bawah pengaruh ancaman maupun alkohol dan narkotika, aku mendaftarkan diri sebagai peserta kuisnye Mpok Oyen 😀

Wish me luck, again 😉

Eeehhh….waaaaa…… sapa niy yang miara doggy di KJ?? Waaaa… toloooongggg….. animal0019 Free Emoticons   Animals

Cari Solusi · Nimbrung Mikir

Bangkitlah Nelayanku!

Saat ini, seperti sebagian Kawan tau, aku sedang mencoba membuat novel cerbung tentang nelayan. Si Tampan Poseidon Penguasa Samudera 😀 love0083 Free Emoticons   Love  Aku memang tak banyak tau tentang kehidupan para nelayan, bahkan mengunjungi desa mereka pun belum pernah 😦 Tapi ini era digital bukan? Aku banyak melakukan riset dari internet, google, wikipedia, dan berita-berita mengenai nelayan.

Dan salah satu hasil penelusuranku, bahwa para nelayan pun mengalami musim paceklik! Oh, kukira hanya petani yang punya paceklik. Musim ini biasa terjadi pada bulan Desember – Pebruari di mana terjadi Musim Barat. Musim ini ditandai dengan hembusan angin besar, ombak tinggi bahkan badai. Namun seperti kita ketahui bahwa sekarang ini terjadi cuaca ekstrim, di mana musim bisa saja bergeser tak menentu. (Dan lebih mengerikan lagi, sebagian besar nelayan kita adalah nelayan tradisional dengan peralatan yang sederhana, yang tentu saja akan tersingkir dengan adanya jaring trawl atau pukat hela. Belum lagi kekayaan laut kita yang dengan semena-mena dirampok oleh orang-orang asing tak bertanggungjawab).

Pada musim paceklik, nelayan tak bisa berbuat apa-apa. Sebagian besar dari mereka menggantungkan diri dari bantuan pemerintah setempat. Atau para istri mulai menjual harta benda yang dibeli saat panen raya musim sebelumnya. Semestinya, hal itu tak perlu terjadi! Bergantung pada pemerintah adalah hal yang seharusnya tidak dilakukan. Kita semua tahu bahwa pemerintah sudah cukup me“repot”kan diri mengurus ini itu, meski memang seharusnya mereka pun mengurus nasib para nelayan.

Namun sesungguhnya, kekayaan laut itu luar biasa! Samudera begitu murah hatinya mempersembahkan harta karun tak ternilai darinya, bukan hanya ikan semata. Masih ada ganggang laut, aneka kerang indah, karang, bahkan pasir pantai. Semua itu bisa dibuat kerajinan yang luar biasa indah dan tentu saja bernilai ekonomis.

Lalu, siapakah yang harus mengerjakan itu? Para nelayan adalah kaum macho penakluk gelombang, mana mungkin berlembut-lembut dengan segala keindahan itu? Tentu saja para istri, perempuan pendamping sang penguasa samudera! Tetap harus ada peran serta pemerintah untuk mengajar para perempuan untuk membuat aneka kerajinan itu. Tetap harus ada volunteer yang rela mengajar mereka. Memang seharusnya demikian, karena lebih baik memberi kail daripada ikan bukan?

Sedangkan para nelayan bisa mencontoh apa yang sudah dilakukan oleh Wahudin, pengembang rumput laut Gracilaria sp. Rumput laut yang merupakan bahan baku pembuatan agar-agar. Dari hasil budidaya tersebut ia bisa mengeruk keuntungan yang lumayan besar, bahkan mampu menghidupi anggota kelompoknya.

Sekarang mari kita simpulkan, upaya alternatif apa saja yang dapat dilakukan para nelayan dan keluarganya untuk menghadapi paceklik yang tak terhindarkan itu.

  1. Budidaya rumput laut
  2. Membuat kerajinan dari hasil laut
  3. Membentuk koperasi sebagai pendukung modal
  4. Pengolahan produk berbahan baku ikan (kerupuk, keripik kulit ikan, dll)
  5. Budidaya ikan air payau
  6. Wisata perahu

Dan tentu saja masih banyak lainnya yang tentu sudah dipikirkan para ahli dan jenius negri ini. Kebangkitan ini harus didukung penuh oleh pemerintah yang semestinya berperan sebagai pengayom dan pelindung para nelayan. Dengan mengutus para penyuluh yang ahli di bidangnya, tentu kebangkitan ini akan lebih mudah.

Aku lebih suka ikan hasil laut dari negriku daripada ikan import. Karena dengan memakan ikan laut hasil lautku, aku turut membantu kehidupan para nelayan. Bangkitlah nelayanku! Contohlah sesamamu yang telah lebih dulu sukses dengan upaya alternatifnya selain melaut.

Negriku tercinta adalah negri maritim, di mana pelaut-pelaut hebat ada di seluruh kepulauan nusantara. Namun bahkan pelaut hebat pun akan kembali pada daratan. Sudah saatnya para nelayan mengangkat derajat kehidupan dengan mengembangkan kemampuan lain selain melaut, sehingga tak ada lagi pengaruh berarti dari musim paceklik di lautan!

Semoga kebangkitan mereka pun menginspirasi kita untuk mengembangkan talenta-talenta yang terpendam 😉

Horeeeee……. Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bangkit di BlogCamp.

Wish me luck 😉

PS. Semua gambar pinjam dari Google 🙂

Fiksi Kilat · Iseng Aja

Pacar Impian

“Bila kau berangkat ke Jakarta?” Tanya Kak Noor padaku.

“Lusa, Kak. Tiket sudah ditempah, ” jawabku pada Kak Noor. Kakak perempuanku menghela nafas panjang. Sementara aku merapikan dandananku.

“Sudahkah kau fikir masak-masak atas pilihanmu itu? Kakak ragu kau benar-benar cinta pada gadis itu.”

“Ah, Kak Noor, saya sudah mantapkan. Dia cantik, terkenal, artis pula. Kita boleh hidup enak bersamanya,” jawabku. Ku semprotkan parfum kesukaan kekasih ke badanku.

“Tapi kalau dia tahu sesungguhnya siapa dirimu bagaimana?” Tanya kak Noor cemas.

“Tak usahlah Kakak cemas, saya sudah kata jika saya kerabat Raja. Kekayaan saya juga lumayan bukan?”

Kak Noor mendesah panjang. Diusapnya pundakku.

“Kakak lebih suka kau berkahwin dengan Laila. Dia cantik, soleha, pandai mengaji, berkerudung. Apalah yang kurang daripadanya?”

Aku kesal Kak Noor mengungkit-ungkit Laila. Memang dia cantik, tapi aku tak ada hasrat padanya. Untuk apa memaksa diri?

“Sudahlah, Kak. Saya tetap akan berkahwin dengannya. Akhir tahun nanti rencana kami siapkan.”

“Mengapa tak kau katakan saja siapa sesungguhnya dirimu? Lambat laun orang-orang akan tahu pula,” kata Kak Noor khawatir. Aku tertawa pelan.

“Di sini banyaklah raja, Kakakku Cantik, takkan mereka menyiasat sejauh itu asal-usul saya,” ujarku menenangkan Kak Noor.

“Lihatlah Kak, perhiasan emas ada pada tubuh saya. Cincin, kalung, gelang emas saya berlimpah. Siapa takkan percaya?”

“Ah, berhati-hatilah kau, Baba.”

Aku memeluk Kak Noor dengan sayang.

*****

Dan kini, aku ada dikejar-kejar press, begitu juga kekasihku. Dalam tanganku ada pula surat teguran dari tuan negri. Aku pun bersembunyi. Biarlah kekasihku saja yang menghadapi.

*****

Kisah ini fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama, peristiwa, tokoh, dan kejadian itu hanya ketidaksengajaan belaka. Sumpah! Gak sengaja beneran! Tidak bermaksud apa-apa, kok 😛 :mrgreen: 😀

Dongeng insomnia · Iseng Aja · Serial Yu Minah

Nonton Bioskop

Karena penasaran akan keberadaan Yu Minah dan tentu saja karena merindukan rujaknya yang puedes dan nylekit, maka Sabtu lalu aku menyambangi warungnya. Dan ternyata, memang sudah buka! 😀 Setelah mengucap salam, aku segera menuju bangku kesayangan.

Yu Minah tergopoh-gopoh keluar dan langsung cipika-cipiki, klebus!

“Aduuuh, Jeng, kangen banget aku ngobrol sama sampeyan!” Serunya heboh.

“Lha, sampeyan ke mana aja to, Yu? Kok lama banget tutup warung? Buatkan rujak dua Yu, satu pedes satu sedang.”

“Iya Jeng, saya itu lagi prihatin. Si Tole kan ujian akhir jadi saya nutup warung. Kasihan, biar saya ndak bisa ngajarin tapi paling ndak ya nungguin kalo lagi belajar. Tak kasih makanan yang bergizi, cemilan, wis pokoke tak urusin banget deh,” oceh Yu Minah sambil dengan cekatan menyiapkan bumbu-bumbu lalu ngulek dengan yahudnya 😀

“Wah, hebat sampeyan. Semoga lulus dengan bagus ujiannya ya, Yu.”

“Amien, Jeng, semoga yaa.”

Pembicaraan sejenak terhenti karena aku sibuk mencicip buah-buah nan menerbitkan air liur itu hihihihihihi…. Tapi tak lama. Mana pernah Yu Minah diam lebih dari satu menit?

“Jeng, sampeyan sudah pernah nonton di Mal belum?” Tanya Yu Minah. Hihihihi…. bukan pernah lagi, setiap ada film bagus ya pasti nontonlah. Belum lagi aku menjawab Yu Minah sudah nyerocos lagi.

“Minggu lalu saya diajak nonton sama Tole. Wah, tadinya saya ndak mau, wong sudah tua dan dasteran begini masa nonton di mal?”

“Lha ya ganti baju to, Yu,” kataku cekikikan.

“Yo pasti to. Maksud saya, saya itu kan ndak pernah nonton, Jeng. Nonton terakhir itu sama Bapaknya Tole kira-kira 20 tahun lalu. Udah lama to?”

“Waduh, lama banget. Emangnya nonton apa, Yu?”

“Tole tuh ngajak nonton film Barat, saya ndak mau wong ndak ngerti bahasanya. Akhirnya nonton film Indonesia, halah roman-roman ndak mutu gitu, abege banget,” ujar Yu Minah.

“Memangnya ndak ada film lain, Yu?”

“Lhadalah, Jeeengg, masak iya sak bioskop kok filmnya horor semua. Haduuuh, ada Nenek Ciduk, Tali Pocong Bundet, trus apa lagi, wis pokoke ndak ada yang minat saya wis!”

“Sampeyan ndak seneng film horor, Yu?”

“Yo jelas ndak sukalah! Coba sampeyan pikir Jeng, kita sudah mbayar mahal-mahal kok sampe dalem cuma ditakut-takuti? Rugi to?”

Wkwkwkwkw…. tak tahan lagi aku tertawa mendengar ocehan Yu Minah. Tapi bener juga ya?

“Bukan itu masalahnya, Jeng. Yang saya ndak habis pikir kok kita ndak boleh bawa makanan dari luar ya?” Tanya Yu Minah. Memang hampir di semua bioskop petugas security memeriksa tas bawaan kita. Jika terlihat membawa makanan pasti diminta untuk menitipkan di penitipan.

“Itu kan melanggar hak asasi ya, Jeng? Maksudnya apa coba? Kalo maksudnya agar tidak membut kotor, ya ndak mungkin. Wong di dalam juga ada yang jualan. Malah sebelah saya itu makan brondong kok ya sampe tumpah-tumpah. Trus maksudnya apa coba?” Celoteh Yu Minah.

“Ya maksudnya agar kita beli di cafe di dalam itu, Yu,” kataku ragu. Benarkah?

“Wah, itu lebih aneh lagi. Wong air putih saja harganya tiga kali lipat di luaran kok? Itu kan pemaksaan namanya. Bolehlah kita dipaksa beli di cafe itu, tapi harganya harus manusiawi dong. Jaman dulu saya nonton di kampung ndak gitu kok. Malah kadang di dalam bioskop ada yang juwalan bakso, brondong, lontong, wedang teh, harganyapun murah-murah!”

Jelas Yu Minah berlebihan. Masa iya ada tukang bakso masuk bioskop? Tapi memang kadang aku berpikir juga, mengapa gak boleh membawa makanan ke dalam ya? Apakah karena kita “harus” membeli makanan di cafe itu? Yang harganya gak masuk akal karena bisa tiga kali lipat dari di luaran. Sebetulnya boleh gak sih begitu? Adakah peratutan yang mengatur soal itu? Itu kan sama saja kita tidak boleh makan di bioskop kalo gak mau beli di cafe itu.

“Memangya sampeyan bawa makanan kemaren, Yu?” Tanyaku mengalihkan pertanyaannya yang tak bisa kujawab.

“Waah, saya mbawa rantang tiga susun, Jeng! Paling bawah nasi, tengah rendang sapi, trus paling atas bakmi. Mantep to?”

“Ediyan! Sampeyan ini mau nonton bioskop apa piknik to, Yuuu?” Tanyaku gemas, “Memangnya Tole gak protes?”

“Ya jelas protes, wong saya disuruh jalan duluan, dia 200 meter di belakang saya. Malu katanya! Anak jaman sekarang kok ya tega sama ibunya!”

Aku tertawa geli lalu memberikan uang untuk membayar rujakku.

“Besok-besok jangan mbawa rantang, Yu,” ujarku sembari menerima rujak.

“Wah, sampeyan pasti punya ide cemerlang ini. Trus gimana ngumpetinnya, Jeng?”

“Bawa tas yang gede, trus makanannya ditutupi baju-baju, handuk, pakaian dalam, Yu!”

“Welhadalaaahh, memangnya mau mudik poooo?”

:mrgreen:

Iseng Aja · Ketawa dulu · Tak Enak

Perpisahan

Kisah ini terjadi ratusan tahun yang lalu. Saat itu aku mengikuti pesta perpisahan SMA. Cuma teman sekelas sih, kalo gak salah cukup satu bus. Acaranya pun sederhana, nginap di villa murah meriah. Namanya anak SMA yang lagi lutju-lutjunya, bobok di tenda pun jadilah. Namun pada waktu itu ada kejutan besar dari Ayahandaku. Sehingga akhirnya kami gak usah berdesakan dan berebutan di penginapan. Karena kami diminta pindah di tempat yang lebih luas, lebih indah, dan tentu lebih dekat ke tempat wisata. Horeeeeee……. (makasiy Pah, walopun galak dan suka memingitku namun ternyata dikau baik hati dan perhatian yaa hiks…sad0118 Free Sad Emoticons )

Nah, seperti biasa acara di tempat dingin gitu pastilah kambing guling love0062 Free Emoticons   Love dan api unggun.  😆 HIhihihihihi…belum-belum wis ngguyu dewek. Jadi gini, Kawan, ketika acara api unggun itu (ya ampoon, jadul yak? maklumlah SMA th. 1918 😛 ), semua teman saling bergandengan tangan. Lalu si Mantan Ketua Kelas yang pandai berpuisi dan berorasi mulai berkata-kata. Berbicara masa-masa kelas III yang lutju, menyenangkan, menyedihkan, menyebalkan, dll. Dia pandai sekali berbicara hingga kulihat teman di kiri kananku mulai menyedot hidung, mengusap air mata, bahkan ada yang nangis gegerungan.

Sumpah! Aku bingung banget! Oya, waktu itu kami semua diminta menunduk dan menutup mata, tapi diam-diam aku melirik jelalatan ke sana ke mari. Waduh, gak lanang gak wedok semua mewek! sad0049 Free Sad Emoticons sad0140 Free Sad Emoticons Kecuali…kecuali diriku 😦 Entah mengapa, waktu itu aku kok gak ikutan nangis ya? Padahal perkataan ketua kelas begitu menyentuh dan mengharukan. Entahlah, mungkin karena aku sibuk mikirin takut bobok di tempat asing.

Semakin malam, semakin mengharukan. Akhirnya akupun mulai ikutan menunduk, memejamkan mata lalu…mulai membayangkan yang sedih-sedih! Kubayangkan ibuku adalah ibu tiri, sehingga ketika pulang nanti aku pasti digebukin gara-gara ngilangin rautan. Lalu, kubayangkan cowok yang kutaksir ternyata jadian sama sahabatku sendiri. Sampai akhirnya ku bayangkan aku gak pernah menikah karena sedih, dan ketika cowok itu datang, umurku sudah 100 th hingga tak mungkin lagi kawin. Semua hal yang menyedihkan dan menyakitkan kubayangkan, sampai akhirnya mataku mulai panas. Air mata mulai merembes melalui bulu mataku dan akhirnya menetes turun ke pipi. Hidungku mulai berair dan akhirnya akupun terisak-isak. Deras air mataku mengalir, ditambah lagi udara yang sedingin es, membuat hidungku mulai mampet.

Dan ketika akhirnya kubuka mataku, semua temanku memandang padaku. Wajah mereka keheranan, tangan teman di sebelahku rupanya sudah lepas dari genggamanku. Aku menghapus air mataku dan hidungku. Lalu si ketua kelas mendekatiku dan menepuk bahuku.

“Kok kamu nangisnya telat, Cho?”

Huwaaaaa, rupanya orasi dan penyedihan massal sudah selesai! Digantikan kesan dan pesan masing-masing anak. Lhadalah! Berarti aku sudah hanyut dengan alam pikiranku sendiri hingga tak memperhatikan sekelilingku. Waaaa, maluuuuuu…. Kulihat semua teman nyengir. Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain ikutan nyengir. ashamed0002 Free Emoticons   Shame ashamed0004 Free Emoticons   Shame

PS. Semoga kelakuanku ini tak menurun pada kedua malaikatku 😦

Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

Dewa Petir

Gerimis jatuh satu-satu ketika senja belum lagi turun. Rintiknya membiaskan cahaya mentari, menerbitkan busur pelangi yang tegas. Aku masih terpaku pada lambaian padang ilalang di hadapanku. Mencoba mencari kaki pelangi, mana tahu akan kutemukan periuk penuh emas pada ujungnya.

“Hei kau, Gadis Gembala, jangan kau melangkah ke padang itu. Hujan sebentar lagi akan membesar!” Teriak seseorang dari tepi padang. Aku menoleh dan tersenyum.

“Tak mengapa, Kang! Aku hanya sebentar, mau menjemput anak kambingku!” Sahutku berdusta. Mana dia tahu bukan, ada berapa kambing yang sedang ku gembalakan ini?

“Cepat nanti kembali. Petir di sini luar biasa ganas, Nduk!”

Lalu seseorang itu bergegas pergi dengan memegangi topi capingnya. Aku hanya mengangkat bahu. Petir? Aku tak pernah takut pada petir. Kata orang-orang hanya anak durhaka sajalah yang akan mati tersambar petir. Maka kuteruskan langkahku mengikuti busur berwarna itu. Kambing-kambingku sudah mengembik gelisah, gerimis sedikit mulai rimbun. Aku tertawa senang, main hujan adalah kesukaanku.

Sejenak terngiang pesan Ibu tadi pagi.

“Hari ini mendung sekali, Nduk. Cepat nanti kau pulang, sore Pak Lurah akan datang melamarmu. Kamu harus mandi kramas, dandan wangi, agar Mas Sugeng calon suamimu itu senang,” kata Ibu sambil mengelus-elus rambut panjangku. Aku diam saja. Aku benci pada anak Pak Lurah yang sombong itu. Apa sih yang dilihatnya padaku? Aku hanya gadis gembala, tak cantik, tak wangi, tak indah.

“Kamu itu cantik, Nduk, kalau kamu mau dandan, mau pakai pupur dan gincu. Jangan seperti anak laki begini,” kata Ibu lagi. Ibu memegang pinggulku, meraba dadaku. Aku benci diperlakukan seperti sapi yang sedang dinilai blantiknya.

“Nanti kalau kamu sudah jadi mantu Pak Lurah, kamu harus belajar jadi priyayi. Tutur kata harus lembut, suara berbisik, jangan teriak-teriak seperti sekarang.”

Masih banyak perkataan Ibu yang membuatku muak. Belum lagi Ibu selesai bicara aku berlari ke kandang kambing, tak lagi kuhiraukan teriakan Ibu. Aku hanya berbalik sebentar dan berkata,

“Aku gak mau kawin!”

Lalu Ibu istigfar berkali-kali sambil mengelus dada. Aku tertawa terbahak dan menjulurkan lidah pada Ibu.

Dan kini, aku berlarian di padang ilalang. Mencoba menikmati masa-masa terakhirku menjadi perawan. Gerimis kian menderas, menjadi panah-panah hujan yang sakit menusuk kulit. Tapi aku senang, aku menari-nari di tengah ilalang. Mengikuti bunganya yang terbang tertiup angin, lalu luruh jatuh ke bumi. Sementara kilat mulai menyalakan langit. Gemuruh petir mengimbangi derai air yang turun berkubik-kubik.

“Oh, Dewa Petir, daripada aku kawin dengan anak Lurah itu, lebih baik aku kawin denganmu saja!” Seruku menengadah sambil membentangkan kedua tanganku. Aku menari bersama hujan, mengikuti irama petir, mendengarkan simponi ilalang.

Kini rambutku kuyup, bajuku melekat bagai kulit tapi aku girang dan tertawa. Namun tawaku seketika hilang, ketika kilau menyilaukan itu tiba-tiba ada di depan mataku. Membutakan pandanganku dan memburaikan ilalang di padangku.

Hanya satu yang kuingat saat itu, aku telah durhaka pada Ibuku.

Iseng Aja · Serial Yu Minah

Ke Mana Yu Minah?

Sudah hampir satu bulan sepertinya aku tak berjumpa Yu Minah. Entah mengapa warungnya selalu tutup, meski rumahnya tidak tak berpenghuni. Ingin mampir tapi kok ya segan dan gengsi 😛 Padahal sungguh, aku rindu sekali rujaknya juga sentilannya.

Bisa jadi Yu Minah tak berjualan karena Si Tole tengah menghadapi ujian akhir ya. Tapi kan sudah lama berlalu, mengapa hingga kini tak juga bertemu? Ah, coba aku tunggu sampai Sabtu. Jika tak berjualan juga, aku akan mampir ke rumahnya. Pura-pura nanya mau bikin rujak untukku tidak, padahal ingin tahu gerangan ada apa? :mrgreen:

Baiklah, tunggu kabarku ya, Kawan. Segera setelah bertemu Yu Minah aku akan bercerita. Eh, emang ada yang rindu dengan Yu Minah? Kalo aku siy…ehm…eh…ish! Kasih tau gak yaaaaaa…. 😛