Dongeng insomnia · Iseng Aja

Lukisan Cinta, Episode 10

Lupa yang kemaren yah, karena kelamaan? Mari ke sini dulu πŸ™‚

Episode 10

Kekuasaan Poseidon πŸ˜‰

Pantai Alam Indah adalah pusat hiburan warga kota Tegal. Pantai Utara Laut Jawa itu meriah dengan tempat-tempat hiburan rakyat yang ramai pengunjung. Kolam renang dengan aneka permainan, restoran apung, bahkan museum dan anjungan yang memesona untuk memandang matahari terbenam. Sandra sudah beberapa kali ke sini, namun ia lebih menyukai pantai nelayan dengan transaksi pelelangan ikan yang menawan. Meski kadang aroma tak sedap yang menguar cukup membuat perutnya bergolak. Entah mengapa kegiatan itu begitu menarik hatinya. Dengan segala teriakan, sumpah serapah, dan canda tawa yang kadang tak pantas didengar. Namun seperti Ningrum, ia lebih senang melihat dari keajuahan. Peringatan Poseidon akan manusia laki-laki di sana memang benar adanya.

Sandra mencoba jujur dengan dirinya sendiri. Mungkin ia takkan begitu tertarik pada kehidupan nelayan jika tak bertemu Poseidon yang menawan. Tiba-tiba pipinya bersemu merah membayangkan lelaki tampan itu. Pikirannya cepat-cepat beralih pada Aryo. Ia tak ingin menghianati kekasihnya, meski hanya dalam pikiran. Akhir-akhir ini Aryo jarang meneleponnya. Sibuk, menjelang liburan pertengahan tahun. Sandra senang, karena itu berarti usaha kekasihnya maju. Namun hatinya juga sedih, sesungguhnya ia rindu pada Aryo. Seandainya hari ini Aryo ada di hadapannya untuk mengajaknya kembali ke Jakarta, ia pasti akan langsung berangkat. Namun Aryo tak pernah datang. Sandra maklum, semua demi masa depan mereka berdua.

Panggilan seseorang membuyarkan lamunannya. Frans tergopoh-gopoh membawa kotak dan gulungan tikar. Sandra tertawa menyambutnya.

β€œApa yang kau bawa itu, Frans?” Tanyanya geli. Frans menurunkan tikar, menggelarnya dan segera membuka kotak berukuran sedang yang disandangnya tadi. Sandra duduk di tikar dan menggelar aneka makanan bawaannya.

β€œLihat, San, hari ini kau akan kujadikan obyek fotoku,” kata Frans lalu membidik Sandra dengan kameranya. Sandra menahan napas memandang kamera Frans.

β€œOh, Dok… kau membuatku seperti anak kecil yang bangga dengan kamera sakunya,” keluh Sandra. Frans menurunkan kameranya dan tertawa.

β€œPunyamu sudah cukup bagus kok,” sahut Frans sambil meraih kamera Sandra dan memperhatikannya.

β€œAh, kau menghiburku,” rajuk Sandra. Frans tertawa lalu tak hentinya membidik wajah Sandra dari berbagai sudut. Gadis itu merasa jengah.

β€œStop, Frans! Yuk, kita nikmati masakanku sambil menunggu senja.” Sandra menyiapkan semangkuk sup jagung dan sekotak jus dari keranjang pikniknya. Frans mengambil dan menikmatinya.

β€œHmm, tak kusangka kau pandai memasak, San. Jarang sekali gadis sekarang rela berkeringat di dapur,” puji Frans lalu menambah sup lagi. Sandra tertawa.

β€œIni baru appetizer nya, Frans. Kau harus menghabiskan menu utamanya nanti, lasagna. Hmm, ini masakan favoritku, kuharap kau suka ya,” ujar Sandra sambil memotong lasagna dari pinggan. Warnanya yang kecoklatan dengan taburan keju panggang membuat Frans tak berdaya. Tanpa banyak bicara ia melahap lebih dari setengah pinggan. Setelah itu ia terkapar tak berdaya karena kekenyangan.

Sementara senja telah turun dari langit. Bola api raksasa berwarna emas itu dilingkupi warna-warna senja, jingga, lembayung, biru, dan hitam. melengkapi semua keindahan itu, air laut memantulkan kilaunya yang keemasan. Luar biasa! Sandra segera menarik tangan Frans dan berlari menuju anjungan.

Anjungan sepanjang kurang lebih 250 m itu nyaris dipenuhi manusia yang ingin mengabadikan keindahan alam itu. Frans membidikkan kameranya ke arah matahari terbenam. Sesekali ia mengajari Sandra membidik dengan kameranya sendiri. Frans mengajari banyak teknik mengambil angle yang fantastis pada obyek foto, yang tanpa disadari gadis itu, begitu banyak kontak fisik di antara mereka. Jari tergenggam, lengan terentuh, bahu terpeluk, yang semuanya membangkitkan gairah bagi Frans. Namun pria itu menahannya, ia tak ingin buru-buru. Gadis ini jinak seperti merpati namun sekaligus liar seperti camar. Frans tak ingin mengulang kesalahan yang sama seperti masa lalunya.

Sementara di kejauhan, sesosok perkasa mengamati mereka sejak tadi. Riak-riak ombak pasang menjilati kaki telanjangnya, seolah para abdi yang berusaha menarik perhatian pada rajanya. Namun sosok itu hanya bersedekap dengan wajah kaku. Sedikit bara memercik di bola matanya. Sang Poseidon berusaha menahan amarah, seperti layaknya Zeus yang murka melihat Athena putri kesayangannya nyaris diperkosa.

Lalu dengan gerakan anggun ia membalikkan badan dan meninggalkan pantai. Sejenak hatinya melembut, ia memang cantik dan memesona. Siapapun menginginkannya, termasuk aku. Tapi, mungkinkah ia menginginkanku? Seorang nelayan miskin tanpa masa depan! Agung membatin dalam hatinya. Namun rahangnya kembali mengeras. Tak ada waktu memikirkan gadis kota itu! Hidupku hanya untuk Ibu dan Ningrum! Dan camar-camar pun mengiringinya pergi dengan kepak sayapnya. Sementara angin laut membisikkan simfoni penghiburan. Senja berubah menjadi malam.

**********************

Waaa, bersambung maning…. 😦

Gambar minjem dari Google πŸ˜€

14 tanggapan untuk “Lukisan Cinta, Episode 10

    1. sungguh bude,
      sering aku bayangkan ia berjalan di kilau senja pantai itu,
      menemui aquwh..

      Bayangkan begini, Mak…
      “Ia berjalan di kilau senja pantai itu, langkahnya panjang dan tegap, kemejanya berkibar tertiup angin laut. Matanya tajam menatapku…dan…ia berhenti tepat di hadapanku, hanya sepuluh centi dariku, lalu ia menunduk menatap mataku dalam-dalam. Lututku gemetar jantungku berdebar, dan ia mengangkat daguku, laluuu….. πŸ˜› :mrgreen: πŸ˜†
      (eMak pingsan!)

  1. “Lalu dengan gerakan anggun ia membalikkan badan dan meninggalkan pantai” … hwaaa… aku makin kesengsem sama poseidon..

    Sambungannya besok aja, Mbak.. nggak tahan lagi nih… πŸ˜›

    Sik to, aku juga masih gemeteran bayanginnya :mrgreen: πŸ˜†

  2. whehehe, akirnya muncul juga, iya jenggg kelamaan.
    eh, kalo dari tulisan yang awallllll. si nelayan kan akhirnya patah hati toh ya? brarti gak jadi sama sandra toh ya? (kepo). *alibi agar tak kuciwa dipenghujung cerita. hehehe
    gutwork mbak..

    Waaa, belom tentu jadian tapi lom tentu gak jadi kok, Umi πŸ˜€
    Aku suka happy ending πŸ˜›

  3. gadis itu jinak jinak merpati sekaligus liar seperti burung camar. kayak apa kepribadiaannya

    Hihihihihihi…begitulah Jeng, saya memang suka membuat kontradiksi yang ajaib. Apalagi dalam kisah Marni, banyak sekali kontradiksi itu. Seperti rambut disanggul agak terurai, lipstik tebal agak tipis, rok panjang agak pendek πŸ˜†

  4. Mas Agusng pede aja dong, Sandra juga ada hati tuh, mau aku sampaikan ke Sandra gak? πŸ™‚

    Hihihihihi…..katanya nanti mo bilang ndiri, Jeng πŸ˜€

  5. Hedeh……..hedeh………si ninik2 ini jd ikut penasaran pingin lihat wajahnya mas Agung……… πŸ˜›
    ( Jd deg deg an…..hayyahh……….hahahaha. πŸ˜€ πŸ˜€ )

    (Msh nungguin, penasaran dgn kelanjutannya……… πŸ™‚ sambil pura2 gak baca itu tulisan pink yg paling bawah)
    Salam

    Aaah, bukan ninik2 ah! Bundoo cantiiiik πŸ˜€ Emang ganteng puoll, Bun, gak muda gak tua semua tergodaaa 😳
    Yang pink itu emang gak usah dibaca kok, Bun πŸ˜›

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s