Dongeng insomnia · Fiksi Kilat · Iseng Aja

Dewa Petir

Gerimis jatuh satu-satu ketika senja belum lagi turun. Rintiknya membiaskan cahaya mentari, menerbitkan busur pelangi yang tegas. Aku masih terpaku pada lambaian padang ilalang di hadapanku. Mencoba mencari kaki pelangi, mana tahu akan kutemukan periuk penuh emas pada ujungnya.

“Hei kau, Gadis Gembala, jangan kau melangkah ke padang itu. Hujan sebentar lagi akan membesar!” Teriak seseorang dari tepi padang. Aku menoleh dan tersenyum.

“Tak mengapa, Kang! Aku hanya sebentar, mau menjemput anak kambingku!” Sahutku berdusta. Mana dia tahu bukan, ada berapa kambing yang sedang ku gembalakan ini?

“Cepat nanti kembali. Petir di sini luar biasa ganas, Nduk!”

Lalu seseorang itu bergegas pergi dengan memegangi topi capingnya. Aku hanya mengangkat bahu. Petir? Aku tak pernah takut pada petir. Kata orang-orang hanya anak durhaka sajalah yang akan mati tersambar petir. Maka kuteruskan langkahku mengikuti busur berwarna itu. Kambing-kambingku sudah mengembik gelisah, gerimis sedikit mulai rimbun. Aku tertawa senang, main hujan adalah kesukaanku.

Sejenak terngiang pesan Ibu tadi pagi.

“Hari ini mendung sekali, Nduk. Cepat nanti kau pulang, sore Pak Lurah akan datang melamarmu. Kamu harus mandi kramas, dandan wangi, agar Mas Sugeng calon suamimu itu senang,” kata Ibu sambil mengelus-elus rambut panjangku. Aku diam saja. Aku benci pada anak Pak Lurah yang sombong itu. Apa sih yang dilihatnya padaku? Aku hanya gadis gembala, tak cantik, tak wangi, tak indah.

“Kamu itu cantik, Nduk, kalau kamu mau dandan, mau pakai pupur dan gincu. Jangan seperti anak laki begini,” kata Ibu lagi. Ibu memegang pinggulku, meraba dadaku. Aku benci diperlakukan seperti sapi yang sedang dinilai blantiknya.

“Nanti kalau kamu sudah jadi mantu Pak Lurah, kamu harus belajar jadi priyayi. Tutur kata harus lembut, suara berbisik, jangan teriak-teriak seperti sekarang.”

Masih banyak perkataan Ibu yang membuatku muak. Belum lagi Ibu selesai bicara aku berlari ke kandang kambing, tak lagi kuhiraukan teriakan Ibu. Aku hanya berbalik sebentar dan berkata,

“Aku gak mau kawin!”

Lalu Ibu istigfar berkali-kali sambil mengelus dada. Aku tertawa terbahak dan menjulurkan lidah pada Ibu.

Dan kini, aku berlarian di padang ilalang. Mencoba menikmati masa-masa terakhirku menjadi perawan. Gerimis kian menderas, menjadi panah-panah hujan yang sakit menusuk kulit. Tapi aku senang, aku menari-nari di tengah ilalang. Mengikuti bunganya yang terbang tertiup angin, lalu luruh jatuh ke bumi. Sementara kilat mulai menyalakan langit. Gemuruh petir mengimbangi derai air yang turun berkubik-kubik.

“Oh, Dewa Petir, daripada aku kawin dengan anak Lurah itu, lebih baik aku kawin denganmu saja!” Seruku menengadah sambil membentangkan kedua tanganku. Aku menari bersama hujan, mengikuti irama petir, mendengarkan simponi ilalang.

Kini rambutku kuyup, bajuku melekat bagai kulit tapi aku girang dan tertawa. Namun tawaku seketika hilang, ketika kilau menyilaukan itu tiba-tiba ada di depan mataku. Membutakan pandanganku dan memburaikan ilalang di padangku.

Hanya satu yang kuingat saat itu, aku telah durhaka pada Ibuku.