Fiksi Kilat · Iseng Aja

Pacar Impian

“Bila kau berangkat ke Jakarta?” Tanya Kak Noor padaku.

“Lusa, Kak. Tiket sudah ditempah, ” jawabku pada Kak Noor. Kakak perempuanku menghela nafas panjang. Sementara aku merapikan dandananku.

“Sudahkah kau fikir masak-masak atas pilihanmu itu? Kakak ragu kau benar-benar cinta pada gadis itu.”

“Ah, Kak Noor, saya sudah mantapkan. Dia cantik, terkenal, artis pula. Kita boleh hidup enak bersamanya,” jawabku. Ku semprotkan parfum kesukaan kekasih ke badanku.

“Tapi kalau dia tahu sesungguhnya siapa dirimu bagaimana?” Tanya kak Noor cemas.

“Tak usahlah Kakak cemas, saya sudah kata jika saya kerabat Raja. Kekayaan saya juga lumayan bukan?”

Kak Noor mendesah panjang. Diusapnya pundakku.

“Kakak lebih suka kau berkahwin dengan Laila. Dia cantik, soleha, pandai mengaji, berkerudung. Apalah yang kurang daripadanya?”

Aku kesal Kak Noor mengungkit-ungkit Laila. Memang dia cantik, tapi aku tak ada hasrat padanya. Untuk apa memaksa diri?

“Sudahlah, Kak. Saya tetap akan berkahwin dengannya. Akhir tahun nanti rencana kami siapkan.”

“Mengapa tak kau katakan saja siapa sesungguhnya dirimu? Lambat laun orang-orang akan tahu pula,” kata Kak Noor khawatir. Aku tertawa pelan.

“Di sini banyaklah raja, Kakakku Cantik, takkan mereka menyiasat sejauh itu asal-usul saya,” ujarku menenangkan Kak Noor.

“Lihatlah Kak, perhiasan emas ada pada tubuh saya. Cincin, kalung, gelang emas saya berlimpah. Siapa takkan percaya?”

“Ah, berhati-hatilah kau, Baba.”

Aku memeluk Kak Noor dengan sayang.

*****

Dan kini, aku ada dikejar-kejar press, begitu juga kekasihku. Dalam tanganku ada pula surat teguran dari tuan negri. Aku pun bersembunyi. Biarlah kekasihku saja yang menghadapi.

*****

Kisah ini fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama, peristiwa, tokoh, dan kejadian itu hanya ketidaksengajaan belaka. Sumpah! Gak sengaja beneran! Tidak bermaksud apa-apa, kok 😛 :mrgreen: 😀