Lukisan Cinta, Episode 11

Yuuuk, tengok ke belakang duluuuu πŸ˜‰

Episode 11

Ngintip Sandra dari spion πŸ˜›

Baru pukul empat sore, tapi langit begitu gelap seperti malam. Sandra berjalan cepat menuju rumah Ningrum. Seharusnya tadi pagi ia datang, tapi Tante Liz mengajaknya berjalan-jalan seharian ini. Debur ombak terdengar begitu kencang, membuat Sandra semakin cepat berjalan. Dan setelah dekat rumah Ningrum, ia menghentikan langkahnya. Beberapa lelaki tampak di pekarangan rumah Ningrum. Ada Poseidon di antaranya! Nampaknya mereka tengah membicarakan sesuatu yang serius. Sandra bimbang hendak meneruskan langkah atau kembali saja. Namun terlambat, Poseidon menoleh ke arahnya dan menatapnya tajam. Lalu disusul para lelaki yang mengikuti pandangan Poseidon ke arahnya. Sandra tak tahu harus berbuat apa selain tersenyum ragu dan melambaikan tangannya. Poseidon berbicara dengan para lelaki itu yang kemudian satu demi satu berpamitan dan meninggalkan Poseidon sendirian. Sandra membalas senyumΒ  para lelaki yang menyapa dan tersenyum padanya. Beberapa dengan senyum menggoda.

Agung berjalan ke arahnya dengan pandangan tak lepas dari wajah Sandra. Gadis itu salah tingkah bukan buatan. Baru kali ini ia tak berdaya menghadapi pria. Dulu sewaktu masih bekerja, ia telah menemui ratusan orang dan 80% di antaranya pria, namun tak sekalipun ia pernah merasakan gemetar seperti ini.

“Eh… haii..,” sapa Sandra ketika Agung berhenti di hadapannya. Postur Agung begitu tegap dengan tinggi sekitar 180 cm membuat Sandra mendongak. Sekilas Sandra membayangkan sosok tegap Brendan Fraser dengan bisep dan otot yang sama di depannya.

“Hai,” sahut Agung pendek. Tak lepas ia menatap dalam mata Sandra. Kedua ibu jarinya terselip di saku depan celana jeans nya, berusaha sesantai mungkin. Bahkan Sandra pun tak tahu debaran jantungnya mengalahkan debur ombak di kejauhan.

“Ehm, Ningrum ada?” Tanya Sandra. Agung hanya menggeleng.

“Oh, Ibu?”

“Mereka ke kota,” jawab Agung.

“Oh, aku hanya ingin menitipkan ini,” desah Sandra kecewa. Diulurkannya tiga buah album foto pada Agung. Lelaki itu menerimanya, menimang sebentar lalu mengajak Sandra masuk.

“Masuklah,” ujarnya lalu berbalik dan berjalan ke halaman rumah. Sandra mengikutinya dari belakang. Lalu Agung menyilakan Sandra duduk di balai bambu di teras, sementara ia hanya berdiri di depan Sandra. Agung membuka salah satu album itu, lalu menikmati foto-foto Ningrum sewaktu piknik dulu. Senyum tipis mengembang di bibir Poseidon melihat berbagai pose lucu adiknya. Sandra mengamati wajah tampan di depannya. Betapa manis senyumnya, betapa tampan wajahnya, betapa gagah, betapa….

“Makasih ya,” kata Agung tiba-tiba. Sandra yangΒ  terpergok sedang memandanginya langsung membuang muka ke pohon kelapa di sampingnya. Pipinya memerah.

“Eh, untuk apa?” Tanyanya.

“Kau sudah mengajak adikku berjalan-jalan,” jawab Agung kikuk. Sandra tersenyum.

“Sama-sama. Mmm, jadi…bolehkah aku memotret perahumu?” Tanya Sandra tak melewatkan kesempatan ini. Agung mendongak, lalu menutup album foto itu.

“Tidak,” jawabnya singkat. Bahu Sandra langsung melorot turun.

“Mengapa?”

Agung menatap Sandra tajam.

“Untuk apa? Tidak ada gunanya bukan?”

“Ah, tentu saja ada. Perahumu begitu indah, kata Ning kau membuatnya sendiri dengan para sepupumu bukan?” Desak Sandra. Agung menggeleng.

“Kalau begitu, kapan-kapan boleh aku ikut melaut? Aku ingin memotret matahari terbit dari cakrawala,” kata Sandra. Agung terpana, sedetik kemudian tawanya pecah. Indah sekali melihatnya tertawa, di kedua pipinya ternyata ada lekuk panjang jika tertawa dan belahan dagunya semakin dalam terlihat. Sandra terpesona. Bagaimana mungkin ada pria setampan ini di kampung nelayan?

“Kau? Gadis kota manja mau melaut? Tidak…tidak…kau hanya akan merepotkan!”

“Hei, jangan menganggapku remeh! Aku ini tahan banting!” Seru Sandra kesal. Ia berdiri berkacak pinggang. Agung hanya tersenyum mengejek dan segera menyibukkan diri dengan jala-jala yang entah bagaimana sudah ada di tangannya.

“Aku belum pernah muntah, meski naik mobil melewati jalanan berliku dan berkelok di gunung-gunung. Aku juga tidak pusing saat turun dari jet coaster meski diputarbalikkan badanku ke mana-mana. Aku bahkan tidak mual sedikitpun ketika naik kapal ke Pulau Seribu,” ujar Sandra dengan gusar.

Agung melepas jala di tangannya lalu berdiri di hadapan Sandra. Matanya tajam menatap gadis itu.

“Pernahkah kau dihantam badai di laut? Pernahkah kau merasakan gelombang tinggi yang bahkan untuk berdiri pun kau harus memohon pada Tuhan? Pernahkah kau nyaris tak pulang karena terjebak amukan samudra?” Desis Agung dengan sinis. Sandra terdiam.

“Kau anggap naik perahuku adalah wisata? Jangan salah, Gadis Kota! Perahuku bukan untuk bersenang-senang, melainkan untuk menyambung kehidupan!” Lanjut Agung ketus lalu kembali pada jala-jalanya. Sandra kesal bukan main, sombong sekali pria ini!

“Jangan panggil aku Gadis Kota. Namaku Sandra, kau tau bukan?” Geramnya. Ia bersiap meninggalkan rumah Agung ketika tiba-tiba seorang gadis cantik dengan air mata berurai berlari menghampiri Agung.

“Mas…Bapak….Mas… kata orang-orang mereka sudah kembali, tapi Bapak…Bapak gak sadar!” Tangis gadis itu sambil menarik lengan Agung. Lelaki itu langsung berdiri.

“Ada di mana mereka, Las?” Tanyanya, “Baru nanti malam aku akan bergantian menyisir laut.”

“Di dermaga, ayo Mas, aku takut…,” tangis gadis itu. Agung segera menarik tangan gadis itu dan mereka pergi. Sandra melongo, sedetik kemudian amarahnya muncul. Enak saja mereka meninggalkannya begitu saja, bahkan dengan rumah terbuka lebar seperti ini?

“Heiii….!” Teriak Sandra. Namun sayang, teriakannya tertelan suara guruh yang tiba-tiba datang. Agung dan gadis itu bahkan tak mendengarnya sama sekali. Dengan mengentakkan kaki karena kesal, Sandra mengambil kembali album foto Ningrum, biarlah lain kali ia akan menemui Ningrum saja.

Hujan mulai menetes, Sandra pun bergegas meninggalkan rumah Poseidon, tentu saja dengan setengah hatinya tertinggal di sana.

*****************

Aduuuh, masih nyambung lagiiiii πŸ˜€

Iklan

9 thoughts on “Lukisan Cinta, Episode 11

  1. Abi Sabila Mei 25, 2012 / 4:53 pm

    lama nda silaturahim ke sini, tiba-tiba sudah mendapat suguhan episode 11, sepuluh episode berikutnya kayak apa ya? Jadi penasaran.
    Soal fiksi, Mbak Chocovanilla memang jagonya.

    Ndak jago, Bi, baru belajar kok πŸ˜€
    Thanks, ya Bi…. πŸ˜€

  2. Orin Mei 25, 2012 / 5:15 pm

    Duh…duh… sambungannya jangan lama2 ya bu Cho pliiiiisss *merayu*

    Baiklah Sayang, aku usahakan yaaa πŸ˜€

  3. LJ Mei 25, 2012 / 6:16 pm

    hedeehh, bude.. ternyata mas Agung itu jelmaannya kang Brendan.
    semoga Sandra tabah menghadapi ketampanannya.. πŸ˜›

    Posturnya aja kok yang mirip Kang Brendan, wajahnya sih cuma mirip dikiiiit, lebih ganteng, Mak 😳

  4. Imelda Mei 25, 2012 / 6:50 pm

    wah sepertinya episodenya bisa sampai seratus nih πŸ˜€

    Minimal 100 halaman, BuEm, ini pun baru setengahnya πŸ˜₯

  5. Lidya Mei 25, 2012 / 8:06 pm

    Las itu siapa mbak? moga2 aku ga ketinggalan cerita nih baru bisa BW

    Gak ketinggalan kok, Jeng. Siapa Las? Minggu depan yaa πŸ˜‰

  6. prih Mei 25, 2012 / 8:39 pm

    …. perahu penyambung kehidupan…. menyimak perjuangan Sandra, Selamat berkarya

    Hihihihihi….berjuang meruntuhkan gunung es, Mbakyu πŸ˜›

  7. Ni CampereniQue Mei 26, 2012 / 9:50 am

    Agung sok jual mahal nih πŸ˜€ ntar klo sandra gak datang2 lagi malah kangen lho hehehe

    Yang jual mahal yang menantang, JengNi πŸ˜›

  8. Dewi Fatma Mei 28, 2012 / 12:38 pm

    hhmmm…

    Waaaaa…. sudah jauh-jauh dari Bintan kok cuma “hhmmm….”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s