Medok

Meski sudah ratusan tahun aku tinggal di Jakarta kemringet (Jakarta, Bogor, Bekasi), tapi tetap saja bicaraku medok. Alias kental sekali dialek kedaerahanku. Setiap orang yang sudah berdialog denganku pasti langsung tahu berasal dari daerah manakah diriku😀 Bahkan seringkali lawan bicara jadi mengikuti bahkan mencampur obrolan dengan bahasa Jawa meski mereka bukan dari Jawa😛

Dan sayangnya, aku baru menyadarinya beberapa waktu lalu! Ketika itu Jendral G sedang mainan dengan kameranya dan merekam suaraku. Lalu kami bersama-sama melihat hasil rekaman. Saat itu terkejutlah aku mendengar suaraku sendiri. Betapa medoknyaaa…ck…ck…ck… Padahal sehari-hari aku berbicara bahasa Indonesia penuh. Ternyata keaslianku masih nyata😆 Tiwas aku ini PeDe sekali jika sedang presentasi atau menelpon klien😀 Yang belum pernah bertemu denganku namun sudah pernah mendengar suaraku pasti menyangka aku ini berkebaya dan kondean😆 (Dan kondenya pun segede ban radial😆 )

Sebetulnya gak masalah siy, sama halnya kawanku yang berasal dari Sunda juga kental dialeknya. Lalu kawan dari Medan, yang membuat kita ikut-ikutan berbicara dengan dialeknya jika mengobrol dengannya. Lalu masih ada kawan dari Manado, Brebes, Minang, dan Makassar. Semua masih medok dengan dialek masing-masing😀 Mengapa bisa demikian?

Kurasa karena kami adalah perantau yang lahir dan besar di daerah asal lalu bersatu di Jakarta. Bahasa yang kita gunakan sejak ketjil alias bahasa Ibu lah yang kental terasa. Beda dengan kekasihku, yang meski orang tuanya asli Minang bahkan masih sering menggunakannya, tapi dialek kekasihku tidak medok. Begitu juga kedua malaikatku yang meski sesekali kuajak berbahasa Jawa tapi tak berdialek sama sekali. Mengapa? Karena mereka lahir dan besar di Jakarta dan sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia. Maka seringkali aku menggoda kekasihku dengan mengatakan “Padang durhaka:mrgreen:

Dan menurutku itu adalah hal yang luar biasa! Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu pun masih bisa menampilkan ciri kedaerahan. Betapa kayanya negriku dengan bahasa daerahnya. Malukah aku dengan kemedokanku? Nope! Biar medok tapi kan merdu merayu dan nggemesin sick0022 Free Sick Emoticons Toh aku bukan penyiar  radio atau TV dan bukan pula seorang penyanyi😀 Dan meski medok, aku selalu berusaha menggunakan bahasa Indonesia yang baik, tidak seperti Jopai yang seringkali ngawur membahasaindonesiakan bahasa Jawa, bahkan bahasa Inggris! Simak saja percakapan di bawah ini.

MAKAN DI KENDEDES FRIED CHICKEN

Penjual : Mau pesan apa, Mas?

Jopai     : Ayam goreng, Mbak. Yang dada menthak ya, sama Teh Gendul.

PERINGATAN

Jopai  : Mas, Mas, jangan lewat jalan situ

Mas     :Kenapa?

Jopai  : Tadi saya lewat situ ada ulanya, hiiiiy….

CONVERSATION

George : So, Jopai, don’t forget to come early morning tomorrow.

Jopai   : Of course, Sir. I will not forget it. At seven a clock, to? Yes, to?

BERLIBUR

Anak : Pap, kapan kita berlibur?

Jopai : Mbesuk ya, Nak.

Anak : Mau ke mana kita, Pap?

Jopai : Yaah, main-main ke Mbogor saja, ato mau ke Mbekasi?

Yaah, itulah contoh dialek Jopai yang njawani. Ra lutju yo ben😛:mrgreen:

(dan maafkan jika di setiap postinganku terasa medok)

17 thoughts on “Medok

  1. Tebak Ini Siapa Juni 1, 2012 / 11:21 pm

    Hihi apik no mbak… aku duwe konco malah isin karo medoke.
    Aku dulu tinggal di Jogja jarang pake Bahasa Jawa, eh pindah ke Jakarta dikatain medok, wkwkwk padahal ngaranku biasa wae ik >,<

    Lha jelas medok ngono kok, Naa😛
    Wis mbengi kok durung bobok to, Na? Gih ndang bobok kono…

    • Tebak Ini Siapa Juni 1, 2012 / 11:40 pm

      Hihihi mohhh, tadi awan sudah tidur. *bahasanya campur2*
      Kok kamu gak turu, mbak? :p

      Bar mbales komen pertamamu langsung pules, Na😀
      (padahal rentjana arep neruske cerbung😦 )

  2. LJ Juni 1, 2012 / 11:45 pm

    aku suka ke sini itu ya karena bude medhok..
    yang penting bagiku adalah bude tetap menulis dengan jelas
    meskipun itu campur berbahasa jawa.. meskipun maksudnya melucu.
    tpi gak bikin pusing untuk mengartikannya.

    pingin denger bude nyanyi.

    Owhh, eMaaakkk…. sad0118 Free Sad Emoticons
    ‘meskipun maksudnya melucu’ waaaa….jadi selama ini gak lutju to? sad0144 Free Sad Emoticons
    Aaahhh, suaraku serak-serak betjek, Mak😳

    • LJ Juni 3, 2012 / 8:37 am

      iya jadi klo bude lagi bermaksud melucu,
      biasanya lgsg ketangkep .. gak pake mikir lagi akunya.

      Aku curiga, ada sesuatu berbau Jawa di dalam dirimu, Mak:mrgreen:😛

  3. Nchie Hanie Juni 2, 2012 / 1:17 am

    Gpp medok jugaa..
    yang penting nyambuung hiih..

    Hihihihihi….makasiy Mam, semoga kemedokanku tak mengganggu😀

  4. Applaus Romanus Juni 2, 2012 / 3:20 am

    betul kadang kadang kalau di sadari itulah kekayaan negara kita… seneng juga kalau bisa menggunakan logat mereka.. saya juga banyak menguasai logat bahasa orang lain..

    Maka kalo kami ngobrol di kantor dengan berbagai dialek rasanya seruuuu….😀

  5. ndutyke Juni 2, 2012 / 8:35 am

    Lucu kooooook!😆
    Aku yo medhok kok mbak. Tp gpp.
    Itu merupakan kebanggan kita sebage orang indonesia.
    Kalo Amerika Serikat punya southern accent, UK punya British dan Irish accent dan Singapore punya Singlish, maka orang Indonesia punya logat Sunda, logat Makassar, logat Jawa dll🙂

    Hahahaha…ternyata aku akeh kancane yoo😀

  6. Nh Her Juni 2, 2012 / 10:23 am

    Medok itu eksotis ….
    (halah)
    entah itu medok Jawa … medok Medan … medok Minang … medok Bugis … medok Bali … ataupun medok Maluku ataupun Papua
    Sebab disitulah letak indahnya Indonesia

    Salam saya

    Medok eksotis, waaahh…keren yaa😀

  7. Dewi Fatma Juni 2, 2012 / 7:14 pm

    Aku senang kok sama yang medok-medok. Tapi kalo mertuaku ngomong dengan medok jawanya, aku kok rada nggak nyambung ya, Mbak. Paling aku senyum-senyum doang. Padahal beliau sudah ratusan tahun juga lho di sini. Jawanya tetap melekat dengan setia.

    Aku jg pernah punya atasan orang jawa. Kalo ngomong dengan rekan dari S’pore kyk gini nih… Lucuuuu….

    S’porean: “Are you sure?”
    Atasan: “Lha iyes no…”
    S’porean: “Yes or no?”
    Atasan: “Lha iyes…”
    S’porean: “Can not be, maaa… How come, leee… You should do like this, maaa..

    Aku langsung nyeletuk pake bhs Padang: “eee…baa ko caronyo…”

    Heboh deh..

    Kerja dengan banyak teman dari berbagai daerah itu kan seru ya, Mbak… Sesuatu banget🙂

    *komen kepanjangan ya babahno tah*

    QIqiqiqiqi….boss Malaysiaku dulu kalo ngomong juga gitu, “Can not laa….haiyoo….”😀

  8. monda Juni 2, 2012 / 9:13 pm

    he..he.. soal mbesok itu lucu juga deh…

    temanku yang medok ngomong ke pasien ” mbesok kalau balik lagi jangan lupa kartu berobatnya dibawa”
    “lho kok besok, katanya suruh datang 3 hari lagi sesudah obatnya habis”

    nah..kalau aku yg tak merasa medok medannya , ternyata diprotes anak2
    ma bilangnya bebek ( menyebut “k” mulut agak nutup) bukan bebek (“k” agak terbuka) ..kebayang nggak he..he…

    Waduh, “k” nutup sama “k” mbukak tuh gimana ya, BuMon, gak kebayang nih😀

  9. prih Juni 3, 2012 / 1:12 pm

    Intonasi medok saat komunikasi mudah dipahami (medok di lidah), lha ini dengan keybord yang berlaku internasional tetap saja medok (medok dalam pikir turun ke tangan dan lidah …), suka Diajeng Piet seperti ini. Salam medok

    Lha ini, keyboardnya aja ada yg “dh”, “th”,”mb”😀 D

  10. Lidya Juni 3, 2012 / 11:56 pm

    kaya suamiku tuh mbak, kalau beli apa2 pakai bahasa indonesia eh penjualnya jawab pakai bahasa jawa🙂. mbak aku ketinggalan cerita ga ya? harus ngecek dulu nih. 2 minggu hiatus🙂

    Hahahaha…berarti medok juga ya, Jeng😀

  11. Orin Juni 4, 2012 / 4:49 pm

    Salaman bu Cho, aku g medok pisan sundanya hahahaha.
    Perasaan sih biasa aja ya, tapi ternyata masih medok jg😛

    Medok Sunda ketemu medok Jawa, hmm…pastii lazzat nian ya, Say😀

  12. irmarahadian Juni 7, 2012 / 9:57 pm

    biar medok tp tetep OK, kok mam
    hehehe….

    Hahahaha….yang penting dandanannya gak medok ya, Mam😀

  13. Imelda Juni 8, 2012 / 9:11 pm

    dandanan bu choco medok ngga?😀 Jangan jadi ondel-ondel sangking medoknya ya heheheh

    Aku bisa tahu murid-murid orang Jepangku itu belajar bahasa Indonesia pertama kali dari siapa (dari mana asalnya si guru :D)

    Yaah, kadang medok kalo lagi dandan tanpa cermin, BuEm😆
    Berarti ada medoknya juga ya, BuEm😀

  14. intan rawit Juni 11, 2012 / 2:54 am

    wahahaha…ngakak guling2…aslinya mana to bu? saya asli wonosobo, ya sama2 ngapak dan medhok…

    Ayo bu, Mbesok kita sama-sama liburan ke Mbali ya?haha

    Saya dari Semarang, Jeng, tapi kelahiran Tegal, lha kebayang to medoknya:mrgreen:
    Abis dari Mbali mampir Njember yaa😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s